I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Putri yang di rindukan



"Pasien kelelahan dan banyak pikiran, jangan membuat pasien stress berat karena bisa berdampak pada kandungannya. Apalagi istri anda tengah mengandung bayi kembar, perhatikan suasana hatinya. Jangan membuatnya kesal dan marah yang dalat memicu emosi yang berlebihan."


Gilbert hanya diam, mencerna ucapan dokter yang telah memeriksa istrinya. Dia menjadi merasa bersalah karena sudah membentak sang istri, seharusnya dia menghadapi istrinya dengan kelembutan. Karena sosok wanita akan luluh dengan kelembutan, bukan kekerasan.


"Baik dokter, terima kasih," ujar Gilbert.


"saya sudah meresepkan vitamin, nanti anda bisa menebusnya di apotik." Ujar dokter itu sambil memberikan secarik kertas.


Gilbert menerimanya, dia pun mengantar dokter itu ke pintu utama. Setelahnya, Gilbert kembali ke kamar. Netranya melihat sang istri yang sudah sadar dan kini tengah duduk berselonjor sambil meminum air hangat dengan di bantu oleh Marcel.


"Sayang, kamu sudah sadar?!" Pekik Gilbert berjalan cepat ke arah istrinya.


"Daddy ini nda liat apa buna lagi minum? emangna olang tidul bica minum?" Serobot Revin.


Galang yang gemas pun menjitak kepala ponkanannya, sungguh mulut Revin tidak bisa di rem.


"Etdah bocil! mulut lo lemes amat!" Sindir Galang.


"Lev kan tanya," ujar Revin membela diri.


"Tapi pertanyaan kamu itu lebih ke ... tau lah!" Galang stres sendiri menghadapi keturunan Greyson itu.


Emily menyudahi minumnya, dirinya masih sangat lemas. Marvel kembali menggenggam tangan putrinya, tatapannya yang teduh membuat hati Emily menghangat.


"Maaf ayah jika karena pengakuan ini kamu sakit, ayah gak bermaksud buat kamu sakit. Ayah hanya ingin kamu tahu, bahwa kamu masih memiliki seorang ayah. Ayah hanya ingin di akui oleh putri semata wayang ayah," ujar Marcel.


Emily hanya diam, lidahnya kelu. Dia tidak tahu harus berkata apa, antara bahagia dan bingung dengan situasi saat ini.


Dia tidak pernah bermimpi orang tuanya kembali menemukannya, dia tidak pernah berharap jika suatu saat dia bisa bertemu kembali dengan sang ayah.


"Sewaktu kamu lahir, ayah tidak melihatmu. Bahkan untuk mendengar suara tangisanmu saja tidak, saat tahu kamu lahir dengan selamat sudah cukup bagi ayah."


"Ibunda mu, bernama Harumi. Dia wanita yang sangat cantik dan anggun, wanita yang lembut dan berhati mulia. Dia melahirkanmu dalam situasi yang sulit, bahkan hiks ... bahkan ... ayah tidak bisa mendampinginya saat dia melahirkanmu. Maafkan ayah, maafkan ayahmu yang tidak becus ini." Isak Marcel.


Marcel terisak, tetapi isakannya terhenti saat merasakan tangan hangat menyentuh tangannya. DIa mengangkat wajahnya, ternyata putrinya membalas genggamannya.


"Tuan tidak salah, keadaan yang membuat kita harus berpisah. Em sempat berpikir, kenapa orang tua Em membuang Em. Apa salah Em? sampai-sampai Em di asuh oleh wanita malam, sejak kecil hingga besar Em hanya mendapatkan lontaran kata pedas dari masyarakat. Apa salah wanita miskin? apa salah anak asuh dari wanita malam? apakah karena ibunya wanita malam anaknya pun begitu? suamiku saksi atas kesucianku, kenapa orang-orang begitu kejam?"


"Maafkan ayah, maaf jika kamu menghadapi masa sulit karena ayah," ujar Marcel.


"Jadi, EM ingin tuan bercerita kenapa bisa Em di temukan terlantar oleh mami? Bahkan sebelum mami wafat, dia hanya berkata jika aku bukan anaknya. Itu saja." Permintaan Emily sangat sederhana, tetapi Marcel belum berani untuk mengatakan yang sebenarnya. Siapa dia, dan dari mana dia. Marcel takut putrinya akan semakin memjauh darinya karena merasa terancam.


Galang menatap Dirga, begitu pun sebaliknya. Mereka tak berani berkata, ini keputusan Marcel. Apa yang akan pria paruh baya itu katakan pada Emily nantinya, mereka tetap mendukungnya.


