I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Ayah mertua siapa mas?



Sepanjang perjalanan pulang, Emily hanya diam. Gilbert pun tak berani buka suara, dia hanya memangku putranya sambil memegang susu botol Revin. Sedangkan bocah gembul itu, asik bermanja ria sambil memainkan ponsel sang daddy.


DERTT!!


DERTT!!


Ponsel Gilbert bergetar, Revin membaca nama yang menelpon daddynya itu dengan kening mengerut.


"Ayah meltua?" Gumam Revin yang mampu di dengar oleh Emily dan Gilbert.


Sontak saja Emily menoleh menatap ponsel suaminya, Gilbert merasakan adanya sinyal tak baik. Saat dia akan mengambil ponselnya, gerakannya kalah cepat dengan tangan sang istri.


SRETT!!


"Em ...." Gilbert masih berusaha mengambil ponselnya, tetapi Emily menepis tangan suaminya itu.


Emily segera menggeser tombol hijau, dia menempelkan ke telinganya dan bergeser menjauh dari sang suami.


"Halo? Halo?"


Emily tak mendengar suara dari sana, saat dia lihat ternyata sambungan itu telah mati. Mungkin yang menelpon merasa tak di angkat sehingga mematikannya.


"Em ...." CIcit Gilbert.


Kebetulan, mobil mereka sudah terhenti di halaman rumah, Emily langsung keluar tanpa sepatah kata. Gilbert segera keluar juga dengan membawa putranya.


"Em dengarkan mas!" Pinta Gilbert mengikuti langkah Emily.


BRAK!!!


Emily melempar ponsel suaminya begitu saja, Gilbert bahkan sampai menghentikan langkahnya menatap nanar ponselnya yang rusak.


Bukan soal harga, tetapi semua pekerjaan dia berada di ponselnya. Bagaimana jika file penting kerjaannya hilang?


"Revin masuk ke kamar, daddy bicara dulu sama bunda." Pinta Gilbert menurunkan putranya dari gendongannya.


Revin menurut, dia pun pergi ke kamarnya. Semenjak perut Emily kian membesar, Gilbert memindahkan kamar dia dan putranya ke bawah agar istrinya tak lelah bolak balik.


Sementara Hana, Alfred dan juga Danzel sudah kembali ke mansion. Beberapa hari sekali mereka akan berkunjung untuk melihat keadaan Revin serta Emily.


Cklek!


"Sayang mas ...,"


"PERGI!! AKU GAK MAU LIAT MAS!" Bentak Emily.


Gilbert mengusap wajahnya kasar, dia melangkah masuk dan menutup pintu dengan sedikit keras. Menghampiri istrinya yang sedang terduduk di tepian kasur sambil memunggunginya.


"Dengarkan mas dulu! baru kamu marah!" Sentak Gilbert.


Emily menatap nyalang suaminya, keduanya sama-sama di liputi kemarahan. Emily yang sedang labil, dan Gilbert yang sedang lelah.


"Ayah mertua siapa? MAS MENIKAH DENGAN SIAPA HAH!! MAS MADU AKU DENGAN SIAPA? JAWAB!!!"


"BISAKAH KAU MENJAGA NADA SUARAMU DI DEPAN SUAMIMU EM!!" Bentak balik Gilbert dengan sorot mata kemarahan.


Emily menutup wajahnya, dia menangis dengan bahu bergetar. Gilbert yang merasa bersalah pun mengusap kasar wajahnya, dia sendiri bingung bagaimana cara menjelaskannya.


"Siapa dia mas? bawa istri barumu ke hadapan ku. Aku harus lihat, bagaimana rupa wanita yang merebut suamiku." Lirih Emily dengan suara bergetar.


"Em, aku tidak menikah lagi." Gilbert bersimpuh di hadapan istrinya, dia memegang kedua lutut istrinya dengan tatapan sendu.


"Bohong! mas bohong! mas tahu kalau aku tidak memiliki orang tua, siapa ayah mertua ha? mas tidak memilikinya! aku tidak memiliki ayah mas!!" Histeris Emily yang kini menarik kembali tangannya dan menatap Gilbert dengan tajam.


Istrinya tidak tahu jika selama ini Gilbert berkomunikasi dengan Marcel, ayah mertuanya itu akan menelponnya untuk sekedar menanyakan kabar putra dan cucunya.


Bulan ini tepat perjanjian mereka, dimana Gilbert akan mengatakan semuanya. Kandungan istrinya sudah memasuki usia lima bulan, kandungannya sudah kuat. Dan mungkin, Marcel menelponnya untuk menagih janji pria itu.


"Kalau mas bosen sama Em ya kembaliin Em baik-baik, jangan seperti ini. Apa karena Em sudah tidak secantik dulu? bahkan tubuh Em sudah melar seperti ini." Isak Emily.


"Syuttt jangan berkata seperti itu, mas tidak pernah memiliki niatan untuk berselingkuh dari kamu. Percayalah," ujar Gilbert menangkup pipi chubby sang istri.


"Terus tadi siapa? ayah mertua siapa? mas kan gak punya ayah mertua hiks ...,"


Gilbert memeluk istrinya, walau Emily memberontak tetapi kekuatannya tak sebesar kekuatan Gilbert.


"Nanti malam, kamu akan bertemu dengannya. Mas janji, jika dia mengatakan kalau mas selingkuh darimu. Kamu boleh menghukum mas," ujar Gilbert dengan sungguh-sungguh.


