
Alfred mendatangi mansion Greyson, dia mengumpulkan semua supir di mansion untuk dia tanyakan satu-satu.
"Beritahu saya, siapa di antara kalian yang bekerja disini sudah lebih dari 5 tahun?" Tanya Alfred, dia tengah duduk sambil memperhatikan ke lima supir yang berdiri di hadapannya.
"Sa-saya sama Toni tuan," ujar salah seorang dari mereka.
Alfred menatap seorang pria seumurannya itu dengan wajah datarnya, kemudian tatapannya beralih menatap pria yang lebih muda.
"5 tahun lalu, saat kejadian dimana tuan muda pertama kembali. Apakah kalian mengingatnya?" Tanya Alfred pada keduanya.
Keduanya mengangguk ragu, mereka masih lupa-lupa ingat tentang kejadian 5 tahun itu.
"Ya, saya mengingatnya." Ujar Toni dengan menatap tuannya itu.
"Apakah dua hari sebelumnya, kamu yang mengantar Nyonya besar ke bandara?" Tanya Alfred berharap pria itu masih ingat.
Tampak, Toni mengerutkan keningnya. Dia berusaha menggali ingatannya, tetapi dia tak ingat sama sekali.
"Maaf tuan, saya tidak ingat. Setahu saya, saya tidak pernah mengantar Nyonya ke bandara. Saya dulu hanya supir yang di tugaskan untuk mengantar yuan muda kedua sekolah," ujar Toni.
Tatapan Alfred beralih pada supir yang lain, dia pun menggelengkan kepalanya.
"Tidak tuan, saya ingat. Saat itu istri saya lahiran, tuan muda pulang saja saya tidak tahu. Sarat saya kembali, tuan muda sudah berada di sini." Jujurnya.
Alfred mengurut pangkal hidungnya, siapa lagi yang harus dia tanyakan untuk memastikan kebenaran.
"Tuan, selain kami berdua ada satu supir lagi. Kami bertiga dulu kerja bersama," ujar Toni.
Seketika Alfred menatap Toni dengan tatapan terkejut.
"Siapa?" Tanya Alfred.
"Pak Lukman, tapi dia di pecat oleh Nyonya besar seminggu setelah tuan Gilbert kembali," ujar Toni.
Alfred terdiam, kejadiannya mengapa sangat kebetulan sekali. Apakah ada rahasia di balik di pecatnya salah satu supir tersebut?
"Apakah kamu tahu dimana rumah pak Lukman?" Tanya Alfred sambil menegakkan duduknya.
Toni dan supir yang satunya saling tatap, mereka berbisik dan kemudian kembali menatap Alfred sambil menggeleng.
"Setahu saya dulu, Pak Lukman tinggal di pinggiran kota. Dia hanya tinggal dengan putranya, istrinya sudah tidak ada. Tapi, saya tidak tahu apakah beliau masih tinggal di sana atau tidak," ujar Toni mewakili tekannya.
"Alasan apa yang membuat Pak Lukman di pecat?" Tanya Alfred penasaran.
"Pengurangan supir tuan, tapi hanya pak Lukman saja yang di pecat. Beberapa supir saat itu melayangkan protes, sebab merasa kasihan dengan pak Lukman. Dari kerjaan seorang supir lah pak Lukman bisa membiayai sekolah anaknya. Tapi, tiba-tiba saja Nyonya Samantha memecatnya dengan alasan seperti itu." Jelas Toni.
Alfred berdecak kesal, dia kembali memikirkan bagaimana dirinya harus menemui Lukman.
"Kalian tahu alamatnya?" Tanya Alfred kembali menatap kedua supirnya.
"Lupa-lupa ingat sih tuan, udah lama banget." Seru Toni sambil tertawa sumbang.
"Antar kan saya ke sana!" Pinta Alfred penuh ketegasan.
***
Gilbert sudah di bawa ke rumah sakit, Hana dan Nyonya Samantha pun ikut masuk ke dalam ambilkan. Kecuali Emily, wanita itu sedang memanfaatkan kondisi.
Di saat merasa aman, Emily pergi ke kamarnya. Dia menutup pintu kamar dan tergesa-gesa berjalan ke arah lemari.
Dia mengepak semua bajunya ke dalam tas besarnya, sesekali dirinya melihat ke sekeliling untuk berjaga-jaga.
"Selama mas Gilbert tetap tak mempercayaiku, aku harus mengamankan Revin terlebih dahulu." Ucap Emily dengan suara gemetar.
Semalam, Hana menceritakan sesuatu yang membuat dirinya takut. Bahkan Emily sampai tidak bisa untuk hanya sekedar memejamkan matanya, dan saat Revin hilang. Pikirannya hanya tertuju pada Nyonya Samantha yang terlihat tenang saat yang lain sibuk mencari.
"Aku tidak mau Revin berakhir seperti ibu kandung Mas Gilbert." Lirih Emily, sesekali wanita itu menghapus air matanya yang luruh.
Tengah malam, Emily bangun dari tidurnya. DIa merasa haus, saat akan mengambil air. Gelas itu sudah kosong, dirinya pun hanya bisa menghela nafas pelan.
