I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Lev cekolah



3 bulan kemudian.


"REVIN CEPAT!! REYNAN SUDAH SAMPAI!!" Teriak Emily yang kini berada di ruang makan.


Revin menarik tasnya, dia berlari keluar kamar dan menuruni tangga. Gilbert yang melihat putranya segera menghampiri khawatir putranya kenapa-napa.


"Revin ayo belangkat!" Seru Reynan dari ujung tangga.


"Cabal! lagi tulun!" Seru Revin.


Tepat sebulan lalu, Revin meminta pada Gilbert untuk masuk sekolah. Dia ingin seperti Reynan, bersekolah dan memiliki banyak teman.


Tadinya Gilbert tidak mengizinkan, khawatir putranya di celakai anak lain. Tapi, Emily menenangkan, sebab bagaimana pun Revin butuh bersosialisasi dengan temannya.


"Mas, aku ikut ke sekolah Revin yah." Pinta Emily berjalan menghampiri sang suami dengan perut besarnya.


Gilbert yang sudah sampai di lantai dasar pun meringis ketika melihat istrinya bergerak ke arahnya. Perut besar istrinya mampu membuat dia khawatir jika berat perut dan tubuh istrinya tak seimbang.


"Jangan banyak gerak sayang, kalau kamu nyungsep kasihan para bayi." Seru Gilbert.


"Nyungsep gimana sih mas?" Bingung Emily.


"Pokoknya jangan banyak jalan, udah di rumah aja! lebih baik kamu ke kamar, terus tidur. Bangun makan, tidur lagi." Pinta Gilbert.


Emily memutar bola matanya jengah, dia mengelus perutnya sambil berjalan kembali ke ruang makan untuk mengambil bekal putranya.


"Revin nanti pulang nya om Danzel yang jemput yah, jangan kemana-mana." Titah Gilbert.


"Kan cama om Aglel," ujar Revin. Dia berniat main ke rumah Agler karena Galang memiliki burung Elang yang baru saja datang kemarin. Dia rencana ingin bermain dengan Elang yang menurutnya keren tersebut.


"Tidak ada! kamu ke sana pulang pasti bawa hadiah!" Gerutu Gilbert.


Bagaimana tidak bawa hadiah, pastinya Revin pulang dengan baju kotor dan wajah cemong. Emily sampai di buat pusing oleh anak mereka.


"Hiii cebental doang." Rengek Revin.


Reynan hanya melihatnya kedua orang berbeda usia itu bertengkar, dia heran dengan Revin yang suka sekali dengan peliharaan milik Galang.


Kebalikan dengan Revin, Reynan lebih suka binatang yang lucu. Seperti kelinci, kucing, dan hewan lucu lainnya.


"Enggak ada! hari ini pokoknya pulang sekolah langsung pulang! bisa brojol cepat bundamu itu!" Seru Gilbert.


"Iya iya! kalau blojol kan calah daddy, buatna Kebanyakan!" Ketus Revin.


Emily kembali dengan membawa dua kota bekal, dia memasukkan satu kotak bekal ke dalam tas putranya.


"Satu nya buat mas yang?" Tanya Gilbert.


Emily melirik sinis, dia berjalan ke arah Reynan dan membuka tas milik anak itu.


"Ya buat Reynan lah," ujar Emily dengan nada sinisnya.


"Mas enggak?" Tanya Gilbert.


Emily menutup kembali tas Reynan, dia menatap suaminya dengan tatapan datar.


"Kemarin siapa yang di kasih makan sama cewek hah? pake acara bilang abang belum makan siang? makan siang yuk bareng adek. SIAPA?" Seru Emily sambil berkacak pinggang.


Gilbert meringis, istrinya hanya salah paham saja. Banyak wanita yang mengejarnya, tetapi istrinya tetap nomor satu.


"Yang, kamu tahu kan kalau mas ganteng. Biarpun kamu bulat seperti bakso, mas tetep cinta kok!" Yakin Gilbert.


Niat hati memuji istrinya, bukannya luluh Emily malah melotot garang padanya.


"HALAH CINTA, NANTI MALAM TIDUR DI LUAR! MAKAN TUH CINTA!" Membuat Gilbert seketika melotot kan matanya.


"YANG JANGAN DONG! PUSING AKU NANTI!"


***


Revin dan Reynan sama-sama turun dari mobil Agler, mereka memasuki lingkungan sekolah bersama. Wajah mereka yang tampan kerap sekali menjadi tontonan para ibu-ibu yang menunggu anak mereka.


Identitas keduanya tidak di tutupi, sebab Gilbert mau putranya benar-benar di jaga oleh pihak sekolah. Biarlah dia dikatakan sebagai pria yang sombong, asal putranya tidak celaka seperti yang sebelumnya.


"Dali tadi pegangin teluc kotak makan na, takut hilang?" Tanya Revin melirik Reynan yang memeluk bekal yang Emily berikan.


Reynan menggeleng, senyumnya tidak luntur sejak tadi. Bahagia rasanya dia mendapatkan bekal dari Emily, sebab selama ini Reynan sangat ingin memiliki sosok ibu seperti Emily.


