I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Adekna bica di cancel gak oma?



Akhirnya yang pertama lulus juga😪😪😪 ternyata pas aku koreksi ulang berkali-kali ngerasa gak ada yang salah. Tapi kenapa lulusnya lama, hingga aku menghapus kata ... nanti aku tulis di komen😁 takut gak di review. Eh baru lulus💆‍♀️💆‍♀️💆‍♀️ padahal kata-katanya gak aneh, masih wajar lah🤣.


Oke lanjut ....


__________


Emily keluar dari kamar mandi dengan memegang tes kehamilan, netranya menatap tajam Gilbert yang menatapnya dengan senyum merekah.


"Hamil yah?" Tanya Gilbert dengan antusias karena melihat wajah sang istri yang menatapnya kesal dia pun menjadi yakin jika istrinya sedang hamil.


"Kenapa mas gak pake pengaman!!!" GEram Emily.


"Loh kok mas, kamu juga gak ingetin. Mana inget pake p3ng4man, orang udah nanggung juga." Balas Gilbert.


Dokter menjadi bingung, terlebih Revin yang kini berdiri di samping sang daddy. Namun, tiba-tiba saja Gilbert menggendong putranya dan memutarinya. Hatinya sangat-sangat bahagia saat mengetahui istrinya hamil lagi.


"Revin! kamu bakal punya adek!! bunda hamil lagi!!" Seru Gilbert.


"Adek? dimana?" Tanya Revin.


"Di perut bunda, daddy berhasil membuat adek kamu!" Dokter dan Emily bahkan sampai menganga mendengar perkataan Gilbert pada anak sekecil Revin.


Tiba-tiba saja raut wajah Revin berubah, dia mendadak minta di turunkan. Netranya menatap tajam Gilbert dan juga Emily.


"DADDY BUAT ADEK LEV TAPI NDA BILANG CAMA LEV!!!" Seru Revin marah.


Gilbert menggaruk kepalanya yang tak gatal, sementara Emily menepuk keningnya. Dirinya ingat, jika Revin sangatlah cemburu jika Emily berdekatan dengan anak selain dirinya.


"Levin malah cama daddy! daddy nda tanya Lev dulu mau puna ade apa nda. Malah langcung buat! pokokna kelualin lagi adekna!!! lev nda mauu!!!" Seru Revin dengan tatapan kesal.


"Ya gak bisa, sudah terkirim gak bisa di keluarin tunggu sembilan bulan," ujar Gilbert.


Revin yang kesal pun berlari keluar meninggalkan orang tuanya, Emily menepuk bahu suaminya dengan kencang agar segera menyusul putra mereka.


Revin berlari kencang, sesekali dia menoleh ke belakang. Dia memasuki lift bersamaan dengan orang lain, pintu lift tertutup dan Gilbert terlambat mengejar putranya.


"Loh Revin?"


Revin mendongak, dia melihat Hana yang berdiri di sampingnya. Seketika tangisnya pecah, tangannya terulur ke arah sang oma.


"Omaaa hiks ...,"


Hana membawa cucunya ke gendongannya, dia mengusap air mata Revin. Melihat sekelilingnya dan tak menemukan Gilbert maupun Emily.


TING!!


Pintu lift terbuka, Hana keluar bersama Revin dan melihat Gilbert yang berlari ke arah mereka dengan tergesa-gesa.


"REVIN!!" Sentak Gilbert.


"Tadi Revin masuk lift, jadi mommy membawanya keluar." ujar Hana sambil mengelus punggung Revin.


Gilbert mengangguk kaku, dia masih canggung berbicara dengan Hana setelah masalah itu. Netranya melihat putranya yang masih memeluk leher HAna.


"Revin, ayo ikut daddy!" AJak Gilbert menarik paksa Revin dari gendongan Hana.


"NDA MAAAUUUU!!! HIKS ... HUAAA!!!"


Revin memeluk erat leher Hana, dia menyembunyikan wajahnya tak ingin menatap Gilbert. Hana berusaha menenangkan Revin, dia belum paham dengan apa yang terjadi sehingga cucunya menangis seperti ini.


"Reviinn!!" Geram Gilbert.


"Jangan di paksa Gil, kasihan. Mommy tenangkan dia dulu yah, di depan ada taman. Kalau dia udah tenang, baru kamu bujuk dia lagi." Usul Hana.


Akhirnya, Gilbert terpaksa menyetujuinya, dia membiarkan Revin bersama dengan Hana agar putranya tenang dulu.


Hana membawanya ke taman rumah sakit dan duduk di bangku taman, dia membiarkan Revin mengeluarkan keluh kesahnya dipangkuannya.


"Lev nda cuka oma, nda cuka! nanti buna cama daddy lebih cayang anak balu. Lev nda di cayang lagi, kalau Lev di buang gimana? Lev nda kau Huhuhu."


"Kok ngomongnya gitu? Daddy tetep sayang Revin, Revin kan anaknya. Sama aja kayak adek," ujar Hana


Hana mengerti mengapa Revin menangis, menantunya hamil kembali. Dia turut senang, tapi dirinya sedih karena tak bisa merayakan kehamilan kedua Emily bersama keluarganya.


