
"Galang papah ...."
Galang menatap sang papa dengan tatapan datar, sedangkan Marcel dia tak tahu siapa pria di depannya.
"Jadi ini yang papah sembunyikan? ketua Araster yang sebenarnya ... wah ... hebat!" Seru Galang dengan tatapan terluka.
"Papah mendidik ku dengan keras demi menggantikan pria ini, kau tidak membiarkanku seperti anak lainnya! sejak kecil, saat umurku baru menginjak angka lima kau sudah mengenalkan ku dengan senjata! di saat anak lainnya bermain dengan bola, boneka, dan mainan lainnya. Tapi aku ... aku bermain dengan darah! di umurku yang ke tujuh tahun, pertama kalinya aku membunuh seseorang! itu semua karena papah!" Sentak Galang.
Di balik sifat humorisnya, Galang menyimpan banyak luka. Sifat kekanakannya saat ini, karena masa kecilnya yang kelam. DIrinya sedang mengeluarkan sifat kekanakannya yang tertanam sejak kecil.
Tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, di didik dengan keras. Harus berhadapan dengan situasi yang menakutkan untuk seorang anak kecil, membuat Galang kecil tak seperti anak lainnya.
"Galang, kamu juga sudah menerimanya. Kamu menerima untuk menjadi pemimpin Araster, kamu juga ...,"
"ITU BUKAN KEMAUANKU!!!" Bentak Galang dengan menatap tajam ke arah sang papah.
"PAPAH PIKIR ENAK JADI MAFIA! APA PAPAH PIKIR AKU MENYUKAI PRIA HINGGA SAAT INI TAK JUGA MENIKAH HAH!! ENGGAK!"
Dirga terkesiap melihat anaknya di luar kendali, Galang yang biasanya humoris kini menjelma menjadi sosok anak yang mengungkapkan apa yang dia pendam selama ini.
"AKu tidak menikah hingga saat ini itu semua karena aku tidak ingin istri dan anakku menjadi incaran para musuh! AKU SEPERTI INI KARENA PAPAH! KARENA KALIAN!!"
"Aku pikir alasan papah menyuruhku menjadi penerus Araster karena papah ingin melindungi Amel. Tapi ternyata, PAPAH KORBANKAN HIDUPKU! NYAWAKU! MASA DEPANKU! DEMI PRiA YANG PAPAH SEBUT KAKAK!!"
"CUKUP GALANG!! KAU SUDAH KETERLALUAN!!" Dirga tak tahan lagi, dia melangkah maju dan menatap tajam putranya.
Galang kecewa, Dirga tak jujur dari awal padanya. Kenapa? dia pikir mafia Araster milik ayahnya, maka dari itu dia siap melanjutkannya. Namun, Dirga memanfaatkannya untuk menunggu Marcel kembali.
"Pria itu, kakak papah sudah sadar. Aku bisa keluar dari sana! aku ingin hidup normal! aku lelah! AKU LELAH!!"
"Galang! kau tidak boleh keluar dari organisasi itu! sebab pamanmu, tidak akan pernah kembali! lihat kondisinya! dia tidak sekuat dirimu!!"
Galang menatap Marcel dengan nafas memburu, sedangkan Marcel menatap pria muda di hadapannya dengan tatapan nanar.
"Galang, maafkan paman. Tidak seharusnya paman membuatmu berada di posisi yang sulit. Mafia itu tidak bisa di bubarkan, jika bubar. Akan banyak mafia jahat yang menguasai dunia, dengan adanya Araster. Kita bisa membantu banyak orang. Dan juga, karena janji yang tidak bisa paman batalkan." ujar Marcel.
Dirga menepuk bahu putranya, dia menatap putranya dengan tatapan seorang ayah pada anaknya. Dia mengabaikan Galang, dia didik Galang dengan didikan keras. Berbeda dengan Amel, Dirga lebih memanjakan putrinya itu. Bahkan Amelia tak di perbolehkan sekolah di luar.
"Sejak kecil, aku selalu bertanya. Mengapa papah membedakan aku dan Amel? kenapa papah lebih memanjakan Amel, Sedangkan denganku? papah terus mendidik ku dengan keras. Apa papah ingat? saat umurku 6 tahun, kau menyuruhku menembak pemimpin White Lion. Tapi karena tembakanku meleset dan dia balik menyerang Araster, kau mencambukku. Apa aku marah padamu?"
