
Revin tengah rewel lantaran anak itu ingin sekali buang air kecil, saat ini dia sudah duduk di closet sambil memegangi kaki sang bunda yang berdiri di hadapannya.
"Ekhe ekhee caakiiit." Rengek Revin.
"Pelan-pelan, kalau gak p1p1s Revinnya sakit perut nanti," ujar Emily menenangkan putranya.
Gilbert terpaksa kembali ke kantor lantaran ada klien yang harus dia temui, untuk itu Emily menjaga Revin sendiri di rumah sakit.
"Cakiiittt huaaa!!!"
"Udah p1p1s nya?" Tanya Emily saat Revin kembali menangis.
"Belum." Jawab Revin dengan pelan.
Emily menepuk keningnya, dia pikir putranya sudah selesai. Dirinya juga bingung harus bagaimana, setiap kali buang air putranya selalu seperti ini.
"Yaudah, bunda panggilkan dokter yah." Usul Emily.
"JANAN!!! DI POTONG LAGI ENTAL BULUNGNA LEV!! Hilang nanti bulungna." Seru Revin dan melirihkan perkataannya di akhir.
Emily menghela nafas panjang, dirinya harus apa? dia juga tidak bisa apa-apa kecuali dokter yang menanganinya.
"Terus bunda harus gimana?" Tanya Emily sambil menatap putranya.
"Dicini aja, janan temana-mana. Temenin Lev." Cicit Revin.
"Sampe kapan? dari tadi Revin teriak sakit terus, bunda jadi ikut bingung ini."
"Bental lagi." Lirih Rrvin memejamkan katanya.
Emily merasakan Revin mencengkram erat kakinya, anak itu seperti sangat kesakitan untuk mengeluarkan air s3ni nya.
"CAKIIIITTTT!!!! CAKIT! CAKIT! CAKIT!! HUHU CAKIIIITTT!!!" Teriak Revin heboh.
Emily menenangkan putranya, dia membersihkan putranya sesuai dengan titah dari dokter dan kembali membawa putranya ke brankar.
"Mau minum?" Tawar Emily.
"Nda mau, buang ail lagi nanti." Lirih Revin.
"Susu?" Tanya kembali Emily, tetapi Revin lagi-lagi menggeleng.
AKhirnya Emily pasrah, dia duduk di tepi brankar. Netranya melihat putranya yang sedari tadi melihat ke arah pintu.
"Revin kangen sama daddy?" Tanya Emily.
"Nda." Sahut Revin.
"Terus?" Bingung Emily.
Revin menggeleng, dia memejamkan matanya dan tertidur lelap. Emily merasa heran, ada apa dengan putranya? Namun, Emily menepis kebingungannya. Dia menyelimuti putranya dengan perlahan agar tak membangunkannya.
Sore hari, Gilbert kembali dengan raut wajah lelah. Dia memasuki ruangan putranya sambil melonggarkan dasi yang melilit lehernya.
Keningnya mengerut kala melihat istrinya yang sedang membujuk putranya untuk meminum susu, karena pemandangan seperti itu tak pernah Gilbert lihat. Sebab, selama ini Revin selalu semangat meminum susu.
"Ada apa?" Tanya Gilbert.
Emily yang haru menyadari kehadiran suaminya pun tersenyum lega, akhirnya yang dirinya tunggu-tunggu datang juga.
"Dari tadi Revin enggak mau minum susu," ujar Emily dengan wajah memelas.
"Kenapa?" Bingung Gilbert seraya mendekati kedua cintanya sambil melemparkan tas kerjanya ke sofa dan melepaskan jas nya.
"Nanti Lev buang ail lagi, cakit lagi. Nda mau," ujar Revin dengan wajah kesalnya.
Gilbert menganggukkan kepalanya, kini dia mengerti mengapa putranya tidak mau minum susu. Dia pernah merasakannya, jadi dirinya pun tak bisa berkata apapun selain membujuk putranya.
"Enggak papa pinter, minum susunya. Nanti kalau mau buang air lagi daddy panggilkan dokter yah." Bujuk Gilbert.
Mendengar perkataan Gilbert, membuat Revin semakin sewot.
"DADDY KALAU BULUNGNA LEV HILANG? BULUNGNA LEV DI POTONG GALA-GALA DOKTEL! KOK MAU DI PANGGIL!!" Teriak Revin.
"Hus! kok ngomong sama daddy sambil teriak-teriak begitu, gak baik!" Tegur Emily.
Revin menatap sang bunda dengan nafas memburu, mood nya sangat buruk. Ketakutan nya terhadap dokter membuat emosinya tak terkontrol. Gilbert mengerti keadaan putranya, sehingga dirinya pun tersenyum.
"Maaf daddy." CIcit Revin.
"Lev pucing, bulungna Lev cakit. Lev lapal, tapi nda tahan cakitna hiks ... hiks ...,"
"Iya, daddy mengerti. Sudah yah, minum susunya kalau lapar. Nanti, kalau mau buang air kecil lagi daddy minta dokter Untuk berikan Revin obat yah. Biar gak sakit." Bujuk Gilbert dengan sabar.
