
Semua orang panik, terlebih Marcel. Baru saja dia bertemu putrinya, malah sudah di hadapkan dengan situasi saat ini. Berbeda dengan Marcel, sedari tadi Galang merasakan jika sebelumnya pasti ada hal yang membuat Emily syok sebelumnya.
"Panggil dokter Gil!" Titah Marcel sambil mengusap tangan putrinya.
"Sudah yah, sedang dalam perjalanan." Jawab Gilbert.
Tatapan Marcel beralih pada putrinya, tatapan rindu seorang ayah. Sedari tadi matanya terus berkaca-kaca menatap putri semata wayangnya.
"Ayah baru ketemu kamu, kenapa kamu malah sakit seperti ini." Lirih Marcel.
Galang mendekati Gilbert, dia menarik pria itu keluar dari kamar karena ingin membahas sesuatu yang penting.
"Apaan sih! gak liat bini gue lagi pingsan hah!" Kesal Gilbert.
"Pasti lo yang udah buat Emily syok kayak gini kan?" ujar Galang dengan serius.
"Maksudnya?" Tanya Gilbert sambil menaikkan satu alisnya.
Galang berdecak sebal, entah pria di hadapannya ini lemot atau gimana. Pertanyaan seperti itu saja harus di pertanyakan.
"Tuan, Dokter sudah datang."
Seorang bodyguard memotong pembicaraan mereka, Gilbert pun menggiring dokter itu menuju kamarnya.
"Periksa istri saya, dia sedang hamil lima bulan." Pinta Gilbert.
Saat dokter itu mau memeriksa Emily, tetapi niatnya terhenti ketika melihat perut Emily yang sangat besar.
"Maaf tuan, apa tidak salah hamil lima bulan?" Tanya dokter tersebut ragu.
"Oh, maaf dok. Istri saya hamil kembar empat," ujar Gilbert.
Dokter itu pun tersenyum, dia mulai memeriksa Emily. Sementara keluarga menunggu dengan cemas.
***
Agler sedang melaksanakan meeting di sebuah kafe, sebab itu dia tidak bisa hadir di rumah Gilbert. Sementara sang mamah, berada di rumah menjaga Reynan yang tertidur sejak sore.
"Bagaimana tuan? apakah kerja sama kita di lanjutkan?" tanya pria paruh baya di hadapannya.
Agler terdiam sebentar, dia melihat lagi berkas yang kliennya itu ajukan. Mendadak, netranya melihat seorang wanita yang datang menghampiri meja mereka.
"PAPAH!"
Tampaknya pria paruh baya itu terkejut, dia berdiri dan menatap wanita kuda itu dengan tatapan terkejut.
"Viona, ngapain kamu disini?" Tanya pria itu dengan sedikit penekanan.
"Papah bilangin sama anak kesayangan papah itu, jangan usik aku! dia dan mamahnya yang perebut itu sudah mendapatkan segalanya! setidaknya, biarkan aku dan mami hidup tenang!" Sentak wanita itu.
Agler menyandarkan tubuhnya di kursi, dia menikmati drama di hadapannya. Terlebih wanita muda yang berada di samping kliennya.
"Kamu gak lihat tempat? Papah sedang meeting!" Geram pria paruh baya itu.
Wanita yang bernama Viona tersebut pun menatap Agler, tak ada senyum sedikit pun. Hanya tatapan jutek dan judes yang dia layangkan pada sosok duda beranak satu itu.
"Apa putri papah juga tahu tempat? dia menghancurkan mimpiku! sekarang mas Bayu membatalkan pernikahan kami yang sisa hitungan hari! dan itu semua gara-gara anak kesayangan papah itu!!"
"Kamuu!!!" Geram Papah Viona dan menarik tangan putrinya menjauh dari sana.
Agler menggelengkan kepalanya, dia sudah meluangkan waktunya untum membahas proyek ini. Tapi, pria itu malah pergi begitu saja.
"Maaf tuan, besok saya akan mendatangi anda untuk membahasnya." Rupanya pria itu kembali lagi dengan wajah paniknya.
Dengan santai, Agler bangkit dari duduknya. Dia mengancingkan jasnya dan menatap pria itu dengan tersenyum ramah.
"Tidak perlu Tuan Sudibyo, kerja sama kita cukup sampai disini. Terima kasih," ujar Agler dan pergi begitu saja.
"TUAN! TUAN AGLER!! Arghh!!!"
"ini semua Gara-gara Viona!!" Geramnya.
"Kenapa wanita itu? Kenapa harus menangis di sana? apa tidak ada tempat lain?" Agler menggelengkan kepalanya.
Dia pun melajukan mobilnya, sorot lampu mobilnya mengarah pada Viona. Namun, wanita itu tak beranjak dari sana.
TIN!!
TIN!!
Agler berusaha mengklaksonnya, tetapi Viona tetap tak bangkit juga. Agler yang geram pun keluar dari mobilnya, dia menghampiri Viona dengan wajah kesalnya.
"MBAK! KALAU MAU MATI JANGAN DISINI! SAYA MAU LEWAT!!"
Bentakan Agler seperti nya berpengaruh, wanita itu mengangkat kepalanya. DIa mendongak menatap Agler dengan wajah sembabnya.
"Tolong saya." CIcit wanita itu.
"HA?" Bingung Agler.
Viona berdiri, dia memegang tangan Agler. Agler berusaha melepas nya, sebab dirinya tak terbiasa bersentuhan dengan wanita yang tak memiliki hubungan dengannya.
"Mba jangan begini, lepasin tangannya," ujar Agler.
"Tolong, tolongin saya hiks." Isak Viona.
"Haduh mba, makanya lepasin dulu!" Sentak Agler.
Viona melepaskan tangannya, Agler mengajak Viona masuk dalam mobilnya. Mereka pun pergi dari sana ke arah yang tak tertuju.
Sepanjang perjalanan, Viona hanya menunduk saja, tangisannya pun belum jga berhenti. Agler sendiri juga bingung, kemana ia akan membawa Viona.
"Rumahnya dimana mba?" Tanya Agler.
"Bisa gak sih lo gak manggil gue mba? gue bukan mba lo hiks ...,"
Agler meneguk kasar ludahnya, tanya baik-baik malah di jawab ketus. Ini alasan Agler belum menikah lagi sampai sekarang, wanita memang rumit.
"Y-ya ma-maaf habisnya mba nya ...,"
"Viona! nama gue Viona! umur gue 24 tahun, gue anak pertama. Yang tadi bokap gue, dia selingkuh sama mamah nya sahabat gue. Dan sahabat gue ternyata anak haram dia sama selingkuhannya."
Jika saja Agler saat ini tak menyetir, pasti dia akan bengong sembari mencerna perkataan Viona.
"Saya kan gak tanya tentang hidup embaknya." CIcit Agler.
"VIONA!! NAMA GUE VIONA BASTIAN HIKS ... GUE UDAH BILANG VIONA KENAPA MBAK LAGI HIKS ...,"
Ingin rasanya Agler membuka pintu mobil nya dan mendorong Viona keluar dari mobilnya. Dia yang tak suka menghadapi wanita kini di hadapkan dengan Viona yang labil.
Agler memutuskan menepikan mobilnya di tempat yang ramai, dia ingin berkata pada wanita itu jika dirinya ingin pulang dan urusan wanita itu bukan urusannya.
"Mb .. Viona saya ini mau ...,"
"Bantuin gue dong, minggu depan gue nau nikah hiks ... mantan sahabat gue malah ngancurin semuanya. Dia fitnah gue, calon gue batalin pernikahan kami. Terus gue harus gimana? undangan udah ke sebar, nyokap gue lagi stroke. Gimana hiks ...,"
Tiba-tiba Agler merasa kasihan pada wanita di hadapannya, dia paling tidak bisa jika di bicarakan tentang ibu. Pasti hatinya langsung luluh, memang anak ibu.
"Gue mohon bantu gue yah." Ujar wanita itu sambil memegangi tangan Agler walau pria itu tampak risih.
"Ba-bantuin apa?" Gugup Agler.
Viona mendekatkan wajahnya pada Agler, sehingga pria itu memundurkan wajahnya lantaran merasa canggung.
"Nikahin gue,"
"APA?!"
____
Tadinya udah mau tidur, eh inget belum up💆♀️💆♀️💆♀️