Dirga terkesiap, dia hampir melupakan peristiwa itu. DImana dia menghukum putranya di ruangan gelap dan mencambuknya demi mendidik putranya, Galang kecil yang malang.
"Nak, maafkan papah. Maaf jika papah ....,"
"HAHAHAHAH!!!"
Dirga dan Marcel menatap Galang dengab tatapan tak percaya, mereka mengernyitkan keningnya. Galang menjongkokkan dirinya di hadapan Marcel dengan tawa yang masih menggema.
"Kau tahu paman, bahkan aku tak sempat memikirkan cinta. Ada ketakutan dalam diriku, aku takut istri dan anakku menjadi incaran musuhku. Aku khawatir, aku tak bisa menyelamatkan mereka."
"Tapi, jika dari awal papah mengatakan tentangmu dari awal padaku. Aku tidak akan sekecewa ini." Lirih Galang dengan senyum getirnya.
Dirga merasa bersalah, sangat bersalah. Dia sengaja memberikan informasi pada dunia jika pemimpin Araster telah tiada, demi mengamankan sang kakak. Namun, dia mendorong putranya ke dalam lingkaran musuh demi melindungi pemimpin yang sebenarnya.
Dirga menatap sang kakak, Marcel mengetahui kegelisahan adiknya. Dia mengangguk, tetapi Dirga malah menggeleng.
"Bagaimana ini? jika Kak Marcel kembali, Yamamura akan kembali. Kakakku baru bertemu dengan putrinya, bagaimana jika Emily yang menjadi incarannya." Batin Dirga.
"Tidak Galang! kau harus tetap berada di organisasi itu!" Tegas Dirga.
Galang tertawa sumbang, dia tidak ingin menjadi mafia. Dia lelah, nyawanya selalu berada di ujung tanduk. Dia harus berpindah tempat agar musuhnya tak mengetahui keberadaannya.
"Ada Gilang, apa papah tidak bisa memberikan kebebasan untukku?" Tanya Galang dengan sendu.
Dirga menghela nafas kasar, dia mendekati putranya dan ikut berjongkok di samping Galang. Dia memegang kedua bahu putranya dan menatap lekat pada mata sang putra.
"Galang, sebenarnya Camelia bukan kembaranmu. Dia ... sepupumu, saat itu ...." Dirga menceritakan kejadian saat dimana Harumi melahirkan Camelia, Galang hanya dia menyimak.
"Dan kau tahu siapa Camelia?" Galang menggeleng pelan.
"Emily, istri dari Gilbert adalah Camelia. Sepupumu, saudara sepersusuanmu."
Air mata Galang tumpah, rindunya pada Camelia membuatnya tak dapat lagi membendung air matanya. Bertahun tahun dia mencari keberadaan Gilang dan Camelia, bahkan dia mengira jika musuhnya lah yang sudah membawa kembarannya.
"Ca-camelia, E-emily?" Tanya Galang dengan gugup.
"Jadi penerus Araster yang sebenarnya adalah ... Revin?"
***
Galang kembali ke rumah dengan tatapan kosong, Amelia yang sedang bermain dengan Reynan seketika menghampiri Galang yang tak seperti biasanya.
"Ada apa denganmu? tumben? abis di putusin pacar?" Canda Amelia.
Galang tak menjawab, dia tetap berjalan menuju lift dan memasukinya. Amelia menggaruk kepalanya yang tak gatal, entah mengapa dia merasa aneh dengan perubahan Galang.
Sedangkan Galang yang saat ini sidah berada di kamarnya, pria itu menatap sebuah pistol yang di pajang di kamarnya. Pistol pertamanya, saat umurnya 5 tahun.
"Haruskah Revin menjadi seperti ku?" Gumam Galang.
"Dia bocah yang lugu dan polos, bicaranya lucu dan wajahnya imut. Apa anak sekecil itu harus menyaksikan kejamnya dunia?"
Galang mengusap wajahnya kasar, dia mendudukkan dirinya di kasur empuknya. Berbagai ingatan tentang masa kecil yang menyakitkan kembali hadi di ingatannya.
"Revin, dia tidak boleh merasakannya. Dia harus menikmati masa kecilnya, harus ...,"
"Tapi ... bagaimana dengan janji seorang mafia? paman Marcel pasti sudah mengikrarkan janjinya pada seluruh anggota jika Hanya keturunannya lah yang harus menggantikan posisinya sebagai pemimpin."
_____
Bisa bisa berlanjut sampai season 2 nih🤭🤭🤭
Hari ini up 3 bab yah😍😍