
Revin sudah mau kembali bersama orang tuanya, tetapi dia tak ingin melepas tangannya dari Hana. Dia merengek meminta Hana untuk pulang, tetapi Hana tak enak dengan suami dan putra sambungnya.
"Revin pulang dulu, besok kita temuin oma yah." Bujuk Gilbert.
"Gak mau! Lev nda mau cama daddy cama buna juga pokokna! calah cendili, bikin adek nda bilang Lev!" Revin tetap ngambek, walau dirinya ingin pulang.
"Rev mau apa? nanti daddy belikan, kita ke toko mainan mau?" Bujuk Emily.
Revin menggeleng, dia bisa mendapatkan mainan dengan mudah. Hanya dengan merengek pada Alfred, tidak sampai besok mainan yang dia ingin kan berada di depan matanya.
"Nda mau!"
Gilbert menghela nafas panjang, dia menatap Hana yang juga tengah menatapnya.
"Mommy ikut pulang bersama kami saja," ujar Emily.
"Ehm apa Revin ikut mommy aja dulu, besok kalian jemput. Bagaimana?" Usul Hana.
Gilbert tampaknya sedikit keberatan, dia tak bisa jauh dari putranya. Emily menyadari perubahan ekspresi wajah suaminya yang mendadak mendung.
"Mom, kalau boleh Em sama mas Gilbert nginep di rumah mommy gimana? boleh?" Tanya Emily.
Gilbert menatap istrinya dengan tatapan terkejut, sedangkan Hana tersenyum senang. Tentu saja dia sangat berharap Emily dan Gilbert menginap, sebab dirinya hanya tinggal sendiri. Orang tuanya sudah tiada, sehingga kini Hana tinggal sendiri.
"Boleh, boleh! mommy malah seneng banget." Seru Hana.
"Tapi ...." Tatapan Hana beralih menatap Gilbert, pria itu tak terlihat ekspresi apapun selain datar.
"Mas Gilbert mau, iya kan mas!!" Seru Emily sambil menyenggol lengan suaminya.
Gilbert menatap istrinya, tampak raut wajah istrinya menatapnya dengan tatapan tajam. Emily memaksa suaminya agar menurutinya, dia kesal dengan raut wajah suaminya yang sama sekali tidak ramah.
"Iya." Putus Gilbert.
Emily bersorak senang, dia segera menggandeng lengan Hana menuju parkiran. Sementara Gilbert, mematung di tempat.
"Sayang! suaminya di tinggal?" Bingung Gilbert.
***
Beberapa hari Kemudian, kondisi Marcel membaik. Pria itu sudah mulai menerapi kakinya, dia kembali belajar berjalan. Dirga dengan setia menemani kakaknya itu selama pemulihan.
"Sudah, aku lelah." Ujar Marcel saat Dirga menyuruhnya kembali melangkah.
"Selangkah lagi," ujar Dirga.
"Kakak capek, istirahat dulu." Dirga pun mengiyakan permintaan kakaknya, dia membantu Marcel untuk kembali duduk di brankar.
Dirga memberikan minum untuk kakaknya dan mengupaskan untuknya jeruk. Marcel menerimanya dengan baik, dia juga sangat haus dan lapar.
"Berapa tahun kamu menduda?" Tanya Marcel.
"Semenjak dua tahun setelah kakak koma," ujar Dirga.
Marcel tertawa, tak di sangka selisih umur mereka dua tahun dan selisih menduda juga dua tahun. Tetapi yang dia heran, adiknya bisa mengurus anak-anaknya tanpa sosok pendamping.
"Apa kamu tidak berniat menikah lagi?" Tanya Marcel.
"Belum ada yang mirip dengan istriku, aku ingin sosok wanita. Keibuan, baik, lembut dan ramah. Tapi kebanyakan wanita sekarang, harta-harta dan harta. Lebih baik aku sendiri membahagiakan putra putriku," ujar Dirga.
"Hahaha baiklah, ngomong-ngomong. Bagaimana kamu bisa menyelamatkan kakak?"
