
Danzel tengah berada di salah satu rumah temannya, dia berniat akan menginap malam ini karena ada tugas kelompok yang harus mereka kerjakan. Namun, bukannya mengerjakan tugas Danzel dan yang lainnya asik bermain game.
"BELOK KAMBING!!"
"BENTAR DULU PI!!"
Mereka saling bersahutan, hingga game Danzel terjeda lantaran Alfred menelponnya.
"Syuttt jangan berisik bokap gue telpon!" Seru Danzel.
Danzel mengangkat telponnya dengan raut wajah yang ceria.
"Halo papah ku sayang? ada apa gerangan engkau memanggil anak tampanmu ini? kangen yah?"
"Berhenti bercanda Danzel, capetan sekarang ke rumah sakit!" Seru Alfred.
"Ngapain?" Bingung Danzel.
"Ponakanmu sunatan,"
Danzel yang tadinya sedang tiduran pun seketika menegakkan tubuhnya, netranya membulat sempurna dan membuat teman-temannya pun ikut kepo dengan pembahasan mereka.
"Sunatan? kok dadakan?"
"Udah, jangan banyak tanya! Sekarang kesini cepat, bawakan baju ponakanmu!" Titah ALfred dan mematikan sambungan telponnya.
"Ponakan gue sunatan!!! model baru! penasaran sama modelnya, gue cabut deh!" Seru Danzel dan beranjak mengambil jaketnya.
"Oh ya, besok gue traktir lo semua untuk merayakan senjata baru ponakan gue!!" Seru Danzel sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
Semua teman-teman pun saling tatap dengan raut wajah bingung, mereka seperti nya ketinggalan berita jika Danzel telah memiliki ponakan.
"Emang dia punya ponakan?" Tanya teman Danzel yang memakai kaca mata.
"Enggak tahu." Sahut yang lain.
"Gak usah di pikirin, yang penting besok makan gratis!!" Seru yang lain.
Sedangkan di rumah sakit, Revin menangis sangat keras. Tak mau di sentuh oleh siapapun apalagi bergerak, dia hanya duduk dengan merenggangkan kedua kakinya. Asetnya hanya di tutupi oleh selimut, setiap Gilbert ingin membenarkan letak selimut itu Revin akan berteriak keras.
Beberapa jam lalu, Revin di sunat. Akibat ada infeksi di saluran k3nc1ng karena benturan, pas di tanyakan. Ternyata saat anak itu terjatuh akibat bebek, asetnya menabrak keras anakan tangga. Sehingga dokter mengambil keputusan untuk sunat.
Galang juga berada di sini, bersama dengan keluarga Evans lainnya dan juga Alfred dan ibunya. Jangan lupakan Reynan yang duduk di samping Revin sambil meringis ngeri menatap selimut yang menutupi sesuatu itu.
"Sudah dong nangis nya, kan udah di servis. Udah model baru tuh liat!" Bujuk Galang.
"Om nda tau hiks ... lasana ... hiks ... cakit hiks ...," ujar Revin yang masih menangis.
Revin menarik tangan Emily yang berdiri di sisinya, anak itu menangis keras sambil menatap Emily.
"BUNA HIKS ... BALIKIN BULUNGNA LEVIN, BALIKIN BULUNGNA HIKS .... BALIKIIINN HUHUHU" Isak Revin membuat semua orang yang berada di ruangan itu pun tertawa.
Revin merasa di tertawakan, dia berteriak ke arah Galang dengan kesal.
"CAKIT TAU NDA!! DI KETAWAIN TELUS!!!" Seru Revin dengan kesal.
"Ya enggak bisa di balikin sayang, kan udah di potong. Nanti tinggal tunggu sembuh aja yah," ujar Emily dengan sabar. Wanita itu mengelus rambut putranya dengan pelan agar Revin tak kembali mengamuk.
Karena Galang yang usil, dia sedikit menarik selimut Revin hingga terlihat lah asetnya yang hanya tertutup dengan kasa.
"HAHAHA UDAH KECIL TAMBAH KECIL HAHAHAH!!!"
"Buna ... HUAAAAA!!!"
"GALANG!!!"
Gilbert menarik kerah Galang, sedari tadi putranya menangis dan Galang menambah riuh suasana.
"Belum sunat kan lu? ngaku!!"
"Ya-ya enggak tahu! tanya papah sana!" Seru Galang menunjuk Dirga.
"Kok papah? kan punya kamu, kok tanya papah!" Sewot Dirga.
"HAHAHAHA BELUM DI SUNAT KAN LO!!!" Seru Gilbert dengan tertawa keras.
Galang mendekati Dirga, dia menatap Dirga dengan tatapan kesal.
"Emang aku belum di sunat pah?" Tanya Galang.
"Mana papah tahu," ujar Dirga dengan menggedikkan bahunya.
"Iihh belum di sunat." Ledek Amelia.
"Yang bener pah!" Rengek Galang.
"Coba kamu liat bentukan kamu gimana?" Tanya Dirga dengan santai.
