I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Tantena j4l4ng di pacal yah?



Hari ini adalah acara yang Gilbert nantikan, Karena Revin sidah bisa kembali ke rumah membuat acara tetap berjalan seperti yang Gilbert inginkan.


Seperti saat ini, Revin sudah duduk di kuris khusus dekat dengan panggung, dia sedang menikmati dessert sambil di suapi oleh Hana.


Dia memakai celana batok yang biasanya anak pakai sehabis sunat, sehingga memudahkannya untuk bergerak tanpa sakit.


"Kok banyak olang oma?" Tanya Revin melihat sekelilingnya yang di penuhi oleh banyak sekali orang kalangan atas.


"Iya, kam ini acara Revin." ujar Hana Sambil tersenyum.


"Acala Lev? tapi Lev nda buat," ujar Revin dengan bingung.


"Daddy yang buat, kemarin Revin ulang tahun. Daddy buat acara syukuran untuk Revin." Jelas Hana.


Revin mengerutkan keningnya, dia tidak tahu jika kemarin hari ulang tahunnya. Sebab selama ini, Emily tak pernah memberitahunya tentang tanggal lahirnya.


"OKE SEMUANYA!! HARAP DUDUK DI TEMPAT MASING-MASING, KARENA TAMU UTAMA KITA AKAN DATANG SEBENTAR LAGI!" Seru seorang MC membuat semua orang yang tadinya berdiri segera duduk dengan rapih dan menghentikan obrolan mereka.


Alfred menaiki panggung, dia mengambil mic dan mendekatkannya pada mulutnya.


"Selamat malam semua, terima kasih atas kehadiran kalian di acara yang putra saya buat. Acara ini dia khusus kan untuk menunjukkan kepada publik istri dan putranya. Mari kita sambut, putra saya beserta istrinya!


Sorot kamera dan lampu mengarah pada Gilbert yang menuruni tangga sambil menggandeng sang istri, wajah cantik Emily membuat mereka semua banyak yang berbisik-bisik.


Senyum manis tercetak di bibir sepasang suami istri itu, dengan lembut Gilbert melangkah dengan hati-hati sambil sesekali memperhatikan gaun yang istrinya kenakan.


"Tangan mu dingin sayang." Bisik Gilbert.


"Aku gugup." Balas Emily.


"Tidak usah gugup, ada aku di sampingmu." Bisik Gilbert mesra.


Saat menaiki panggung, Gilbert sangat berhati-hati sekali. Dia memegangi tangan Emily dan meminta seseorang untuk membantu memegangi gaun sang istri.


"Pelan-pelan yang, seharusnya tadi kamu pakai sendal jepit aja dari pada pakai sendal tinggi begitu." Gerutu Gilbert.


"Gaunnya kebesaran, kalau pakai sendal jepit kelelep dong!" Kesal Emily.


Alfred mengulurkan tangannya pada sang menantu, Emily menyambut uluran tangan itu. Keduanya berjalan ke arah tengah panggung, sementara Gilbert harus mengambil Revin terlebih dahulu.


"Ayo." Ajak Gilbert sambil membawa Revin ke gendongannya.


Revin yang tak mengerti apapun hanya bisa menurut, dia melihat banyak pasang mata yang menatap ke arahnya.


Gilbert menaiki panggung dan berdiri di samping istrinya, Alfred undur diri turun dari panggung. Kini, keluarga kecil itu akan menyampaikan i formasi pada khalayak publik.


"Selamat malam semuanya, terima kasih atas kedatangan kalian. Saya, Gilbert Rey Greyson sebagai penerus utama keluarga Greyson ingin mengenalkan pada kalian semua istri dan putra saya secara resmi."


Gilbert merangkul pinggang istrinya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih menggendong Revin.


"Di samping kiri saya, sudah ada wanita cantik. Dia istri saya, Emily Beriana. Dan di gendongan saya ini, putra saya. Putra kandung kami, Filbert Revino Greyson!!"


PROK! PROK! PROK!!!


Semua orang bertepuk tangan, mereka menyambut kedatangan Emily pada keluarga Greyson walau sebagian orang meremehkan Emily karena wanita itu sama sekali tak memakai marga seperti mereka.


"Ternyata dia wanita kalangan bawah." Bisik seorang wanita pada yang lain.


"Iya, ku pikir dia wanita kalangan atas sama seperti kita." Bisik yang lain.


Danzel yang berada di dekat mereka.pun kesal.setengah mati, ingin rasanya dia menegur dua wanita itu. Namun, akan menganggu acara yang sedang berjalan.


"Awas aja kalian kena mental gara-gara anaknya, gue ketawain lo berdua nanti! awas lo berdua!" Gumam Danzel.


Gilbert kembali berbicara, sesekali dia mengusap pinggang istrinya untuk menenangkan sang istri. Karena dia mengerti bagaimana gugupnya Emily saat ini.


"Saya sudah menikah hampir 6 tahun yang lalu, karena masalah pribadi kami berpisah sementara. Selama 5 tahun, saya tidak pernah tahu saya memiliki seorang putra yang sangat tampan dan cerdas. Wanita di samping saya ini, membesarkan putra saya seorang diri. Harta sebanyak apapun saya berikan padanya, tak akan pernah tergantikan dengan pengorbanannya yang telah melahirkan dan membesarkan putra kami dengan penuh perjuangan."


"Dan kali ini, saya tidak ingin hal itu terjadi lagi, dan untuk kehamilan istri saya yang kali ini. Saya ingin yang terbaik, saya ingin merasakan menjadi suami yang siaga di saat istri saya sedang hamil."


Emily menatap raut wajah suaminya yang tampak terharu, netranya berkaca-kaca menatap semua orang yang berada di bawah panggung.


"Cayonalaaa!!!" Seru Revin.


Revin terkejut saat suara terdengar keras, dia menatap semua orang yang tertawa melihatnya.


"Daddy, Lev malu!!!" Seru Revin sambil menyembunyikan wajahnya di leher sang daddy.


Gilbert terkekeh, dia kembali memposisikan mic itu. Setelah di rasa pas, dia kembali merangkul pinggang istrinya.


"Maaf, putra saya lagi penasaran dengan hal yang baru. Mungkin, cukup segini saja yang saya beritahukan. Untuk itu, jangan lagi ada rumor aneh tentang istri yang hamil di luar nikah. Saya tegaskan sekali lagi, kami sudah menikah! Dan putra saya bukan anak haram. Dia lahir dari hasil pernikahan yang sah! dan posisinya sebagai ahli waris yang sah!" Tegas Gilbert.


PROK!! PROK!! PROK!!!


Mereka semua bertepuk tangan saat keluarga kecil itu undur diri. Gilbert beserta Emily turun menyambut para tamu, begitu pula dengan Hana dan juga Alfred.


"Wah tuan Gilbert, saya pikir anda masih lajang. Ternyata sudah memiliki seorang putra yah." Seru seorang pria paruh baya yang merupakan rekan kerja Gilbert.


Gilbert tersenyum tipis, dia memaklumi jika banyak yang tidak tahu soal dirinya sudah menikah. Selama ini, banyak sekali yang menjodohkannya dengan putri mereka. Namun, Gilbert menolaknya dengan sopan.


"Tuan Gilbert, saya pikir anda menikah dengan kalangan atas. Rupanya dengan kalangan kelas bawah yah." Celetuk seorang wanita berpakaian yang sangat minim hingga membuat Gilbert sama sekali tak mau menatapnya.


Revin melihat wanita itu dari atas hingga bawah dan kembali ke atas, dia sepertinya mengerti jika wanita itu sedang mengejek sang bunda.


"Tante ini olang cucah yah?" Celetuk Revin.


Tentu saja orang yang mendengarnya sangat terkejut, mereka jelas tahu wanita itu merupakan istri ketiga dari seorang pengusaha berlian.


"Orang susah? jaga bicaramu ya anak kecil!!" Kesalnya.


"Kok bajuna kulang bahan na? kalau nda ada uang, nanti Lev lacih. Lev banak uangna loh!" Seru Revin.


Gilbert hanya diam, begitu pula dengan Emily. Karena mereka tahu bagaimana putra mereka, yang jelas lawan bicaranya pastinya akan kalah telak.


"Kamu gak tahu saya siapa!!" Seru wanita itu tanpa perduli Revin yang saat ini masih berada di gendongan Gilbert.


"ANDIN!" Bentak seorang pria pada wanita tersebut.


"Anak ini mengataiku mas!" Rengeknya.


Gilbert dan Emily meringis geli kala melihat wanita itu menggandeng lengan pria tersebut yang merupakan suaminya dengan begitu manja.


"Buna, tantena j4l4ng di pacal yah? di pacal banak baju yang mulah, nda kulang bahan kan?" Tanya Revin dengan polosnya.


"KURANG AJAR!!!"


Revin seketika ketakutan saat wanita itu melotot ke arahnya, dia berbalik dan memeluk erat leher sang daddy.


Merasa sang putra ketakutan, Gilbert pun menatap tajam wanita itu. Sekalipun dirinya tak mau membentak putranya, tetapi wanita di hadapannya dengan mudahnya membentak sang putra.


"Lihat tuan! kamu tidak becus mencari istri! dia tidak bisa mendidik anaknya dengan baik!" Seru wanita bernama andin itu.


"Jaga bicaramu! bukan istriku yang tidak becus! tapi putra kami yang terlalu cerdik! putraku cadel, dia hanya berkata jika kamu jarang berada di pasar. Umurnya masih lima tahun, pengejaan bahasanya belum selancar orang dewasa!" Ketus Gilbert.


Wanita bernama Andin itu mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan malu karena banyak orang yang melihat ke arahnya sambil tertawa mengejek.


"Tuan Bram, istri ketiga anda ini sangat tidak berkelas. Apa dia wanita malam yang anda jadi kan istri?" Tanya Gilbert dengan raut wajah datarnya.


"Maafkan saya atas sikap istri saya tuan, kalau begitu kami pamit pulang lebih dulu karena ada urusan pekerjaan!" ucap pria itu dan menarik kasar istrinya menjauh dari sana.


Danzel yang berada tak jauh dari sana tertawa, dia asik menikmati drama itu sambil memakan kue yang tersaji.


"Benerkan! makan tuh karma!"


____


Siapa yang kangen sama Revin nih🤭🤭.


Sekarang di daerahku lagi sering gempa, sampe kemarin sangking paniknya kemarin keluar kamar nabrak pintu yang belum kebuka😭😭😭.


up satu lagi yah kawan sebagai ganti yang kemarin, sebetar lagi Marcel bakalan ketemu nih sama Emily. Penasaran yah🤭🤭