
Gilbert menatap putranya yang sedang menikmati es krim, mata anaknya terlihat sembab. Satu jam lalu Gilbert membawanya ke dokter psikolog, di sana lah Gilbert mengetahui apa yang putranya pendam selama ini.
"Lev takut daddy pelgi lagi, Lev nda mau buna di ambil. Kalau daddy pelgi, buna juga cayang cama dedek. Ciapa yang cayang Lev? Nanti hiks nanti Lev di mucuhin olang lagi hiks ... nda ada yang cayang cama Lev. Lev balu beltemu daddy, tapi daddy punya anak balu lagi. Lev cedih,"
Gilbert kembali mengingat perkataan putranya saat di dokter tadi, dia mengerti mengapa selama ini Revin selalu meluapkan emosinya. Hanya Emily lah yang mampu meredakan emosi putranya itu.
"Enak es krimnya?" Tanya Gilbert saat melihat putranya menatap ke arah nya.
Revin mengangguk, sesekali dia masih sesenggukan habis menangis tadi. Gilbert mengambil tisu dan membersihkan mulut anaknya yang terkena noda es krim.
"Revin, daddy ingin bicara."
Revin mengangkat wajahnya, dia mengangguk dan kembali melahap es krimnya yang tinggal sesendok. Setelah habis, dia menaruh mangkok es krimnya dan serius menatap sang daddy.
"Saat sebelum daddy bertemu Revin, apa ada orang yang menyakiti Revin? atau berbicara yang buat Revin sedih?" Tanya Gilbert dengan penuh kasih.
Revin tampak terdiam, dia menunduk dan meremas jarinya. Gilbert merangkul putranya, dia mengelus kepala putranya yang tertutup topi.
"Katakan, anggap saja daddy teman Revin." Pinta Gilbert.
"Ta-tapi daddy janan bilang buna yah, nanti buna cedih," ujar Revin dengan nada lirih.
Gilbert awaknya bingung, tetapi akhirnya dia mengangguk mengiyakan. Dia akan mendengar dengan cermat apa yang akan putranya sampaikan.
Revin menarik kerah bajunya, dua memamerkan bahu polosnya pada sang daddy. Di sana terdapat luka bulatan, yang Gilbert tahu jika luka itu seperti bekas luka bakar.
"Luka?" Bingung Gilbert.
Revin mengangguk, dia kembali menutup bekas luka itu dan menatap Gilbert dengan mata berkaca-kaca.
"Waktu itu Lev puna temen, dia ngatain Lev nda punya daddy. Dia duga bilang kalau daddy gak cayang Lev makana di buang. Lev malah, Lev pukul dia. Tapi daddy dia nda telima, dia taluh lokokna di bahu Lev. Baju Lev bolong, Lev takut buna malah."
DEGHH!!!
Penjelasan Revin membuat hati Gilbert berdenyut sakit, hatinya sangat perih ketika tahu anaknya di perlakukan dengan sangat tidak baik.
"Tapi Lev nda bilang buna, udah cembuh buna tanya. Lev bilangna luka datal," ujar Revin dengan polosnya.
Gilbert tak tahan lagi, dia mengambil putranya dan mendudukkannya di pangkuannya. Dengan erat Gilbert memeluk putranya dan menc1um1 kening Revin sambil mengalirkan air matanya yang sejak tadi tertahan.
"Maafkan daddy, maafkan daddy. Maaf sayang, sorry baby." Lirih Gilbert.
Revin menggeleng, dia menghapus air mata Gilbert dengan tangan gempalnya. Begitu sulit hidupnya dulu, bahkan agar kenyang dia harus meminum air gula.
"Daddy nda calah, nenek tuwil yang calah. JAnan nanis lagi," ujar Revin dengan senyum tulusnya.
"Daddy sayang Revin, sayang daddy ke Revin melebihi sayang daddy ke adek-adek. Revin tetap nomor satu di hati daddy," ujar Gilbert dengan sungguh sungguh.
Bukannya senang Revin malah menggeleng, dengan senyum cerianya dia mengatakan hal yang membuat Gilbert tercengang.
"Janan, nanti dedek cama cepelti Lev. Lacana nda enak, cakit daddy."
Gilbert benar-benar tak sanggup, dia tak sanggup lagi mendengar perkataan putra kecilnya. Putra yang tak pernah dia ketahui kelahirannya sebelumnya, bahkan sebab putranya dia bisa kembali dengan wanita yang dia cintai.