Semua orang tertawa melihat tingkah lucu Galang, sebenarnya Dirga hanya mengerjai putranya saja. Saat masih bayi Galang sudah di sunat karena kejadiannya sama persis seperti yang Revin alamin.
CKLEK!!
"SELAMAT MODEL BARUU! SELAMAT MODEL BARU, SELAMAT MODEL BARU UNTUK REVIN ... SEMOGA SEMAKIN BAGUSS!!!"
Semuanya melongo melihat Danzel yang masuk dengan membawa kue bertuliskan selamat model baru, Revin bahkan sampai menghentikan tangisannya saat melihat pamannya itu datang.
"Ngapain?" Tanya Gilbert dengan tatapan tajam.
"Ya mau kasih selamat lah, apalagi?" Sewot Danzel.
Danzel tak memperdulikan keberadaan Gilbert, dengan riang dia berjalan mendekati Revin dan duduk tanpa permisi membuat brankar sedikit bergoyang.
"OOOMMM!!! HUAAA CAKIT TAU NDA! JANAN DEKET-DEKET!! CANA!! CANAAAA!!!"
Gilbert menarik Danzel, sudah masuk tengah malam dan putranya masih menangis karena ledekan dari para tamu.
Emily kembali menutup kaki putranya, dia mengibaskan putranya dengan kipas tangan sebab setelah di sunat tadi Revin terus berkeringat padahal sudah memakai AC.
"Hayooo Reynan belum di sunatkan?!!!" Seru Danzel dengan wajah tengilnya menatap Reynan yang tengah menatapnya takut.
Reynan menggeleng, dia turun dari brankar sehingga membuat brankar kembali bergoyang.
"LEYNAAAANNN AWAC YAH, KALAU CITU CUNAT JUGA LEV DOLONG CAMPE NUNGCEP!!" Sewot Revin dengan nafas memburu.
Reynan bersembunyi di belakang tubuh sang papah, netranya menatap takut Danzel yang menyeringai tajam terhadap nya.
"Pulang hiks ... Pulang ayo pulang!!" Rengek Reynan.
"Gak sekalian di sunat aja?"
BUGH!!
Amelia memukul bahu adiknya yang lagi-lagi membuat ulah, entah mengapa Galang sangat senang membuat ulah disini.
Reynan menarik leher Agler, karena posisi Agler yang sedang duduk di sofa membuat Reynan bisa menggapai leher sang papah.
"Pulang hiks ... PULAAAANGGG!!!!"
"Udah, udah. Ayo Agler kita pulang, Reynan mulai ngantuk kayaknya." Ajak Tania.
Agler mengangguk setuju, dia membawa Reynan ke gendongannya dan pamit bersama yang lain. Akhirnya mereka pulang dan di susul oleh keluarga Evans.
"Haaahh ... damai cekali lasana." Ucap Revin sambil membenarkan posisi duduknya dengan pelan.
"Udah gak sakit?" Tanya Gilbert.
"Macih, tapi nantuk. Buna, mau cucu." Pinta Revin.
Dengan cepat, Emily membuatkannya. Semua perlengkapan membuat susu juga sudah ada, tinggal membuatnya saja. Gilbert pun mengambil tempat duduk di sofa, dia berbaring di sana dan memejamkan matanya.
"Lah terus, nih kue buat apa?" Bingung Danzel dengan menatap tangannya yang masih memegang kue.
"Yang culuh om bawa ciapa?" Ketus Revin.
"Etdah bocil! gue bawa ini buat lo, gak ngerhagain banget sih." Lirih Danzel.
Revin melirik Danzel, dia merasa kasihan dengan om nya iyu. Hatinya memang lembut, mengikuti hati sang ibu. Hanya saja, sifat galaknya menuruni sang daddy.
"Yacudah, talo citu aja. Kalau Lev lapal, balu Lev makan." Celetuk Revin.
Seketika netra Danzel berbinar, dia menaruh kue itu di atas nakas dengan semangat.
"Mas aku keluar sebentar yah, ternyata air panasnya udah dingin." Cetus Emily.
Gilbert mengangguk singkat, pria itu masih memejamkan matanya lantaran sangat mengantuk. Emily pun keluar dengan botol yang sudah terdapat serbuk susu, dia berniat ke kantin rumah sakit untuk meminta air panas.
BRUGH!!
Emily terkejut mendengar suara orang jatuh, netranya melihat seorang pria patuh baya yang sepertinya terjatuh dari kursi roda.
"Astaga, tuan! apa anda tidak papa?!" Panik Emily menghampiri pria itu.
Emily membantu pria itu unyuk duduk, dia membenarkan letak kaki pria itu di kaki kursi roda.
Namun, Emily tak menyadari jika sedari tadi pria paruh baya itu menatap ke arahnya tampa berkedip. Lidahnya kelu untuk berbicara, hingga manik mata mereka pun akhirnya bertemu.
"Harumi ...."
___________
Ayo semangat satu up lagiπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈ
JANGAN LUPA LIKE KOMEN HADIAH DAN VOTE NYA YAHπ₯°π₯°π₯°π₯°