I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Hamil lagi?



Marcel menatap adiknya dengan tatapan kosong, entah karena apa. Membuat Dirga khawatir, hingga ia menyentuh pundak sang kakak.


"Kakak mengingat nya," ujar Marcel.


"Lalu, dimana Camelia? putriku?" Pertanyaan Marcel membuat jantung Dirga berdegup kencang. Apa yang harus dirinya katakan?


"E-ehm itu ... sus, apakah kakak sudah sudah jauh lebih baik?" Tanya DIrga pada seorang suster yang berdiri di sisi brankar.


Marcel mengerutkan kening tak mengerti, mengapa sang adik mengalihkan topik pembicaraan mereka. Apa susahnya tinggal jawab pertanyaannya saja?


"Semuanya baik, tinggal tunggu masa pemulihan. Pasien juga harus terapi kakinya, karena efek dari koma membuat otot kakinya melemah," ujar suster itu.


Dirga mengangguk sejenak, dia kembali menatap kakaknya yang menunggu jawabannya.


"Kak, aku harap setelah aku menceritakannya. Kakak bisa mengontrol emosi kakak, kamu boleh memukulku setelah sembuh."


"Kenapa aku harus memukulmu?" Heran Marcel.


Dirga menarik nafasnya sejenak lalu menghembuskannya, dia ragu untuk jujur. Tapi semakin di tutupi, lama-lama Marcel akan tahu sendiri.


"Putrimu tumbuh menjadi anak yang cantik dan menggemaskan, dia sudah ku anggap kembaran dari kedua putraku. Banyak yang mengira jika kami memiliki anak kembar tiga, padahal Camelia adalah putri mu. Asal kaka tahu, sebelum aku menemuimu saat itu. Istriku baru saja melahirkan tiga hari yang lalu. Aku berniat akan mengabarkannya padamu dan mengajakmu menemui anak kembar kami, tetapi semuanya di luar rencana ku."


"Pastinya putriku akan menjadi anak yang cantik, pasti sekarang dia sudah dewasa kan? kamu pasti mengajarinya untuk menggantikan posisiku di dunia bawah kan?" Seru Marcel di sertai senyum tipis di bibir pucatnya.


Dirga menggeleng sendu, dia menundukkan kepalanya tak berani melihat sang kakak.


"Tidak kak," ujar Dirga.


"Tidak? Apakah markas ku benar-benar hancur? anggota ku tidak akan mungkin ikut dengan Black dragon sebelum aku memerintahkan mereka dengan memberikan tahta ku pada Dark Dragon."


"Bukan itu kak, mafia mu masih berdiri sampai sekarang. Tapi, bukan di pimpin oleh putrimu. Melainkan oleh putraku, Galang."


Marcel menatap tajam adiknya itu, posisi ketua Mafia sudah dia sematkan pada keturunannya. Kenapa adiknya mengambil alih mafia miliknya? apakah adiknya juga haus akan kedudukan?


"Kamu mengkhianatiku adik?" ujar Marcel dengan suara lirih.


Dirga tentu saja menggeleng, ada rahasia di balik ucapannya yang Marcel belum ketahui.


"Tidak kak, aku sama sekali tidak mengkhianatimu. Semenjak penyerangan itu, banyak anggota yang terluka dan memilih mati dari pada mengkhianatimu. Mereka sudah berikrar janji, tak ada satu pun orang yang bisa menggantikanmu kecuali keturunanmu. Aku mengajari Galang dalam segala hal hingga dia pantas menjadi seperti mu, karena ...,"


"Putrimu tidak akan bisa menggantikanmu,"


"APA MAKSUDMU! APA KARENA PUTRIKU SEORANG PEREMPUAN!! DIA YANG BERHAK MENGGANTIKANKU!!" Seru MArcel.


Dirga menggeleng, entah kenapa sangat berat baginya untuk mengungkapkan yang sebenarnya.


"Bukan karena itu, tapi melainkan karena putrimu sudah tiada."


Marcel mematung sejenak, dia berharap bahwa dirinya salah dengar. Kenapa harus putrinya? kenapa tidak dirinya saja? itulah yang Marcel pikirkan.


"22 tahun lalu, aku sedang berada di bali bersama Galang dan Amelia putriku. Namun, Gilang dan putrimu terus saja mencariku hingga mereka tidak mau makan. Lucu sekali bukan?"


"Akhirnya, istriku memutuskan untuk menyusul kami dengan kereta. Namun naas, kereta mereka ... hiks ... kereta mereka bertabrakan dengan kereta lain. Istriku meninggal di tempat, sementara Gilang dan Camelia sampai saat ini aku belum menemukan jasad mereka. Polisi mengatakan kecil kemungkinan mereka selamat, sebab tak ada satu pun yang selamat. Kalau pun selamat, mereka tidak akan bertahan hiks ...,"


"A-aku sudah berusaha mencari mereka, tetapi tetap tidak di temukan. Aku minta maaf, seharusnya aku menjemput mereka." Lirih Dirga, air katanya mengalir di pipinya hingga dia terus menerus menghapusnya.


