
"Emily putriku? Benarkah?" Tanya Marcel dengan tatapan berbinar.
Setelah pulang dari kantor Gilbert, Dirga mengabarkan tentang hasil tes DNA pada Marcel. Melihat betapa bahagianya sang kakak mengetahui hasil tes DNA itu membuat Dirga tersenyum.
"Ayo! ayo kita temui putriku! aku ingin memeluknya, memanjakannya." Seketika, Dirga melunturkan senyumannya. Dia berjongkok di hadapan kursi roda sang kakak dan menatapnya sendu.
"Kak, apa kakak lupa dengan perjanjian kita dengan Gilbert?" Tanya Dirga membuat keantusiasan Marcel lenyap seketika.
Marcel mengingatnya, bahunya pun melemas. Dia pikir, setelah ini dia akan bahagia dengan putrinya.
"Tunggu sebentar lagi yah, usia kandungan Emily akan memasuki bulan ketiga sebentar lagi. Gilbert bilang jika kandungan istrinya cukup mengkhawatirkan," ujar Dirga.
"Kenapa dengan kandungan putriku? apa ada masalah?" Tanya Marcel dengan sorot mata khawatir.
"Haaah ... Sepertinya kakak akan memiliki cucu kembar." Ucap Dirga sambil tersenyum.
Marcel membulatkan matanya, tak pernah menyangka jika dirinya akan di beri cucu kembar.
"Revin, Revin cucuku kan?" Tanya Marcel dengan antusias mengingat bocah gembul menggemaskan itu.
"Iy ...,"
"IYA! DIA CUCUMU DAN AKU KEPONAKANMU!"
Seketika Marcel dan Dirga terkejut melihat kedatangan Galang dengan sorot mata yang datar. Dirga langsung berdiri dan menatap putranya itu dengan kaget.
"Bukan begitu, papah?"
***
Gilbert membawa paksa istrinya ke rumah sakit berbeda, fasilitas yang lebih lengkap dan juga dokter yang sangat terkenal. Dia tak ingin kecolongan lagi seperti waktu sebelumnya, dia harap kali ini memang benar kembar.
"Pelan-pelan bisa gak mas!" Sentak Emily.
Gilbert menghentikan langkahnya, karena rasa penasaran nya membuat dirinya lupa akan kondisi sang istri.
"Maaf," ucap Gilbert dan merangkul Emily.
Sesampainya di ruang dokter kandungan, tanpa berlama-lama Emily segera melakukan USG kembali. Kali ini dokter itu terlihat sangat serius menatap monitor. Gilbert yang heran hanya melihatnya dengan kening mengerut.
"Kurang kelihatan jelas ini pak, bagaimana kalau USG tr4nsv4g1n4l?" Tanya sang dokter yang masih menggerakkan benda di atas perut Emily.
Emily menggeleng keras, dia tak mau. Malu dan takut bercampur menjadi satu, melihat ketakutan Istrinya Gilbert pun kembali bertanya.
"Apa belum bisa di lihat sejelas mungkin dok?" Tanya Gilbert.
"Saya curiga istri anda hamil kembar, untuk lebih jelasnya kita harus lakukan USG jenis yang saya sarankan." Tegas sang dokter.
Gilbert mengangguk pasrah, dia berjalan mendekati Emily yang menatapnya dengan tatapan tajam. Dengan penuh kelembutan, Gilbert mengusap kepala istrinya dan menciumnya.
"Mas mohon, untuk kali ini saja. Anggap saja seperti saat melahirkan Revin, apa kamu tidak kasihan pada anak kita? bagaimana jika nantinya anak kita kembar? mereka perlu perawatan ekstra, tidak mudah mengandung bayi kembar. Mas mohon, kali ini turuti permintaan mas." Lirih Gilbert.
"Aku malu! aku takut! mas gak ngerti!" Bisik Emily.
"Dokternya kan perempuan yang, gak papa yah. Kali ini aja, mas janji setelah itu mas akan ngajakin kamu kemana pun yang kamu mau."
Emily kembali menimbang perkataan suaminya, jika benar bayinya kembar pasti akan membutuhkan perawatan ekstra dari obat-obatan dan hal-hal yang patut di hindari.
"Baiklah." Pasrah Emily.
Gilbert tersenyum lega, dia mengucapkan terima kasih sambil menciumi kening istrinya. Dokter pun melakukan tugasnya, walau sangat malu tetapi Emily membuang rasa malunya.
"Benar dugaan saya!" Seru dokter itu saat melihat layar monitor yang menampilkan beberapa titik.
Gilbert berjalan mendekati sang dokter, dia sedikit membungkukkan badannya untuk melihat secara jelas.
"Lihatlah pak, disini ada satu dua ... tiga ... Wah! empat titik! kalian akan mendapatkan anak kembar 4!" Heboh sang dokter.
Seketika Emily dan Gilbert mematung, wajah mereka terlihat sangat pucat. Tak pernah sedikit pun terbesit dalam benak mereka memiliki anak kembar 4 sekaligus, bahkan Emily tak menyadari hal itu.
"Do-dokter gak salah liat?" Tanya Gilbert dengan ragu.
"Tidak pak, kau bisa lihat. Disini kantung janinnya, nah terdapat 4 titik." Unjuk sang doktee.
Gilbert sungguh lemas, dia akhirnya terjatuh dan pandangannya menjadi gelap.
"MAS!!!"
