I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Dua bulan atau empat bulan?



Dengan tak rela, Marcel membiarkan Gilbert pergi sendiri mencari apa yang Emily idamkan. Selain karema kesehatannya, dia juga tak bisa pergi jauh karena kakinya yang nasih terasa sakit.


Untuk itu, Gilbert pergi mencarinya sendiri. Beruntung dia mendapatkannya dan pulang lebih cepat.


Saat Gilbert pulang, Emily pun tak banyak bertanya. Dia hanya menikmati asinan yang suaminya bawa.


Esok hari, Gilbert kembali berangkat kerja. Sebelum berangkat, dirinya sempat sebentar bermain dengan Revin, bocah gembul itu baru saja mendapatkan mainan baru sebuah lego dari sang kakek.


"Janan di cituuuu huuuhh ...,"


Berkali-kali Gilbert salah meletakkan lego tersebut membuat Revin menghela nafas lelah, dia sudah susah payah menyusunnya dan sang daddy malah merusaknya.


"Daddy nda bica main, bial Lev aja!" Kesalnya.


"Kan daddy cuman bantu," ujar Gilbert membela diri.


"Udah mas, mending kamu berangkat aja. Dari pada nanti dia ngamuk, lebih repot lagi." Cetus Emily.


Gilbert pun menghela nafas pelan, dia meraih kepala putranya dan menc1umnya. Walau Revin kesal padanya, dia sangat mencintai putranya itu.


"Daddy berangkat," ujar Gilbert.


"Hum, pulangna janan malem lagi. Kacian buna bobo ndili," ujar Revin memperingati ayahnya itu.


Gilbert mengangguk, dia pun bangkit berdiri dan melangkah mendekati istrinya. Dia memeluk istrinya, tetapi pelukan itu hanya sebentar sebelum dia memjauhkan dirinya dan terfokus pada perut sang istri.


"Kamu hamil berapa bulan si yang? kok perutnya udah gede aja?" Bingung Gilbert dengan kening mengerut.


Pasalnya, Emily seperti hamil usia kandungan 4 bulan. Perutnya sudah sangat terlihat menonjol, padahal tubuh Emily tidak gemuk dan hal itu membuat Gilbert merasa khawatir.


"Dua mau jalan tiga bulan, gede banget yah?" Heran Emily dan mendapatkan anggukan dari suaminya.


"Pekan kemarin di USG kata dokter bayinya sehatkan?" Tanya Gilbert.


Emily mengangguk, bayinya baik-baik saja di dalam. Mengapa suaminya mencurigai hal tersebut?


"Yasudah, malam ini kita ke dokter lagi. Aku khawatir sama perut kamu, besar perut kamu ini gak seperti ibu hamil pada umumnya. AKu takut bayinya kebesaran, kasihan kamu nya," ujar Gilbert.


"Gak normal gimana sih mas? waktu aku hamil Revin juga gi ...."


Emily terdiam, dia baru mengingat akan satu hal. Saat dirinya mengandung Revin dulu, di usia kehamilan 3 bulan bahkan dia masih bisa memakai baju yang pas di tubuhnya, tetapi sekarang dia sudah tak bisa mengenakan baju yang biasa ia pakai lagi. Bahkan Gilbert membelikannya baju hamil selemari full agar bayi mereka tak merasakan sesak.


"Yasudah, jangan banyak pikiran. Nanti malam kita kembali ke rumah sakit, kalau perlu kita melakukan USG Transv4g1n4l." Celetuk Gilbert.


Emily yang mendengar itu sontak membulatkan matanya, dia tidak mau di USG jenis itu.


"Aku gak mau!" Heboh Emily.


"Harus! biar kelihatan jelas!" Kekeuh Gilbert.


"Pokoknya aku gak mau!" Sentak Emily.


Gilbert menghembuskan nafas kasar, berdebat dengan ibu hamil tidak akan ada selesai nya. Apalagi kondisi istrinya saat ini, dia bingung harus bagaimana.


"Oke! tapi nanti malam kita tetap ke rumah sakit! pokoknya mau tidak mau, suka tidak suka malam ini kamu harus kembali di periksa!" Tegas Gilbert.


***


Gilbert membalikkan kertas dengan kasar, pikirannya berkecamuk. Dia memikirkan kondisi istrinya, belum lagi ada proyek yang harus dia tangani.


"Tuan, bagaimana? apa besok anda akan ke jerman?" Tanya Asisten Kai.


"Entahlah, aku masih bingung. Aku memikirkan istri ku." Lesu Gilbert.


"Memangnya ada apa dengan nona?" Bingung Asisten Kai.


Gilbert menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya, dia meletakkan pulpen dan menatap Asisten Kai dengan serius.


"Perut istriku besar sekali, padahal kehamilannya baru saja akan menginjak 3 bulan."


"Apa?! Saya pikir sudah hamil 5 bulan." Kaget Asisten Kai.


Mendengar keterkejutan asistennya, Gilbert menegakkan tubuhnya. Dia menatap Asisten Kai dengan netra membulat sempurna.


"Kan! kamu juga menyadarinya bukan? kehamilan istri saya kali ini benar-benar bukan seperti kehamilan biasanya." Seru Gilbert.


Asisten Kai mengerutkan keningnya, dia seperti menginhat sesuatu yang hampir dia lupakan. Namun, dia tak mendapatkan ingatan itu.


Tok!


Tok!


Tok!


Cklek!


"Maaf tuan, ada CEO dari perusahaan Evans ingin bertemu anda." Ujar Sekretaris Gilbert dengan sopan.


