
"PAH!! PAPAH!!!"
Galang berlari masuk ke dalam rumah sambil meneriaki nama sang papah, tetapi Dirga tak juga muncul.
"Apa sih! berisik banget, emangnya ini hutan apa!!" Seru Amelia yang baru saja keluar dari lift.
Galang mendekati kakaknya, raut wajahnya sangat terlihat senang. Amelia pun menjadi heran, jarang-jarang Galang bersikap seantusias ini.
"Lo tau gak?? hari ini pokoknya gue bahagia banget!!" Seru Galang sambil menggoyangkan bahu Amelia dengan kencang.
"Apaan sih!!!" Kesal Amelia menepis tangan adiknya itu.
"Gue ketemu sama Gilang!!" Seru Galang.
Amelia mengerutkan keningnya, dia menempelkan punggung tangannya pada kening Galang. Suhu tubuh Galang normal, tetapi dia mengira adiknya itu sakit.
"Gak panas, tapi kok kayak orang sakit yah?" Bingung Amelia.
Seketika raut wajah Galang berubah drastis, memang kakaknya itu pikir dirinya tengah sakit.
"Ngancurin mood gue aja lo!" Kesal Galang.
"Ya habis, lo ngelindur apa gimana? Gilang udah gak ada, jadi stop bahas dia!"
"Gilang masih hidup!! Agler, dia itu Gilang!!" Seru Galang dengan Emosi.
Amelia terdiam, raut wajahnya tak dapat di artikan. Galang memegang kedua bahu Amelia dan menatapnya dalam.
"Gilamg masih hidup, lo tahu kenapa istri Gilbert panggil gue Agler? karena wajah kita sama, wajah kita sama Mel!"
"HAHAHAHA!!!"
Amelia tertawa keras, membuat Galang menarik kembali tangannya dan menatap kakak nya itu dengan bingung. Bahkan, Amelia sampai menepuk bahu Galang untuk melampiaskan tawanya.
"Ya iyalah muka kalian sama! ada hidungnya, ada mata, ada mulut juga. Yang bedain ganteng sama jeleknya aja kan!"
Galang menarik nafas sabar, dia mengelus d4d4 nya agar tak marah pada sang kakak.
"Lagian, biasanya juga lo bercanda. Garing tau gak candaan lo." Ujar Amelia sambil menggelengkan kepalanya, dia akan beranjak dari sana. Namun, siara Galang membuat langkahnya terhenti.
"GUE SERIUS! LO PASTI PAHAM GIMANA GUE KALAU SERIUS KAN!!!" Seru Galang.
Amelia terdiam, memang benar. Jika Galang tidak serius, pria itu akan tertawa sama sepertinya. Namun, kini pria itu tak tertawa sedikit pun.
"Gue ketemu sama Agler, dia mirip sama gue. Gue sama Gilang kembar identik, persis kayak gue sama AGler. Gue mohon, lo percaya."
Amelia berbalik, dia menatap Galang dengan netra berkaca-kaca. Terharu dan bahagia, adiknya di temukan. Dia benar-benar bahagia.
"E-eh jangan nangis! jangan nangis! gue punya kabar bahagia yang lain," ujar Galang mendekati kakaknya dan menghapus air matanya.
"Lo mau tau gak apa?" Ujar Galang dengan suara pelan.
"Apa?" Tabya Amelia dengan suara seraknya.
"GUE NEMU JANDA!!"
Krik krik! krik krik!!
Amelia terdiam, netranya menatap adiknya dengan sorot mata yang bingung. Bahkan mulutnya terbuka sedikit.
"Kamu mau nikah sama janda?" Tanya Amelia salah memahami maksud adiknya.
"Bukan gue, tapi si duda karatan. Siapa lagi kalau bukan papah!!"
UHUK!N
Amelia tersedak lidahnya sendiri, tak menyangka dengan apa yang di beritahukan adiknya. Begitu antusiasnya Galang mendapatkan istri baru untuk ayahnya.
"Anak berbakti kan gue, cari janda cantik buat bokap yang duda. Dah lumutan pula pastinya, memang gue yang terbaik!!" Seru Galang.
"SIAPA YANG LUMUTAN?"
Kedua terperanjat kaget, Galang seketika berbalik dan melihat Dirga menatapnya dengan tatapan tajam. Bahkan pria itu sudah memposisikan tangannya di pinggang.
"Papah lah, siapa lagi?"
"GALANG!!!!" Geram Amelia.
"Apa? Papah kan selalu mengajarkan tentang kejujuran, aku jujur kok marah?" Galang benar-benar membuat semua orang darah tinggi, mungkin dia bisa menjadi penyembuh bagi orang yang memiliki darah rendah.
"APA?!"
Galang dan Amelia terkejut, tetapi Galang tiba-tiba saja mencium sesuatu yang aneh. DIa mendekati Dirga sambil mengendus-ngendus.
"Kamu ngapain sih!!" Kesal Dirga.
"Papah habis dari rumah sakit? bajunya bau rumah sakit," ucapan Galang membuat tubuh Dirga mendadak menegang. Apalagi saat Galang menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Papah ... papah tadi ...,"
"Aaaaaa, aku tahu! Pasti papah lagi rayu dokter-dokter yang cantik kan? ngaku!!" Seru Galang dengan tampang tengilnya.
