I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Aku ingin bertemu istriku!



Di pemakaman, semua orang berduka. Kecuali Nyonya Samantha, dia tersenyum bahagia melihat Lea saat di kebumikan.


"Saya tahu kamu melihat semuanya," ujar Nyonya Samantha pada Hana yang berdiri di sampingnya.


Tubuh Hana mendadak kaku, keringat dingin membasahi pelipisnya. Di genggamnya erat gagang payung yang berada di genggamannya.


"Tante sudah berbuat kejahatan, eyang harus bertanggung jawab." Lirih Hana.


"Ck, jangan munafik kamu Han! dengan meninggal nya Lea, kamu bisa menjadi istri Alfred. Seharusnya kamu berterima kasih sama saya, karena saya telah meluruskan jalanmu." Bisik Nyonya Samantha.


Netra Hana menatap Alfred, pria itu memeluk nisan Lea sambil menangis. Hatinya kini tengah hancur kehilangan wanita yang merupakan bagian dari hidupnya.


"Saya memang mencintai mas Alfred, tapi bukan seperti ini caranya tante. Bagaimana kalau Mas Alfred tahu dan melaporkan tante ke polisi?"


"Kau juga akan ikut bersamaku! awas saja kalau sampai kamu berani melaporkannya!!" Ancam Nyonya Samantha.


"Tapi, apa yang anda lakukan salah! Mas Alfred harus tahu!!"


"Bodoh!! kamu mau kita di penjara? aku akan menyeretmu juga dengan mengatakan ini rencana kita berdua!! mau apa kamu hah?!"


Hana terdiam, Nyonya Samantha sangatlah licik. Dirinya memang mencintai Alfred, tetapi dia masih waras.


"Setelah ini, kamu bisa menikah dengan Alfred. Perusahaanmu yang di ambang kebangkrutan itu, saya akan membantunya dengan menyuntikkan dana sebesar yang kamu minta."


Hana bimbang, dirinya sangat mencintai Alfred. Bahkan tak jarang dirinya menemui Alfred di rumahnya walaupun pria itu telah memiliki istri yang sangat di cintainya.


Jika menolak juga, Perusahaan orang tua Hana akan bangkrut. Nyonya Samantha menawarkan padanya untuk bersedia sebagai penyuntik dana di perusahaan nya.


Akhirnya, dengan dorongan dan paksaan dari Nyonya Samantha. Alfred dan Hana menikah, walau awalnya Alfred tak mencintainya. Lambat kaun, pria itu menerima kehadiran Hana.


Flashback Off.


"Maaf ... maafkan daddy ... seharusnya daddy mencari tahu sebab ibumu terjatuh saat itu." Lirih Alfred dengan suara gemetar.


Gilbert menutup wajahnya, dia menangis dengan begitu pilu. Ternyata, dirinya tak pernah merasakan pelukan hangat seorang ibu. Dan itu semua karena sang eyang yang paling dia percaya.


"Emily benar, eyang lah yang sudah mengusirnya. Kau bisa lihat rekaman ini." Titah Alfred sambil memberikan ponselnya.


Video itu sudah di kirim ke ponselnya, sehingga dia memiliki duplikat bukti.


"Emily hiks ... aku ingin bertemu Emily!!! EMILY!!!"


***


Sedangkan di posisi Emily, kini wanita itu merasakan debaran yang taj biasa di jantungnya. Dia menyentuh d4d4 nya yang berdebar cukup kencang.


"Ada apa ini?" Lirih Emily.


Emily segera mencari Revin, karena dirinya takut jika Revin terluka ataupun dalam bahaya. Namun, ternyata dugaannya salah. Revin sedang bermain di teras rumah bersama dengan Reynan.


"PENTOOLLL!!! PENTOLLL!!"


Revin dan Reynan menatap ke arah gerbang, banyak anak-anak dan juga orang tua yang menghampiri sebuah gerobak.


"Itu jajan apa?" Bingung Reynan.


"Lev juga balu dengel, tadi apa namana?"


"Pen ... pentol! iya!" Seru Reynan.


Reynan berlari masuk, dia mencari keberadaan Tania sebab Agler sudah berada di kantor.


"OMAAA!!! LEY MINTA UAAANG!!!"


Revin menatap bingung kepergian Reynan, nentranya menatap sang bunda yang berdiri di ambang pintu.


"Pesan, nanti bilang bunda yang bayar," ujar Emily.


Revin menggeleng, dia tak tahu makanan apa itu. Dirinya kembali memainkan lego yang kemarin Agler belikan agar anak itu tak bosan.


Reynan telah kembali, dia memakai sendalnya dan berlari menuju gerbang. Karena ramai, Reynan memutuskan untuk memanjat pagar yang hanya setengah badan orang dewasa. Kebetulan, gerobak itu tepat di depan pagar rumahnya.


"ABANG!! PENTOLNA LIMA LEBU!! NDA USAH KACIH CAOS NA YA!!" Seru Reynan.


Setelah beberapa lama menunggu, pesanan Reynan akhirnya jadi. Anak itu membayarnya dan berjalan menghampiri Revin dengan lima tusuk sempol di tangannya.


"Enak!" Seru Reynan melewatkan Revin dan duduk di anak tangga teras.


Revin menatap Reynan, dia melihat makanan yang Reynan pegang. Karena penasaran, Revin pun bertanya.


"Ini pentol! enak loh, Ley celing beli dulu. Mau coba?" Reyna. menyodorkan satu tusuk pentol pada Revin.


Revin mengambilnya, dia mencoba pentol itu dengan sekali gigitan.


"Enak, Lev mau lagi!!" Seru Revin dan akan mengambil kembali. Namun, Reynan menjauhkan pentolnya dari Revin.


"Enak aja! Ley capek capek nunggu na, calah cendili nda mau. Udah habic itu, abangna dah mau pulang! makana, jangan combong pake acala nda mau cegala!" Ketus Reynan.


Mata Revin berkaca-kaca, dia berdiri dan berlari masuk sambil berteriak.


"BUNAAAA!!! HIKS ... HUAAA!!!"


"Cih, mengadu lupana!" Seru Reynan dan kembali memakan pentol nya.


Malam hari, Reynan dan Revin tengah menonton animasi kegemaran mereka di ruang tengah. Emily dan Tania menemani mereka, sementara Agler tengah berada di kamarnya. Sepertinya pria itu lelah bekerja hingga ketiduran.


Seekor kucing berjalan mendekati Reynan, anak itu langsung memeluk kucingnya. Kucing tersebut tidur dalam pelukan Reynan, sementara Revin menatapnya dari samping.


"Keljaanna makan tidul makan tidul, badana kayak gentong dacal!" Sewot Revin.


"Nda boleh bodi ceming kata papah, doca nanti!" Peringat Reynan.


Revin melipat tangannya, dia tak suka kucing. Dirinya lebih senang serigala milik daddynya. Hais, dirinya jadi kembali teringat sang daddy.


"Buna,"


"Hm?"


"Apa kita cali daddy balu? daddy yang kemalin pukul buna, cali daddy balu aja. Tapi, Lev udah cayang cama daddy Gil." Lirihnya.


Emily mengerutkan keningnya, ada apa dengan putranya sehingga tiba-tiba saja mengingat tentang daddy nya.


"Revin, daddy ...,"


"Cssyutttt nda ucah di panggil namana, nanti kupingna daddy panassccc." Seru Revin sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


Emily hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia menyenderkan tubuhnya di sofa sambil kembali menatap layar.


"Apa Alfred tak menghubungimu?" Tanya Tania.


"Tidak, Em tak punya ponsel. Ponsel Em sudah rusak," ujar Emily. Maklum, ponselnya sudah harus di ganti sehingga kini mati total.


"Yasudah, besok kita ke mall dekat sini untuk beli ponsel." Ajak Tania.


Emily menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, bosan juga berada di rumah. Dia harus merefresh pikirannya agar tak selalu memikirkan suaminya.


Kucing yang tadinya berada di pangkuan Reynan kini berjalan dan duduk di tengah-tengah kedua bocah itu. kucing itu kembali merebahkan diri dan menjilati tubuhnya.


Revin berdiri, dia menggoyangkan badannya sambil menepuk pelan tangannya.


"Ci meong, cenang belali. Ci meong belali dimana caja ... apa yang paling dia cenangiiii. Jilat bijina cendiliii!!"


Ternyata Revin menyanyikan sebuah lirik yang entah anak itu dengar dari mana, tapi yang jelas. Emily dan Tania di buat tertawa oleh tingkah anak itu.


"Kamu ngapain?" Tanya Reynan dengan bingung.


Revin menghentikan nyanyiannya, dia menunduk dan menatap kesal pada Reynan.


"BELAAAAKKK!!!"


"Rev!!"


"Ladian nda liat apa Lev lagi napain, pake acala nanya cegala." Seru Rev dengan kesal setelah sang buna menegur.


"Cuala kau jelek milik ngok-ngok!" Seru Reyna. menimpali ucapan Revin.


"KAMU ITU YANG NGOK-NGOK!!"


"KAMU ITU DUGA YANG GUK-GUK!!"


Kini kedua bocah itu saling tarik menarik baju dan menendang, Emily menepuk keningnya. Begitu pula dengan Tania, memang kedua bocah itu tak bisa selalu akur.


"Awalnya karena kucing, kok merembet ke yang lain." Lirih Emily.


_______


selanjutnya sabar yah, kalau belum muncul juga berarti review nya lama🄲