"Dacal aneh." Sindir Revin.


Keduanya masuk kelas, mereka duduk di meja yang sama. Hal itu juga merupakan permintaan dari Gilbert, dia tak mau putranya di jauhi. Jika dekat Reynan, setidaknya Revin memiliki teman.


"Revin, kamu sudah kerjain pr belum?" Tanya seorang anak perempuan berkuncir satu pada Revin.


"Cudah," ujar Revin dengan singkat.


Reynan mengangguk, dia tak banyak bicara seperti Revin. Jam pelajaran pun mulai, Reynan begitu memperhatikan guru. Berbeda dengan Revin yang merasa ngantuk.


"Revin ayo lihat papan tulis, baca kalimat ini!" Titah guru itu pada Revin.


Revin menatap tulisan itu, baginya belajar membawa bukan hal baru. Namun, bagaimana pun dirinya masih tahap belajar.


"Ayo ini apa Revin." Unjuk guru itu pada gambar.


"Tobeli," ujar Revin.


"Strawberry!" Seru guru itu membuat Revin mengerucutkan bibirnya sebal.


"Ini apa Revin?" Unjuknya pada sebuah gambar.


"Kepala."


Guru itu pun tertawa, dia menunjuk gambar seorang ayah. Tetapi Revin malah berkata kepala, padahal di bawah gambar itu terdapat tulisan ayah.


"Ayah, yah nak." ucap guru itu membenarkan jawaban Revin.


"Ayahna ciapa?" Tanya Revin penasaran.


Seketika guru itu menjadi bingung, dia menggaruk pelan pelipisnya dan berpikir kata yang pas untuk Revin.


"Ya ayah, ayahnya orang," ujar guru itu.


"Kayak daddy Lev?" Tanya Revin membuat guru itu mengangguk.


Guru itu kembali menunjuk gambar buah cerry, Revin pun harus menjawabnya kembali karena belum ada yang dia jawab secara benar.


"Ini apa Revin." Unjuk guru itu.


Revin mengamatinya, sampai-sampai keningnya berlipat. Reynan sudah merasakan perasaan yang tidak enak, dia sudah menutup wajahnya dengan buku pelajaran.


"Itu ... LATTO-LATTO!!" Seru Revin membuat seisi kelas terbengong.


"Actaga!" Pasrah Reynan.


KRINGGG!!!!


Bel istirahat berbunyi, Revin pun berteriak senang. Reynan merapihkan bukunya terlebih dahulu dan menyimpan nya kembali ke dalam tas.


"Revin aku bawa buah, ini untuk kamu," ujar seorang anak perempuan berkuncir dua pada Revin.


Revin mengerutkan keningnya, dia mendongak menatap anak perempuan tadi yang masih tersenyum ke arahnya.


"Lev nda minta." Cuek Revin.


"Tapi kata mamah kita bakal jadi saudara kalau Revin mau, kan daddy kamu sama mamah aku dekat," ujarnya dengan polos.


Revin yang mendengar nya tak terima, dia menghempaskan apel itu dengan tenaga yang kuat. Reynan yang paham situasi segera menahan sepupunya itu.


"MAKCUDNA APA HAH?! CITU MAU AMBIL DADDY LEV? MEMANGNA DADDY KAMU KEMANA HAH?!" Murka Revin.


Anak perempuan itu menciut, dia bergerak mundur karen takut amukan dari Revin. Teman-tekan Revin hanya mengerubungi mereka tanpa berniat membantu.


"BILANG CAMA MAMAH MU JANAN AMBIL DADDY LEV!! JELEK HALUC CADAL DILI!!"


"MAMAH KU NDA JELEK!!" Seru anak itu tak terima.


Revin yang kepalang kesal pun berhasil terlepas dari Reynan, dia mendekati anak itu dan mendorongnya hingga membuat anak itu terjatuh.


"HEI! APA YANG KAU LAKUKAN PADA SEPUPUKU!!" Seru seorang anak lali-laki.


Brugh!!


Anak itu mendorong Revin hingga kepala Revin mengenai kursi, beruntung tak terlalu kencang sebab Reynan lebih dulu menarik kuris itu hingga hanya terkena sedikit.


"JANAN KACAL CAMA ADEK LEY!!!" Seru Reyna. menghampiri anak laki-laki itu dan memukulnya.


AKhirnya kelas pun menjadi gaduh, Revin kembali berdiri dan membalas rasa sakitnya.


BRUGJ!!!


"EMANGNA NDA CAKIT HAH!! MAKAN TUH KALMA!" Seru Revin ketika anak itu berhasil dia dorongan dan terjatuh.


Didikan sapa nihπŸ’†β€β™€οΈ


"ASTAGAAAA ... APA YANG KALIAN LAKUKAN!! BUBAR!!!"


_____


buatnya sejam, bacanya semenitπŸ’†β€β™€οΈπŸ’†β€β™€οΈπŸ’†β€β™€οΈ