I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Pertengkaran



Dirga menyuruh mereka semua pulang, dirinya sudah merasa di permalukan oleh Nyonya Samantha. Seakan-akana dia berniat menikahkan putrinya pada Gilbert sebagai istri kedua.


"Eyang bener-bener kecewa sama kamu Gilbert!" Bentak Nyonya Samantha saat mereka baru saja memasuki rumah.


Hana menyikut lengan suaminya untuk mengambil Revin yang terlelap di gendongan Gilbert, Alfred yang peka segera mendekati putranya untuk mengambil cucunya.


"Daddy bawa Revin ke atas." Ujar Alfred sambil membenarkan letak baju cucunya yang kini sudah berpindah pada gendongannya.


Alfred dan Hana membawa Revin ke atas, Danzel pun mengikuti orang tuanya meninggalkan Emily dan Gilbert yang akan di cerca oleh sang eyang.


"Kamu tahu kan, dengan kamu menikahi Amelia posisi kamu akan semakin naik Gilbert! kamu bisa mengambil alih perusahaan Evans!" Bentak Nyonya Samantha.


"Apa yang harus aku cari lagi eyang? aku punya perusahaan! Untuk apa mengambil alih perusahaan Evans? pikiran eyang sangat picik!" Marah Gilbert.


"BERANI KAMU BENTAK EYANG?!"


Emily mengusap d4d4 sang suami, nafas Gilbert terdengar tersenggal-senggal menahan amarah yang menguasainya.


"Sabar mas, sabar."


Tatapan Samantha menatap Emily dengan tatapan melotot, dirinya seperti akan memaki Emily.


"Sekarang dan selamanya, Emily masih tetap istri Gilbert. Sekeras apapun eyang menolaknya, Gilbert tetap bersama Emily." Tegas Gilbert.


Gilbert menarik tangan istrinya pergi dari hadapan Nyonya Samantha, dia tak tahan lagi dengan sikap sang eyang.


"Gilbert! Gilbert!"


Gilbert menghiraukan teriakan sang eyang, dia masuk ke dalam kamar nya dan menguncinya.


"Mas, gak kasihan sama eyang? dia teriak-teriak terus loh," ujar Emily.


Gilbert tak menghiraukan perkataan istrinya, dia menarik pinggang sang istri dan memepetkan tubuhnya ke tembok.


"Mas." Cicit Emily.


"Jadi ini rencanamu hm?"


Emily mengangguk pelan, tatapan Gilbert terfokus pada bibir pink sang istri.


"Sangat pintar, aku suka." Cetus Gilbert.


"Suka?"


"Yah, suka bibirmu."


Gilbert menc1um bibir istrinya, mereka pun terdiam sejenak dan saling menatap satu sama lain.


"Kamu cantik, bahkan mas sampai pangling melihatmu seperti ini," ujar Gilbert.


"Aku wanita yang matre mas, hanya saja aku bisa menempatkan posisiku saat ini." Ujar Emily sambil mengalungkan tangannya pada leher Gilbert.


"Oh ya? sematre apa dirimu? ku pikir, kau belanja habis satu M. Ternyata, hanya dua ratus juta," ujar Gilbert.


Menurutnya, uang segitu hanyalah sedikit. Dia bisa memanjakan istrinya lebih dari itu, tetapi sang istri bukan orang yang suka berbelanja seperti Hana.


"Kartu hitam yang mommy kasihkan, sangat bermanfaat untukku. AKu bisa membeli berlian dan juga baju mewah," ujar Emily.


"Bagus, kau harus belajar menjadi Nyonya Gilbert Greyson. istriku," ucap Gilbert dengan senyum tampannya.


Emily teringat dengan Amelia, gadis cantik yang sepertinya sangat ingin berteman dengannya.


"Tadi aku lihat, Amelia gadis yang cantik dan baik. Sayang sekali kalau sampai Nyonya Samantha memanfaatkan kebaikannya," ujar Emily.


"Yah, aku juga tidak menyukai tuan Dirga. Dia pria yang suka kesempurnaan, bahkan memilih menantu yang kaya. Aku tidak mau menjadi menantunya, bisa-bisa tiap hari terkena darah tinggi." Ringis Gilbert.


Gilbert dan Dirga sangat bertolak belakang, tetapi keduanya memiliki ambisi yang sama.


"Yasudah, aku mau mandi dulu." Ujar Emily sambil mendorong pelan dada suaminya.


Gilbert menyingkir, dia memberikan jalan untuk istrinya. Saat akan menyusul sang istri, ponselnya berbunyi yang aman membuat dirinya sangat kesal.