"Kalau adekna kelual, mau Lev buang pokokna! Lev buang!!" Seru Revin.


"Nanti bunda sedih gimana? Rev mau bunda sedih?" Tanya Hana berharap Revin luluh.


Hana tersenyum gemas, dia mencium pipi Revin yang sudah bertambah gemuk.


"Revin dan adek sama-sama anak bunda, kalau Revin hilang. Bunda sedih, kalau adek hilang juga sedih. Jadi Revin sama adek sama-sama anak kesayangan bunda dan daddy," ujar Hana.


Perlahan, Revin mulai luluh. Dia terdiam dengan memikirkan sesuatu.


"Tapi Lev kecel, daddy buat adel nda ijin cama Lev,"


Ucapan Revin membaut Hana tertawa, cucunya ini ada-ada saja. Bagaimana bisa izin dulu kalau sudah terlanjur jadi?


"Adekna bica di cancel gak oma?"


***


Agler pulang menemui Tania, dia ingin bertanya tentang satu hal yang membuatnya kepikiran hingga saat ini.


"Kamu udah pulang?" Sahut Tania yang baru saja keluar dari dapur.


Langkah Agler terhenti, dia menatap Tania dan kembali melanjutkan langkahnya mendekati sang mamah.


"Mah, ada yang ingin aku tanyakan," ujar Agler.


"Ada apa? serius banget sih." Ujar Tania sambil berjalan menuju ruang keluarga.


Agler mengikuti sang mamah, hingga mereka kini duduk di ruang keluarga untuk membicarakan masalah penting.


"Ada apa?" Tanya Tania.


"Apa aku memiliki kembaran?" Tanya Agler membuat Tania mengerutkan keningnya.


"Enggak, kamu ini aneh deh! Pertanyaan nya kayak pertanyaan anak kecil tau gak!" Ujar Tania sambil menggelengkan kepalanya.


Menurutnya, putranya sedang bercanda. Namun, senyumnya luntur saat melihat wajah serius putranya.


"Tadi, aku melihat orang yang berwajah persis seperti aku."


"Apa?" Kaget Tania.


"Ya mah, bahkan kami saling berbicara." Seru Agler


Raut wajah Tania berubah, Agler dapat menangkap raut wajah sang mamah yang tengah khawatir.


"Apa Agler memiliki kembaran? tapi, saat aku dan mas Alvin menemukannya hanya ada Agler saja di sana." Batin Tania.


Agler mendekati mamahnya, dia duduk bersimpuh dan memegangi tangan Tania dengan erat.


"Mah, Agler yakin tadi bukan sebuah kebetulan. Kami benar-benar mirip, bahkan sangat persis hingga Gilbert dan Emily sulit mengenali kami."


"Katakan yang sebenarnya mah, Agler siap jika nantinya Agler akan kecewa. Agler butuh kebenaran," ujar Agler dengan lembut.


Agler sosok pria yang lembut, sangat setia dan juga pekerja keras. Dia tak masalah Nyonya Samantha memberikan posisi tinggi untuk Gilbert, dia tak pernah mempermasalahkannya saat Nyonya Samantha membeda-bedakannya dengan Gilbert.


Tiba-tiba Tania menangis, dia memeluk Agler dengan erat seolah dirinya akan kehilangan putranya.


"Mamah gak mau kehilangan kamu, janji sama mamah setelah ini kamu gak boleh pergi dari mamah hiks ...,"


Agler mengangguk sambil menenangkan mamahnya, setelah Tania sedikit tenang. Barulah dia bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Sebenarnya, kamu bukan anak kandung mamah sama papah. Kami menemukan kamu tak jauh dari kecelakaan kereta 22 tahun silam. Kami sudah mencoba mencari data diri kamu, tapi tetap tidak ketemu, hingga kami memutuskan untuk mengadopsimu."


Netra Agler berkaca-kaca, hatinya sangat sakit saat mendengar fakta itu. DImana dia ternyata hanyalah seorang anak angkat dari irang tuanya yang selama ini dia pikir adalah orang tua kandungnya.


"Saat itu, mamah yang baru kehilangan anak mamah begitu frustasi. Namun, saat mamah menemukan kamu. Mamah seperti hidup kembali, kami memutuskan untuk mengangkatmu menjadi anak kami."


Agler memeluk Tania, dia mengucapkan terima kasih berkali-kali karena Tania merawat nya dengan baik selama ini.


"Maafkan mamah yang tidak menceritakan hal ini kepadamu, mamah takut kamu kecewa dan pergi. Hanya kamu yang mamah punya setelah papah. Mamah pikir, rahasia ini akan selama nya tersimpan rapih. Tapi, pertemuan kamu dengan pria yang mirip denganmu membuat mamah harus mengatakannya."


"Kalau jika memang dia kembaranmu, mamah ikhlas kamu kembali bersama keluarga kandungmu." Suasana mendadak menjadi sedih, Agler menangis di pelukan sang mamah yang selama ini merawatnya dengan begitu sabar.


_________


Jangan lupa LIKE, KOMEN DAN VOTENYA JANGAN LUPA YAH.


LIKE LIKE LIKE POKOKNYA LOH😁