Marcel lemas tak berdaya, mengetahui jika putrinya yang saat itu masih berumur 2 tahun harus mengalami kejadian pahit itu.


"Sudah 22 tahun, apakah masih bisa kita mencari nya?" Lirih Marcel.


Marcel menangis hingga menutupi wajahnya, kenapa dia tak bangun dan menyelamatkan putrinya? apakah dia ayah yang buruk? sehingga menyelamatkan istri dan anaknya saja tidak bisa.


"Mafia mu sudah bekerja sama dengan aparat negara, putraku mengembangkannya hinga ke berbagai negara tanpa tahu alasan aku menyuruhnya. Aku keras dalam mendidiknya hingga dia pantas menjadi seperti mu untuk menebus rasa bersalahku. Galang sementara menjadi underboss, dia bisa menduduki tingkatan itu karena dia adalah keponakanmu."


"Tapi kaka tenang saja, setelah kakak pulih nanti putraku akan mengembalikannya pada kakak." Seru Dirga.


"Bukan soal itu, melainkan kenapa putriku harus menyusul istriku? Aku sangat ingin sekali dia memanggilku daddy, walau kami telat bertemu." Ralat Marcel dengan tatapan berkaca-kaca.


Gilbert terpaksa mengantar istrinya ke rumah sakit, karena Emily mengancam tidak akan memberinya jatah samapi dia memasang KB.


Saat ini, mereka berada di ruangan dokter. Emily mengajukan suntik kb, tetapi saat melihat wajah Gilbert yang sedatar triplek membuat Emily bad mood.


"Kalau gak ikhlas nganter istrinya pulang aja sana! wajah kamu nantang banget tau gak!" Kesal Emily.


Dokter tersenyum melihat pasutri itu, dia pun mengerti kenapa Gilbert berwajah masam.


"Suaminya mau punya anak lagi itu bu," ujar dokter itu menahan senyum.


"Anaknya nanti dulu mba, fokus sama dia dulu nih." Unjuk Emily pada putranya yang berdiri di sisi meja dokter sambil memperhatikan kalender yang menurut nya unik.


"Baik kalau begitu, boleh saya bertanya?" Tanya sang dokter yang di balas anggukan oleh Emily.


"Terakhir telat datang bulan kapan yah?"


Emily terdiam sejenak, dia kembali mengingat kalan dirinya datang bulan.


"Kalau gak salah, satu setengah bulan yang lalu dok apa dua bulan yah ... saya lupa dok. Gak pernah beli pembalut lagi soalnya," ujar Emily.


"Apakah hubungan dengan suami sering?" Tanya dokter itu.


Emily melirik sejenak Gilbert, kemudian dia beralih menatap dokter itu dengan raut wajah bingung.


"Gak sering dok, kabur dia!" Celetuk Gilbert.


Emily sontak saja melototi suaminya, Gilbert pun tak mengindahkan pelototan istrinya dan hanya menatap santai.


"Kabur?" Bingung Dokter.


"Iya, kabur baru pulang pas saya sakit," ujar Gilbert.


Dokter itu menahan tawa, pasutri di depannya benar-benar lucu hingga membuatnya hampir tertawa.


"Udah kabur, pulang juga pelit sama jatah suami!" Seru Gilbert.


"Kan aku belum pasang kb! kalau udah pasang kamu minta juga aku kasih!!" Seru Emily.


"Terakhir aku di kasih jatah juga aku yang maksa bukan kamu yang mau!" Ucapan Gilbert membuat Emily malu, dia menepuk tangan Gilbert dengan menatap dokter dengan tak enak hati.


"Baik ibu, sebelum suntik kita cek dulu yah." Saran dokter.


"Buat apa?" Bingung Emily.


"Untuk memastikan bu, ibu telat satu bulan lebih apa gak curiga?"


Emily menggeleng, saat dirinya hamil Revin dia selalu muntah-muntah dan banyak maunya. Seperti ingin makanan ataupun kerap sekali menangis tak jelas. Tapi kali ini, doa tak merasakan apapun.


"Coba dok! coba!!!" Seru Gilbert dengan wajah antusias.


Emily melemas, niatnya ingin fokus dulu dengan Revin karena anaknya itu begitu aktif. Takutnya saat dia kembali punya anak, Revin tersisihkan.


"Kalau gitu, mari ikut saya bu." Ajak dokter tersebut.


Emily mengangguk, sebelum dia bangkit. Dirinya menatap suaminya dengan wajah garang.


"Awas kamu mas!" Geram Emily, sementara Gilbert hanya senyam senyum sendiri.


________


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAHNYA YAH🥰🥰🥰.


Kalian baca pas kapan? chapter sebelumnya belum lulus juga😭😭😭. PAsti lihatnya pagi yah? maaf banget, lagi error mungkin lulus review nya lama😭😭😭. Aku minta maaf banget, padahal udah janjiin sama kalian😢