Dirga menghela nafas pelan, dia pikir putranya akan banyak bertanya.
"Terserahmu lah," ujar Dirga dan berlalu dari sana masuk ke dalam kamarnya.
Tatapan Galang menyorot kepergian Dirga dengan raut wajah tak terbaca, satu sudut bibirnya terangkan membentuk sebuah seringaian.
"Dia pikir aku tidak tahu." Batin Dirga.
***
Gilbert tak henti-hentinya memandang foto USG milik istrinya, kehamilan istrinya masih sangat muda sehingga belum terlalu kelihatan. Hanya sebuah titik yang Gilbert tak mengerti, yang dia tahu itu adalah calon anaknya. Dokter menyarankan agar dua minggu lagi Gilbert membawa Emily untuk melakukan USG ulang untuk melihatnya lebih jelas.
"Mas udah dong di lihatinnya, udah jam 2 malem ini. Besok kan kamu harus ke kantor,"
Emily sungguh mengantuk, tetapi dirinya sulit tidur sebab Gilbert tak kunjung merebahkan diri dan hanay bersandar di kepala ranjang.
"Aku senang lihat calon anak kita," ujar Gilbert.
"Kan bisa lihatnya besok," ujar Emily.
"AKu sangat senang," ujar Gilbert.
Sementara Revin, dia tidur bersama oma nya itu. Sama sekali tidak mau di pegang oleh Gilbert, dia sellau berkata jika daddy nya tak sayang padanya karena tidak izin padanya untuk membuat adik.
"Oh ya, kamu pasti menyimpan foto USG Revin juga kan? mana? aku mau pajang, sekalian sama punya calon anak kita yang kedua," ujar Gilbert.
Emily yang semula memejamkan matanya kini kembali terbuka, keningnya mengerut merasa tak pernah memiliki foto itu.
"Enggak ada mas, waktu Revin dalam kandungan aku gak pernah USG."
Seketika raut wajah Gilbert berubah, mendadak dia menatap Emily dengan datar. Merasa marah karena mengira istrinya tak perduli pada anak mereka.
"Waktu itu aku gak punya uang, makan pun susah. Bisa makan aja udah bersyukur, apalagi saat kandunganku usia 8 bulan. Sering banget sakit perut kalau capek sedikit, kontrol pun di bayarin Ema," ujar Emily saat menyadari perubahan raut wajah sang suami.
"Sayang mas ...." Seketika raut wajah Gilbert berubah sendu, merasa bersalah karena tidak ada di saat istrinya mengandung putra pertama mereka.
"Revin anak yang kuat, dari aku hamil.muda hingga usia kandungannku 8 bulan. Aku selalu bekerja di tempat orang, seperti mencuci menggosok dan membersihkan rumah. Hanya demi uang 20 ribu, untuk kami makan. Setidaknya, Revin saat itu mendapatkan nutrisi." Sela Emily.
Emily mengenang dimana masa-masa menyakitkan itu, dimana dirinya sulit menjadi single mom. Banyaknya hinaan yang menyangka dirinya hamil di luar nikah, ada juga yang hilang jika dirinya simpanan yang terbuang. Tapi bukan itu yang Emily sesali, dia menyesalkan putranya harus ikut bersamanya yang minim penghasilan. Selalu mendapat bahan omongan orang karena mengira Revin anak yang lahir tanpa seorang ayah.
"Maafkan mas, andai mas tidak terhasut ucapan eyang. Kamu dan Revin tidak akan menderita," ujar Gilbert dan menangkup wajah istrinya.
"Tidak papa, semuanya sudah berlalu. Eyang sudah mendapatkan hukumannya, membunuh nyawa seseorang adalah tindakan kriminal. Beruntungnya, saat itu aku memutuskan untuk pergi. Jika tidak, Revin pasti ...."
Gilbert membungkam mulut Emily dengan bibirnya, dia tak ingin lagi istrinya membahas hal menyakitkan bagi dirinya. Sedangkan Emily, melototkan matanya dan menjauhkan wajahnya dari sang suami.
"MAS!!" Kesal Emily.
Gilbert terkekeh, dia merangkul istrinya dan mendekapnya dalam pelukan hangatnya.
"Mas belikan kamu banyak lingeri3, tapi kenapa gak pernah kamu pake?" Tanya Gilbert.
"Kamu gak takut aku masuk angin? baju gak jelas gitu," ujar Emily.
"Kan cuma sebentar doang, buat pertunjukan."
PLAK!!
Emily memukul mulut suaminya yang menurutnya sangat tidak enak di dengar, dia menjauhkan tubuhnya dari sang suami dan berbalik sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"OOOHHH MAU DI BAWAH SELIMUT!! OK!!!" seru Gilbert dan menyusul istrinya.
_______________
Pesanku, novel hanyalah hiburan jangan menjadi penghalang kalian untuk ibadah yah apalagi menundanya hanya karena novel🤭🤭🤭. ibadah no 1 pokoknya😁