Akhirnya setelah di bujuk rayu, Revin mau juga meminum susunya. Emily pun bernafas lega, dia dan Gilbert berpelukan melihat putranya meminum susu.
"Bagaimana hari ini? apa calon debaynya rewel?" Tanya Gilbert sambil mengelus perut istrinya.
"Enggak, dia gak pernah rewel. Malahan anak sulung mas yang rewelnya minta ampun." Kekeh Emily.
"Gilbert baru ingat jika hari ini adalah dimana putranya terlahir ke dunia, dia menatap istri dengan lembut. Sedangkan yang di tatap asik melihat Revin yang bersemangat meminum susu.
" Sayang." Panggil Gilbert.
"Hm?" Sahut Emily sambil mendongakkan kepalanya menatap suaminya yang lebih tinggi itu.
Tiba-tiba saja Gilbert melepas pelukan mereka, pria itu memegang kedua tangan Emily dan mengecupnya berulang kali. Emily bingung dengan sikap.suaminya, dia pikir mungkin ini salah satu ngidam sang suami. Dimana dirinya baru sadar bahwa ternyata selama ini Gilbert lah yang mengidam, bukan dirinya.
"Hari ini, adalah hari yang bertepatan dengan perjuanganmu melahirkan putra kita. Maafkan suamimu ini yang tidak ada di saat dirimu berjuang dengan menaruhkan nyawamu untuk keturunanku. Terima kasih sayang, hanya itu yang mampu mas ucapkan. Mas tidak bisa membalas pengorbananmu, sungguh sayang ... jika bisa rasa sakitmu di alihkan padaku saat itu. Mas rela." Lirih Gilbert dengan netra yang berkaca-kaca.
***
Sedangkan di kediaman Evans, acara telah selesai. Kini semua orang tengah beristirahat. Agler memutuskan untuk menginap di rumah sang papah sejak saat ini, dimana mamah telah sah menjadi istri seorang Dirga Evans.
"Masuk kamar gih sana! malem pertama, malem pertama. Kasihan, dah jomblo puluhan tahun hahahaha!!!" Ledek Galang saat melihat sang papah yang keluar kamar untuk mengambil minum.
"Diamlah!!" Kesal Dirga.
"Apa udah lewat? cepet banget, perasaan tadi masuk kamar setengah jam yang lalu. Waduuhhh ... udah gak pro ya HAHAHAHA!!!"
BYURRR!!"
Dirga menyiram Galang dengan air yang berada di gelasnya, sehingga Galang kini kelabakan karena bajunya basah.
"PAPAH!!! AKU MAU KE RUMAH SAKIT LO JENGUK REVIN!!!" Seru Galang.
"RASAKAN!!!" Ketus Dirga dan berbalik pergi kembali ke kamarnya.
Galang mengusap wajahnya, dia menatap kepergian sang papah dengan bibir yang mengerucut kesal.
"Dia yang enggak dapet jatah, gue yang kena imbasnya. Dasar bangkotan tua!" Gerutu Galang.
Galang pun kembali ke kamarnya untuk berganti baju, dan segera mengambil kunci mobil berniat menjenguk Revin.
"Uncle mau kemana?"
Langkah Galang terhenti, netranya menatap sosok anak kecil yang tengah berdiri di ambang pintu melihat sang paman yang akan membuka pintu mobil.
"Mau jenguk Revin di rumah sakit, kenapa? mau ikut?" Tanya Galang.
Mendengar kata rumah sakit, Reynan menggeleng keras. Dia beringsut mundur karena takut, dirinya takut akan bernasib sama seperti Revin.
"Nda! nda mau! Ley nda mau di cunat!!!" Sewot Reynan.
"Hee!!! yang nyuruh lo sunat siapa cil? lagian lo tuh harus sunat, biar bentukannya bagus!"
"NDA MAAUUUU!!!"
BRAK!!!
Reynan menutup pintu dengan keras, bahkan kedua bodyguard yang berjaga di depan pintu sampai tersentak kaget.
"Bocil dasar! OKE! LO GAK MAU KE RUMAH SAKIT, GUE BAWA DOKTER SUNATNYA KE RUMAH!!"
"NDA MAAAUUUUU!!!" Teriak Reynan dari dalam.
"GUE SERET DOKTERNYA KESINI! LU KABUR GUE IKET!!" Teriak balik Galang.
Reynan segera berlari, dia menangis sambil memasuki kamar sang papah. Agler yang baru saja memejamkan matanya pun terkejut, dia segera bangun dan mendekati putranya itu.
"Ada apa?" Tanya Agler.
"Pokokna Ley mau Uncle di cunat duga kayak Lev!!" ISak Reynan.
"Loh, uncle kan udah." Bingung Agler.
"Cunat lagi! bial abic cekalian!"
__________
Maaf yah, author usahakan untuk up. Tapi kemarin lagi lembur kerja, pulang udah malem bangetðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜. Mau up badan udah capek, plus ide sudah terkuras habis. Baru bisa up, satu dulu yahðŸ˜ðŸ˜