I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Galang Vero Evans



"Galang! apa kau yang mengacaukan sistem data di perusahaan Greyson?" Tanya Dirga menatap layar ponselnya yang menampilkan wajah seseorang yang tertutupi oleh masker.


"Yah, apa yang salah pah? dia telah membuat keluarga kita malu, aku kerjakan saja perusahaan. kalang kabut kan pastinya mereka."


Dirga menghela nafas pelan, putranya yang satu itu membuat dirinya selalu darah tinggi.


"Pulang ke Indonesia sekarang juga! tidak ada gunakan kamu di sana!" Ketus Dirga.


"Aaaa papah gak seru!" Serunya dengan kesal dan mematikan sambungan telponnya.


Dirga menghela nafas pelan, dia menaruh ponselnya di atas meja kerjanya dan menyatukan jari jemarinya.


"Galang, anak itu selalu saja membuatku pusing. Banyak perusahaan yang dia kacaukan, untung saja tidak dengan perusahaan ku." Gumam Dirga.


Dirga menatap laptopnya, kerjaannya begitu banyak. Tetapi, putranya itu tetap asik bermain di luaran sana mengacaukan perusahaan yang lain.


"Dia senang mengacau, tapi dia sendiri yang memperbaiki semuanya." Dirga menggelengkan kepalanya mengingat kelakuan putranya itu.


Tok!


Tok!


Tok!


"PAKET!"


Mendengar itu sontak saja Dirga langsung berdiri, dia tahu suara siapa itu.


Cklek!


"Hello papah! apa kau merindukan putra nakalmu hm?"


"GALANG!"


Galang Vero Evans, pria berusia 24 tahun. Akan tetapi, tingkahnya masih saja kekanak-kanakan. Namun begitu, Galang pria yang sangat berbahaya.


"Kenapa papah terkejut begitu? bukankah papah ingin aku pulang? sekarang aku sudah disini, cepat bukan?" Seru Galang dan duduk di hadapan meja kerja sang papah.


Dirga kembali duduk dengan kesal, ingin sekali dia mencubit putra nakalnya itu.


"Jika mamah tahu, kau pasti akan langsung di cubitnya!"


"Papah pasti merindukan mamah bukan?" Tanya Galang menyadari sang papah yang merindukan sosok istrinya.


Dirga mengangguk, baginya istrinya wanita satu-satunya yang ia cintai. Bahkan, setelah kepergian istrinya Dirga memilih untuk mejadi single daddy untuk anaknya.


"Mamah sudah tenang di sana," ujar Galang.


"Mamah belum bahagia Lang, sebelum kamu kembali berkumpul dengan saudaramu." Ujar Dirga menatap sendu kearah langit-langit kantor.


Galang mengerti, dia bangkit dan berjalan mendekati Dirga. Di teluknya bahu Dirga dengan pelan untuk menguatkan papahnya itu.


"Tim sar sudah mengatakan, kecil kemungkinan korban selamat. Kecelakaan kereta api itu, membuat aku kehilangan mereka," ujar Galang dengan sendu.


23 tahun silam, mamah dan kedua saudara nya mengalami tragedi kecelakaan. Dimana sang mamah berniat menyusul Dirga yang berada di Bali bersama kedua anaknya.


Namun naas, di depan ada kereta yang berlawanan arah. Kereta mereka beradu hingga menimbulkan banyak korban jiwa.


"GALANG!"


Galang mengangkat wajahnya, wajahnya yang tadinya redup seketika berbinar senang.


"AAAAA SAUDARA CANTIK GUEEE!!! SINI PELUK CIUM DULU SINI!!!" Seru Galang.


Amelia berlari dan menerjang tubuh pria itu, dia memeluk erat leher Galang. Tubuh nya sedikit terangkat karena Galang menggendongnya.


"Cieee yang batal nikah." Ledek Galang.


PLAK!


Amelia yang kesal pun menepuk bahu pria itu, dirinya kesal karena di ledek seperti tadi.


"Aku bersyukur batal nikah dengan Gilbert, ternyata dia pria beristri. Cantik sekali istrinya, papah! aku ingin berteman dengannya, pasti sangat seru sekali!" Seru Amelia.


Galang menurunkan Amelia dari gendongannya, dia menatap kakaknya itu dengan tatapan tengil.


"Oh yah? Istri simpanan yah? gak pernah terlihat oleh media apapun," ujar Galang.


"Yah, dia cantik. Auranya mirip dengan seseorang," ujar Dirga tanpa sadar membuat Galang dan juga Amelia menatap ke arahnya.


"Papah jangan aneh-aneh yah, carinya yang seumuran. Jangan Emily, dia terlalu mudah untuk papah. Dan point pentingnya adalah ia istri orang. Jangan jadi pebinor." Seru Amelia membuat Dirga melototkan matanya.


