
Gilbert mengintip Emily yang tertidur berbantalkan lengannya, netranya beralih menatap ham dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi. Hari ini adalah hari minggu, dimana Gilbert akan libur berangkat ke kantor.
Entah mengapa, setelah sarapan. Istrinya itu kembali tidur dan meminta di temani olehnya, padahal jam sepuluh nanti Gilbert memiliki janji temu dengan Dirga.
Perlahan, Gilbert menarik tangannya dan menggantikannya dengan bantal agar istrinya tidak terbangun. Perlahan dia mendudukkan dirinya, sedikit bergeser ke tepi tanpa menimbulkan gerakan.
"Sekarang aku harus cari sisir Emily." Batin Gilbert, pria itu berjalan ke arah meja rias dan mengambil sisir yang Emily kenakan.
Namun, sisir itu tampak bersih. Gilbert heran, biasanya di sisir akan terdapat rambut. Namun, sisir istrinya benar-benar bersih.
"Sampo orang kaya emang beda." Gumam Gilbert sambil menggelengkan kepalanya.
Terus gimana dong? rambutnya gak ada." Gumam Gilbert.
Namun, Gilbert baru menyadari saat dia memegangi rambutnya. Dia pun berbalik dan menatap istrinya yang masih tertidur.
Perlahan, Gilbert mendekati istrinya. Dia pun membuka nakas di samping ranjang dan mengambil gunting dari sana.
Dengan gerakan pelan, Gilbert menggunting sedikit ujung rambut istrinya. Setelah dapat, dia pun mengambil plastik kecil yang sudah dia siapkan di untuk menaruh rambut istrinya.
Dertt!! Dertt!!
Ponsel Gilbert bergetar, dia melihat ponselnya yang berada di atas nakas, terdapat sebuah chat masuk dari ponselnya sehingga Gilbert pun mengambilnya dan melihatnya.
"Nih tua bangka gak bisa sabaran apa! masih jam sembilan juga! udah nyampe di rumah sakit aja!" Gerutu Gilbert.
Gilbert memasukkan ponsel dan juga rambut istrinya ke dalam saku celananya. Dia melirik sekilas istrinya yang masih lelap tertidur. Perlahan tapi pasti, Gilbert melangkah mengendap-endap ke arah pintu. Namun ...
"Mas, kamu mau pergi?"
Deghh!!!
***
Tap
Tap
Tap
Gilbert melihat Dirga yang menunggu di depan ruangan dokter, dia berjalan mendekat dan menyapa pria paruh baya itu.
"Lama sekali kamu datang! Memangnya kamu kesini naik delman apa! om udah nungguin dari tadi tau gak!!" Omel Dirga saat Gilbert sampai di hadapannya.
Gilbert memutar bola matanya, dia menyerahkan plastik berisikan rambut istrinya pada Dirga. Pria paruh baya itu langsung menerimanya dengan tatapan ketus.
"Tadi Emily tidur setelah sarapan, mungkin karena efek kehamilannya dia jadi gampang lelah. Saat saya akan pergi, Emily malah terbangun. Saya harus mencari alasan dulu." Terang Gilbert.
"Yasudah, om akan menyerahkan ini dulu ke temen om." Ujar Dirga sambil bangkit dari duduknya.
Dirga pun memasuki ruang dokter, sementara Gilbert duduk di tempat duduk bekas Dirga tadi. Dia bermain ponselnya hingga tak sadar jika ada seseorang yang mendekatinya.
"Kamu Gilbert?"
Gilbert yang merasa di panggil oun mengangkat wajahnya, keningnya mengerut kala melihat seorang pria paruh baya yang duduk di kuris roda.
"I-iya? ada keperluan apa yah?" Tanya Gilbert.
Pria paruh baya itu yang tak lain adalah Marcel, dia tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
Gilbert membulatkan matanya, dia melihat Marcel dengan seksama. Bahkan sampai menganggurkan tangan Marcel yang sedari tadi terulur ke arahnya.
"O-oh maaf om!" Seru Gilbert ketika menyadari Marcel yang menyodorkan tangan padanya.
Gilbert menyambut uluran tangan tangan itu, dia berjabat tangan sebentar dan kembali menarik tangannya.
