
Agler dan Tania memutuskan untuk kembali, tetapi Reynan tampaknya enggan. Dia membujuk sang papah untuk tak pulang dulu. Namun, Agler juga memiliki rumah sendiri.
"Nanti pekan ini kita ke sini lagi yah, sekarang pulang dulu," ujar Agler membujuk putranya.
"Dicini aja, Ley ada temenna," ujar Reynan dengan bibir mengerucut.
"Ciapa? Lev?" Seru Revin sambil menunjuk dirinya sendiri.
Reynan mengangguk, baginya Revin adalah temannya. Dia baru kali ini memiliki seorang sepupu yang bisa di ajak berteman walau terkadang ribut.
"Tapi Lev nda mau temenan tuh cama Ley," ujar Revin dengan bersedekap d4d4.
"Revin!!" Tegus Emily.
Revin tersenyum, dia berjalan mendekati Reynan dan menepuk bahunya perlahan.
"Ley kan abang na Levin, iya kan buna?" Ujar Revin dan meminta dukungan dari Emily.
Emily mengangguk, dia bangga dengan putranya. Walau Reynan dan Revin tak sedarah, mereka tampak seperti anak kembar tak identik karena umur mereka yang terpaut sangat sedikit. Hanya berbeda satu bukan saja.
Akhirnya, Reynan memutuskan untuk pulang setelah Agler berjanji akan mengantarnya ke rumah Gilbert minggu depan. Setelah mereka pergi, Emily membawa putranya ke kamar untuk tidur siang.
"Gilbert!" Panggil ALfred saat melihat putranya yang akan keluar.
"Ya?" Sahut Gilbert berjalan mendekati sang daddy.
"Reynan senin besok sekolah, kamu gak ada niatan sekolahin Revin?"
Gilbert menggeleng, membuat Alfred sangat gemas sekali dengan putranya satu ini. Bagaimana pun, cucunya harus bersekolah. Menurutnya, umur Revin sudah cukup untuk memasuki TK.
"Aku akan mengajarinya sendiri," ujar Gilbert.
"Kapaaann!!! kamu kerja di kantor dari pagi sampai malam, kapan ngajarnya!!" Geram Alfred.
"Mukai besok, aku akan membawa Revin ke kantor. Akan ku ajari dia dengan bisnis sedari kecil. Tak perlu sekolah." Ucap nya dengan enteng sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Alfred mencoba mengatur nafasnya, yang ada dia akan darah tinggi mendengar kata demi kata yang putranya lontarkan.
"Ajarkan Revin baca dan menghitung dulu," ujar Alfred.
"Iya, nanti. Sekarang aku harus bertemu om Dirga, katanya ada yang ingin dia bahas tentang kerja sama."
Alfred tak lagi menahan putranya, dia membiarkan Gilbert pergi menemui Dirga. Saat berbalik, dia melihat Emily yang membawa berkas milik Gilbert yang sepertinya tertinggal.
"Mas Gilbert mana dad?" Tanya Emily.
"Loh, barusan jalan!" Seru Alfred sambil menunjuk arah luar.
Bahu Emily merosot, tadi saat memasuki kamar dia melihat berkas milik Gilbert yang tertinggal di kasir. Padahal dia sudah berlari untum mengejar suaminya, tetapi tetap saja telat.
"Kamu susul dia aja, minta Toni buat anter." Usul Alfred.
"Boleh?" Tanya Emily ragu.
Alfred terkekeh, menantunya ini ada-ada saja. Bagaimana mungin tidak boleh, sementara Emily istri dari putranya bahkan berniat akan mengantar berkas.
"Boleh lah, dulu mommy juga sering anterin berkas daddy yang ketinggalan," ucap Alfred tanpa sadar.
Emily terkesiap, melihat raut wajah menantunya yang berubah membuat Alfred menyadari ucapannya.
"Ya-yaudah, kalau gitu Em siap-siap dulu." Pamit Emily dan pergi ke kamar untuk bersiap.
Alfred masih berdiam diri di tempat, dia mengedarkan tatapannya ke seluruh tempat. Dulu, ada Hana yang sering mondar-mandir menyiapkan keperluan Gilbert dan juga dirinya. Ada juga Nyonya Samantha yang memarahi Alfred saat pria itu telat berangkat ke kantor.
"Huftt ... semuanya sudah berubah, terbongkarnya masa lalu membuat keluarga ini berantakan." Gumam Alfred.
Alfred merindukan Hana, tetapi hatinya masih merasa kecewa dengan perbuatan istrinya itu. Lea dan Hana menempati posisi masing-masing dalam hatinya. DIa mencintai Lea, tetapi juga Hana. Hana tak campur tangan dalam rencana Nyonya Samantha, tetapi dia memilih bungkam tentang kenyataan.
***
Emily melihat sekeliling kantor, Toni supir yang Alfred suruh mengantar nya itu menurunkannya di perusahaan Dirga. Sebab kata Alfred, Gilbert saat ini telah berada di perusahaan Dirga untuk melakukan meeting.