"Pasti mas Gilbert yang menghabiskan nya, kebiasaan." Gumam Emily.
Dirinya sangat mengantuk, tetapi juga sangat haus. Sehingga memutuskan untuk ke dapur mengambil minum.
Saat Emily mengisi air dalam gelasnya, netra nya tak sengaja melihat Hana yang duduk di teras belakang. Karena penasaran, Emily pun menghampiri ibu mertuanya itu.
"Mom." Sapa Emily sambil menepuk bahu ibu mertuanya.
HAna terkejut, dia segera menghapus air matanya. Tapi terlambat, Emily telah melihatnya.
"Mommy nangis?" Tanya Emily.
"Ti-tidak, mommy tidak papa," ujar Hana.
Emily tahu ada yang tidak beres, sehingga dia pun memutuskan untuk duduk di sebelah ibu mertuanya.
"Mom, cerita sama Em. Kenapa mommy menangis? apa daddy menyakiti mommy?" Tanya Emily dengan lembut, dia pun menaruh gelasnya yang ia bawa tadi ke meja bundar depan mereka.
Hana menggeleng, air matanya masih saja luruh. Hatinya terasa sesak, bisa Emily rasakan kesedihan Hana yang sangat dalam.
"Mom, cerita sama Em. Siapa tahu Em bisa bantu meringankan beban mommy, jangan selalu di simpan di hati mom. Lama-lama, mommy akan sakit." Lirih Emily sambil mengusap bahu ibu mertuanya.
Hana menutup wajahnya, dia menangis sesenggukan. Setelah beberapa saat Hana mulai tenang, dia menatap menantunya yang menatapnya khawatir.
"Selama bertahun-tahun, mommy menyimpan sebuah kesalahan besar. Mommy merasa sangat bersalah, hati mommy gak pernah tenang. Bayangan wajah kesakitan ibu kandung Gilbert menghantui mommy." Isak Hana.
"I-ibu kandung mas Gilbert? siapa dia mom? dan dimana dia?" Tanya Emily dengan tanda tanya. Banyak yang perlu dia tanyakan dengan ibu mertuanya, dia berharap menemukan titik cerah.
HAna memandang lurus ke depan, dia mengusap pipinya. Menguatkan tekad menceritakan semua hal ini dengan menantunya.
"Ibu kandung Gilbert sudah meninggal setelah melahirkan Gilbert, dia ... di bunuh oleh eyang hiks ... hiks ... hiks ...,"
Emily membekap mulutnya, air matanya luruh begitu saja. jantungnya berdegup kencang, tangannya terasa dingin.
"Daddy dan ibu kandung Gilbert menikah karena saling mencintai, tetapi eyang tak merestui mereka. Eyang tidak suka dengan ibu kandung Gilbert yang hanyalah anak seorang petani. Saat kandungannya berusia 8 bulan hiks ... Kak Lea sedang menuruni tangga bersamaan dengan eyang. Saat akan melangkah di pertengahan tangga, eyang mendorong kak Lea hiks ... huhuhu ...,"
Hana tak kuasa menahan tangisnya, begitu pula dengan Emily. Tak menyangka jika apa yang di lakukan Nyonya Samantha pada ibu kandung dari suaminya sangatlah keja.
"Mommy gak bisa cerita banyak, ada satu dan lain hal yang membuat eyang membenci ibu Gilbert. Tapi, alasan terbesar eyang melakukan itu karena mommy. Eyang berusaha menjodohkan daddy dengan mommy, karena saat itu mommy mencintai daddy. Mommy tetap mau di jodohkan walau tahu saat itu daddy telah memiliki seorang istri yang sedang mengandung."
"Dengan mata mommy sendiri, mommy menyaksikan sendiri bagaimana Kak Lea terguling di tangga. Mommy melihat tatapannya saat meminta tolong hiks ... mommy yang saat itu takut langsung pergi begitu saja."
Emily mendengarkan dengan seksama cerita dari mertuanya yang sangat pilu. Apa jadinya jika dia tidak pergi saat 5 tahun lalu? Bagaimana bisa karena harya Nyonya Samantha tega melenyapkan nyawa seseorang?
"Emily, jaga dirimu dan juga putramu. IStri dari putranya sendiri saja dengan tega dia menyakitinya, apalagi kamu. Eyang sangat terobsesi dengan kedudukan, berbagai macam cara dia lakukan demi mendapatkan kedudukan tersebut. Termasuk merusak rumah tangga orang."
Flashback Off.
"Aku tidak tahu tentang apa yang terjadi pada keluarga ini, tapi yang terpenting sekarang. Revin harus aman," ujar Emily dengan wajah yang basah karena air mata.
"Sudah siap Em?"
Emily menatap sosok yang membuka pintu kamar sambil menggendong Revin.
"Bersiap, daddy akan mengantarmu."
________
Satu lagi yah, mudah-mudahan Review nya cepet yah kawan🥺.
Jangan lupa dukungannya, love untuk kalian🥰🥰🥰