
Nyonya Samantha tengah uring-uringan di kamarnya, saat dia mendengar kabar jika Revin telah kembali membuatnya sangat-sangat terkejut.
Alhasil, dirinya mencoba menghubungi penculik bayaran itu. Sekali percobaan, telfon itu pun tersambung.
"Halo, kalian ini gimana sih! Saya sudah membayar 100 jt sebagai dp untuk kalian yah! kenapa kalian malah mengembalikan anak itu kesini hah?! dasar gak becus!" Bentak Samantha.
"Nyonya, anak itu sungguh keterlaluan. Entah bagaimana dia memasukkan 4nj1bg liar ke dalam ruangan kami. Saat itu kami sedang tidur, 4nj1ng itu menggigit kaki teman kami. Saat kami akan keluar, bocah itu mengunci kamar sehingga kami tidak bisa keluar,"
Nyonya Samantha memejamkan matanya, tangannya terkepal kuat. DIrinya merasa marah pada penjahat yang ia bayar tersebut.
"B0d0h! kenapa kamu tidak mengikatnya hah? atau mengurungnya saja!!! kenapa tidak sekalian kalian habisi diaaa!!!" Bentak Samantha.
"Anda mengatakan sendiri jika kami tidak boleh menyakitinya sampai besok. Lagi pula, kami mengurungnya, tapi kami lupa mengunci pintunya kembali. Maaf nyonya, kami sudah tidak tahan dengan kelakuan anak itu,"
Nyonya Samantha pun mematikan ponselnya, sorotan matanya menajam. Nafasnya terdengar berat, hatinya di penuhi oleh amarah.
BRAAKK!!!
Ponsel mahal itu di lempar begitu saja ke lantai, sehingga membuatnya rusak.
"Dia harus mati! dia harus tiada! kali ini rencanaku hanya untuk menakuti Emily, tapi lain kali ku buat Revin benar-benar tiada." Gumam Nyonya Samantha dengan sorot kata yang di penuhi oleh amarah.
Sedangkan di kamar, Emily sudah sadar dari pingsannya. Kini, dia sedang memeluk erat putranya sambil terus menciumi wajah sang putra.
"Revin kemanan aja tadi sayang? bunda khawatir," ujar Emily dengan siara serak.
"Lev tau bunda watil, tadi Kev cuman pelgi ke hutan. Ada lumah di cana, tapi jolok. Lev nda cuka." Adu Revin.
Hana, Alfred dan Danzel juga berada di kamar iyu. Sedangkan Gilbert, pria itu tengah berdiskusi bersama polisi di ruang tengah.
"Emily, biar Mommy bantu Rev mandi yah. Badannya kotor, kasihan kelitnya merah-merah " Izin Hana.
Emily menatap ibu mertuanya itu sambil menghapus air matanya.
"Enggak usah mom, biar EM aja." Lirih Emily.
"Gak usah, kamu istirahat aja. Ayo Revin, ikut oma ke kamar mandi." Ajak HAna.
Revin menatap Emily, saat mendapat anggukan dati sang bunda pun Revin turut mengikuti Hana.
"Nanti Lev mau cucu ya oma," ujarnya di sela langkah ke kamar mandi.
"Iya, nanti oma minta bibi buatkan." Sahut Hana.
Gilbert telah kembali, dia berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepi ranjang sambil merangkul istrinya.
"Apa kepala mu masih pusing?" Tanya Gilbert dengan lembut.
Emily menggeleng, dia menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Gilbert pun mencium kepala istrinya dengan lembut.
"Setidaknya perasaan ku jauh lebih tenang mas," ujar Emily.
"Syukurlah," ujar Gilbert.
"Bagaimana kata polisi tadi Gil?" Tanya Alfred yang penasaran.
"Mereka akan mengusut tuntas kasus ini, siapa yang bersangkutan akan di beri hukuman yang seberat-beratnya. Dia harus mendekam di penjara dengan motif penculikan, karena itu baru dugaan awal." Jawab Gilbert.
Ternyata, Nyonya Samantha berdiri di ambang pintu dengan menatap takut mereka semua. Tubuhnya menegang saat Gilbert mengatakan akan memenjarakan orang yang terlibat dalam kasus ini.
"Gilbert!" Panggil Nyonya Samantha.
"Eyang." Seru Gilbert.
"Tadi eyang dengar, kau akan memenjarakan pelakunya?"
"Iya eyang, Gilbert gak terima. Pelakunya harus tertangkap dan menyebutkan dalang di balik ini semua." Tegas Gilbert.
Nyonya Samantha semakin khawatir kedoknya ketahuan, dia meremas tangannya untuk menghilang kan rasa ketakutan.
"Tapi Gil, penculik nya sudah mengembalikan Revin. Untuk apa kita mencarinya?" ujar Nyonya Samantha.
Emily menatap eyang dari suaminya itu dengan kening mengerut, dirinya dalat melihat bagaimana tatapan khawatir Nyonya Samantha.
"Eyang ini aneh! putraku di culik oleh penculik bayaran yang tak segan membunuh. Beruntung, penculik itu tak membunuh Revin! bagaimana kalau mereka sampai membunuh putraku!"
"I-iya eyang paham, tapi coba kamu pikirkan. Kenapa lagi kita harus cari mereka, lagian pastinya mereka sudah jauh dari sini," ujar Nyonya Samantha.