Sontak saja, Dirga yang tadinya mengupas apel seketika menghentikan kegiatannya. Dia menatap kakaknya yang juga tengah menatapnya.
"Ada seseorang yang menyelamatkanmu, dia membawamu ke rumah sakit. Dia juga yang kembali menelponku. Mungkin saat itu posisi ponsel mu tidak jauh darimu, sehingga aku menemuimu di rumah sakit berbeda dengan istrimu saat itu. Ledakan itu menyebabkan kamu terpental, kepalamu terbentur sangat keras dengan tiang. Sehingga kamu di nyatakan koma," ujar Dirga.
"Baik sekali orang itu, lalu apa kau memberinya imbalan?" Tanya Marcek.
Dirga menggeleng, dia belum sempat memberinya imbalan. Tetapi orang itu sudah pergi tanpa dirinya tahu.
"Semoga kebaikannya di balas," ujar Marcel.
"Oh ya, mana anak-anakmu? apa kamu tidak mau mengenalkan mereka dengan kakak?" Tanya Marcel dengan memaksa senyumnya. Andai saja putrinya masih hidup, saat dia sadar dia akan merasa jauh lebih bahagia.
Dirga terdiam, dia jadi teringat omongan Galang tempo hari.
"Kak, aku lupa bercerita padamu. Galang saat itu bilang, dia bertemu dengan pria yang memiliki wajah yang sama dengannya,"
"Apa?" Kaget Marcel.
"Wajah Gilang dan Galang kembar identik, bahkan aku memakaikan mereka gelang agar bisa membedakan antara Galang dan Gilang. Saat Galang mengatakan itu, aku sangat penasaran sekali," ujar Dirga.
Marcel terdiam, jika benar itu Gilang. Bisakah dia juga berharap dapat menemukan putrinya? bisakah dia berharap putrinya masih hidup?
"Jika benar itu Gilang, kakak masih punya harapan bertemu dengan putri kakak kan? kakak masih punya harapan di panggil daddy olehnya," ujar Marcel menahan tangisan haru.
"Kak." Lirih Dirga melihat keantusiasan sang kakak.
"Tidak-tidak, kakak hanya membayangkan saja. Lebih baik kamu tanya Galang," ujar Marcel dengan memaksakan senyumnya.
Sementara orang yang sedang di bicarakan, Galang kini sedang menunggu seseorang di kafe. Sesekali dia melirik jamnya dan menatap pintu masuk.
"Jangan-jangan php lagi." Gumam Galang.
Agler berdiri dari duduknya, netranya menatap tak percaya pada Agler. Sungguh, dirinya seperti tengah berkaca. Benar-benar mirip, bahkan Tania sampai terdiam dengan memandang Galang yang benar-benar mirip dengan putranya.
"Kok cama?!" Pekik Reynan.
Reynan menatap Agler, kemudian beralih menatap Galang. Begitu saja seterusnya bahkan sampai orang dewasa itu memilih duduk.
"Muka kita mirip yah." Seru Galang dengan garing.
Agler dan Tania hanya menanggapinya dengan tersenyum, sementara Reynan masih fokus membedakan wajah papah nya dengan Galang.
"Kamu sudah menikah?" Tanya Galang menunjuk Reynan dengan dagunya.
"Iya sudah, tapi istriku sudah meninggal," ujar Agler dengan senyum manisnya.
"Sayang sekali, aku turut berduka." Sahut Galang.
"Kenapa gue di kelilingin sama duda yah." Batin Galang.
Tatapan Galang beralih pada Tania, dengan sopan Galang sedikit menganggukkan kepalanya. Walau sedari dulu dia tinggal di luar negri, tetapi budaya sopan santun negaranya tak pernah dia lupakan.
"Halo tante, aku pikir kakaknya Agler. Masih muda mukanya, awet yah tan," ujar Galang sedikit mencairkan suasana.
