I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Permintaan sederhana Revin.



Cklek!!


Alfred memasuki ruang kerja putranya saat Asisten Kai menelponnya dengan nada panik, dia terkejut saat melihat ruangan Gilbert yang penuh dengan bungkus makanan.


"Apa ini Gilbert?" Seru Alfred menatap tak percaya putranya yang masih makan dengan rakus itu.


Gilbert tak mengindahkan ucapan sang daddy, dia meminum airnya dan bersendawa. Menyandarkan tubuh tegapnya ke kursi dan mengelus perutnya yang membuncit akibat terlalu banyak makan yang masuk dalam perutnya.


"Tuan, tuan Gilbert benar-benar tidak waras. Sepertinya mentalnya terganggu karena nona Emily pergi saat dia sedang bucin-bucinnya."


"LIHAT!!! LIHAT INI!!"


Asisten Kai berlari mengambil struk belanja di sebuah restoran yang tergeletak di antara tumpukan sampah dan memberikannya pada Alfred untuk di lihat.


"Tuan memesan dua puluh bungkus gado-gado, dan itu harus saya yang pesan. Kalau begini, mental saya juga ikut terganggu." Melas Asisten Kai.


Alfred menatap putranya, apakah benar jika putranya tengah depresi hingga banyak makan seperti itu? padahal, saat dulu Emily pergi Gilbert bahkan tak ingin makan apapun. Namun kini, pria itu sangat lahap makan.


"Gilbert, lebih baik kamu pulang dan istirahat. Daddy akan memberikanmu obat, sebentar." Titah Alfred sebelum dia keluar kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil sesuatu.


Tak lama Alfred kembali dengan sebuah botol obat, dia membukanya dan mengambil beberapa butir untuk di minum kan pada putranya.


"Minumlah,"


"Aku tidak gila daddy! aku hanya lapar!" Kesal Gilbert karena dirinya mengira ia sedang di suruh minum obat penenang.


"Ini obat cacingan, siapa tahu kamu cacingan sehingga makan sebanyak apapun tidak kenyang-kenyang!"


Asisten Kai hanya bisa menatap mereka yang sibuk berdebat, netranya kini beralih menatap banyaknya bungkus gado-gado yang berserakan. Namun, tiba-tiba saja, Gilbert membekap mulutnya menahan gejolak aneh dalam perutnya.


"HWEK!! HWEK!!!"


Gilbert berlari ke kamar mandi, dia memuntahkan makanan yang baru saja dia makan. Dengan panik, Asisten Kai dan Alfred menghampiri ke kamar mandi untuk melihat keadaan Gilbert.


"Daddy aku lemas sekali, aku ingin tidur sebentar." Lirih Gilbert sebelum akhirnya dia tumbang di hadapan mereka.


"GIL!!! JANGAN PINGSAN DULU!! MASUK MOBIL DULU, KITA KE RUMAH SAKIT!! BARU KAMU PINGSAN HEYY!!!" Panik Alfred.


***


Revin menatap Emily yang tengah mencuci piring sehabis makan, anak itu tampak sedang gelisah memikirkan sesuatu.


"Revin sedang apa?" Tanya Emily setelah menyuci piring dan mengeringkan tangannya.


"Lev kepikilan daddy," ujar Revin dengan suara lirih.


Emily mengangkat tubuh putranya, tak terasa tubuh putranya semakin berat. Gizi yang putranya dapat kini sangat baik, dan Emily senang melihat perkembangan putranya.


"Kepikiran kenapa?" Tanya Emily dengan lembut.


"Buna, apa buna nda bica maapkan daddy? Lev duga celing buat buna malah, tapi buna maapin Lev. Bica nda, maafin daddy. Kita pulang, tinggal baleng daddy lagi?" Pinta Revin, tangannya meremas erat baju yang ia kenakan.


Permintaan Revin, membuat Emily menghela nafas pelan. Sudah pasti Revin merindukan Gilbert, secara putranya itu baru saja bertemu ayah kandungnya dan kini harus berpisah.


Bukan Emily tak ingin memaafkan Gilbert, hanya saja tamparan Gilbert tak sesakit rasa sakit hatinya saat sang suami gak percaya padanya.


Dia tak pernah membayangkan apa jadinya jika dia yang berada di posisi ibu kandung Gilbert. Apakah putranya harus memiliki nasib seperti daddynya?


"Revin kangen daddy?" Tanya Emily dengan sendu.


Revin mengangguk dan memberanikan diri mengelus pipi mulus sang buna.


"Lev kangen daddy, tapi Lev lebih kangen zelo." Ucapan Revin membuat raut wajah Emily berubah datar.


"Hehe, belcanda buna. Iya, Lev cayang daddy. Kangen daddy, kita pulang yah." Bujuk Revin.


