
Dua hari kemudian.
Alfred turun dari mobilnya, dia menatap rumah yang tampak seperti sebuah gubuk. Dia melepas kaca mata hitamnya, dan menatap rumah itu dengan kening mengerut.
"Toni, apa benar ini rumahnya?" Tanya Alfred pada supirnya.
"Benar tuan, perasaan saya sih disini. Tapi kok, ada yang aneh yah." Gumam Toni.
Alfred akan melangkah mendekati rumah itu, tetapi bahu nya di tepuk oleh seseorang yang mana membuat dirinya terkejut.
"Anda mencari siapa disini?"
Alfred memegangi d4d4nya saat melihat sosok pemuda yang masih sangat belia tengah menatap dirinya dengan penuh selidik.
"Maaf, apa saya membuat anda terkejut?" Tanya pemuda itu dengan tatapan tak enak.
Para bodyguard yang mengawal akan mendekati pemuda itu, tetapi Alfred mengangkat tahannya mengisyaratkan agar mereka tak melakukan hal yang tidak dia suruh.
"Apa kamu mengenal pak Lukman?" Tanya Alfred, jangan lupakan raut wajah datarnya.
Tampaknya pemuda itu menatap Alfred dari kepala hingga ujung kaki dan kembali menatap lekat mata Alfred.
"Anda tuan Alfred?" Tanya pemuda itu ragu.
Alfred mengangguk, dia seperti mendapat secercah jawaban yang dia cari selama ini. Namun, pikirannya kandas saat melihat tatapan marah dari pemuda yang baru akan beranjak dewasa itu.
"PERGII!!! PERGI DARI SINI!!" Bentaknya mengusir Alfred.
Alfred kebingungan, dia mencoba untuk berbicara dengan pria itu. Namun, tampaknya pria tersebut semakin marah dan malah mendorong Alfred.
"HEI!! Jaga sopan santunmu! kamu tidak tahu dia siapa hah?!" Seru bodyguard Alfred yang tak terima majikannya di sakiti.
"Ck, bawa majikan kalian pulang!! aku tidak sudi hanya untuk sekedar melihat wajahnya!" Seru pria itu dan mulai beranjak pergi.
"Berhenti! Apa kamu anak lak Lukman?" Tanya ALfred membuat langkah pemuda itu terhenti.
Dia berbalik, dan menatap tajam tepat di mata Alfred. Bisa Alfred rasakan, bagaimana bencinya pemuda itu dengan dirinya. Aura yang pemuda itu keluarkan, membuat Alfred sedikit terkejut.
"Ya, kenapa? apa anda ingin membunuhku juga huh? setelah ibu anda berusaha melenyapkan ayah saya, apa anda juga akan melenyapkan saya juga?" Serunya.
Tubuh Alfred mendadak menegang, tak terasa dia melangkah mendekat. Hatinya merasa terkejut mendengar penuturan pemuda itu.
"Apa maksudmu? saya benar-benar tidak mengerti, Lukman telah tiada?" Kaget Alfred dengan jujur.
"Cih! pura-pura tak mengerti?! Orang kaya sama saja! sama-sama suka menindas! hanya karena ayah saya mengetahui rahasianya, dengan keji dia membuat kami menderita!! Apa salah ayah saya? bahkan saya yang masih harus bersekolah harus terpaksa berhenti karena ulah ibu anda!"
"KALIAN MEMANG KEJAM!!" Seru pemuda itu dengan suara lantang.
Toni mendekat, dia memegang bahu anak dari Pak Lukman. Namun, pemuda itu segera menepisnya dengan kasar.
"Lebih baik anda pergi sebelum saya memanggil warga!" Sentaknya dengan menunjuk ke arah lain.
"Sebentar saja, biarkan kami berbicara," ujar Alfred menurunkan egonya.
"Tidak! aku tidak ingin berbicara apapun!" Sentak pemuda itu dan berbalik pergi.
Alfred memejamkan matanya, sedari tadi dirinya berusaha untuk tidak menakuti anak dari mantan supirnya itu agar bisa mendapatkan informasi yang ia mau.
"XAVIER EXAM!"
