
"Mom apa Emily masih marah padaku? kenapa dia sama sekali tidak menjengukku? apa dia tidak khawatir padaku? ini sudah dua hari, lebih baik nanti sore aku pulang saja!"
Hana hanya bisa menghela nafasnya, apa yang harus dia katakan pada Gilbert? Dirinya juga baru tahu jika Emily sudah pergi entah kemana saat dia kembali pulang untuk mengambil pakaian Gilbert.
Danzel pun sudah mencari kakak iparnya di kampung, tetapi Emily memang tak kembali ke sana.
"Ngapain sih kamu tanyain dia terus? paham kan sekarang kalau dia itu istri yang gak berguna? suami sakit bukannya di rawat malah santai aja di rumah." Celetuk Nyonya Samantha yang kini duduk di sofa.
Nyonya Samantha belum tahu tentang kepergian Emily, selama ini dia tak lagi pulang ke rumah Gilbert. DIrinya lebih memilih tinggal di hotel dari pada kembali melihat Emily.
"AKu ingin pulang! pokoknya Gil mau pulang sekarang!" Seru Gilbert seraya turun dari brankar nya. Hatinya tak tenang, perasaan bersalah selalu menghantui dirinya.
Hana pun panik, dia berjalan tergesa-gesa mendekati Gilbert yang kini sudah berjalan menuju pintu.
"Gilbert! kamu belum dapet izin pulang!" Larang Hana.
"Gil pokoknya mau pulang mom, jangan halangin Gil. Jika tidak ...,"
Cklek!
"Tidak perlu, mommy tidak akan menghalangi kamu untuk menemui istrimu."
Semua orang kaget melihat Alfred yang tiba-tiba saja memasuki kamar rawat Gilbert dengan wajah datarnya.
Gilbert bungkam saat tak sengaja melihat beberapa orang berpakaian polisi di belakang sang daddy.
"I-ini kenapa ada polisi? apa daddy melaporkan Gil atas tuduhan kdrt?" Batin Gilbert, hatinya sungguh merasakan nyeri. Apakah istrinya melaporkannya?
Alfred menatap tajam Hana dan juga Nyonya Samantha, raut wajah keduanya terlihat sangat bingung.
"Kenapa ada polisi disini Al?" Bingung Nyonya Samantha.
Alfred melangkah masuk bersama para polisi, netranya menatap tajam sang istri yang kini berdiri di hadapannya.
"Tangkap kedua wanita itu pak!" Titah Alfred dengan suara bergetar menahan amarah.
Hana dan Nyonya Samantha melotot tak percaya, begitu pula dengan Gilbert. Dia menghalangi polisi yang akan memegang Hana.
"Lepaskan tanganmu dari mommy ku!! lepaskan! jangan lancang!!" Sentak Gilbert.
Alfred manarik Gilbert menjauh, walau Gilbert meronta tetapi kekuatan Gilbert saat ini tak sebesar biasanya. Sebab, dirinya harus memperhatikan selang infus yang tertancap di tangannya.
"MAS!! APA-APAAN KAMU MAS!!! LEPASKAN AKU!!!"
"KAMU SUDAH GIL AL!!"
Kedua wanita itu meronta saat polisi memborgol mereka, tak mengerti apa kesalahan mereka karena Alfred tak ingin keduanya kembali memiliki rencana.
"Gilbert! Tolongin mommy!!!
"Daddy, kenapa daddy melaporkan mommy? apa salahnya dad? kenapa daddy tega melakukan ini pada mommy?" Seru Gilbert menatap sang ayah dengan tatapan marah.
"Dia bukan ibumu Gil!"
Mendadak suasana menjadi hening, Hana tak lagi meronta begitu pula dengan Nyonya Samantha. Degup jantung mereka berdebar kencang, kaki mereka terasa sangat lemas.
"Apa maksud daddy? jangan katakan itu dad, mommy akan sedih." Ujar Gilbert sambil memegang bahu sang daddy.
"Daddy berkata jujur, dia bukan ibu kandungmu!!"
"MAS!!!" Teriak Hana menegur suaminya.
Tatapan Alfred mengarah pada isyeinya, hatinya sakit melihat air mata Hana. Bohong kalau dia berkata jika dirinya tidak mencintai Hana, berumah tangga bersama Hana selama hampir 25 tahun tentu saja membuat cinta tumbuh di hatinya karena terbiasa drngan kehadiran sosok yang menjadi istrinya saat ini.
Alfred menatap putranya dengan lekat, dia memegang bahu Gilbert dan menepuknya pelan.
"Saatnya daddy jujur padamu Gilbert, sebenarnya ... Hana bukanlah ibu kandungmu. Aleana Hermawan, itulah nama ibu kandungmu. Namun, sayangnya ... kedua wanita itu menyebabkan ibumu tiada!!"
