
Hana bersimpuh di depan Alfred, dia menunduk sambil menangis. Danzel dan Gilbert hanya menatap Hana dengan tatapan yang terbaca.
"Maafkan aku mas, aku salah. Aku memanfaatkan meninggalnya Kak Lea untuk mendapatkan mu hiks ... maafkan aku. Maaf." Isak Hana.
"Berdiri lah!" Titah Alfred.
Hana berdiri, dia menatap Alfred dengan air mata yang mengalir di pipinya. Sesekali dia menyeka air matanya, tetapi tampak nya Alfred tak kasihan padanya. Pria itu hanya memandang datar, tanpa ekspresi apapun.
Rasa kecewa terhadap Hana membuatnya tak bisa bersikap seperti biasanya, dia mulai meragukan cintanya pada Hana. Tak menyangka, jika wanita yang selama ini hidup bersamanya selama bertahun-tahun tega menyembunyikan hal sebesar ini.
"Jika saja, saat itu kamu mengatakan semuanya. Rasa kecewaku tak akan sebesar ini Hana," ujar Alfred.
Hana mengangguk, menatap tepat pada manik mata sang suami yang terlihat sangat kecewa. Hana sadar kesalahannya, tetapi semuanya sudah terjadi. Penyesalan selalu datang terakhir.
"Lebih baik, kita tak bertemu untuk sementara waktu. Biarkan mas mengobati sakit hati mas padamu," ujar Alfred dan pergi begitu saja dari hadapan Hana.
Hana tak kuasa menahan tangisnya, itu artinya. Dia harus kembali pada rumah orang tuanya.
"Gilbert, maafkan mommy. Mommy benar-benar menyesal, mommy menyayangimu seperti anak kandung mommy sendiri. Mommy tidak pernah membedakanmu dengan Danzel, maafkan mommy nak." Isak Hana sambil memegang tangan Gilbert.
Gilbert menatap Hana dengan tatapan tak terbaca, matanya memerah menahan tangis. Bagaimana pun juga, selama ini yang dia tahu Hana adalah ibu kandungnya.
"Jika saat itu mommy menolong ibu kandungku, minimal panggil ambulan saja. Ibuku masih ada kesempatan untuk hidup, aku tidak akan menjadi piatu. Tapi, berandai-andai untuk saat ini. Adalah suatu hal yang sia-sia, karena ibuku tidak akan pernah kembali. Mungkin, ini sudah jalannya." Lirih Gilbert.
"Kamu memaafkan mommy?" Tanya Hana dengan tatapan tak percaya, berharap jika Gilbert sangat berbesar hati memaafkannya.
Gilbert mengangguk, dia menepis pelan tangan Hana yang menggenggam tangannya dengan erat.
"Tapi, biarkan aku sembuhkan luka ini. Biarkan aku menerima kenyataan jika anda lah salah satu penyebab ibuku tiada."
Tatapan Hana menjadi kosong, tetapi air matanya tak berhenti mengalir. Bahkan ketika Gilbert pergi dari hadapannya, Hana hanya menatap kosong tempat Gilbert berdiri tadi.
Danzel tak tega, tetapi di bandingkan rasa kecewa Gilbert dan Alfred. Rasa kecewa Danzel jauh lebih besar, rasa takut dan perasaan bersalah menyelimutinya.
"Kamu juga pasti kecewa dengan mommy kan?" Tanya Hana dan beralih menatap Danzel yang kini menatapnya.
"Sangat." Hanya satu kata itu saja yang Danzel ucapkan, bibirnya terasa kelu untuk berbicara apa yang ada di dalam benaknya.
"Mommy benar-benar minta maaf, Gilbert benar. Jika mommy menelpon ambulan untuk menolong ibu kandungnya, daddy dan Gilbert tak akan sekecewa ini." Lirih Hana.
Hana berbalik, dia akan beranjak dari sana. Namun, suara Danzel membuat Hana terdiam seribu bahasa.
"Apa mommy hanya peduli dengan perasaan daddy dan kakak? lalu, bagaimana denganku? disini, akulah yang paling tersakiti. Karena aku harus menerima kenyataan, jika aku hadir karena ambisi seseorang yang ingin memaksa cintanya dengan membiarkan seseorang yang menjadi penghalangnya pergi dengan begitu menyakitkan." Ucap Danzel sambil mendudukkan kepalanya dengan tangan uang terkepal di kedua sisi tubuhnya.
"Danzel, mommy ...." Hanya berbalik dan menyorot sendu putra kandungnya itu.
"Aku tidak memiliki muka lagi untuk bertemu daddy dan kak Gilbert. Aku malu ... aku sangat malu hiks ...,"
***
Sesuai janji, hari ini Emily akan pergi ke mall untuk berbelanja. Mengajak, kedua bocah yang sama-sama menggandeng lengannya.
"Buna, kita jajan?" Tanya Revin ketika mereka akan memasuki mall.
