
Galang memasuki Vila dengan keadaan kesal, sementara Amelia mengikutinya dari belakang sambil menahan tawanya. Mereka saat ini sedang berlibur, sekaligus menemani Dirga yang sedang memantau proyek yang dia bangun di daerah ini.
"Hei, ada apa ini? kenapa kalian sudah kembali, dan mana belanjaan kalian?" Seru Dirga yang baru saja keluar dari lift dan menghampiri kedua anaknya.
Galang dan Amelia pun menghampiri Dirga dengan ekspresi yang berbeda, Dirga yang tak tahu apapun di buat bingung oleh keduanya.
"Papah, lihatlah anak bujang lapuk papah ini. Dia di bilang pebinor oleh Revin hahahaha!!!"
"Diamlah!!" kesal Dirga.
"Revin putra Gilbert?" Tanya Dirga dengan ragu.
"Iya papah!!" Angguk Amelia dengan antusias.
Dirga mengerutkan keningnya, saat itu dia melihat konferensi yang Gilbert adakan dan dia tidak menyangka jika mereka berada disini.
"Wah, sangat hebat. Pria malang itu sampai saat ini belum menemuka istri dan putranya, padahal mereka berada disini," ujar Dirga dengan tersenyum sinis.
"Iya, eh kenapa kita tidak memberitahunya saja pah?" Usul Amelia.
"Tidak usah, biarkan dia mencari. Itu kesalahan nya sendiri karena mempercayai neneknya yang jahat itu." Tolak Dirga dan beranjak pergi menuju ruang makan.
Amelia menghela nafas pelan, tatapannya kini beralih menatap Galang yang menatap kepergian papah mereka.
"Apa kau masih kesal dengan perkataan Revin?" Tanya Amelia.
"Tidak, aku sedang berpikir. Kenapa dia memanggilku Agler? Sedangkan namaku Galang, dan juga anak kecil yang sebaya dengan Revin itu memanggilku papah. Bukanlah ada yang aneh?"
Amelia baru terpikirkan dengan apa yang di ceritakan Galang, benar kata adiknya. Ada yang aneh disini, setahu dirinya Galang dan Emily tak saling mengenal.
"Dia memanggilmu apa tadi?" Tanya Amelia.
"Agler, yah Agler." Jawab Galang.
"Agler ... namanya tidak asing. Sebentar, aku ingat-ingat dulu!" Seru Amelia.
Amelia meletakkan jari telunjuknya di keningnya, dia mengetuknya pelan dan mengingat-ingat siapa Agler.
"Astaga bagaimana aku bisa lupa, Gilbert mempunyai sepupu bernama Agler. Nyonya Samantha tak bisa menjodohkannya denganku karena saat itu dia sudah menikah, memang dia sangat tertutup dari publik. Bahkan, tak satu pun fotonya terpampang di media!" Heboh Amelia.
"Bagaimana bisa? dia keturunan keluarga Greyson bukan? karena dia di bedakan?" Bingung Galang.
"Entahlah, fotonya tak ada di media apapun. Benar-benar tertutup rapat. Sebagai pewaris cadangan tentu identitasnya lebih terjaga, jika pewaris utama celaka. Maka dia yang akan naik tahta selanjutnya." Jelas Amelia.
Galang berniat akan mencari tahu tentang Agler yang sebenarnya, dia sangat pintar meretas. Bahkan, perusahaan Gilbert goyah hanya dalam semalam. Mudah baginya untuk mencari identitas seseorang.
Dirga sudah duduk di meja makan, sebab saat ini sudah masuk waktu makan siang. Netranya melihat kursi di sampingnya, yang tak pernah di duduki oleh siapa pun selain istrinya.
"Villa ini aku beli sebagai kado pernikahan untukmu, tapi saat aku kembali ... tidak bersama denganmu. Sayang, mas merindukanmu." Batin Dirga menatap kuris yang spesial untuknya.
Kreett!!
Dirga tersentak kaget saat Amelia menarik kursi untuk duduk, dia mendongak menatap putrinya yang tengah memperhatikan hidangan.
"Jangan suka melamun papah, kau kelamaan menjomblo. Cepatlah menikah, memiliki adik lagi tidak buruk juga." Ledek Amelia karena dia sempat melihat papah nya terbengong.
"Jangan ngaco kamu! papah tidak akan menikah lagi, cukup mamah kalian saja," ujar Dirga dengan kesal.
"Papah sudah menduda puluhan tahun, apa papah tidak merindukan malam pengantin baru?" Sahut Galang dengan tingkah konyolnya.
Dirga yang kesal pun mengambil buah apel dan melemparnya, sayang sekali Galang dengan cekatan menangkap buah itu.
"Apa aku carikan saja? mau perawan atau janda? perawan memang cantik, tapi janda lebih menarik!!!" Seru Galang dan memakan apel itu.
"Pah, sepertinya dia lebih tertarik dengan janda. Pantas saja, selama ini papah menjodohkan dia dengan para gadis cantik. Tapi, semuanya dia tolak. Coba papah carikan yang janda saja, supaya dia cepat menikah." Bisik Amelia.
Galang menarik hidung mancung Amelia dengan kesal, bukan dia ingin memilih-milih pasangan. Hanya saja, belum ada yang menggetarkan hatinya.
"Jangan membuat ulah!" Kesal Galang membuat Amelia dan juga Dirga terkekeh.
***
Gilbert tak fokus saat dia sedang meeting, sering kali dia melamun dan membuat Asisten Kai harus menegurnya. Dia ingin sekali mencari istrinya dnegan menyebarkan banyak anak buahnya di berbagai wilayah. Namun, dirinya takut istrinya semakin marah.
Asisten Kai menyenggol lengan bos nya, baru saja sekretaris mereka persentase untuk perkembangan proyek mereka.
"Tuan!!!"
BRAK!
Asisten Kai membanting bukunya ke bawah sehingga menimbulkan suara bunyi yang sangat keras sebab sedari tadi Gilbert tak mengindahkan panggilan nya.
"Sayang!!!" Seru Gilbert tanpa sadar.
"Saya bukan sayangmu tuan, coba lihat sekretarismu apa yang tadi dia katakan."
Gilbert mengusap kasar wajahnya, Asisten Kai pun memberinya minum dan kembali memungutnya bukunya yang sengaja ia jatuhkan..
"Kalau bukan di ruangan meeting aku sudah melemparmu ke kandang Zero!!" Kesal Gilbert, tetapi Asisten Kai tak mengindahkan ancaman bos nya itu.
Netranya menatap sekretaris yang menatap tak enak padanya , dia menegakkan duduknya sambil membenarkan jas nya.
"Tak ada yang perlu di ubah, saya ingin mall itu segera di bangun di bogor. Pastikan tidak ada kesalahan di kemudian hari." Titah Gilbert.
Meeting pun selesai, Gilbert bisa menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan matanya. Kepalanya terasa sangat pusing, beban pekerjaan dan juga masalah di keluarganya yang belum terselesaikan juga.
"Kapan ini akan berakhir." Gumam Gilbert.
Asisten Kai menatap kasihan bos nya itu, di saat para lelaki lelah. Istri mereka yang menjadi tempat untuk melepas penat, tingkah lucu anak-anak membantu mengurangi stres mereka. Bisa Asisten Kai rasakan perbedaan itu dimana di saat Revin hadir, bos nya lebih banyak tersenyum dan lebih kelihatan semangat.
"Apa kau tahu, aku membangun mall itu sebagai hadiah ulang tahun Revin minggu depan." Lirih Gilbert.
Asisten Kai seketika membulatkan matanya, dia menatap tak percaya dengan apa yang bos nya itu katakan. Sebuah mall untuk kado ulang tahun sangat berlebihan.
"Tuan, yang benar saja. Ulang tahun hanya pengurangan umur, kenapa harus di kasih hadiah. Seharusnya di kasih doa," ujar Asisten.
Gilbert membuka matanya, dia menatap horor Asisten Kai yang seenaknya mengaturnya.
"Uang-uang saya, jadi terserah saya dong!!" Sewot Gilbert.
Asisten Kai memutar bola matanya malas, tak lama suara ketukan terdengar. Seketika senyum sumringah Asisten Kai pun terbit, dia segera beranjak menuju pintu untuk membukanya.
"Atas nama tuan KAi?" Tanya seorang kurir tersebut.
"Ya, mana makanannya. Saya sudah lapar."
Kurir tersebut memberi kan pesanannya dan beranjak pergi setelah Asisten Kai memberikan nya uang.
"Apa yang kamu beli?" Tanya Gilbert saat Asisten nya itu sudah menutup pintu kembali dan kini berjalan menuju sofa.
"Saya membeli gado-gado tuan, buat makan siang." Jawab Asisten Kai.
Melihat gado-gado yang Asisten Kai makan tiba-tiba membuat Gilbert keinginan juga, bahkan air liurnya hampir saja menetes melihat gado-gado tersebut.
"Apa tuan tidak makan siang lagi? jangan jarang makan, kau bisa sakit." Nasehat Asisten Kai.
"Berikan gado-gado itu!" Titah Gilbert yang mana membuat Asisten Kai terbelalak seketika.
"APA?!"
"Cepat berikan, atau gajimu akan ku potong 50%!!" Ancam Gilbert.
Asisten Kai menjatuhkan rahangnya, apakah gajinya setara dengan sebungkus gado-gado yang harganya tak sampai lima puluh ribu itu?
"Tuan pergi beli saja, kalau perlu sama gerobaknya sekalian," ujar Asisten Kai dengan nada memelas.
"Tidak mau! aku ingin gado-gadomu, kau saja yang pergi beli!!" Paksa Gilbert.
Kalian pasti tahu apa yang terjadi, tentu saja Asisten Kai akan memberikannya karena ancaman Gilbert. Lebih baik dia membeli lagi dari pada gajinya yang akan di potong.
_______
Tahun baru pada ngapain nih? π€π€π€. Kalau Author ya masuk selimut dong, nasib belum punya ayangπͺπͺπͺ.
Khusus tahun baru, hari ini kita triple up yahπππ