Alfred menunjuk tepat di hadapan kedua wanita itu, Nyonya Samantha mendadak lemas. Ketakutan menyelimuti hatinya, begitu pula dengan Hana.
"Apa Alfred telah mengetahui sesuatu? Tapi bagaimana mungkin? Lukman sudah mati! bukti sudah lenyap, kenapa Alfred bisa tahu?" Batin Nyonya Samantha.
"Dad ...." Lirih Gilbert dengan netra berkaca-kaca.
Sementara Alfred, dia menyuruh Gilbert untuk duduk di brankar. Dirinya bermaksud menceritakan semuanya.
"Gilbert, mommy dan daddy menikah saat usiamu baru lima bulan. Daddy terpaksa menikahinya karena dorongan dari oma,"
"Lalu, dimana ibu kandungku?" Tanya Gilbert.
"Dia ada di surga, ibumu meninggal setelah melahirkanmu." Jawab Alfred.
Gilbert merasakan sesak di d4d4 nya, air matanya luruh begitu saja membasahi pipinya. Nafasnya terdengar berat, tetapi dia harus berusaha mengontrol dirinya.
"Dan itu semua, karena eyang dan mommy." Lanjut Alfred membuat Gilbert tak kuasa berbicara.
"Mo-mommy? e-eyang, mereka ...,"
Alfred mengangguk. "Ya, saat itu ...,"
Flashback On.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu. Jangan lelah-lelah, kalau mamah suruh kamu bantuin pembantu di dapur. Jangan mau, kalau lelah kasihan debay kita." Ujar Alfred pada seorang wanita cantik yang tengah mengandung buah hatinya sambil mengelus perut yang sudah membesar itu.
Aleana Hermawan, wanita desa yang sangat cantik. Dia hanyalah seorang anak petani, tetapi bisa membuat seorang Alfred jatuh hati.
"Ya bang, tapi Lea gak janji yah. Ibu kamu gak pernah nyuruh Lea kok, cuman Lea nya aja yang gak betah kalau santai-santai. Apalagi mau dekat lahiran, kata dokter suruh banyak gerak," ujar Lea.
Alfred tak bisa berkata apapun lagi, dia pun akhirnya pamit untuk bekerja sedangkan Lea masih di kamar untuk menata barang-barang calon anaknya.
"Lucu banget, pasti nanti kalau baby udah lahir dia akan lucu pake sepatu ini." Gumam Lea sambil memeluk sepasang sepatu berwarna biru.
Tok!
Tok!
Tok!
"Siapa yah? apa abang pulang lagi?" Batin Lea.
Lea pun meletakkan sepatu bayi itu, dia berjalan mendekati pintu dan membukanya.
Cklek!
"Eh, ibu." Sapa Lea.
Lea tak pernah memanggil Nyonya Samantha dengan panggilan mamah, melainkan panggilan ibu. Karena sikap dingin Nyonya Samantha padanya membuatnya menjadi segan.
"Ada yang mau saya bicarakan padamu, ikut saya!" Titah Nyonya Samantha.
Walau heran, Lea tetap mengikuti mertuanya. Nyonya Samantha membiarkan Lea lebih dulu turun tangga, dia berada tepat di belakang menantunya dan menatap wanita yang tengah hamil itu dengan seringai di bibirnya.
"Maaf, saya harus melakukan ini." Batin Nyonya Samantha.
Nyonya Samantha mencegal kaki Lea dengan kakinya, sehingga Lea tak bisa menjaga keseimbangan pun terjatuh dan terguling di tangga.
Sungguh tega, bahkan saat menantunya terkapar di lantai sambil menahan rasa sakit. Nyonya Samantha hanya diam di ujung tangga dengan sudut bibirnya yang terangkat.
Kepalanya terangkat, netranya tak sengaja menangkap Hana yang berbalik dan berlari menjauh.
"NONAAA!!!"
Nyonya Samantha terkejut ketika melihat salah seorang pembantu muncul dari pintu samping yang sepertinya baru kembali dari kebun itu terkejut melihat keadaan istri tuannya.
disitulah, drama di mulai. Nyonya Samantha memainkan perannya sebagai mertua yang baik. Dia menelpon ambulan dan mengeluarkan air mata buayanya.
Hingga Hana di bawa ke rumah sakit dalam keadaan yang sangat kritis. Namun sayangnya, hanya Gilbert lah yang bertahan. Lea, di nyatakan tiada karena pendarahan hebat.
______
Sorry yah kawan malem banget, dari lagi sibuk di luar. Baru nyempetin bikin jam sembilan tadiðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Part selanjutnya di tunggu oke🤗🤗