****


Sedangkan di kediaman Gilbert, saat ini dua orang berbeda usia sibuk berdebat. Keduanya saling tak ingin mengalah satu sama lain, entah sampai kapan mereka akan berhenti.


"Kamu membela wanita itu Gilbert?! ingat! dia meninggalkan kamu karena kamu miskin!" Bentak Nyonya Samantha pada Gilbert yang berdiri di hadapannya.


Gilbert mencoba mengajak bicara eyangnya dengan baik-baik, agar tak terjadi pertengkaran lagi antara istrinya dan eyangnya.


"Eyang, bukan gitu maksud Gil. Gilbert pengen eyang sama Emily akur, Gilbert udah gak peduli tentang masalah 5 tahun lalu. Dengan adanya Revin, kami memutuskan untuk memulai semuanya dari awal," ujar Gilbert.


Nyonya Samantha menghela nafasnya, dia berbalik memunggungi Gilbert dengan melipat tangannya di dada.


"Terserah! pokoknya, besok kita akan kembali ke mansion tanpa membawa wanita itu!" Nyonya Samantha sangat keras kepala, dia benar-benar tak menyukai Emily.


Gilbert menghela nafas pelan, sulit membujuk eyangnya. Dirinya bersusah payah membela istrinya di hadapan sang eyang, tetapi tetap saja Nyonya Samantha tak menyukai Emily.


"Haah ... terserah eyang saja, pokoknya aku tidak akan kembali ke mansion sebelum eyang menerima Emily sebagai istriku," ujar Gilbert dengan tegas.


Gilbert beranjak keluar dari kamar Nyonya Samantha, dia tak peduli bagaimana nantinya Nyonya Samantha akan marah padanya.


Terlihat, Samantha mengepalkan tangannya. sorot matanya menajam, nafasnya memburu.


"Emily, sudah ku katakan jika aku bisa berbuat nekat. Apabila Revin penyebab kalian bersama, baiklah ... akan ku singkirkan bocah itu agar kalian bercerai!" Gumam Nyonya Samantha dengan sorot mata penuh kebencian.


Gilbert kembali ke kamarnya, dia terheran saat melihat Emily yang melamun sambil memegangi botol susu Revin.


Sehabis kontrol, Revin langsung tertidur karena kelelahan. Bocah yang sangat aktif itu, sedang tidur siang sambil menikmati sebotol susu.


"Apa yang sedang dia pikirkan." Gumam Gilbert.


Emily tersadar, dia menatap suaminya dan memberikan senyum cantiknya.


"Gak ke kantor lagi mas?" Tanya Emily.


Gilbert menggeleng, dia memilih duduk di sebelah Emily dan mengusap bahu wanita yang dia cintai itu.


"Mas lihat, kamu kayak orang gelisah gitu?" Tanya Gilbert.


Emily terdiam, memang benar dirinya sedang gelisah dan berpikir akan suatu hal yang membuat dirinya cemas.


"Apa Nyonya Samantha sudah mau menerima ku? tapi rasanya mustahil sih, di lihat dia memiliki watak yang keras."


Gilbert memeluk pinggang istrinya, dia meletakkan kepalanya di bahu Emily istri tercintanya.


"Mas tidak akan kembali ke mansion sampai eyang mau menerima kamu. Pokoknya, kita berjuang bersama-sama oke," ujar Gilbert dan meng3cup sekilas pipi istrinya.


Emily meragukan hal itu, dia sangat ragu apakah Nyonya Samantha bisa menerimanya? sementara dirinya lah penyebab Nyonya Samantha dan Gilbert bertengkar.


"Apa yang sedang kamu fikirkan hm?" Tanya Gilbert menyadari keterdiaman istrinya.


"Apakah kamu masih belum mempercayai ku mas?"


Sontak saja, Gilbert mengangkat kepalanya dari bahu istrinya. Dia menatap Emily dengan raut wajah serius.


"Sikap Nyonya Samantha membuktikan ucapan ku beberapa waktu lalu. Kamu ingat?" Tanya Emily, mengetes apakah suaminya masih mempercayai Samantha.


"Em, aku mempercayaimu. Tapi, di sisi lain. Aku ragu. Dari kecil eyang yang merawatku, dia merawatku dengan penuh kasih. Bagaimana bisa aku mencurigainya akan melenyapkan Revin? bahkan saat itu dia masih di dalam kandungan? bagaimana bisa aku meragukan eyangku Emily?"


Paham, Emily mengerti. Samantha benar-benar hebat mengambil hati suaminya hingga pria itu tak bisa menyadari kebenaran.


"Suatu saat, akan ada dimana masanya kamu akan melihat sendiri bagaimana busuknya eyang kamu mas. Untuk saat ini, keselamatan Revin yang terpenting. Salah satu alasan ketakutan ku untuk kembali padamu mas, karena Nyonya Samantha." Batin Emily.