Emily dan Revin terkejut mendengar suara itu, mereka menoleh dan mendapati Agler berjalan ke arah mereka dengan menggendong Reynan.


"Urusanku sudah selesai, maka dari itu hari ini aku tak bisa menemanimu karena menyelesaikan semuanya dengan waktu cepat. Mulai minggu depan, Reynan masuk sekolah pertamanya. Jadi, kami harus kembali." Terang Agler.


"Ley mau cekolah?" Tanya Revin dengan sedikit memiringkan kepalanya.


"Ya, Reynan sudah mendaftar sebulan lalu. minggu depan, dia akan sekolah. Apa Revin juga mau ikut sekolah bareng Reynan?" Tawar Agler.


Revin menatap sang bunda, Emily pun juga tengah menatap putranya yang sepertinya tengah meminta izin darinya.


"Saat kita kembali, Revin sendiri yang bicara sama daddy yah. Kalau gak boleh, Revin minta saja sama opa." Sahut Emily.


"Oh ya Em, aku ingin bicara tentang Gilbert. Tadi daddy menelpon, katanya Gilbert sedang sakit. Seharian ini dia muntah, bahkan tak ada satu suap pun nasi yang masuk. Dia hanya bisa memakan gado-gado, itu pun beberapa menit kemudian akan dia muntahkan." Agler sebenarnya kaget saat di kabarkan seperti itu oleh Alfred, tak percaya jika Gilbert menyukai makanan itu.


Emily tentu saja sama terkejutnya, sejak kapan suaminya senang gado-gado? Emily menjadi khawatir, takut suaminya terguncang mentalnya karena masalah yang dia hadapi.


"Agler, apa besok kita kembali saja? aku khawatir dengan mas Gilbert." Panik Emily.


"Ya, bisa kita besok kembali. Aku akan memberi tahu mamah soal ini," ujar Alfred sembari tersenyum.


Agler berpamitan ingin menemui ibunya, dia melihat Tania yang sedang duduk di teras sambil memperhatikan kesunyian malam.


"Mah." Sapa Agler.


"Eh kamu, sini duduk." Ajak Tania dan memberikan tempat untuk Agler.


"Reynan mana?" Tanya Tania karena tak mendapati cucunya bersama dengan Agler.


"Sudah waktunya tidur, tadi ikut Emily ke kamar," ujar Agler.


Tania menganggukkan kepalanya, Agler dapat merasakan jika sang mamah tengah memikirkan sesuatu. Untuk itu, dia memegang tangan Tania dan mengelusnya pelan.


"Apa yang mamah pikirkan?" Tanya Agler.


Tania menggeleng sembari memaksakan senyum, tetapi Agler tak mudah di bohongi. Dia tahu mamahnya sedang memikirkan sesuatu.


"Mah, cerita sama Agler. Jangan seperti ini," ujar Agler dengan nada memelas.


"Mamah hanya kepikiran dengan Hana, kebohongannya membuat suami dan anaknya kecewa. Mamah takut sekali." Ujar Tania dengan sendu.


Agler menghela nafas pelan, dirinya pikir ada masalah yang besar hingga membuat mamahnya seperti ini.


"Itu kan salah dia, gak usah mamah pikirkan. Yang terpenting sekarang, mamah tidak seperti tante Hana." Seru Agler sambil tersenyum.


Tania seperti tertampar oleh perkataan putranya, hatinya tiba-tiba saja mencelos saat Agler mengatakan seperti tadi.


"Agler, mamah ....,"


"Hais, aku lupa. Aku harus mengabari om Alfred jika kita akan kembali besok!" Sela Agler.


"Besok?!" Pekik Tania.


"Maaf mah, besok kita akan kembali. Urusanku disini sudah selesai, minggu depan juga Reynan akan bersekolah. Om Alfred menyuruhku kembali, karena nanti ada orang kepercayaannya yang menghandle disini." Terang Agler.


Agler segera beranjak untuk masuk ke dalam, Tania menatap sendu kepergian putranya itu. Ada hal yang dirinya sembunyikan, mengingat kejadian Hana di mana terbongkarnya semua rahasia. Membuat Tania tak tenang. Dia menatap langit yang di hiasi oleh bintang, air matanya menggenang di pelupuk matanya.


"Bagaimana bisa mamah mengatakan padamu, jika kamu bukan keturunan asli keluarga Greyson." Batin Tania menahan sesak di d4d4.


Emily yang akan mendekati Tania dengan membawa secangkir susu hangat seketika menghentikan langkahnya, dirinya mendengar gumaman Tania.


"Apa maksudnya? Agler bukan keturunan asli keluarga Greyson?" Batin Emily dengan tatapan tak percaya hingga dirinya memutuskan untuk kembali ke dapur karena tubuhnya mendadak lemas setelah mendengarnya.