Xavier, nama pemuda berusia 16 tahun itu. Dia menghentikan langkahnya, tubuhnya mendadak terasa kaku. Nama yang tak pernah dia dengar, akhirnya kembali di sebut oleh seseorang.
"Namaku Yudha, bukan Xavier." Elaknya dan berbalik menatap tajam Alfred.
Alfred tersenyum tipis, dia mengayunkan kakinya melangkah mendekati Xavier yang menatapnya tajam.
"Ibumu seorang wanita kewarganegaraan London, sedangkan ayahmu orang lokal. Putra satu-satunya dari Lukman hidayat, dan Alice Adaline. Apa kau pikir, sebelum aku kesini aku tidak mencari data kehidupan mu huh? dua hari, aku mendapatkan data dengan begitu mudah nya Xavier."
"SUDAH KU BILANG AKU BUKAN XAVIER!!!" Sentak pemuda itu dengan sorot mata yang penuh amarah.
"Sekuat apapun kamu mengelak, tetap saja kamu lahir dari keturunan Exam. Xavier Exam, nama yang ibumu berikan sebelum dia kembali ke negaranya. Sekarang katakan padaku, apa yang kamu tahu tentang kejadian lima tahu lalu?"
"Apa anda ingin aku mati seperti ayahku?" Serunya.
Alfred menggeleng, berita tentang kematian Lukman membuat dirinya Syok. Di tambah, Xavier mengatakan jika penyebab nya adakah karena Samantha.
"Tidak, justru aku kesini ingin menanyakanmu tentang suatu hal. Bisa kita berbicara? jika benar ibuku yang membuat ayahmu tiada, aku akan menegakkan keadilan untuk ayahmu. Aku janji." Ucap Alfred dengan bersungguh-sungguh sambil menatap pemuda yang tengah berpikir itu.
"Baiklah, akan ku tunjukan sebuah rahasia besar. Dengan syarat, balaslah rasa sakit ayahku pada ibumu. Sebelum ayah tiada, dia menitipkan pesan untuk membuang ponsel itu, saat itu aku penasaran apa isinya sampai-sampai Nyonya Samantha meneror kami. Kamu bisa melihat bukti itu sendiri." Sahut Xavier.
Akhirnya, setelah beberapa waktu berdebat. Xavier menyuruh Alfred masuk ke dalam gubuknya. Rumah yang sangat sederhana, yang terbuat dari anyaman seperti rumah jaman dulu.
"Kenapa kau melihat rumahku dengan tatapan seperti itu? lebih buruk dari kandang kucingmu bukan?" Sinis Xavier.
Alfred yang tadinya sedang melihat-lihat pun kini menatap Xavier dengan tatapan datar.
"Jangan merutuki ku, duduklah di kursi itu. Walau tak semewah kursi di rumahmu, tapi ayahku yang membuatnya sendiri. Kursi itu mempunyai banyak kenangan untuk ku," ujar Xavier.
Alfred menduduki sebuah kursi panjang yang terbuat dari bambu, khawatir bambu itu akan patah membuat Alfred ragu untuk duduk.
"Duduklah, tidak akan patah. Badanmu tidak sebesar gentong bukan?"
"Ck! bisakah kau lembut sedikit berbicara pada orang yang lebih tua!!" Kesal Alfred.
Xavier hanya diam, dia memasuki kamarnya dan tak lama keluar dengan membawa sebuah ponsel.
Tak!
"Lihatlah, di sana terdapat bukti. Kau bisa menggunakannya untuk menjerat dua wanita itu, aku sudah janji pada ayah untuk tidak ikut campur." ujar Xavier setelah meletakkan ponsel itu di hadapan Alfred.
"Dua wanita?" Bingung Alfred.
"Ya, dua orang wanita. Aku hanya tahu Nyonya Samantha saja, wanita yang satunya aku tidak tahu," ujar XAvier.
Dengan rasa penasaran, Alfred pun membuka ponsel itu. Ponsel itu masih bagus, tanpa berlama-lama lagi Alfred pun mencari sesuatu di ponsel itu..
"Sebuah Video?" Gumam Alfred.
