
Suara langkah kaki menggema di lorong sebuah rumah sakit, Dirga pria itu tampak berlari tergesa-gesa hingga terhenti di ruang VVIP.
Menetralkan nafasnya sejenak, tatapannya tertuju pada handle pintu. Tangannya terangkat, dan memutar handle pintu dengan perlahan.
Kreet!!
Pintu perlahan terbuka, Dirga melangkahkan kaki jenjang masuk. Netranya melihat sosok pria dengan pakaian pasien, pria itu tengah bersandar sambil menatap Dirga dengan tersenyum tipis. Alat bantu pernafasan masih bertengger manis di hidung mancungnya.
"Dirga."
"Kakak!" Dirga segera menutup pintu, dia berlari ke arah sang kakak dan memeluknya.
"Jangan erat-erat, aku kesulitan bernafas!" Serunya.
Terpaksa, Dirga melepaskan pelukannya. Dia menghapus air matanya yang menggenang di sudut mata dan kini beralih duduk di kursi samping brankar.
"Kamu tambah tua,"
"Kita sama-sama sudah tua kak, 24 tahun kakak koma. Bagaimana mungkin kita tidak tua?" Ujar Dirga sembari terkekeh.
Marcello Daren Evans, merupakan kakak dari Dirga. Selisih umur mereka tak terlalu jauh, hanya selisih dua tahun saja. Tampak keduanya saling menyayangi antar saudara.
"Du-dua puluh empat tahun?" Tanya Marcel dengan tatapan terkejut.
Dirga mengangguk ragu, netranya menatap seorang suster yang juga tengah menatapnya. Kini, Dirga mengerti. Dokter dan suster belum mengabarkan tentang hal ini.
"Kakak ingat kejadian 24 tahun silam? saat mafia Black dragon menyerang kalian?"
Marcel memegang kepalanya, dia mengingat masa itu. Dimana Mafia yang dia dirikan hancur karena musuhnya yang berasal dari black dragon.
Flashback On.
Marcel tengah berjongkok sambil berhadapan dengan perut buncit seorang wanita yang tak lain adalah istrinya. Anak yang dia nantikan akan segera lahir sebentar lagi, dimana anak itu akan menjadi penerus nya di organisasi dunia bawah miliknya.
"Aku harap dia anak laki-laki," ujar Marcel pada istrinya.
Harumi Aina, wanita jepang yang merupakan tambatan hati seorang Marcello. Pemimpin mafia Araster, dimana mafia ini berada di jepang. Mafia Araster mempunyai anggota yang terbanyak kelima, tetapi sayangnya Mafia Black Dragon sangat mengincar anggota Araster yang sangat setia pada ketuanya.
"Kalau dia perempuan bagaimana?" Tanya Harumi dengan senyum cantiknya.
Marcel tersenyum, dia beranjak dan memeluk pinggang istrinya.
"Kalau perempuan, kita harus membuatnya lagi hingga mempunyai anak laki-laki." Bisik Marcel.
Harumi menepuk d4d4 suaminya, Marcel pun tertawa melihat wajah memerah sang istri.
DUAAARR!!!
Keduanya tersentak kaget saat mendengar suara bunyi dentuman yang sangat keras. Marcel menarik istrinya menuju rak buku, dia menarik salah satu buku itu. Seketika, rak buku tersebut berbalik, dan terlihat sebuah lorong yang kecil.
Marcel menarik istrinya masuk, pintu kembali tertutup. Keduanya pun berlari hingga menemukan pintu keluar, mereka keluar dari mansion dan masuk ke dalam hutan.
"Sa-sayang perut ku." Ringis Harumi menahan rasa sakit di perutnya.
"Jangan sekarang ku mohon, kita harus segera pergi dari sini." Seru Marcel saat melihat banyak helikopter berlambang Black dragon terbang ke arah mansion miliknya.
Karena sang istri yang sudah tidak tahan lagi, Marcel memutuskan untuk menggendong istrinya. Dia berlari menyusuri hutan hingga bertemu dengan jalan besar.
"KAKAK!!"
Marcel menoleh, dia melihat Dirga yang mengendarai mobil ke arahnya. Dirga keluar dari mobil dan segera mendekati Marcel dan istrinya.
"Dirga, bawa istriku! bawa dia ke rumah sakit, seperti nya dia akan segera melahirkan!" Seru Marcel.
Marcel memberikan istrinya pada Dirga, suara ledakan pun kembali terdengar.
"Bagaimana denganmu kak?" Panik Dirga.
"Jangan pedulikan aku! bawa istriku! jika aku tiada, setidaknya masih ada keturunanku!" Seru Marcel dengan suara bergetar.
Harumi menangis, dia berusaha menggapai suaminya walau perutnya sangat sakit. Dirinya tak ingin suaminya kembali ke mansion, dia ingin suaminya ikut bersamanya.
"Jangan, ku mohon Marcel. Pergi bersama kami, apa kamu tidak ingin melihat anak kita?" Isak Harumi.