Pastinya tidak akan ada orang yang percaya jika Galang pemimpin mafia, dia sangat humoris dan terbuka pada orang lain. Sikapnya sangat tengil, tak jauh beda dengan Danzel. Namun, jangan salah. Saat di medan perang. Dirinya berubah menjadi kulkas 1000 pintu, fokus pada tujuannya.
"Terima kasih," ujar Tania dengan malu-malu.
"Nyokap lo lembut banget gil4!!" Seru Galang dengan Girang.
"I-iya." Agler sedikit kaget dengan sikap Galang, tak menyangka Galang akan blak-blakan seperti itu.
"INI CIAPA YANG PAPAH LEY CIH!!"
Mereka bertiga tersentak kaget, tak menyadari jika sedari tadi Reynan memperhatikan apa yang beda antara Galang dan juga Agler.
"Menurut kamu siapa? saya atau dia?" Tanya Galang dengan tersenyum ejek.
"Bukan papah Ley citu! papah nda pelnah ngomong begitu ke Ley kan pah? mulutna om juga bau jengkol, papah nda cuka jengkol!" Seru Reynan tanpa salah.
Galang tersedak ludahnya sendiri, dia menghembuskan nafasnya lewat mulut ke tangannya dan menciumnya.
"Iya sih, tadi gue makan kerupuk jengkol. Habisnya enak, di jepang mana ada." Ujar Galang sembari tersenyum canggung.
"Kamu suka kerupuk jengkol?" Tanya Tania dengan tatapan berbinar.
"Iya tan." Sahut GAlang.
"Tante juga suka! mana tante sering buat, nanti kalau tante buat kamu main ke rumah yah!! kita makan sama-sama!" Seru Tania.
Galang mengangguk antusias, dapat kerupuk gratis adalah suatu kebanggaan berharga baginya. Mereka pun kembali ke topik pembicaraan dan langkah apa yang harus mereka ambil selanjutnya.
"Kita harus lakukan tes DNA antara Agler dan papah saya," ujar Galang.
"Maaf, apakah ibu masih ada?" Tanya Agler.
Galang menghela nafas pelan, dia menatap Agler dengan tersenyum hambar.
"Mamah saya sudah tiada, kecelakaan kereta itu merenggut nyawa mamah saya." Terang Galang.
Agler mengangguk sedih, Tania pun sama. Ketiganya juga menjadi yakin kalau Agler adalah Gilang. Sebab lokasi Gilang di temukan saat kecelakaan itu terjadi.
"Maaf yah nak Galang, waktu itu tante udah berusaha nyari keluarga kalian. Tapi gak ketemu juga, sehingga tante memutuskan untuk mengadopsi Agler sebagai pelipur lara untuk tante yang saat itu baru saja keguguran." Lirih Tania.
"Gak papa tante, oh ya. Suami tante mana?" Tanya Galang dia ingin Dirga berbicara dengan suami dari Tania untuk lebih dekat dengan keluarga mereka.
"Emangna om mai ngapain tanya-tanya opa Ley?" Sahut Reynan.
"Om hanya mau bertanya." Seru Galang yang kesal dengan tingkah Reynan..
"Macuk kubulan cana, ngoblol cama opa Ley dicana!!"
Galang menutup mulutnya dengan terkejut, Sedangkan Tania dan Agler hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
"Jadi tante jandaa??!!" Seru Galang dengan wajah berbinar, Tania pun mengangguk pelan.
"Papah saya duda, tante janda. Saya lamar tante untuk papah saya mau?"
Ketiganya benar-benar terkejut hingga tak bisa berkata apapun lagi. Galang sangat to the point, membuat mereka bingung harus apa.
__________
es mosi aku gaes lama review nya🥶🥶🥶
Tadinya mau up 5, tapi jadi bad mood gara-gara review lama. Huuuhh sabar-sabar.
Author minta maaf banget, komen yah kalian baca jam berapa? kayaknya sih pagiðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, HADIAH DAN VOTE NYA🥰🥰🥰.
Udah Up 4 Bab Nih, Masa Tega Skip Like Dan KomenðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤.