I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Mencoba memahami perasaan Revin



Semenjak Gilbert mengetahui istrinya hamil kembar 4, pria itu menjadi begitu posesif dengan istrinya. Dimana Emily harus mengenakan kursi roda, tidak boleh banyak gerak dan sebagainya.


Bahkan Hana dan Danzel kesal dengan sikap Gilbert yang sangat posesif menurut mereka, menemui Emily saja harus mencuci tangan dan memakai pakaian bersih dengan alasan dia tak ingin ke empat anaknya terkena virus.


"Gilbert, ikut daddy!" Titah Alfred.


Gilbert yang sedang bersama Emily di kamar pun menuruti kemauan sang daddy, sebelum pergi dia mengusap perut istrinya.


"Ada apa dad?" Tanya Gilbert setelah dia mengikuti Alfred ke ruang kerja.


Alfred menarik putranya untuk duduk, dia bersedekap d4d4 dan bersiap menasehati putranya itu.


"Apa kau belum membawa Revin ke psikolog anak?" Tanya Alfred.


"Belum." Jawab Gilbert tanpa berpikir.


"Kenapa? bukankah daddy pernah menyuruhmu untuk mengajak Revin ke psikolog anak? bagaimana pun juga, perpisahanmu dengan Emily pasti berdampak padanya saat ini!" Sentak Alfred.


Gilbert hanya terdiam dengan pandangan bersalah, dia melupakan hal yang menurutnya sepele. Dia melihat perkembangan Revin, putranya tumbuh dengan baik. Namun, dia tidak memikirkan psikis putranya selama ini.


"Apa kamu tidak memperhatikan bagaimana Revin bersikap? setiap kali kamu atau Emily lebih peduli dengan yang lain, anak itu akan mengamuk. Dia marah dan meluapkan emosinya, seperti tadi ... di saat akan ada banyak adik yang nantinya mendapatkan perhatian kalian. Dia merasa jika daddy dan bundanya akan pergi dari dirinya, dia merasa pastinya dia akan di kembalikan ke kampung."


"Kenapa? kenapa dia bisa memikirkan hal itu padahal dia adalah anak kandung kalian?"


Gilbert terdiam, dia mencerna semuanya. Sikap putranya yang terlihat egois tak ingin berbagi, ketakutan saat Emily dekat dengan Reynan. Ketidaksukaan putranya saat sang daddy mendapat anak baru, semuanya Gilbert ingat kembali.


"Dia anakmu! anak kalian! daddy sengaja tak bicara pada Emily karena takut istrimu itu akan kepikiran. perasaan wanita hamil sangat sensitiv, dan kamu sebagai ayah dari Revin lah yang daddy peringatkan! jaga kondisi mental putramu!"


Setelah mengatakan hal itu, Alfred keluar dari ruang kerjanya. Membiarkan Gilbert merenungi kesalahannya karena telah mengabaikan perasaan putranya.


Dia pikir sifat kekanakan Revin hanyalah sifat anak kecil pada umumnya yang cemburu pada calon adiknya. Ternyata, sifat itu muncul karena rasa kekhawatiran yang dalam.


Tanpa berlama-lama lagi, Gilbert segara keluar untuk mencari putranya. Dia melihat Hana yang baru saja keluar dari kamar Revin, tatapan mereka bertemu. Hana pun berjalan pelan mendekati putra sambungnya itu.


"Kau ingin menemui Revin?" Tanya Hana.


"Iya mom, apa Revin sudah tidur?" Tanya Gilbert.


"Ya baru saja, sejak tadi dia hanya diam. Mommy tidak tahu dia kenapa, setelah Ema memberikannya susu baru dia tidur." Jelas Hana.


Gilbert mengangguk, dia pamit pergi ke kamar putranya. Di bukanya perlahan kamar Revin agar tak membangun kan putra kecilnya.


Revin tidak menyukai suasana terang ketika tidur, dia pasti akan meminta di matikan lampu dan hanya mengenakan cahaya dari lampu tidur.


"Jangan bangunkan dia, kalau dia nangis akan sulit di diamkan." Bisik Hana.


"Iya mom." Lirih Gilbert.


Hana pun pergi kembali ke kamarnya, sedangkan Gilbert dia berjalan masuk setelah menutup pintu. Netranya melihat putranya yang menggemaskan sedang tertidur dengan botol susu yang masih di sedotnya.


Perlahan, Gilbert duduk di tepian ranjang. Dia menarik botol susu putranya dan menaruhnya di atas nakas. Tangannya terukur mengelus rambut tebal sang putra.


"Maafkan daddy. Maaf telah mengabaikanmu." Bisik Gilbert sambil meng3cup kening putranya.