"Mah, mamah kenapa sih? kok jadi mamah yang takut?" ujar Alfred dengan bingung.
Nyonya Samantha gelagapan saat di tanya seperti itu oleh putranya, Danzel dan pasutri itu ikut melihat Nyonya Samantha dengan tatapan bingung.
Walau Alfred curiga dengan Nyonya Samantha, dia berusaha percaya dengan menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan yang lain, terkecuali Emily. Dia menatap Nyonya Samantha dengan tatapan penuh selidik.
"Kenapa anda ketakutan seakan-akan anda lah pelaku di balik ini semua,"
Netra Nyonya Samantha membulat, baru saja dia bernafas lega tetapi Emily menuduhnya walau itu benar.
"Kau menuduhku? Alfred! menantu mu menuduhku! Gilbert, dengarkan apa kata istrimu? dia menuduh eyangmu ini!" Seru Samantha meminta pembelaan.
"Saya tidak menuduh anda Nyonya! saya hanya bertanya, mengapa anda ketakutan. Sidah itu saja!" Seru Emily.
"KAMUUU!!!"
"Sudah! Sudah!" Sela Gilbert saat Nyonya Samantha akan memarahi Emily.
Tatapan Gilbert mengarah pada istrinya yang sepertinya menahan amarah terhadap Nyonya Samantha.
"Sayang, jangan seperti ini. Tidak mungkin eyang melakukannya," ujar Gilbert membuat Nyonya Samantha mengangguk tegas.
"Tidak mungkin katamu mas?" ujar Emily dengan tatapan berkaca-kaca.
"DIA! DENGAN TEGANYA DIA MENYURUHKU MELENYAPKAN REVIN, KAU BILANG TIDAK MUNGKIN?!" Teriak Emily sambil menunjuk Nyonya Samantha.
"Sayang ...,"
"pa tunggu Revin mati dulu baru kamu percaya? seharusnya dari awal kita tidak perlu kembali, aku sudah cukup bahagia dengan Revin tanpa kamu! kami bisa hidup walau serba kekurangan! seharusnya kamu tidak perlu memusingkan kami! tunduklah pada eyangmu yang licik itu!!"
Gilbert menatap tajam istrinya, menurutnya Emily sudah sangat keterlaluan. Gilbert mudah di pengaruhi oleh Nyonya Samantha, sedati kecil Nyonya Samantha lah yang mengasuhnya sehingga apa yang Nyonya Samantha katakan Gilbert pasti mempercayainya.
"Jaga bicaramu Emily! turunkan nada bicaramu, kau sedang berbicara dengan suamimu!" Peringat Gilbert dengan suara dingin.
"Sekarang tidak lagi! aku masih waras untuk menjaga putraku dari orang jahat seperti dia!" Tatapan Emily menyiratkan kemarahan, Alfred segera mendekat untuk melerai keduanya.
"Emily, kami tahu ketakutan mu. Kita diskusikan saja yah nak, jangan seperti ini," ujar Alfred.
Emily tak menjawab, dia berusaha turun dari tempat tidur walau dirinya sangat lemas.
"Jangan keras kepala Emily!" Sentak Gilbert.
"Kau yang keras kepala! buka pikiranmu! eyangmu itu tidak sebaik yang kamu pikir!!!" Geram Emily.
"Terus, kamu mau apa.sekarang hah?! mau perhi? pergi saja! tapi jangan harap membawa putraku!" Bentak Gilbert dengan emosi.
Emily menatap Gilbert tak percaya, keras kepala suaminya membuat putra mereka hampir saja kehilangan nyawa di tangan penculik tersebut.
"Emily nak, jika eyang ada salah maafkan eyang. Tapi, eyang tidak pernah mempunya fikiran jahat seperti itu." Sahut Nyonya Samantha sambil berjalan mendekati Emily.
"KAULAH PENJAHAT YANG SEBENARNYA NYONYA!!!"
"EMILYYY!!!"
"APAAA?!"
PLAK!!!
Mendadak suasana hening, Emily mengepalkan tangannya. Wajahnya tertoleh ke samping, tak menyangka jika Gilbert menamparnya untuk pertama kali.
"Sa-sayang ma-mas ...." Gilbert menatap tangannya yang bergetar sehabis menampar istrinya. Perasaan salah menyeruak di dalam hatinya.
"KENAPA DADDY PUKUL BUNA LEV HAH?!!"
Deghh!!!
Gilbert menatap ke arah kamar mandi, Revin berada di gendongan Hana dengan hanya menggunakan handuk karena sehabis mandi. ANak itu menyaksikan bagaimana Gilbert membentak Emily dan menamparnya.
"DADDY JAHAT!!!"
Gilbert memegangi dadanya, perkataan Revin membuat dirinya lemas. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, Gilbert sangat takut dengan keputusan istrinya pergi dari sisinya semakin kuat.
______
Maaf yah belum bisa balesin komen kalian, sorry juga up kemaleman🤭🤭🤭.
Kalau besok udah senggang aku balesin oke😍😍
BEsok senin yang punya VOTE, sisakan untuk Revin yah😘😘😘. Siapa tahu besok authornya semangat triple up🤭🤭.
konfliknya gak berat kok, hanya seperti kehidupan aja. Gak niat bikin cerita kecelakaan habis itu amnesia, abis itu inget lagi🤭🤭 kaya sinetron ikat terbang jadinya yak