Marcel memegang wajah istrinya, dia mengecup kening Harumi cukup lama dan beralih mengecup perut istrinya
"Dad sangat menyayangimu, kamu harus tahu itu." Bisik Marcel pada perut istrinya.
"Jaga istri dan anakku, berikan mereka kehidupan yang layak. Yamamura lebih mengincar keturunanku, karena bayi itu yang nantinya akan menjadi pengganti ku," ujar Marcel.
"Kak, ikutlah dengan kami. Masih ada waktu," ujar DIrga dengan suara bergetar.
Marcel menggeleng sembari tersenyum, dia mengepalkan tangannya untuk menguatkan hatinya.
"Masih ada banyak nyawa yang harus aku selamatkan, mereka keluarga seseorang. Aku seorang pemimpin, sungguh pengecut jika aku lari dari tanggung jawabku." Lirih Marcel.
Marcel memundurkan langkahnya perlahan, dia melambaikan tangannya pada adik dan juga istrinya. Dia berbalik pergi, tetapi saat belum terlalu jauh dia berbalik dan menatap keduanya.
"JIKA DIA LAKI-LAKI BERI DIA NAMA CARLO!! AKU INGIN DIA MENJADI SANGAT KUAT!! TAPI KALAU DIA PEREMPUAN, BERI DIA NAMA CAMELIA!!" Seru Marcel dan akhirnya kembali berbalik pergi.
Dirga membawa Harumi ke rumah sakit, karena dokter mengatakan jika Harumi harus operasi Dirga pun menyetujui nya. Setelah beberapa jam, lahir lah keponakannya.
Dirga yang pertama kali menggendong ponakan cantiknya itu, wajah cantik si bayi membuat Dirga meneteskan air matanya.
"Camelia Marcello Evans, putri pertama Marcello. Kamu sangat cantik nak,"
Dirga menciumi wajah bayi itu, dia menangis lirih karena sang kaka tak bisa menyaksikan anaknya lahir.
"Tuan."
Dirga menatap dokter yang berjalan mendekatinya, netranya dokter itu tampak berkaca-kaca. Hati Dirga mendadak was-was, dia takut berita buruk yang di sampaikan oleh dokter itu.
"Maaf, pasien atas nama Harumi Aina telah meninggal dunia. Akibat pendarahan hebat, membuat kami gagal menyelamatkannya."
Tubuh Dirga melemas, bahkan tubuhnya sampai terhuyung ke belakang. Dokter segera mengambil bayi yang berada di tangan Dirga, pria itu menangis sambil menggumamkan kata maaf.
DERTT!!!
DERTT!!
Ponsel Dirga berdering, dia mengambil ponsel itu dari sakunya dan melihat nomor asing yang menelponnya. Tanpa berpikir lama, Dirga segera mengangkatnya.
"Di-dirga ini aku."
Dirga membulatkan matanya, dia menegakkan tubuhnya saat tahu yang menelponnya adalah sang kakak.
"Kak, kamu baik-baik saja hiks?"
"A-aku ba-ik isshhh." Dirga menjadi panik saat mendengar suara ringisan dari kakaknya.
"Jangan pedulikan aku, bagaimana ke-keadaan istri dan anakku?" Tanya Marcello dengan terpatah-patah.
Dirga mengusap wajahnya, dirinya tengah bimbang. Apa yang harus dia katakan, kakaknya pasti syok saat mengetahui istrinya sudah tiada.
"Dirga?"
"Ka-k ba-bayimu perempuan, aku memberinya nama Camelia Marcello Evans. Bagus bukan?" ujar Dirga dengan suara bergetar menahan tangis.
"Aku se-senang, pu-putriku ... Ca-camelia. Lalu, istriku?"
Dirga menangis terisak-isak, Marcel sepertinya paham. Dia pun terdiam menunggu adiknya berbicara.
"Kak Harumi sudah tiada kak, dia pendarahan hebat. Maafkan aku terlambat mengantarnya ke rumah sakit."
Tak ada jawaban apapun dari Marcel, Dirga mengira kakaknya marah padanya karena tak menjaga Harumi dengan baik.
"Tak apa, dia sudah aman di tempat barunya. Aku akan segera menyusulnya, kamu tak perlu merasa bersalah. Terima kasih, tolong jaga putriku. Bilang padanya jika ayahnya ... sangat mencintainya."
BOOMM!!!
DUAARR!!!
Suasana menjadi hening, Dirga kembali menatap ponselnya yang tak lagi tersambung dengan Marcel.
"OEEKK!! OEEKK!!" Bayi itu menangis, mungkin dia merasakan jika keadaan sedang tak baik-baik saja. Sedangkan Dirga, dia menutup telinganya dan memejamkan matanya.
"KAKAAAAK!!!"
Flashback Off.
_________
Up pertama mana nih like dan komennyaðŸ¤ðŸ¤, kelanjutannya proses oke😎😎