I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Akhir ketenangan Nyonya Samantha



Gilbert memaksa pulang hari itu juga, sesampainya di rumah dia sibuk mencari keberadaan istri dan anaknya.


"EM!! SAYANG!!"


"REEV!! DADDY PULANG NAK!"


Namun, tak ada satupun sahutan yang ia dengar. Tak putus asa, Gilbert mencari di setiap sisi rumah untuk menemukan keberadaan istri serta anaknya.


Netranya melihat Ema yang sedang memasak di dapur, dia segera berjalan tergopoh-gopoh mendekati pembantunya.


"Ema! kamu pasti tahu keberadaan istriku kan!!" Sentak Gilbert menarik Ema dan mencengkram tangannya kuat.


"Awww!!!"


"Katakan!! dimana istri dan anakku! kalau sampai kamu membawa mereka kabur lagi, aku akan memecatmu!!" Sentak Gilbert tanpa peduli Ema yang kesakitan.


Pembantu yang lain menatap takut ke arah Gilbert yang berbuat kasar pada Ema.


"Sa-saya tidak tahu, tapi tuan besar yang membawa Emily pergi dua hari yang lalu." Seru Ema sambil meringis.


Cengkraman tangan Gilbert melonggar, dia memundurkan langkahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak." Lirih Gilbert.


Gilbert berlari keluar, dia melihat Alfred yang masuk ke dalam rumah bersama dengan Danzel. Wajah pemuda itu tampak sembab dengan pandangan kosong.


Sepertinya Danzel baru saja menemui Hana di kantor polisi, sehingga dirinya menangis merasakan kekecewaan yang teramat dalam.


"Daddy! dimana istri Gil? dimana anak gil? daddy sembunyikan mereka dimana? kembalikan pada Gilbert!!! kembalikan keluarga Gilbert!!" Histeris Gilbert sambil bersimpuh di bawah kaki Alfred.


Alfred memundurkan langkahnya, dia menatap datar Gilbert yang menjambak rambutnya seperti orang yang frustasi.


"Ema bilang jika daddy membawa anak dan istri Gil, katakan pada Gil dimana mereka?"


Alfred merutuki dirinya yang tak sadar jika Ema berada di rumah, dirinya sama sekali tak melihat Ema.


"Daddy, tolong katakan," ujar Gilbert dengan suara lirih.


"Emily memilih berpisah denganmu, dan daddy hanya mengantar nya saja."


JDERRR!!!


Mendadak tubuh Gilbert terasa kaku, tatapannya menatap wajah sang daddy yang tak menatapnya.


"Dad, aku ke kamar dulu." Pamit Danzel dengan suara seraknya.


Alfred menepuk pelan bahu putranya, dia melempar kan senyum pada pemuda itu.


"Jika besok mommy terbukti tidak menyembunyikan bukti kejahatan eyang, dia bisa bebas," ujar Alfred.


Danzel mengangguk, dia berjalan tanpa memperdulikan Gilbert yabg terdiam dengan air mata yang terus mengalir.


"Bangun! kau seorang pria bukan?! seorang pria akan mengakui kesalahan dan menerima perbuatan yang ia buat! Emily pergi, karena dirimu," ujar Alfred dengan menatap datar putranya itu.


Dengan penuh ketegaan, Alfred pergi dari hadapan Gilbert. Dirinya hanya ingin Gilbert tak lagi mengulang kesalahan yang sama, lebih mempercayai orang lain ketimbang terlebih dahulu mencari bukti.


Dirinya hanya takut, Gilbert akan sama seperti dirinya. Terlambat menyelamatkan orang yang kita cintai adalah hal yang paling menyakitkan.


"Emilyku ... cintaku telah pergi hiks ... itu semua karena aku." Lirih Gilbert.


Asisten Kai yang baru saja memasuki rumah bos nya itu seketika di buat terkejut melihat Gilbert duduk bersimpuh dengan tatapan kosong dan wajah pucat.


"TUAN!!" Pekik Asisten Kai.


Asisten Kai membantu Gilbert berdiri, tubuh bos nya sangat berat sehingga membuatnya harus mengeluarkan kekuatan ekstra.


"Tuan! angkat badannya sedikit, saya keberatan!" Gumam Asisten Kai.


"Kai, istriku pergi. Daddy membawa dia pergi, cintaku telah pergi. Hiks ... hiks ... dia memilih berpisah. ARGHHH!!! EEMIILY!!!"