Video itu berada di sebuah galeri, dan hanya ada satu-satunya yang terdapat di sana. Rasa penasaran Alfred pun memuncak, dia segera memencet tombol play untuk memutarnya.
"Mah, apa mamah yang mengusir Emily? atau mamah melenyapkannya sama seperti Kak Lea?!"
"Diam Hana! kau juga bersalah! kamu saksi mata kejadian itu, dan memilih tutup mulut untuk mendapatkan Alfred! jadi, jangan sok baik di hadapan ku!"
Suara Hana dan Nyonya Samantha membuat Alfred merasa sesak, tatapannya yang biasanya datar kini berkaca-kaca. Hatinya seperti di remuk dan di tusuk oleh sebuah belati. Kepercayaannya, hancur di tangan wanita yang menjadi teman hidupnya selama 25 tahun.
"Karena video 10 detik itu, aku harus kehilangan ayahku." Cetus Xavier menatap Alfred yang terkejut dengan wajah yang pucat.
"Tidak mungkin?" Gumam Alfred dengan tatapan tak percaya.
***
Selama dua hari ini, Emily menikmati hidupnya. Walau pun rumah yang mereka tempati tak sebesar rumah Gilbert dulu, tetapi Emily senang disini.
Putranya memiliki teman, dirinya juga memiliki tetangga yang sangat baik. Baru saja dia tinggal, tetapi para tetangga sidah mengajaknya untuk berkumpul.
"Eh bu Emily, rajin banget pagi-pagi udah jemur aja!" Seru tetangga di depan rumah Emily.
"Iya bu, biasa. Anak-anak suka sekali mengotori bajunya, kalau nyucinya di tunda. Suka susah hilang noda nya," ujar Emily.
"Iihhh sama atuh bu! saya juga gitu, kadang suka kesel sama anak karena baju kotor terus." Sahut tetangga sebrang.
Sedangkan Revin dan Reynan bersama dua anak tetangga tengah bermain di dekat rumah, mereka asik bermain hingga tak sadar kalau kaki mereka sudah kotor oleh tanah.
"Lempal lagi Ley! janan di pegang telus! kapan Lev dapet na!!" Seru Revin yang kesal karema Reynan terus memegang bola dan melemparnya ke kawan lain.
"Lev itu gimana cih! kan Ley lawan Lev, macak lawan ngacih bolana? pelatulan dali mana itu?" Kesal Reynan.
Revin ngambek, dia melipat tangannya dan berjongkok sambil memainkan batu yang berada di aspal.
"Yacudah! ini bolana! tangkap!!" Seru Reynan dan melempar bola itu pada Revin.
Revin akan menangkapnya, tetapi bola tersebut terlempar sedikit jauh.
Revin berlari mengejarnya, Reynan yang khawatir pun ikut mengejar Revin.
"LEVIIINNN!! AWAC ADA MOBIL!! LUSAK NANTI MOBILNA NABLAK KAMUU!!" Teriak Reynan yang lari tergopoh-gopoh ke arah bocah nekat itu.
Revin mengambil mobil itu, dia menoleh dan menatap mobil yang mendekat ke arahnya dengan tatapan terkejut.
CKIIITTT!!!!
Reynan menghela nafasnya saat mobil itu berhasil berhenti sebelum mengenai Revin, dengan cepat Reynan mendekati Revin yang terlihat syok.
"Lev nda papa?" Tanya Reynan khawatir.
"HEI!!! KALAU NYEBRANG HATI-HATI DONG!!" Seru sang supir yang mengeluarkan kepalanya keluar jendela.
Revin tersadar, dia menatap supir itu dengan tatapan tajam.
"Paman nda liat apa ada Lev dicini hah?! badan Lev becal gini paman nda Liat? pellu Lev ambilkan kaca mata kuda bial laman liat Lev gede! calah paman juga bawa mobil, untung aja Lev celamat. JANTUNG LEV MAU TOPOT TAU NDA!!"
______
Besok terungkap yah kawan, puncak konfliknya besok. Karena besok puncak konfliknya, kita triple up oke🤗🤗🤗.
Mana nih yang uda gregetan sama samantha dan minta untuk di singkirkanðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤.