I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Konferensi pers



Emily dan Tania menatap serius pada berita yang di tampilkan pada televisi, mereka benar-benar tak menyangka jika Samantha berbuat kejahatan dengan melenyapkan menantunya sendiri.


Alfred mengadakan konferensi pers, dia harus melakukannya agar tak berdampak bagi perusahaan Greyson.


Dia datang bersama Danzel dan juga Gilbert. Mereka di hadapkan oleh banyaknya kamera yang merekam mereka.


"Sesi tanya akan di ajukan, silahkan bagi yang mau bertanya."


Seorang wartawan bangkit, dia menatap Alfred yang tengah menunggu pertanyaan nya.


"Maaf tuan, bagaimana kronologi yang sebenarnya tentang kejadian itu?"


Alfred menegakkan duduknya, dia mendekatkan mic pada bibirnya.


"Sesuai kesaksian hakim tiga hari yang lalu, saya rasa tak perlu ada yang di bahas lagi tentang kronologi yang sebenarnya. Tapi disini, saya hanya ingin mengatakan. Bahwa ibu saya, Samantha sudah mendapatkan hukumannya. Sekian, terima kasih." Jelas Alfred.


Wartawan yang lain pun bangkit, pertanyaan masih seputar tentang kejahatan Nyonya Samantha. Hingga, seorang wartawan yang duduk di barisan paling belakang bertanya hal yang membuat ketiga nya terdiam.


"Tuan, sempat beredar jika Tuan muda pertama sudah memiliki anak. Kami butuh penjelasan, apakah anak itu memang putra nya ataukan hanya anak adopsi?"


Danzel dan Alfred menatap Gilbert, pria itu tertunduk dengan menghela nafas pelan.


"Anak itu, putra kandung saya,"


Semua yang ada di sana terkejut dan menyorotkan kamera pada Gilbert. Mereka saling berbisik karena Gilbert tak menatap mereka dan sibuk menatap tangannya yang saling menggenggam.


"Sebenarnya, saya sudah menikah. Fillbert Revin Greyson, putra kandung saya dengan istri saya Emily. Kalian pastinya sudah pernah melihat putra saya, tapi tidak dengan istri saya. Karena kesalahpahaman, lima tahun lalu istri saya pergi meninggalkan saya dalam keadaan mengandung. Dan itu semua karena eyang saya,"


Suasana semakin riuh, mereka banyak yang membicarakan tentang Samantha yang begitu tega dengan keluarganya.


"Seperti yang kalian tahu, eyang saya sangat ambisius terhadap harta. Semua dia paksaan hingga merenggut nyawa seseorang. Pesan saya, jangan kalian korban kan keluarga kalian demi uang yang tak akan pernah di bawa mati." Lanjut Gilbert menatap semua wartawan itu dengan mata memerah.


"Kenapa istri dan anak anda tidak berada di sini tuan untuk mendampingi anda?" Tanya wartawan lain.


"Maaf, sepertinya ini sudah keluar dari pembahasan kita." Ujar Danzel mengambil alih karena khawatir sang kakak akan hilang kendali.


Gilbert mengangkat tangannya, dia menatap Danzel sambil mengangguk kepalanya. Mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa.


"Masih masuk dalam pembahasan ini, istri dan anak saya ... mereka entah berada di mana. Penculikan tempo hari, itu di sebabkan oleh eyang saya. Dia berusaha untuk menyingkirkan putra kami, agar saya dan istri saya bercerai." Suara Gilbert sudah mulai bergetar, dia tak kuasa menahan dirinya.


Asisten Kai segera membawakan minum untuk tuan muda nya, Gilbert menerimanya dan meminumnya sedikit.


"Apa istri anda sengaja pergi untuk menghindar dari Nyonya samantha?"


"Ya, sepertinya begitu." Jawab Gilbert.


"Baik tuan, kira-kira ... jika putra dan istri anda Melihat tayangan ini. Apa yang akan anda katakan?"


Gilbert menatap seorang wartawan yang duduk di barisan paling depan, hatinya berdebar tak karuan. Kenapa dia tak pernah terpikirkan tentang hal ini? dia bisa menyapa istri dan anaknya dari sorotan media.


"Ekhem!" Gilbert berdehem pekan, dia mengarahkan tatapannya pada salah satu kamera.


"Emily, sayang. Maafkan mas, mas ... mas salah terlambat mempercayaimu. Mas minta maaf padamu, kamu boleh menghukum mas. Bahkan memukul mas, tapi mas mohon ... pulang sayang. Mas kangen, mas rindu. Mas butuh kamu."


Gilbert mengusap air matanya yang tak terduga mengalir di ujung matanya, dia menyekanya dengan jari telunjuknya.


Mereka yang ada di sana pun tak kuasa menahan kesedihan, ada yang ikut meneteskan air mata. Ada juga yang hanya menatap dengan tatapan kasihan.


"Baru liat si bos nangis depan umum." Batin Asisten Kai menatap bos nya itu dengan raut wajah bingung.


"Dan untuk Revin, daddy adalah daddy kandungmu. Saat kamu mengatakan bunda ingin mencari daddy baru, hati daddy sangat sakit. Daddy adalah daddy mu, daddy gak rela kamu memanggil pria lain selain daddy dengan sebutan daddy juga. Daddy menyayangimu son,"


Mereka mengusap air matanya, begitu pula dengan Gilbert. Bahkan Danzel pun turut menitikkan air mata, dia rindu dengan keponakannya.


Tiba-tiba suasana menjadi riuh, Danzel dan Gilbert pun terlihat bingung saat semua wartawan menatap heboh pada mereka.


"Tuan! tuan!! lihat!!" Unjuk Asisten Kai pada layar yang berada di belakang bos nya.


"Revin, Emily?" Bahkan Suara Gilbert terdengar sangat bergetar, dirinya sangat rindu pada anak istrinya.


"Daddy, kok lame-lame di cana? lagi bagi cembako yah?" Terlihat Revin mendekatkan wajahnya pada kamera, hingga mereka pun merasa lucu dengan wajah manis Revin.


Semua wartawan yang tadinya sedih oun menjadi tertawa akibat pertanyaan yang Revin lontarkan.


"Waahhh, ternyata putra tuan Gilbert sungguh lucu. Ayo kita sapa!"


"HAAAIII!!"


Revin terlihat kebingungan, dia menatap Emily sejenak dan kembali menatap layar.


"Hai duga," ujar Revin dengan malu-malu.


"Revin dimana? daddy jemput yah?" Bujuk Gilbert.


Revin menatap sang bunda sebentar, Emily tampak melihat Revin dengan senyum tipis.


"Tadi kata buna, kalau daddy cudah cembuh. Buna kabalin lagi, cekalang Lev cama buna lagi libulan yah buna. Bial nda di keljain nenek tuwil lagi," ujar Revin.


Lagi-lagi semuanya tertawa karena tingkah polos anak itu, tak pernah terbayang jika sikap Revin akan selucu ini.


Tatapan Gilbert jatuh pada istrinya yang juga tengah memperhatikan nya dengan senyum lembut yang biasanya istrinya itu selalu tunjukkan.


"Em, mas mohon. Katakan kamu dimana? mas akan jemput kamu,"


Emily tersenyum dan menggeleng, dia belum ingin pulang. Dia hanya ingin sedikit memberi pelajaran untuk Gilbert agar belajar dari kesalahan.


"Setelah mas bisa mengontrol emosi mas, kami akan kembali," ujar Emily dengan senyum lembutnya.


Banyak yang memuji kecantikan Emily dan juga ketampanan Revin yang sangat mirip sekali dengan Gilbert. Bahkan, mereka tak menemukan celah untuk menghujat istri serta anak dari Gilbert.


Alfred bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekati Gilbert dan merangkul pundaknya.


"Ada yang mau Revin sampaikan pada daddy?" Tanya Alfred pada cucunya.


"Heum ... Lev kangen cama daddy, janan lagi kacal cama buna. Lev tau kok kalau daddy, daddy Lev. Kan Buna kacih tau potona, nih liat!!" Seru Revin dan menunjukkan sebuah foto Gilbert saat kuliah dulu.


"Kan milip, danteng daddy Lev. Cama kayak Lev, tapi macih dantengan Lev. Nanti kalau Lev cama buna pulang, Lev minta uang dolal yah. Kata Ley, dolal lebih banyak nol na," ujar Revin dengan antusias.


Perkataan Revin membuat Gilbert terdiam, dia seperti mendapatkan hal yang ganjil. Rey yang Revin maksud, membuat Gilbert sedikit curiga.


"Putra tuan Gilbert sangat lucu, beda sama bapaknya yang dingin." Bisik salah satu wartawan kada temannya.


"Bener, aku kira sifatnya nurun bapaknya." Sambung yang lain.


Sedangkan di sisi Emily, dia sedih menatap suaminya yang begitu kurus dan terlihat tak bersemangat. Kantung matanya terlihat menghitam, sepertinya suaminya sangat sulit tidur.


Namun, Emily hanya kecewa dengan perlakuan Gilbert. Salahkah dirinya ingin menenangkan diri untuk mempertahankan kewarasannya?


"Daaa daddy, calangee!!" Seru Revin saat Alfred akan memutus sambungan video itu.


Sambungan video itu terputus, Emily tak kuasa menahan tangisnya. Dia memeluk Tania yang mendekatinya.


"Pulanglah jika hatimu tak tenang, bagaimana pun juga. Kamu masih memiliki suami," ujar Tania dengan lembut.


"Biarkan, biarkan Emily untuk disini dulu beberapa waktu. Setelah Emily tenang, dan mas Gilbert sudah bisa mengontrol emosinya. Emily akan meminta dady untuk menjemput kami," ujarnya dengan lirih.


_____


Satu dulu yah, lelah banget aku😅😅.


Oh ya mau tanya dong, untuk kalian yang sudah menikah ... kalau misalkan kalian ada di posisi Emily. Bagaimana? Emily harus kembali, atau kasih Gilbert pelajaran dulu nih🤭🤭.


Mana nih yang penasaran pertemuan Galang dan Agler