"Ayo macuk buna!" Seru Revin yang menggandeng tangannya.
Saat Emily akan melangkah, dia melihat Asisten Kai yang berlari kecil menghampirinya. Senyum pun terbit, dia merasa lega karena ada Asisten Kai disini.
"Nona ngapain?" Tanya Asisten Kai saat sampai di hadapan Emily.
Emily memberikan paper bag berisikan dokumen milik suaminya yang tertinggal. Asisten Kai menerimanya dan mengintip paper bag tersebut.
"Itu berkas milik mas Gilbert, berkas kontrak kerja sama dengan Tuan Dirga. Saya pikir ini penting untuknya, maka dari itu kami memlngantarnya," ujar Emily.
"Yaudah, kalau gitu kami langsung pulang saja yah." Pamit Emily.
"Kok pulang, nona gak mau ketemu tuan Gilbert dulu?" Tanya Asisten Kai.
Revin mendongak, dia melihat sang bunda menggeleng. Emily memang berniat akan langsung pulang saja setelah mengantar nya karena tak ingin mengganggu Gilbert bekerja.
"Tidak, saya akan pulang saja. Sudah hampir sore, kasihan Revin dia belum sempat tidur siang karena melihat saya pergi," ujar Emily sedikit melirik putranya itu.
"Yasudah, apa perlu saya antar?"
"ENggak usah, kami kesini di antar sama supir. Asisten Kai masuk saja, takutnya di cariin mas Gilbert," ujar Emily.
Asisten Kai mengangguk, dia mengelus kepala Revin sejenak dan berbalik pergi. Emily juga berniat akan pergi, tetapi saat dia akan menaiki mobil seseorang tak sengaja menabraknya.
"Sorry!"
Emily mengusap bahunya yang sakit, dia mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang menabrak nya.
"AGLER!!" Pekik Emily.
"Agler?"
Pria berjas yamg berwarna navy menatap Emily dengan kening mengerut, dia membuka kaca mata hitamnya dan menatap Emily dengan tatapan kesal.
"Agler lagi Agler lagi, saya bukan Agler mbak! saya ini ...,"
"SAYANG!!"
Atensi mereka beralih menatap Gilbert yang berlari kecil menghampiri nya, Revin yang melihat sang daddy pun langsung keluar dari mobik dan berlari mendekat.
Hap!
Gilbert membawa Revin ke gendongannya, dia menc1umi wajah putranya dengan gemas.
"Kau tidak tidur siang dan malah kemari," ujar Gilbert pada Revin.
"Hum, ikut buna," ujar Revin.
Gilbert mendekati Emily, dia meraih pinggang istrinya dan mengecup kening sang istri dengan lembut.
"Mas! ada Agler! malu!" Seru Emily.
"Agler? bagaimana bisa dia ...,"
Gilbert membulatkan matanya, dia melihat Galang dengan tatapan kaget.
"Agler lagi Agler lagi! saya bukan Agler! berhenti panggil saya Agler!" Kesal Galang.
"Agler." Gumam Gilbert.
"Kenapa kamu disini hah?! aku sudah memintamu untuk mengurus kerjaanku dulu dengan bertemu pak Riko, kenapa kamu ada disini?" Kesal Gilbert.
Lagi-lagi Galang di buat tidak paham dengan keadaan yang sebenarnya, kenapa dia di panggil Agler? selama ini dirinya tinggal di luar negri, bahkan tak banyak yang tahu jika Dirga memiliki seorang anak laki-laki. Hanya Amelia yang sering di sorot kamera sebab dirinya yang tunggal dengan Dirga, berbeda dengan Galang yang hidup di luar negri.
"Hei saya ini ...."
Ponsel Gilbert berdering, dia mengambil ponselnya di saku jas dan melihat kontak yang menelponnya. Netranya membulat saat melihat nama Agler yang mengajukan video call padanya. Dengan tangan gemetar, Gilbert pun mengangkatnya.
"Halo kak, tuan Riko membatalkan meetingnya. Katanya ada urusan mendadak, aku pulang saja yah?" Ujar Agler dari sebrang.
Gilbert mengalihkan tatapannya pada Galang, sedetik kemudian dia kembali menatap Agler. Begitu terus hingga beberapa kali, Emily pun menyaksikan nya tak kalah terkejutnya dengan sang suami.
"Wa-wajah kalian ...." Gilbert membalikkan ponselnya, sehingga kini Galang dan Agler pun saling tatap satu sama lain.
"Wa-wajah gue!"
"Wa-wajah aku?!"
Pekik keduanya tak percaya saat video call dengan diri mereka sendiri. Emily dan Gilbert saling tatap, keduanya pun turut terkejut dengan apa yang mereka lihat.
_____
Double up dulu yah kawan, hari ini kerjaan full bangetðŸ˜ðŸ˜.
Tetap LIKE KOMEN HADIAH DAN VOTE NYA YAH😘😘.
Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat selalu🥰🥰🥰