***
Gilbert terbangun saat suara berbisik menerpa pendengarannya, dia mulai mengerjapkan matanya dan melihat banyaknya orang berkumpul.
"Coba mommy lihat Em!" Pinta Hana pada menantunya.
"Daddy dulu!" Seru Alfred
"Daddy belakangan aja! ngalah sama mommy!" Seru Hana.
Emily memberikan hasil USG nya pada Hana, Hana yang melihatnya tersenyum senang. Dia tak sabar memberitahukan hal ini pada teman-teman sosialitanya.
Sementara Danzel, dia menatap sang kakak ipar dengan tatapan tak percaya. Sesekali tatapannya mengarah pada Revin yang menatap heran Hana dan tak lama kembali menatap sang bunda.
"Eh udah sadar bro!" Seru Danzel yang melihat jika Gilbert sudah membuka matanya.
Gilbert mendudukkan dirinya, dia menatap semua orang yang kini menatapnya dengan tatapan berbeda. Emily berjalan mendekat, dia menanyakan kondisi suaminya itu.
"Cemen banget si kak! masa baru dapat kabar begini aja udah pingsan, gimana kalau kak Emily melahirkan nanti!" Cibir Danzel.
"Diam kamu!" Kesal Gilbert, dia baru bangun dan adiknya mengajaknya perang.
Alfred berjalan mendekat, dia menepuk bahu putranya dengan tatapan bangga.
"Bagus nak! sekali tembak dapet empat! kau memang anak daddy!" Puji Alfred.
Danzel yang tadinya tersenyum sinis seketika melotot kaget, sementara Gilbert tersenyum malu-malu.
"Aduh Revin, banyak sekali sainganmu!" Seru Danzel mengompori keponakannya.
"Caingan apa?" Bingung Revin.
Danzel menyeringai ketika Gilbert menatap tajam padanya, dia membungkukkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu pada keponakannya.
"Daddy membuatkanmu 4 adik, kasihan deh kamu nanti bunda lebih sayang adeknya."
Tatapan Revin mengarah pada perut sang bunda, kemudian netranya menyorot tajam ke sang daddy. Dia berjalan cepat dengan kaki gempalnya, tak perduli jika dirinya masih mengenakan celana batok.
BUGH!!!
"Tenapa daddy buat empat! LEV KAN CUMAN BILANG CATU AJA! TENAPA EMPAT!!!" Seru Revin memukul kaki sang daddy.
"Aduh Rev! daddy juga gak tau, daddy buatnya satu kok! tapi kalau bonusnya tiga, daddy bisa apa?" Bela Gilbert menghindar dari serangan putranya.
Nafas Revin bergemuruh, dia masih menatap tajam Gilbert. Seperti seseorang yang sedang menatap musuhnya, dia terus saja menatap sang daddy tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kalau dedekna lahil bakalan Lev buang! pokokna Lev buang! nda mau tau pokona Lev buang!!!" Ancam Revin dengan suara bergetar.
Alfred mendekati cucunya itu, dia membawa Revin ke gendongannya dan menenangkannya. Di usapnya pelan bahu sang cucu dan sedikit menimangnya.
"Daddy ajak Revin keluar dulu, kamu istirahat. Malam kita pulang." Ucap nya pada sang putra.
Alfred mengajak keluar Revin, walau bocah itu masih marah tetapi setidaknya emosinya sudah mereda.
"Daddy jahat cama Lev, Lev balu ketemu daddy. Tapi daddy udah buat anak balu." Lirihnya.
Alfred tersenyum, dia mengajak Revin duduk di taman dan mencoba untuk menjelaskannya.
"Bukan daddy jahat sama Rev, tapi daddy kasihan sama Rev. Rev gak ada temennya, jadi daddy buat adik untuk Rev." Jelas Alfred.
"Kan ada Ley," ujar Revin dengan nada lirih.
"Iya, Rey temen Rev. Tapi Rev pasti kesepian kalau gak ada adik."
"Nanti daddy nda cayang Lev lagi hiks ... hiks ... nanti Lev di taluh di kampung lagi hiks ... Lev nda mau hiks ... nanti Lev di katain telus cama temen di cana. Lev nda mau punya dedek." Isak Revin.
Alfred terenyuh mendengar perkataan cucunya, dia pikir tidak inginnya Revin hanya sekedar kecemburuan anak yang wajar. Namun, sepertinya perpisahan Gilbert dan Emily saat itu mampu membuat psikis anak itu terguncang.
"Apa Gilbert belum membawa putranya ke psikolog anak? bukankah saat itu aku sudah mengatakan padanya agar membawa Revin ke psikolog? bagaimana pun juga, perpisahan Gilbert dan Emily saat itu dapat mengganggu psikis putra mereka." Batin Alfred.
"Lev di pukul, di malahi kalna nda ada daddy. Buna cuman bica diam nda belani bela Lev hiks ... kalau nanti Lev ada dedek banak, Daddy nda pelu Lev lagi. Nanti Lev di taluh di kampung cama bibi Ema."
Alfred merengkuh cucunya itu, dia lupa menanyakan kondisi psikis cucunya. Revin terlihat takut saat ada orang yang akan mengambil perhatian daddy dan bundanya. Anak itu takut jika salah satu dari orang tuanya pergi, dia takut di kucilkan. Emosi, sifat dan tingkah laku anak itu mudah sekali berubah-ubah.
"Tanpa sadar, bergulirnya waktu menorehkan banyak luka di hati cucuku." Batin Alfred sedih.