I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Dia istriku



Semua pasang mata menatap ke arah sosok wanita ber dress biru laut, membuat kulit putihnya lebih bersinar. Wajah cantiknya, membuat Gilbert membuka sedikit mulutnya.


"Emily." Lirih Gilbert.


Tatapan Gilbert jatuh pada sosok kecil yang tampan, putranya pun ikut bersama sang istri menyusulnya disini.


Senyum Gilbert mengembang, dia akan menghampiri istri beserta putranya. Namun, Nyonya Samantha mencekal tangannya.


"Em tuan Dirga, ini ada kesalahpahaman. Cucuku dia belum menikah, doa ...,"


"Tidak tuan Dirga! putraku sudah menikah, dan wanita cantik itu adalah menantuku. Emily!" Sela Alfred.


Tak peduli Nyonya Samantha menatapnya tajam, Alfred tak bisa membuat rumah tangga putranya sama sepertinya dulu.


Dirga masih tetap terdiam, pandangannya masih menatap lurus ke depan memperhatikan Emily dengan raut wajah tak terbaca.


"Cantik sekali, dia istri Gilbert." Batin Amelia.


Emily berjalan elegan sambil menggandeng putranya, tatapan Revin menatap ke seluruh anggota keluarganya.


"Sayang, apa kamu tidak melihat notifikasi penarikan uang hm?" Ujar Emily menatap Gilbert yang menatapnya tanpa kedip.


Gilbert menggeleng, dia segera mengecek ponselnya dan terlihat lah berapa uang yang istrinya keluarkan.


"Dua ratus juta." Gumam Gilbert.


Mendengar gumaman cucunya, Nyonya Samantha menatap Emily dengan raut wajah marah.


"Dasar wanita matre! kau peras cucuku! dasar kamu istri yang tidak berguna!" Bentak Nyonya Samantha.


Emily menutup mulutnya dengan memasang raut wajah seolah-olah terkejut.


"Ups ... keceplosan deh, memang yah terkadang kejujuran selalu datang tepat waktu." Ujar Emily sambil menatap ke arah Nyonya Samantha yang semakin memasang wajah panik.


Amelia berjalan mendekat, dia menatap Emily dengan raut wajah yang berbinar.


"Aku baru sadar, baju kita kembaran! kau warna biru, aku warna merah muda. Bagaimana kau bisa membelinya? ini memang hanya ada dua, kau cantik sekali!"


Emily menatap baju Amelia dan dirinya, tadi manager butik pun berkata jika hanya ada dua. Satu sudah di beli oleh seseorang, sehingga tersisa warna biru lah yang menjadi pilihannya.


"Apa-apaan ini Nyonya Samantha?! kau mempermainkan ku hah?! Apa kau masih waras?!" Sentak Dirga menatap nyalang pada Nyonya Samantha.


Nyonya Samantha langsung ciut seketika, dia menatap Dirga dengan raut wajah yang panik. Hana mendekati menantunya dan mengambil alih Revin dari Emily.


"Oma, tadi Lev nda di ajak. Lev di antal cucul cama om Danjel." Celoteh Revin.


"Benarkah? lalu dimana om mu?" Sahut Alfred dan membawa sang cucu ke gendongannya.


"Di palkilan, tidul katana nda mau macuk. Katana nanti juga balik cemua nda lama," ujar Rrvij.


Gilbert segera mendekati istrinya saat tangan sang eyang tak lagi mencekal tangannya, dia memegang tangan Emily yang terasa lembut.


"Amelia, maaf. Bukan maksudku mempermalukanmu, aku sungguh merasa terhormat karena menjadi idaman calon memantu papahmu. Tapi Mel, cintaku hanya untuk istri dan juga putraku. Aku bertahan hanya untuk mereka, mereka separuh jiwaku. Kamu pasti mengerti maksudku," ujar Gilbert dengan tulus pada Amelia.


Bukannya marah, Amelia malah tersenyum. Dia berdiri di samping Emily dan menggandeng tangannya. Sangat di luar ekspetasi Emily, karena dia pikir Amelia akan mencak-mencak kesal seperti drama pelakor kebanyakan.


"Haih tidap papa, aku tidak masalah dan bersyukur. Aku tidak menyukai suamimu, justru aku menyukaimu!" Seru Amelia membuat Emily dan Gilbert sontak melototkan matanya.


Tersadar omongannya yang aneh, Amelia segera melepas rangkulannya dan melambaikan tangannya pada pasutri tersebut.


"Bukan! bukan! maksudku, aku menyukai istrimu sebagai teman. Dia wanita yang sangat pemberani, aku suka wanita pemberani!" Pekik Amelia.


Sedangkan Dirga, dia masih cekcok dengan Nyonya Samantha yang memberikan banyak sekali alasan.


"Mah! jangan egois! Tuan Dirga juga tidak ingin menerima menantu seorang duda beranak satu!"


Tatapan Dirga beralih pada Alfred, keningnya mengerut ketika melihat Revin menatapnya dengan tatapan polos.


"Bahkan sudah memiliki anak?" Seru Alfred, dia sangat yakin jika Revin adalah putra dari Gilbert. Sebab, wajah keduanya sangat mirip. Bahkan Revin versi kecilnya Gilbert.


"Ya Dirga, aku sudah memiliki cucu dari menantu pertamaku." Jelas Alfred.


"Diam kamu Alfred!" Bentak Nyonya Samantha.


"Mamah yang seharusnya diam! aku turut ikut kesini karena paksaan dari mamah! aku tidak jujur pada Tuan Dirga mengenai status putraku karena tidak ingin mempermalukan mamah di hadapannya. Tapi mamah udah kelewatan! pernikahan hal yang sakral! bukan untuk meningkatkan bisnis ataupun menambah kekayaan!" Bentak Alfred.


Tuan Dirga mengangkat tangannya, rumahnya jadi ribut soal pernikahan Gilbert dengan Emily.


"Sudah hentikan!" Bentak Dirga.


Dia menatap tajam Nyonya Samantha yang menatapnya takut.


"Dengar ini, aku tidak bisa menerima seorang pria yang sudah berkeluarga! dengan ini, kamu Nyonya Samantha telah mempermalukan putriku! lebih baik kalian keluar dari rumahku!" Bentak DIrga dengan tatapan kilat penuh amarah.


Emily menatap Dirga, begitu pula dengan Dirga. Nafasnya yang tadi sedang memburu akibat marah seketika redup saat menatap Emily.


"Maafkan saya yang telah mengacaukan rencana anda tuan, sungguh saya disini bukan bertujuan apapun selain ingin menyadarkan Nyonya Samantha dari ambisinya." Ujar Emily sambil berjalan mendekati Dirga.


"Kau!" Delik Samantha.


Dirga mengangkat tangannya, menyuruh Nyonya Samantha untuk diam. Dia kembali menatap Emily dengan tatapan dingin, seperti watak aslinya.


"Kenapa kamu dan Gilbert merahasiakan pernikahan kalian? tak ada satupun media yang menangkap pernikahan kalian, apa kalian sengaja menyembunyikannya?" Tanya Dirga.


"Tidak, semua ini karena Nyonya Samantha. Dia tak merestui hubunganku dengan suamiku. Semua masalah berasal darinya." Ujar Emily dengan menatap Nyonya Samantha yang melototkan matanya.


Dirga menatap sorot mata Emily pada Nyonya Samantha, dia bisa menangkap sorot mata kemarahan dari mata wanita cantik tersebut.


"Aku tidak merestuimu dengan cucuku karena kamu miskin! kamu hanyalah anak dari seorang wanita malam! anak haram!" Bentak Nyonya Samantha sambil menunjuk tepat ke arah wajah Emily.


Gilbert segera mendekatinya istri dan merangkulnya, sang eyang sudah sangat kelewat batas karena sudah membawa masa laku istrinya.


"Eyang!" Peringat Gilbert.


Bukannya marah, Emily malah menyuggingkan senyum tipis nya. Satu sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian.


"Anak haram? bagaimana kamu tahu aku anak haram sedangkan aku hanyalah anak angkat?" Ucap Emily dengan raut wajah yang berubah.


Gilbert menatap istrinya tersebut dengan raut wajah kaget.


"Mami mengambilku dari jalanan tepat saat umurku dua tahun, dengan pakaian lusuh dan banyaknya noda darah di baju putihku. Mami membawaku pulang ke rumahnya setelah dirinya bekerja malam. Pekerjaannya memang kotor, tapi hatinya tidak sekotor anda Nyonya Samantha." Terang Emily.


"Kamu!" Nyonya Samantha marah, dia akan melayangkan tamparannya untuk Emily.


Hap!


Bukan Gilbert ataupun Emily yang menahan tangan Nyonya Samantha, melainkan Dirga. Mereka semua menatap tak percaya dengan ala yang Dirga lakukan.


"Jaga tanganmu Nyonya Samantha, aku juga memiliki seorang putri. Aku tidak rela saat melihat putriku di tampar oleh orang egois seperti anda!" Bela Dirga membuat semua orang menatapnya dengan sorot kata penuh keterkejutan.


____


Jangan lupa dukungan nya😘😘