"Beli susu Revin dan Reynan, apa kalian tidak mau minum susu?"
Sontak saja keduanya menggeleng keras, tidur sebelum minum susu saja keduanya akan rewel.
"Buna tau nda, hidup Lev tanpa cucu bagai taman tak belbunga," ujar Revin dengan tatapan sedih.
"Benel! kita mau cucu! cucu itu bagian telpenting hidup Ley, nda ada cucu. Hampa lasana." Sahut Reynan. Emily hanya bisa menggelengkan kepalanya saja mendengar perkataan kedua bocah itu.
Baru saja akan masuk ke pusat berbelanja bahan pokok, kedua bocah itu kini sibuk merengek saat melihat toko es krim yang sangat begitu ramai.
"Ley mau itu Ley maauuuu!!"
"Lev mau duga buna, kecana dulu ayo!! ayo buna!!" Seru Revin.
Agler berkata akan menyusulnya setelah dia selesai meeting dengan salah satu kliennya, untuk itu Emily berangkat lebih dulu. Sedangkan Tania, dia tengah tak enak badan.
"Lihat kan, ngantri!" Unjuk Emily pada banyaknya orang yang ngantri.
"Tunggu cebental buna, nda papa. Lev mau nunggu na kok, iya kan Ley," ujar Rrvin meminta dukungan dari Reynan.
Reynan menatap banyaknya orang yang mengantri, tetapi tiba-tiba saja dirinya mendapatkan ide.
"Lev, caatna gunakan otak kita caat ini," ujar Reynan dan menarik tangan Revin menuju kasir.
"E-ehh!!" Kaget Revin saat Reynan menariknya.
Emily yang panik pun segera menyusul untuk melihat rencana apa yang akan dia pakai dua bocah itu.
"Kita napain cih!!" Kesal Revin.
"Makana otak tuh di pake! gini nih, bial Ley contohin!"
Reynan segera mendekati salah satu pelayan, dia menarik celana pelayan itu dengan netra berbinar.
"Kakak cantik, Ley cama adek Ley mau ec klim. Tapi ngantli na lama, kacihan buna Ley nungguna." Ujar Reynan dan menunjuk Emily yang menatap ke arahnya dengan tatapan melongo.
"Adik manis, apakah buna mu sedang hamil hm?" Ujar pelayan itu sambil berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Reynan.
Reynan menatap Revin, begitu pula sebapiknya. Mereka belum mengerti kata hamil yang pelayan itu katakan.
"Hamil apaan Ley?" Tanya Revin sambil berbisik.
"Ley balu dengel." Jawab Reynan.
Emily pun segera mendekat, dia memegang kedua bahu bocah itu dan menatap pelayan tersebut dengan perasaan tak enak.
"Maaf yah mba, mereka ...,"
BRAK!!
"SAYA GAK MAU BAYAR KALAU HARGANYA TUJUH PULUH RIBU! ES KRIM APAAN MAHAL BANGET!!"
Sontak saja banyak yang menatap ke arah seorang ibu-ibu yang memarahi seorang kasir. Emily tak sadar jika kedua bocah cerdik itu mendekati ibu-ibu tersebut.
"Maaf bu, harganya sudah begitu. Tak bisa di tawar," ujar Kasir dengan masih menjaga sopan santunnya.
"Enggak! pokoknya saya bayar dua puluh ribu, mau gak mau adanya segitu!" Ketus ibu tersebut.
"BICA GAK KALAU BELI NDA UCAH NAWAL! EMANGNA INI PACAL APA?!" Sewot Revin sambil berkacak pinggang.
Semua orang menatap padanya, tiba-tiba suasana pun menjadi hening. Emily yang baru sadar segera mendekati Revin dengan wajah panik nya takut kata-kata mutiara sang putra kembali keluar.
"HEH! Anak kecil gak tau adab! asal kamu tahu yah! pembeli itu adalah raja!!" Sentak wanita itu melotot marah pada Revin.
"Kalau ditu penjual adalah dewa!" Balas Revin tak mau kalah sambil melipat tangannya.
"Cih! dewa kok jualan!" Sinisnya sambil melirik sekilas ke arah kasir tersebut.
"Laja kok nawal?!" Sewot Revin.
Semua orang tertawa saat melihat wajah ibu-ibu itu merah padam, karena tak tahan menahan malu akhirnya ibu-ibu tersebut pergi tanpa membeli karena sudah kepalang malu.
"Wah, adeknya hebat. Kalau gitu, ini gratis untuk adek!" Seru seorang kasir memberikan es krim yang tak jadi ibu tadi beli.
Dengan senang hati, Revin menerimanya. Dia menatap Reynan yang menatapnya dengan mulut terbuka.
"Macih celdikan Lev, cala Ley cudah pacalan," ujar Revin dan berlalu pergi dari keramaian itu.
____________