"Tuh orang ganggu terus yah!" Batin Gilbert menggerutu kesal.


Asisten Kai tidak tahu menahu mengapa Dirga sampai rela datang ke sini hanya deki menemui Gilbert. Secara perusahaan Evans melebihi perusahaan bosnya itu.


"Suruh dia masuk!" Titah Gilbert.


Sekretaris Gilbert mengangguk, dia kembali untuk memanggil Dirga. Tak lama, Dirga pun datang dengan membawa amplop putih di tangannya.


Mengerti situasi, Asisten Kai pamit undur dia karena dia tahu pasti mereka akan membahas sesuatu yang amat penting.


"Anda selalu menambah masalah saya." Cetus Gilbert.


"Gak ada sopannya kamu! awas saja kalau sampai Emily putri kandung kakakku, aku akan menghasut kakakku untuk mengambil putrinya darimu!" ANcam Dirga sambil duduk di hadapan Gilbert dengan enteng.


Gilbert melototkan matanya, tak terima dengan ancaman Dirga. Belum tahu saja Dirga sudah seperti ini, bagaimana jadinya nanti kalau benar Emily ponakan dari Dirga.


"Ini hasil tes nya, om belum membukanya. Jika hasilnya negatif om akan bicara baik-baik dengan Kak Marcel, tapi jika hasilnya positif. Pernikahanmu taruhannya." Ujar Dirga menyodor kan sebuah amplop.


"Apa maksudnya hah?! apa anda mencoba menjebak saya?" Marah Gilbert tak terima.


Dirga dengan enteng menyadarkan tubuhnya pada kursi dan menaikkan satu kakinya sambil bersedekap d4d4.


"Sampai kapanpun, keluarga Evans dan Greyson tak akan bisa bersatu, kecuali ... jika kamu kembali meminta Emily secara khusus pada Kakakku Marcel."


"Maksudnya? kalian ingin aku dan Emily menikah kembali?" Bingung Gilbert, dia benar-benar tak paham dengan maksud Dirga.


Dirga mengangguk di sertai dengan senyuman tipis di bibirnya, membuat Gilbert seketika bernafas lega.


"Kakak om ingin merasakan menjadi wali Untuk putrinya, dia ingin menikahkan putrinya. Bagaimana pun, Emily putri tunggal. Seorang ayah, akan merasa sangat bangga dan berharap jika dia bisa menyerahkan putrinya pada pria yang tepat. Kak Marcel ingin merasakan itu, dia ingin menjadi ayah seperti pada umumnya." Jelas Dirga.


"Hasilnya aja belum jelas permintaannya udah banyak." Celetuk Gilbert sambil menarik amplop putih itu.


Dengan perasaan tak menentu, Gilbert membuka amplop itu. Di tariknya selembar kertas dan membacanya.


Hingga dia melihat satu kata yang membuat dirinya mendadak mematung, tak bisa bicara apapun. Dirga yang melihat respon Gilbert menjadi bingung, dia tak memahami respon laki-laki muda itu.


SREK!!


"Lama banget sih! baca gini do ... positif?"


Dirga yang menarik paksa kertas itu hanya mampu terdiam, sama seperti Gilbert. Rasanya mereka benar-benar tak percaya jika Marcel adalah ayah kandung dari Emily.


"Ca-camelia, putriku kembali! HAHAHAH PUTRIKU KEMBALI!!!! KAU LIHAT! PUTRIKU KEMBALI! DIA PUTRI KETURUNAN EVANS!" seru Dirga dengan heboh.


Berbeda dengan Gilbert, dia masih tak percaya ini semua. Rasanya, dia ragu jika Emily putri dari seorang konglomerat. Padahal dulunya kehidupan istrinya sangat lah sulit, bahkan mereka sampai sempat berpisah karena kejahatan sang nenek.


"Oke! istriku adalah putri kaklan! tapi ingat! sebelum kandungannya menginjak usia 5 bulan, aku mau kalian tidak membocorkan hal ini padanya! aku sedang sibuk mengurusi kandungan istriku! jangan kalian menambah kesibukanku!" Peringat Gilbert.


Pria itu tidak salah, dia mengkhawatirkan kondisi istrinya. Nafsu makan Emily menurun, tubuhnya tak gemuk tetapi harus membawa perut besarnya. Gilbert sudah mendatangkan ahli Gizi untuk istrinya, tetapi memang Emily yang sulit sekali makan.


"Apa kandungan Emily bermasalah?" Tanya Dirga, ada guratan khawatir di wajahnya.


Gilbert mengangguk sambil menghela nafas kasar, Dirga adalah paman istrinya. Tidak mengapa juga kan kalau dia memberitahu soal ini padanya?


"Besar perut Emily tidak seperti kehamilan pada umumnya, usia kehamilannya yang baru akan menginjak tiga bulan ... tetapi perutnya sudah seperti hamil empat bulan. Aku bingung, tubuhnya tidak gemuk bagaimana dia membawa perut sebesar itu. Apalagi jika bertambahnya usia kandungan," ujar Gilbert dengan suara lirih.


Dirga menegakkan tubuhnya, dia mendekatkan wajahnya pada Gilbert.


"Apa ... istrimu hamil anak kembar?"


DEGHH!!!


Pertanyaan Dirga mampu membuat Gilbert bungkam, dia seperti membenarkan perkataan Dirga yang sangat masuk akal.


SREK!


Di raihnya kunci mobil miliknya dan bangkit dengan tergesa-gesa berlari menuju pintu meninggalkan Dirga yang melongo di buatnya.


______