Sore hari, Revin meminta jajan di mini market. Gilbert pun menyuruh Danzel untuk mengantar putranya, dengan setengah hatim Remaja itu pun mengantar ponakannya jajan.


"Eh bocil, bapak lo gak ngasih duit. Emang nya Revin bawa duit?!" Tanya Danzel pada ponakannya yang sedang memilih cemilan.


"Nda, makana Lev bawa om." Ujar Revin dengan santai.


Danzel melototkan matanya, apa-apaan bocah itu menyuruhnya membayar jajannya.


Netra Danzel membulat saat melihat Revin yang mengambil jajanan berbentuk telur, dia segera merogoh saku celananya dan hanya ada dua puluh ribu saja.


"AYAM! Dompet gue ketinggalan." Batin Danzel.


Dengan cepat, Danzel menghampiri ponakannya. Dia mengambil bola coklat di tangan Revin dan mengembalikannya pada tempatnya semula.


Revin tang melihat tangannya kosong segera menatap om nya, bocah yang mengenakan baju beruang itu merebahkan dirinya di lantai agar Danzel mengasihaninya.


"Gak ngaruh bujukan lo di gue!" Gumam Danzel dan menarik kerah belakang baju anak itu.


Ibu-ibu yang sedang ikut berbelanja melongo saat melihat bagaimana Danzel menenteng Revin dengan seenaknya.


Apalagi, Revin pasrah di perlakukan seperti itu. Hingga sampai pada tempat es krim, Danzel menurunkan nya. Dia membuka lemari eskrim dan mengambil es krim pelangi.


"Nih pegang! gak usah yang mahal-mahal, om gak ada uang. Nanti kalau gak bisa bayar, om gadai in kamu disini. Mau?!" Ancam Danzel.


Revin segera menggelengkan kepalanya polos, dia tidak mau di gadai. Netranya menatap es krim yang berada di tangannya.


"Kele banget cih om! masa kacihna cuman catu! kele dacal!" Kesal Revin. Niat hati ke mini market ingin jajan banyak memoroti om nya itu, malah Danzel lupa membawa dompetnya.


"Tadi aja ajak daddy yang banyak uangna, dali pada bawa om kele!" Gerutu Revin.


"Hee bocil! sukur gue beliin, kalau gak mau. Sini balikin lagi!" Pinta Danzel.


Revin segera menyembunyikan es krimnya di belakang tubuhnya, dia menggeleng seraya mengerucutkan bibirnya sebal.


"Udah di kacih nda boleh ambil lagi, kata buna nanti bibilna doel." Ujar Revin sambil mengacungkan jari telunjuknya.


Danzel hanya memutar bola matanya dengan malas, dia berjalan lebih duku meninggalkan Revin yang panik mengikutinya.


"Jann di tindal! Lev nda bica bayal nanti!" Seru Revin berlari mengejar Danzel.


BRUK!


Karena tak hati-hati, Revin menabrak seseorang. Dia jatuh terduduk dengan tudung bajunya yang menutupi wajahnya.


"Sorry sorry, gak papa dek?"


Revin sedikit membuka tudungnya, wajahnya melongo menatap seorang pria yang memakai jaket dan juga masker.


"Are you oke?" Tanya pria itu sambil membuka maskernya.


"Om pembinol?" Gumam Revin.


"What? pembinol?" Pria itu celingak-celinguk untuk mencari orang lain yang di maksud Revin.


Namun rupanya, dirinya lah yang di maksud oleh bocah itu.


"Siapa nih bocah? kenal aja kagak." Gumam pria itu yang tak lain adalah Galang.


Revin berdiri dari jatuhnya, tatapannya tak beralih sedikit pun dari Galang.


"Ini ok pembinol kan? anakna mana? nda di ajak jajan duga?" Tanya Revin sambil memperhatikan sekitar.


"ANak? gue belum punya anak woy!"


"Revin ayo bayar! ala mau om gadai in kamu hah?!" Seru Danzel membuat Revin langsung meninggalkan Galang yang menatapnya dengan heran.


Tatapan Galang beralih pada Danzel, dia tak asing dengan remaja itu.


"Itu Danzel kan, adik dari Gilbert. Apa bocah itu ... anaknya Gilbert? tapi, kenapa dia bilang gue pembinol? emangnya pembinol apaan?" Gumam Galang yang pusing dengan kaga belepotan anak berumur 4 tahun itu.


"Pembinol."


"Pem ... perebut bini orang maksudnya?!" Pelik Galang uang baru menyadari bahasa Revin.


____.


Satu dulu yah😅😅, kerjaan baru beres. Tapi tenang, sengaja aku panjangin biar gak pelit amat🤭🤭🤭.