Dertt!!


Dertt!!


"Maaf tuan, maaf. Saya tidak bermaksud mengganggu kegiatan anda, tetapi sekarang ini sedang gawat!" Seru Asisten Kai.


"Gawat? gawat kenapa?" Tanya Gilbert dengan raut wajah bingungnya.


"Saham kita turun tuan,"


"APA?!"


***


Langit masih gelap, tetapi Gilbert sudah berangkat menuju kantornya. Semalaman dia tidak bisa tidur karena harus mengurus perusahaannya.


Tiba-tiba saja harga sahamnya menurun drastis, Gilbert menjadi panik karena takut hal ini di manfaatkan sebagai cela untuk menyingkirkannya.


"Bagaimana Kai?!" Tanya Gilbert saat dia memasuki ruang khusus.


Ada sepuluh orang karyawan yang terfokus pada layar laptop, mereka karyawan terpilih untuk menjaga data perusahaan.


"Tuan, sistem keamanan perusahaan di serang. Kami berusaha mengeluarkan untuk mencari akar permasalahannya," ujar Asisten Kai.


Gilbert sedikit menundukkan tubuhnya, dia menatap berbagai huruf dan angka yang terus berjalan di layar laptop.


Matanya menyipit, dia segera mengambil alih keyboard yang di mainkan oleh bawahannya.


"Si4l! perusahaan di retas!" Seru Gilbert.


Gilbert segera berjalan ke arah dinding yang berhadapan dengan pintu masuk, dia meraba dinding itu dan menggeser kakinya.


Seketika, dinding tersebut terbuka. Di sana ada sebuah beda bentuknya sangat kecil. Gilbert mengambilnya dan segera mencolokkannya lada laptop salah seorang karyawan.


"Anda menggunakan antivirus?" Tanya Asisten Kai.


"Ya, setidaknya sinyal mereka ke kota terputus." Jawab Gilbert.


"Tapi tuan, semua data akan hilang!" Pekik Asisten Kai.


"Aku sudah menyalin semua data ke tempat lain, kau tenang saja. Antivirus ini akan merusak sistem mereka," ujar Gilbert dengan sorot mata yang dingin.


Benar saja, tak lama semuanya kembali normal. Lembur mereka tak sia-sia, akhirnya kini mereka bisa bernafas lega.


"Asisten Kai, kau bisa mengurusnya. AKu harus pulang untuk mengantar putraku kontrol." Pamit Gilbert.


Dia harus pulang untuk mengantar Revin kontrol, luka di kepala Revin memang sudah mengering. Tetapi, dirinya harus melakukan kontrol rutin untuk melihat lebih secara keseluruhan.


Sedangkan di rumah, lagi-lagi Nyonya Samantha berperang dengan cucu menantunya sendiri.


Emily hanya menanggapinya santai, karena kalau dia juga emosi. Semua masalah akan semakin runyam, apalagi menghadapi orang seperti Samantha.


"Kamu dengar! cucuku tidak pantas bersanding dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya seperti mu!" Bentak Nyonya Samantha.


"Ehm kalau begitu, wanita apa yang pantas untuk cucu anda? apakah wanita seperti anda? yang egois dan sombong? menganggap dirinya wanita yang sangat sempurna hm?"


Nyonya Samantha mengepalkan tangannya, dia serasa ingin mencakar wajah Emily yang menatapnya dengan datar.


"Nenek tuwil dali kemalin malah-malah telus, nda capek? haus nda? mau Lev ambilkan minum?" Celetuk Revin yang menghampiri dua krang yang berseteru itu.


"Eyang, udah dong marah-marahnya. Nanti Kak Gilbert tahu, dia marah loh. Eyang mau kak Gilbert marah, udah yah." Bujuk Danzel sambil mengusap bahu sang eyang.


Suara deru mesin mobil Gilbert terdengar, Revin tersenyum lebar dan segera berlari keluar untum menghampiri daddy nya itu.


"DADDYY!!"


Gilbert yang baru saja turun dari mobil seketika di sambut oleh teriakan putranya, dia berjongkok dan menyambut pelukan sang putra.


"Putra daddy semangat sekali sih hm." Gemas Gilbert.


"Daddy lihat kedalam, nenek tuwil macih nomel cama buna. Buna jadi cedih, kacian buna daddy." Adu Revin.


"Eyang lagi." Batin Gilbert kesal.


____


Maaf yah kemaleman, lunas oke🥰🥰🥰