
Alfred membawa Emily ke suatu tempat, yaitu tempat yang tak mudah di temukan oleh putranya. Dia berniat ingin menyadarkan putranya dari kesalahannya.
Emily setuju, mereka memang memiliki maksud yang berbeda. Alfred ingin Gilbert sadar akan kesalahannya yang selalu menyalahkan istrinya, Sedangkan Emily ingin menghindari dari Nyonya Samantha.
"Kita akan kemana dad?" Tanya Emily.
"Di tempat yang aman, yang pasti di sana kamu tidak merasa tertekan. Untuk sementara, sampai daddy mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Jawab Alfred yang tengah menyetir.
Emily mengangguk, dia menatap Revin yang tengah menatap jalanan dengan tatapan berbinar. Putranya sangat senang di ajak jalan dan melihat padatnya kendaraan.
"Kita mau pulang buna?" Tanya Revin.
"Kau akan liburan, apa kau senang?" Sahut Alfred.
Revin menoleh pada opa nya dengan tatapan terkejut.
"Benalkah? kok ajak opa nda aja daddy?" Bingung Revin.
"Opa hanya mengantarmu saja, kau akan liburan bersama bunda." Jelas Alfred.
Tak lama mobil alfred terhenti, tepat di depan mobil mereka ada sebuah mobil. Emily tampak tak asing dengan mobil itu, dia merasa pernah melihatnya.
Alfred keluar dari mobil, dia berjalan mendekati mobil di depannya dan mengetuk kacanya.
Emily dapat melihat Alfred yang sedang mengobrol dengan pemilik mobil, dan setelah beberapa saat Alfred kembali dan membuka pintu penumpang.
"Keluarlah, naik mobil di depan yah. Maaf daddy gak bisa mengantar, kalian akan pergi bersama mereka," ujar Alfred.
Emily mengangguk, dia keluar bersama Revin. Alfred mengeluarkan tas Emily dan membawanya ke mobil tersebut.
"Buka saja, daddy taruh tas mu dulu di bagasi." Titah Alfred.
Emily mengangguk, dia membuka pintu penumpang, dia sedikit menunduk kan kepalanya. Netranya membuka saat melihat siapa yang berada di dalam mobil.
Revin pun sama, saat dia akan naik dengan masih di gandeng oleh Emily seketika terkejut melihat seorang bocah seumurannya yang menatapnya dengan datar.
"KAMUUU!!! NGAPAIN DICINI HAH?!" Sentak Revin.
"Hai Emily, hai Revin." Sapa Tania.
"Tante,"
Emily benar-benar tak menyangka, dia menoleh pada Alfred yang ternyata sudah menaruh tas nya di bagasi mobil.
"Dad ini maksudnya bagaimana? kenapa ada tante Tania dan juga Agler.
" Emily maafkan daddy, karena waktu yang mepet. Hanya mereka yang daddy percaya, kebetulan Agler daddy perintahkan untuk memantau perusahaan cabang di kota Bogor. Kalian akan tinggal di sana untuk beberapa bulan ke depan. Daddy harap, kamu mau Em, " ujar Alfred.
Emily melepaskan genggamannya pada tangan Revin, sehingga kini dia bisa lebih leluasa berbicara pada Alfred.
"Dad, Em bisa tinggal sendiri. Tak perlu merepotkan tante Y
Tania dan juga Agler," ujar Emily.
"Daddy menaruh kamu pada mereka agar Gilbert tak bisa menemukan keberadaan mu. DIa pasti tidak akan pernah berpikir jika kamu akan bersama mereka, sudah gitu. Daddy lebih tenang, setidaknya kamu tidak menghilang seperti dulu. Daddy akan menemui mu saat akhir pekan nanti," ujar Alfred.
Dengan ragu Emily mengangguk, sementara dia ikuti Alfred dulu. Selama Alfred mencari kebenaran yang sesungguhnya, dia akan tinggal dengan Tiara dan juga Agler.
"Daddy khawatir Gilbert kembali main tangan denganmu, selain itu. Daddy ingin mencari tahu dulu tentang apa yang terjadi 5 tahun yang lalu. Benarkah jika eyang mengusirmu dengan mengancam akan mengugurkan Revin, maaf bukan daddy meragukanmu. Tapi ada bukti, itu yang lebih penting," ujar Alfred.
Emily mengangguk, dia yakin jika Alfred akan menemukan sebuah kebenaran. Andaikan Gilbert seperti Alfred yang mencari tahu terlebih dahulu sebelum menuduh, pasti Nyonya Samantha tak akan mudah menghasutnya.
"Oh ya dad, ini kartu mas Gilbert. Emily kembalikan," ujar Emily menyerahkan kartu hitam milik Gilbert.
Alfred menerimanya, setelahnya dia membuka dompetnya dan menyerahkan salah satu kartu miliknya.
"Peganglah, daddy akan mengirimmu uang lewat kartu ini," ujar Alfred dengan menyerahkan kartu tersebut.
"Ambillah, anggap ini milik Revin. Bagaimana pun, Revin memiliki hak. Dia cucu pertama daddy, hidupnya harus terjamin." Titah Alfred.
Dengan ragu, Emily mengambil kartu itu. Dia menyimpan nya di dalam tas selempangnya dengan rapih.
"Daddy akan kembalikan kartu ini, jika kamu membawanya Gilbert dengan mudah melacak keberadaan kalian. Pergilah, titip cucu daddy." Ujar Alfred sambil tersenyum tipis.
Alfred melambaikan tangannya pada Revin yang kini bersandar pada kaca, cucunya itu terlihat kebingungan.
"Jaga bunda yah boy!" Seru Alfred saat mobil itu telah melaju.
Revin ikut melambaikan tangannya, walau dia masih bingung dengan aoa yang terjadi.
"Awac palana telcangkut nanti!" Peringat Reynan.
Revin menatap Reynan yang duduk di kursi depan dengan tatapan sinis.
"Cilik aja!" Ketus Revin dan membenarkan letak duduknya di pangkuan Emily.
Agler tersenyum, dia memencet tombol untuk menutup kaca yang berada di sebelah Revin agar bocah itu tak lagi mengeluarkan kepalanya.
"Iihhh ketutup cendili!!!" Seru Revin dengan tatapan berbinar.
"Katlo banget cih! itu papah yang pencet dali cini! nda pelnah naik mobil mahal yah!" Seru Reynan dengan kata pedas nya.
Revin melototkan matanya, dia berdiri dan menarik kerah belakang baju Reynan dengan kesal.
"NDA COPAN YAH!! OMONGANNA NDA COPAN!! NANTI LEV LAPOLIN POLICI MAUUU HAHH!!! BIAL DI JAIT MULUTNA CEKALIAAANN!!!"
***
Sedangkan di rumah sakit, Hana tengah menunggu Gilbert sadar. Begitu pula dengan Nyonya Samantha, mereka berdua sama-sama menjaga Gilbert tanpa tahu apa yang Alfred dan Emily rencanakan.
Cklek!
Atensi mereka beralih pada pintu yang terbuka, melihat sang suami yang masuk membuat Hana segera berdiri.
"Loh mas, kamu kesini sendiri?" Tanya Hana dengan bingung.
"Memangnya sama siapa lagi? Danzel aku suruh ke perusahaan buat mantau karena Gilbert sedang disini," ujar Alfred dengan santai agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Hana berjalan mendekat, memang tak ada orang setelah suaminya. Itu artinya, menantunya dan cucunya tidak datang ke rumah sakit.
"Emily gak datang mas? Apa dia masih marah?" Bingung Hana.
"Gak tahu, mungkin jaga Revin di rumah. Lagian, buat apa dia disini? Gilbert hanya bisa menyakitinya," ujar Alfred dengan nada datar.
"Hei! bukan cucuku yang menyakitinya, tapi dia sendiri yang menyebabkan cucuku terluka. Lihat! gara-gara wanita tidak jelas itu, kau memukulnya sampai kritis seperti ini!" Sentak Nyonya Samantha.
Alfred berjalan mendekati ibunya, dengan tatapan datar dan menusuk. Alfred pun berbicara, "Kenapa mamah begitu membenci Emily? Aku curiga, apakah benar jika mamah yang menyuruh Emily pergi? ketidaksukaan mamah terhadap Emily membuatku cenderung lebih percaya Emily."
"Kamu meragukan ibu kandungmu sendiri Alfred!!!" Sentak Nyonya Samantha.
Hana khawatir akan terjadi pertengkaran lagi, dia memegang lengan suaminya agar tak lagi melawan Nyonya Samantha.
"Em ... Emily ... Emily,"
Mereka menatap Gilbert yang kini sudah tersadar, Hana dengan terburu-buru memencet tombol yang ada di samping brankar untuk memanggil suster.
"Emily!! EMILYYY!!!"
Gilbert terduduk, netranya menatap sekeliling dan tak melihat dimana sang istri.
"Kamu sudah sadar nak, syukurlah!" Seru Hana dengan senang.
"Emily, aku bermimpi melihat Emily pergi. Dimana istriku mom? dia tidak pergi bukan? dimana dia? aku ingin meminta maaf, aku menyesal. Aku hanya marah sesaat karena dia melawan ucapan ku, aku ingin meminta maaf padanya mom." Histeris Gilbert.
Alfred hanya menatap datar putranya, jika pun Gilbert kembali histeris dan harus meminum obat nya. Dia tak khawatir, Alfred lebih khawatir dengan kesehatan mental menantu serta cucunya.
"Semoga dengan ini, aku bisa menemukan kebenaran. Jika memang mamah dalang dari semuanya, apakah bisa aku mencurigai mamah yang membuat Lea jatuh?" Batin Alfred.
____
Malem banget yahðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤, nemein kalian begadang😅😅😅
Jangan lupa dukungannya yah kawan, terima kasih atas dukungannya semoga sehat selalu😘😘😘
.