BRUGH!!


Asisten Kai menatap tak pecaya pada Gilbert yang mendorongnya dengan kasar, pria itu berlari keluar mengejar tuannya yang yang memasuki mobil miliknya dan membawanya pergi begitu saja.


"TUAAANNN!!! MOBIL SAYA BENSINNYA LIMIIITTT!!!" Teriak Asisten Kai tak kuasa mengejar mobil nya yang di bawa oleh Gilbert.


"Bodoh aku gak ngambil kuncinya, jadi di bawa kan! Niat hati minta tambahan uang bensin, kok malah tekor." Gerutu Asisten Kai


Sedangkan disisi lain, Danzel tertidur dengan meringkuk di kamarnya, dia memeluk foto sang mommy dan juga dirinya. Air matanya terus saja mengalir di pelipisnya, hatinya merasakan nyeri yang sangat perih.


"Kenapa mommy seperti ini hiks ... Danzel kecewa dengan mommy. Tapi Danzel gak bisa benci mommy hiks ...."


Danzel sungguh kecewa, hatinya begitu merasa sakit. Bahkan, dirinya tak lagi peduli banyak media yang tengah mencari informasi tentang keluarga mereka.


Ponselnya terus berdering, pasti dari para temannya yang menanyakan tentang kabar yang beredar tersebut. Danzel tak kuasa membalas, hatinya masih terluka.


Seorang yang humoris, tak pernah sedih begitu lama harus menerima kenyataan sesakit ini. Tak ada lagi Danzel yang bawel, tak ada lagi Danzel yang lucu. Hatinya teramat-amat sakit mengetahui fakta itu.


Esok harinya.


Gilbert belum juga menemukan keberadaan Emily, dia sudah mencari ke berbagai tempat dan sempat kendala mobil mogok akibat kehabisan bensin.


Kali ini dia menunda mencari istrinya karena harus berangkat ke pengadilan, untuk mendengarkan kesaksian dari Hana dan juga Nyonya Samantha.


Baru memasuki tempat parkir saja, banyak sekali media yang sudah mengerumuni mobil mereka. Para bodyguard berusaha membelah jalan untuk Gilbert dan juga Danzel, Sedangkan Alfred, dia sudah sampai terlebih dahulu.


Gilbert turun dengan memakai masker dan juga kaca mata hitamnya, begitu pula dengan Danzel. Mereka tak ingin kamera menyorotnya, tak mungkin juga mengusir orang sebanyak itu.


Mereka melaksanakan sidang, berbagai macam pertanyaan yang hakim ajukan Hana mampu menjawabnya. Setelah terbukti jika memang Hana tak menyembunyikan barang bukti kejahatan Nyonya Samantha dirinya di bebaskan.


Hana mengucapkan syukur, dia tak memiliki barang bukti apapun itu memang benar. Dia hanya sebagai saksi kejadian itu dan memilih tutup mulut karena ancaman Nyonya Samantha.


"Dengan ini, Nyonya Samantha. Kami jatuhkan hukuman lima belas tahun penjara, atas tuduhan pembunuhan berencana."


TOK! TOK! TOK!


Hakim telah memukulkan palunya, Nyonya Samantha resmi menjadi tahanan. Dia berteriak histeris dan mengatakan hal yang membuat Danzel geram.


"DIA JUGA IKUT RENCANAKU! DIA MENCINTAI PUTRAKU! MAKANNYA DIA DUKUNG RENCANAKU!!!"


Danzel menghampiri eyangnya, dia berdiri di hadapan sang eyang dengan mata mengkilap marah.


"Danzel, eyang tidak salah! seharusnya kamu dan ibumu berterima kasih pada eyang, karena eyang ibumu menikah dengan daddymu dan kamu menjadi anak konglomerat!!"


"Anda benar-benar tidak tahu malu!! anda benar-benar kejam!! anda wanita yang tidak punya hati!!" Geram Danzel.


Aura Danzel sangat berbeda, pemuda itu mengeluarkan aura yang persis seperti ayah dan kakaknya. Aura yang tak pernah Danzel keluarkan sebelumnya.


"Mommy memang salah, karena mencintai orang yang salah! tapi dia tak pernah berfikir untuk melenyapkan ibu kak Gilbert. Dia tak pernah juga berpikir untuk merebut paksa daddy dari ibu kak Gilbert!! sedangkan anda, anda merenggut semuanya! kebahagiaan kakakku! demi harta yang tak akan di bawa mati!!"


"Selamat menikmati sisa hidupmu di penjara Nyonya Samantha." Lirih Danzel dan pergi begitu saja dari hadapan sang eyang yang menatapnya dengan netra berkaca-kaca.


Alfred mendatangi ibunya, wajahnya tetap saja datar. Namun, bisa di lihat. DI matanya tersimpan rasa kekecewaan yang begitu mendalam.


"Seharusnya aku meminta hakim untuk memberimu hukuman seumur hidup, tapi ... aku masih menghormatimu sebagai ibuku. Ibu yang telah melahirkan ku. Jerih payah mu melahirkan aku, tak pernah aku lupakan. Hukuman ini, harus mamah lakukan. Alfred tak bisa bantu apapun. Semoga dengan hukuman ini, mamah bisa sadar atas kesalahan mamah. Semoga mamah masih bertahan untuk hidup sampai lima belas tahun ke depan, segera meminta ampun atas dosa yang mamah lakukan sebelum di panggil oleh sang kuasa."


Nyonya Samantha menangis, perkataan Alfred begitu menyayat hatinya. Dirinya amat teramat menyesal, dia pikir kejahatannya akan terus dia sembunyikan. Namun, ternyata kejahatannya terbongkar oleh putranya sendiri.


"Selamat Nyonya, anda akan mendekam di penjara!"


Nyonya Samantha menoleh, dia melihat Xavier yang menatapnya dengan penuh dendam.


"Aku, putra dari pria yang kau buat tiada!" Sentak Xavier.


"Saya tidak membunuh ayahmu!! dia mati sendiri karena penyakit jantungnya! bukan saya!!" Sentak Samantha dengan menutup telinganya.


Pakaiannya kini adalah pakaian tahanan, bukan lagi pakaian mewah. Tak lagi ber-make up seperti biasanya, berbanding terbalik dengan Samantha yang biasanya.


"Setelah anda mengancamnya dengan berbagai macam ancaman, dengan posisi ayah saya yang sedang di rawat karena penyakit jantungnya. Karena perbuatan anda ayah saya tiada!!! anda benar-benar kejam!! anda tak layak di sebut manusia!!!"


Samantha menutup telinganya, dia tak ingin dengar lagi makian dari Xavier. Dirinya tak merasa membunuh Lukman, dia hanya mengancam Lukman saat tengah di rawat di rumah sakit.


Saat Lukman merasakan sakit di jantungnya, Nyonya Samantha hanya melihatnya tanpa memanggil seorang suster. Saat itu Xavier masuk ke dalam ruangan sang ayah setelah dirinya menjual koran di lampu merah.


Xavier menghapus air matanya yang berada di sudut matanya, matanya memerah dengan ari kata yang menggenang.


"Jika saja saat itu kau memanggil dokter, ayahku akan selamat. Aku tidak akan menjadi sebatang kara, kau menghancurkan masa depan ku! Tak adil jika hukumanmu hanya lima belas tahun dengan membunuh dua orang nyawa! tapi, dengan melihat umurmu yang sudah tua. Tak sampai lima belas tahun, bukan lagi berada di dalam sel. Tapi kau akan berada di dalam kuburan." Sarkas Xavier.


Hati anak mana yang tidak sakit saat ayahnya di rawat sementara dia harus bekerja banting tulang menjual koran di lampu merah demi membayar pengobatan ayahnya.


Saat menemui sang ayah, dia di hadapkan dengan sang ayah yang kesulitan bernafas. Namun, di balik kesakitan ayahnya Ada seseorang yang menikmati penderitaan mereka.


"Ayah, semua sudah terbalaskan. Aku berhasil membawa dia ke balik jeruji besi, maaf tak mendengar nasehatmu untuk membuang ponsel itu. Tapi karena ponsel itu, semua kejahatannya terbongkar. Kematian ayah, meninggalkan jasa yang begitu dalam untuk aku dan mereka." Lirih Xavier sesaat dia keluar dari gedung pengadilan dan menatap langit yang cerah.


_________


Untuk part ini, aku sengaja panjangin karena takut lama Review😅 kasihan kalian udah nunggu, gak papa deh lebih panjang😅.


Minta pendapatnya dong, Alfred dan Hana harus bercerai atau gimana nih maunya?🤭🤭🤭