Marcel menghela nafasnya pelan, dia tidak ingin menutupi semuanya. Dia harus berterus terang pada putrinya itu mengenai jati dirinya yang sebenarnya.


"Sebenarnya, ayah adalah ketua mafia. Araster, mafia dengan jumlah anggota terbanyak. Kamu pasti tahu sejarahnya, yang sampai saat ini mafia itu pun masih berdiri."


"Jadi ayah Mafia? kenapa kalian tidak bilang dari awal?" Kaget Gilbert.


Gilbert menghampiri Dirga, dia menatap pria paruh baya itu dengan sorot mata yang tajam.


"Kenapa anda tidak pernah cerita dengan saya siapa sebenarnya ayah? mafia itu musuhnya bukan hanya tetangga julid saja! tapi puluhan spesies lainnya!! apa kalian tidak memikirkan keselamatan keluargaku hah!!"


Galang menarik Gilbert menjauh, dia memegang kerah baju Gilbert. Sorot keduanya sama-sama tajam, seperti berperang lewat tatapan kata.


"Lo pikir otak kita sedangkal lo hah?! kita juga sudah memikirkan hal ini dari jauh hari! itu sebabnya tes DNA di lakukan oleh kenalan papah gue yang seorang mafia berjas dokter! Lo pikir kami bodoh?!"


"Kalau ota gue dangkal, gak mungkin gue bisa menurunkan saham lo dalam wakyu yabg singkat." Ucapan Galang membuat Gilbert terdiam, dia mengingat jika beberapa bulan lalu perusahaan nya semlat kebobolan data yang membuat harga sahamnya turun drastis.


"Jadi kamu pelakunya hah?!!"


"Kalau iya kenapa?" Tanya Galang sambil menaik turunkan alisnya.


Gilbert mengapit kepala Galang dengan k3t14knya, Galang pun menjadi sangat kesal. DIa berusaha keluar dari jeratan Gilbert.


"Ketek lo bau!!"


"Emang! gue kan belum pake deod0rant!"


Sedangkan yang lain, hanya bisa melongo melihat pertikaian mereka berdua.


"Apakah karena perbuatan musuh kamu menjadi koma, ayah?"


DEGHH!!!


Mendengar panggil ayah dari bibir putrinya membuat hati Marcel menghangat. Dia menatap puyrinya dengan netra berkaca-kaca.


Ucapan yang sangat dia nantikan selama puluhan tahun, bayi yang dia tunggu-tunggu kehadirannya kini sudah memanggilnya ayah.


***


Agler kembali dengan wajah suntuk, dia masuk begitu saja tanpa menyapa bodyguard seperti biasanya.


"Eh Agler udah pukang? tadi mamah masak banyak, kamu makan yah." Seru Tania dari arah tangga.


Agler menghentikan langkahnya, dia menghampiri ibunya. Dengan sopan, dia mengecup pipi Tania seperti biasa.


"Aku kenyang mah, tadi ada masalah sedikit. Kepala ku pusing, aku ingin tidur saja," ujar Agler.


Wajah Tania berubah menjadi murung, murung yang di sengaja. Dia tahu putranya akan melupakan waktu makan dan terus-terusan bekerja, dan cara ini yang paling efektif.


"Pasti papah dan yang lainnya sudah makan di rumah Gilbert, sia-sia dong mamah masak. Padahal mamah juga belum makan, nunggu kamu pulang biar ada teman makannya." Lirih Tania.


Agler yang akan pergi ke kamarnya pun seketika mengurungkan niatnya, dia menatap sang mamah dengan ekspresi memelas.


"Tapi gak papa deh, mamah juga tidur kalau gitu," ujar Tania dan berbalik badan.


Tania menghitung dalam hati, jika sudah begini Agler pasti tidak akan menolaknya. Putranya itu sangat meratukan dirinya, dimana Agler tak pernah tega jika Tania belum makan karena dirinya.


"Ya, selamat tidur mah. Semoga mimpi indah."


Tania menghentikan langkahnya, dia berbalik dan terbengong saat melihat putranya yang sudah berjalan ke arah lift dengan santai.


"E-eh Agler! kamu gak kasihan sama mamah!" Pekik Tania.


Agler berbalik, dia menghela nafas pelan dan melirik jam dinding.


"Gak mungkin mamah belum makan, kalau mamah belum makan Reynan juga belum makan. Tau sendiri cucunya gak bisa makan tanpa di temenin. Udah yah mah, Agler capek. Tidur dulu,"


Agler pun berlalu meniki lift meninggalkan Tania yang melongo di buatnya.


"Udah gak mempan rupanya." Gumam Tania