
Alfred mendatangi kediaman Xavier, baru saja dia turun dari mobilnya dirinya sudah di suguhi pemandangan Xavier yang kini tengah mengumpulkan kayu-kayu kecil di depan rumahnya.
Xavier yang melihat kedatangan Alfred pun segera mendekat, dengan tatapan datar dia menatap Alfred engan tak bersahabat.
"Ada apa? urusan kita sudah selesai, untuk apa anda kesini?"
Alfred terkekeh dengan keteguhan Xavier, walau tak mampu tetapi Xavier tak merendahkan dirinya sendiri untuk mengemis pada Alfred.
"Saya ingin menemuimu untuk membicarakan sesuatu," ujar Alfred.
"Bicara tentang apa? urusan kita sudah selesai! istrimu sudah mendapat keadilan, begitu juga dengan ayahku. Apa lagi?" Kesal Xavier, pemuda itu tampak tak menyukai Alfred dengan terang-terangan.
"Bukan soal itu, tapi soal masa depanmu,"
"Masa depan? aku sudah tidak memiliki masa depan lagi! Sudahlah, pergi dan jangan ganghu aku!!" Seru Xavier dan kembali ke tumpukan kayu-kayu tersebut.
Xavier mengikat kayu tersebut menjadi satu, kayu yang berasal dari batang pohon akan dia jual pada juragan desa. Keuntungannya bisa dia gunakan untuk makan dan kebutuhan lainnya.
"Masa depanmu masih cerah, otakmu sangat cerdas. Sayang sekali juga di anggurkan," ucao Alfred.
"Maksudnya, kamu ingin memanfaatkan? begitu?" Sewot Xavier.
"Jangan marah dulu, kenapa kamu selalu saja marah-marah. Coba tersenyum sekali saja, biar wajahmu tidak sekaku itu." Ejek Alfred.
Xavier memutar bola matanya malas, dia tak tertarik dengan ajakan Alfred. Lantas, dirinya menggendong kayu-kayu kecil tersebut di punggungnya.
"Coba pikirkan sekali saja, aku akan menugaskan mu menjadi mata-mata di cabang perusahaan Greyson yang berada di London. Tugasmu hanya menemukan korupsi yang sebenarnya, jika kemampuanmu meningkat. Aku akan memberimu wewenang memimpin perusahaan itu. Bagaimana?"
Xavier yang akan beranjak pun seketika tertarik dengan tawaran menggiurkan dari Alfred, dirinya berpikir jika dia terus saja kerja seperti ini hidupnya tak akan maju. Lebih baik dirinya menerima tawaran Alfred demi masa depannya, dan membuktikan pada ibunya jika dia bisa bangkit tanpa nya.
"Berapa lama?" To the point Xavier.
"Sampai kamu menemukan akar dari sebuah masalah, sekalian ... aku akan membiayaimu sekolah hingga kau mendapat gelar yang tinggi. Setelah itu, perusahaan cabang akan ku titipkan padamu." Ujar Alfred dengan sungguh-sungguh.
"Kamu ingin sekolah tinggi bukan? selain menjadi mata-mata, kamu bisa melaniutkan sekolah. Jangan lagi mencuri-curi dengar saat guru tengah mengajar di sekolah."
"Kamu membuntutiku!!!" Seru Xavier dengan nada marah.
"Bukan aku, tapi bodyguard ku." Sewot ALfred tak mau kalah.
Xavier menghela nafasnya, mungkin saja inilah jalan yang sebenarnya. Kesempatan tak datang dua kali, dia juga ingin merubah hidupnya. Tak mungkin dia hidup serba kekurangan seperti ini, makan pun sulit jika dia tidak bekerja seperti ini.
"Baiklah, kapan aku akan berangkat?" Tanya Xavier.
"Sekarang!" Seru Alfred yang mana membuat Xavier melototkan matanya.
"YANG BENAR SAJA KAMU INI!!" Sewot Xavier.
"Semua perlengkapan sudah paman siapkan, tinggal pamit dengan pemilik rumah dan pergi bersama kami!"
***
Saat ini, Emily sedang membujuk Gilbert untuk makan. Pria itu ngambek lantaran Emily tak menceritakan apa yang Hana ceritakan saat itu hingga membuat istrinya pergi meninggalkan nya.
"Mas, makan dulu. Nanti sakit lagi loh, Em gak mau rawat mas." Emily sudah lelah, dia juga lapar dan ingin makan. Tapi suaminya ini sangat kekanak-kanakan.
"Kalau mas gak mau makan Yasudah, Em keluar dulu." Putus Emily.
"Jangan!!" Seru Gilbert menahan lengan istrinya.
Emily tersenyum, dia segera menyendokkan nasi berisi lauk itu pada mulut suaminya. Namun, belum saja nasi itu menyentuh lidahnya, Gilbert sudah mual di buatnya.
"Kenapa mas?" Panik Emily.
"Aku mual, singkirkan itu!! mual banget!!" Seru Gilbert dengan menutup hidungnya.