Gilbert membuka selimut Revin, dia ikut merebahkan tubuhnya di kasur putranya. Di peluknya putra kecilnya dengan penuh kasih, tatapannya tetap memandang wajah manis sang putra.


"Revin adalah harta daddy yang paling berharga, anatar kau dengan calon adikmu nanti. Daddy lebih menyayangimu, seharusnya daddy ingat penderitaanmu. Dari Revin di kandungan hingga sebesar ini, daddy hanya bisa melukaimu. Maafkan daddy." Lirih Gilbert dengan air kata yang menetes di pelipisnya.


***


Pagi-pagi sekali Gilbert membawa Revin pergi berdua, dia mengajak putranya ke taman kota sebelum pergi ke dokter psikolog.


Emily tadinya akan ikut, tetapi Gilbert melarangnya. Dia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan putra sulungnya. Emily memakluminya, dia membiarkan kedua lelaki yang di cintainya itu pergi bersama.


"Iya, Rev kan suka naik motor." Seru Gilbert.


Gilbert mengambil helm yang bodyguard berikan, dia memakai nya dan menaiki motornya. Bodyguard pun memakaikan Revin helm, setelahnya Gilbert membawa putranya naik ke atas motor.


"Buna di tindal?" Tanya Revin.


"Ya, sekarang waktu daddy dan Revin. Pegangan yang kenceng!" Seru Gilbert sambil menutup kaca helm nya.


Gilbert pun menjalankan motornya, dia melajukan motornya hingga berhenti di taman kota. Seketika ia menjadi pusat perhatian, ketika Gilbert membuka helmnya dan menyugar rambutnya.


"Campe?" Tanya Revin.


Gilbert terkekeh, dia membuka helm putranya. Keduanya pun turun, Gilbert menggandeng lengan putranya dan berjalan menuju arena bermain.


"Wiiih duda tuh!" Seru seorang ibu muda.


"Jangan-jangan istrinya ada di rumah lagi bu," ujar yang lain.


"Kalau di jadiin istri kedua juga saya mau," serunya.


Gilbert hanya menulikan pendengarannya, dia sempat melirik sejenak dan mengakui jika istrinya bahkan lebih cantik dari mereka.


"Revin mau main?" Tanya Gilbert.


Revij memandang sekitarnya, ada perosotan ayunan dan banyak mainan lainnya. Namun, anak itu seperti tak tertarik.


"Revin gak mau main?" Tanya Gilbert.


Revin lagi-lagi menggeleng, tatapannya bukan mengarah pada anak-anak yang sedang berkain. melainkan kepada banyaknya ibu-ibu yang menatap kagum pada sang daddy.


"Pulang aja." CIcit Revin.


"Apa?" Tanya Gilbert mendekatkan telinganya pada sang putra.


"Mau pulang, Lev mau pulang pokokna!" Seru Revin dengan kesal.


Gilbert menghela nafas pelan, dia menegakkan kembali tubuhnya. Netranya menatap sekitar dan terhenti pada kumpulan ibu ibu yang menatapnya dengan penuh damba.


"Ayo daddy! Pulang! Buna Lev tunggu di lumah! dicini banak cemutna!! Seru Revin sambuk menggoyangkan tangan sang daddy.


"Semut?" Bingung Gilbert.


Gilbert menatap sekitar, baru dia mengerti mengapa putranya berkata demikian.


"Beneran gak mau main?" Tanya Gilbert sekali lagi.


Revin yang kesal pun melepaskan pegangan nya pada tangan sang daddy, dia berbalik badan dan melangkah pergi.


"Nanti bica di belikan opa." Jawabnya dengan santai.


Gilbert terkekeh, dia mengikuti langkah putranya yang sudah terlebih dahulu berjalan ke arah parkiran.


Sementara di sudut taman, seorang pria berpakaian hitam mengamati Gilbert dan Revin. Setelah keduanya pergi, pria itu pun ikut pergi.


Galang yang juga berada di sana dengan masker hitam dan juga Hoodie biru pun mengamati pria berpakaian hitam tadi. Dia tak sengaja bertemu Revin dan Gilbert, tetapi instingnya sangat peka. Dia melihat jika ada seseorang yang mengawasi keponakannya dari jauh.


"Apa dia utusan Yamamura? itu artinya, Yamamura sudah tahu jika paman masih hidup dan Revin penerus sebenarnya." Gumam Galang.


_____


Tadinya mau tiga, malah batrai hp tinggal 3 persenπŸ’†β€β™€οΈπŸ’†β€β™€οΈπŸ’†β€β™€οΈ. Ganti besok gak papa yah gaesπŸ˜