"Ayo pulang daddy, Lev kangen buna," ujar Revin.
Gilbert menghapus air mata yang tersisa, dia tersenyum dan menggendong putranya. Mereka pun keluar dari kedai es krim menuju parkiran. Namun, seorang pria berpakaian hitam akan mengikuti mereka, tetapi ...
BRUGH!!
Galang berhasil menguncinya, dia menarik pria itu menjauh. Mereka masuk ke dalam gang kecil dekat kedai dan memukul leher pria misterius tersebut.
"Huh ... menjengkelkan!" Kesal Galang.
"Ck! pake acara di password segala lagi!" Gerutu Galang.
Galang pun memasukkan ponsel itu ke dalam kantong jaketnya, dia tak sengaja melihat tato naga di leher pria itu.
Tiba-tiba saja Galang merasakan panas di perutnya, dia menunduk dan melihat api yang berada di kantong jaketnya.
"S3T4N!!"
Galang membuka jaketnya, dia melemparnya ke jalanan sehingga menimbulkan ledakan. Untung saja saat itu jalanan sepi karena kedai itu berada di ujung kota.
"Bisa-bisanya tuh ponsel ada alarmnya." Kesal Galang.
Ternyata ponsel itu sudah di buat khusus, jika bukan pemiliknya yang memegangnya maka ponsel itu akan meledak dengan sendirinya.
"Si4l!" Geram Galang saat melihat banyak orang yang berdatangan.
Untung saja Galang memakai masker dan juga hoodie, dia segera berlari pergi sebelum dirinya di tangkap.
***
Galang masuk ke markasnya, dia melepas hoodienya dan menyambut jubah kepimimpinannya yang di bawakan oleh anggotanya. Dia memakai topi yang menjadi ciri khasnya dan memyambar senjata miliknya.
Dengan tampang datar, Gakang memasuki markas tersebut. Sebuah mansion yang besar dan megah, siapa sangka jika di sana terdapat ribuan anggota mafia.
"HENDRICK!!"
Suara Galang menggema, dia menatap kumpulan anggotanya. Perlahan, barisan itu terbelah. Seorang pria berpakaian hampir sama seperti Galang muncul dari balik barisan.
"Ya mister, im coming." Ujarnya dengan suara lirih.
Galang beranjak pergi, pria bernama Hendrick itu mengikuti kemana tuannya. Galang naik ke aula, dia berdiri di tengah keramaian anggotanya, Hendrick berdiri tepat di samping sang ketua.
"Keberadaan Yamamura sudah terc1um, dia hendak membantai kita. Kesetiaan kalian di uji disini, jika sekali saja kalian berkhianat ... kalian tau apa konsekuensinya!"
"YA MISTER!" Seru semua anggota.
Galang menatap satu persatu anggotanya, tetapi ada dua orang yang menurutnya mencurigakan. Netranya sanga jeli, dia dapat mengenali jika kedua orang itu bukan dari anggotanya.
Seketika Galang mengangkat senjatanya, dia membidik dua orang tadi.
DOR!!
DOR!!
"ARGHH!!!!"
Seketika semuanya menatap kedua orang yang tumbang, tetapi Galang cerdas. Dia hanya mematikan satu dan menyelamatkan yang lain, dengan hanya menembaknya bukan pada jantung melainkan pada bahu.
Anggota yang tak jauh dari mereka segera meringkus keduanya, Galang pun hanya menatap datar tanpa memberi perintah karena pastinya anggotanya akan membawa mereka ke sel bawah tanah.
"Siapa pun yang berkhianat, akan menjadi seperti mereka, ingat anak istri kalian! selama kalian tidak berkhianat, keluarga kalian akan aman," ujar Galang.
Galang berbalik, dia pergi menuju ruangannya di ikuti oleh Hendrick. Di pertengahan jalan, Galang berhenti. Dia menunduk dan berbicara pada Hendrick.
"Hendrick, utus anggota tingkah pertama untuk menjaga keponakanku. Fillbert Revino Greyson, dialah keturunan pemimpin generasi ketiga. Aku takut, Yamamura akan mengacau segalanya."
"Ya mister."
_____
Sengaja aku ganti status end yah, karena alur Revin sudah selesai dengan pertemuan nya dengan sang ayah. Jadi sekarang konflik keluarga Emily. Tapi tenang aja, tetep lanjut kok sampai konflik selesai🤗🤗🤗