Emily mengerutkan keningnya, tak ada yang salah dari makanan yang di pegang nya. Apakah hidung suaminya yang bermasalah? Padahal, makanan ini sudah biasa di makan oleh suaminya.
"Panggilkan Asisten Kai, mas ingin makan yang di belikan oleh Asisten Kai!" Pinta Gilbert.
"Mas, makanan yang aku nawa kamu gak mau! tapi, makanan yang Asisten Kai bawa kamu mau!! apa kamu lebih cinta Asistenmu dari pada istrimu hah?!!" Kesal Emily dengan suara gemetar menahan kesal.
Di tariknya lembut tangan istrinya untuk duduk kembali seteklh tadi sempat berdiri karena mengomelinya.
"Tenang oke, jangan menangis. Mas juga gak tau kenapa mas gak bisa makan kalau bukan Asisten Kai yang beli, semua makanan mas muntahkan kecuali yang di beli oleh Asisten Kai. Itu pun jarus pake niat " Jelas Gilbert.
"Niat?" Bingung Emily.
Gilbert memanggil Asisten Kai lewat ponselnya, tak lama Asisten Kai datang dengan wajah suntuknya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan? di mohon pengertian nya, saya baru saja keluar untuk membeli makan malam dan anda menyuruh saya kemari?"
Gilbert terkekeh ringan, dia mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang merah pada Asisten Kai.
"Sekalian belikan saya makan juga, tapi kamu belinya dengan niat untuk kamu sendiri. Tapi pas nyampe sini buat saya," ujar Gilbert dengan begitu membingungkan.
Emily melongo mendengar nya, begitu pula dengan Asisten Kai. Apa bedanya dengan titip makanan kalau begitu?
"Mudahnya begini tuan, anda menitip makanan pada saya." Jelas Asisten Kai.
"Bukan!! kamu beli makanan, tapi nyampe sini buat saya, tapi di niatkan beli untuk kamu gitu! nyampe rumah baru kasih ke saya!! ngerti gak sih!!" Kesal Gilbert.
Asisten Kai menggaruk kepalanya yang tak gatal, Emily yang melihat wajah tak bersahabat sang suami segera menghampiri Asisten kai untuk menjelaskan.
"Maksud Mas Gilbert kamu beli dua porsi makanan untuk kamu, tapi nyampe sini satunya kamu kasihkan ke mas Gilbert." Tetang Emily.
"Sama aja kayak nitip tapi nona," ujar Asisten Kai dengan bingung.
"BEDAA!!!" Sewot Gilbert.
Emily segera menyuruh Asisten Kai untuk segera membelinya, dari pada sang suami lagi-lagi mengamuk. Lebih baik menuruti kemauan aneh dari suaminya itu.
Asisten Kai segera melaksanakan tugasnya, selang beberapa waktu. Asisten Kai kembali dengan dua box makanan, yang satunya akan dia berikan pada Gilbert.
Dengan senyum sumringah, Gilbert mengambil jatahnya. Dia menyendok kan suapan pertama dengan semangat ke mulutnya, akan tetapi ...
"HWEK!!"
Gilbert ingin memuntahkan kembali makanan itu, dia mengambil plastik dan memuntahkannya. Emily segera mengambil segelas air dan membantu suaminya minum.
"Kamu!! niat kamu salah!!" Seru Gilbert dengan menunjuk Asisten nya.
"Salah? kan saya sudah belikan, niat apa lagi?" Bingungnya.
"Kamu niat belinya untuk saya! kan saya udah bilang, niat beli untuk kamu. Nyampe sini baru kasih saya!!"
Emily menepuk keningnya, suaminya semakin lama semakin aneh. Ayah mertuanya belum juga kembali, entah saat ini berada di mana. Dia butuh orang untuk membantunya menangani Gilbert, mau meminta tolong pada Tania ataupun Agler. Emily tak enak merepotkan mereka kembali.
"Terus saya harus apa?" Bingung Asisten Kai.
"Berikan saya yang kamu pegang!!" Titah Gilbert
"Ha? tuan, ini saya pesan khusus untuk saya. Saya pesan tanpa bawang goreng," ujar Asisten Kai.
"Saya mau yang itu! saya bayar sepuluh kali lipat, berikan cepat!!"
Emily mengode Asisten Kai untuk memberikan nya saja, dari pada suaminya lagi dan lagi marah-marah tak jelas.
Ajaib, saat Gilbert memakannya. Dia tak mual, malahan dia sangat lahap sekali. Emily dan Asisten Kai menatap Gilbert dengan mulut menganga.
"Ini yang eror siapa?" Batin Asisten melihat nasi goreng pertama yang tak tersentuh itu dengan miris.
________
Lunas yahπ₯°π₯°π₯°.
Terima kasih atas gift nyaππππππππ₯³π₯³. Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya okeππ.
AYO MULAI RAMAIKAN LIKE DAN KOMEN, GIFTNYA JANGAN LUPA. MUNGKIN SAJA, KARENA LIKE YANG RAMAI AUTHOR SEMANGAT TRIPLE UP LAGIπ€π€