"Terima kasih kamu sudah mau membantu om, saya harap hasilnya akan sesuai harapan." Ujar Marcel dengan netra berkaca-kaca.
"Iya om, harapan saya seperti itu. Jadi, tidak ada lagi gunjingan untuk istri saya. Apalagi, sekarang ini Emily sudah tersorot media karena pernikahan kami yang sudah di ketahui publik. Pastinya mereka akan mencari tahu latar belakang istri saya. Jika om adalah ayah dari istri saya, gunjingan itu tidak akan istri saya dapatkan." Kata Gilbert dengan tatapan yang ramah, berbeda saat dia mengobrol dengan Dirga dengan malas.
"Kakak!" Pekik Dirga yang kerasa terkejut dengan kehadiran Marcel.
Marcel menatap adiknya yang baru saja keluar dari ruang dokter, dia tersenyum mengangguk.
"Kakak kenapa disini? aku kan sudah bilang, di kamar saja. Hasilnya baru keluar besok!" Omel Dirga.
"Kakak bosen, kakak juga mau bertemu dengan suami putri kakak." Senyum Marcel mereka menatap Gilbert yang menatapnya dengan serius.
"Kembali lah ke kamar kak, ayo. Kau harus istirahat," ujar Dirga dan mengambil alih kuris roda sang kakak dari perawat yang bertugas menjaga.
Marcel memegangi tangan Dirga, dia menggeleng tak ingin kembali ke kamar. Karena Marcel menolak, lahirnya Dirga melototi Gilbert.
Merasa di pelototi, Gilbert pun menatap balik Dorga dengan alis yang terangkat satu.
"Ikut dengan kami, biarkan kakak om istirahat di kamarnya!"
Gilbert baru mengerti arti dari pelototan Dirga, ia pun bangkit dan menatap bergantian kakak beradik itu.
"Maaf om, Emily minta di belikan rujak bogor. Saya harus kesana untuk membelinya." Tolak Gilbert dengan sopan pada Marcel dan juga Dirga.
"Putri om sedang hamil?" Tanya Marcel. Biarpun belum terbukti jika Emily putri kandungnya, tetapi entah mengapa hati Marcel sangat yakin jika Emily adalah putrinya.
Gilbert pun mengangguk mengiyakan, sepertinya Dirga belum membahas perihal permintaannya pada Marcel. Nanti dia akan tanyakan pada pria paruh baya itu.
"Om ikut kamu ke bogor yah! Kita cari sama-sama! Om juga mau turut mencarikan ngidam putri om." Antusias Marcel membuat keduanya sontak membulatkan kata.
"Kak! kakak harus istirahat!" Titah Dirga.
"Sebentar aja, kan kakak gak nyetir. Cuman ikut aja." Pinta Marcel sambil membalikkan sedikit badannya untuk menatap sang adik.
Dirga menghembuskan nafas kasar, jika sudah begini, tidak tau dirinya harus menuruti kemauan kakaknya dari pada kakaknya itu marah.
"Di sini juga ada asinan bogor, kenapa harus kesana?" Dirga sangat keberatan jika Marcel ikut dengan Gilbert ke bogor.
"Istri saya hanya ingin asinan yang langsung dari sana, maaf om. Saya harus kesana, ini ngidam pertama Emily. Dan pertama kalinya pula saya menuruti ngidam istri saya," ujar Gilbert.
Dia berkata jujur, saat Emily bangun tadi. Wanita itu ingin memakan asinan bogor. Oleh karenanya Gilbert menyanggupi pergi ke sana walau memakan waktu beberapa jam untuk mendapatkannya.
_______
Apa kabar kawanðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜. Sorry banget baru bisa up, tadinya aku sibuk karena kerja dan usaha sampingan. Bahkan tidur tuh baru bisa jam 2ðŸ˜. Karena kecapean akhirnya drop, ini juga baru masa pemulihan.
Aku gak ada up di lain tempat kok, serius. ini aja belum selesaiðŸ˜ðŸ˜ kayak hutang gak di bayar tau gak gak up upðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜. makanya aku balik lagi buat selesein.
Hari ini up 2 kali yah, maaf sekali lagi bagi kalian yang kecewa🥺🥺🥺