Akhirnya Emily luluh, dia memberi kesempatan suaminya untuk menjelaskan. Tibalah waktu malam, Emily baru saja mandi dan berpakaian, dia memakai dress ibu hamil. Terlihat sangat cantik dan anggun, membuat suaminya tak dapat berpaling darinya.


Grepp!!


"Kamu wangi." Bisik Gilbert sambil mengendus leher jenjang istrinya.


"Pakai baju sana mas, gerah tau gak!" Semenjak hamil Emily sangat tidak suka di peluk, perutnya yang besar membuatnya gampang sesak.


Gilbert melepaskan pelukannya, dia berjalan ke arah ranjang dimana istri cantiknya itu sudah menyiapkan pakaiannya dan dirinya.


"DADDY!! OM GALANG CUDAH CAMPE!!" Seru Revin dari arah luar kamar Gilbert.


Gilbert yang sudah berpakaian lengkap seketika menatap istrinya, Emily menatap suaminya dengan penuh tanda tanya.


"Kamu nikah sama Amelia? iya? bener-bener yah!" Emily menatap suaminya dengan tatapan terluka karena mengira jika ayah mertua yang di ponsel suaminya adalah Dirga.


"Sayang kan mas sudah bilang, kita temuin dulu biar dia yang jelaskan," ujar Gilbert berusaha memegang tangan istrinya.


Emily melengos, dia segera keluar kamar dan pergi menuju ruang tamu. Gilbert berjalan tergesa-gesa mengikuti langkah istrinya.


Seketika langkah Emily terhenti saat dimana dia melihat Amelia berada di samping Dirga sedang bercanda dengan putra mereka.


Air matanya luruh, dia berharap dugaannya salah. Namun, melihat pemandangan di hadapannya mampu membuat hatinya remuk seketika.


"Sayang, ayo kita bicara." Ajak Gilbert.


Seketika mereka yang berada di sana menatap ke arah suami istri itu, terlebih Marcel. Emily tak menyadari kehadirannya, karena fokus wanita itu hanya pada Amelia.


Kini Emily dan Gilbert sudah duduk, tatapan Emily mengarah pada Amelia yang sedati tadi bercanda dengan Revin.


"Sayang, mas ingin jelaskan."


"Apa yang perlu di jelaskan? disini ada Amelia dan papahnya, jadi maksud mas ... mas menikahi Amelia?"


"Astaga sayang, dengarkan mas dulu! lihat di sana, pria di samping Galang." Unjuk Gilbert pada MArcel yang menatap Emily penuh arti.


Tatapan Emily seketika mengarah pada MArcel, tatapannya terkunci dengan pria yang menjadi ayah kandungnya itu.


"Emily, kamu bilang jika mami bukan orang tua kandungmu bukan?" Tanya Gilbert yang di balas anggukan oleh Emily.


"Mas tahu orang tuamu, dan laki-laki paruh baya itu ... adalah ayah kandungmu. Dia yang tadi siang menelpon mas."


Marcel seketika menghampiri Emily, air matanya luruh. Rasa bahagia menyeruak hatinya, rasa yang ia tahan selama ini akhirnya terbalas juga dengan melihat putrinya secara langsung. Selama tiga bulan dia melatih kakinya untuk berjalan, dan kini dia sudah bisa berjalan seperti sedia kala.


"Emily, ini ayah nak. Ini ayah." Lirih Marcel.


Emily belum bisa mencerna semuanya, kepalanya mendadak pening. Bertahun-tahun dirinya tumbuh tanpa sosok ayah, dan kini ada pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya.


Marcel tiba di hadapan Emily, pria itu langsung memeluk Emily. Emily hanya diam, tak membalas pelukan pria itu.


Namun, air kata Emily keluar dengan sendiri nya. Hatinya merasakan sesuatu yang aneh, entah dirinya merasakan hal yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan.


"Ayah." Isak Emily.


"Iya nak, ini ayah. Ayah kandungmu, maafkan ayah sayang," ujar Marcel dengan haru.


Gilbert menyingkir, membiarkan istri serta ayah mertuanya melepas rindu. Namun, Gilbert yang tadinya tersenyum haru seketika melunturkan senyumannya saat melihat tangan sang istri terlunglai lemas.


"Sayang." Panggil Gilbert. Namun tak ada reaksi membuat Gilbert memegang tangan istrinya.


"EM!!" Pekik Gilbert.


Marcel melepas pelukannya, dia menahan tubuh putrinya yang sedang pingsan. Dengan panik, dia akan menggendong putrinya.


"Yah jangan yah, Emily sangat berat." Panik Gilbert.


Marcel tak memperdulikannya, dia berusaha menggendong putrinya. Entah kekuatan dari mana, Marcel berhasil menggendong putrinya.


"Dimana kamarnya?" Tanya MArcel.


"Di-di sana." Unjuk Gilbert.


Walau kaget dengan kekuatan Marcel, tetapi Gilbert harus fokus dengan kondisi istrinya. Dia berlari ke arah kamarnya dan membantu membukakan pintu. Marcel masuk, dia menaruh putrinya ke atas kasur.


Sementara di ruang tamu, Galang dan yang lainnya masih melongo melihatnya.


"Daddy aja nda kuat gendong buna, kakekna hebat bica kuat gendong buna!" Pekik Revin.


_____


Authornya mau mengucapkan terima kasih bagi kalian yang sudah memberi dukungan berupa like, komen, vote dan hadiah untuk karya author๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜.


Maaf belum bisa bales satu satu๐Ÿฅบ, nanti kalau ada waktu luang aku balas yah๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜ jangan bosen komen oke๐Ÿ˜