I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
JANGAN NGADON DULU!



"Kak ...."


"Aku tidak akan makan sebelum kamu membawaku pada Harumi!!"


Selepas Marcel terbangun di pagi hari, dia menuntut ingin menemui Emily yang dirinya pikir adalah Harumi. Dirga sudah berusaha menjelaskan, jika Emily adalah istri Gilbert bukan Harumi.


"Kak, dia Emily. Umurnya seumuran dengan putra kembarku, bukan seumuran istrimu." Lelah Dirga, dia tak pulang semalam karena menjaga Marcel di rumah sakit.


"Dia seumuran putra kembarmu?" Tanya Marcel dengan tatapan tak terbaca.


Dirga mengangguk pelan, dia tak bisa membawa raut wajah Marcel untuk saat ini.


"Bisa saja dia putriku! putriku masih hidup! dia masih hidup! Putramu saja masih bisa hidup! pasti putriku juga bisa! dia anak yang kuat, sama seperti aku! sejak lahir dia sudah di hadapkan dengan situasi sulit, pasti dia kuat Dirga!" Histeris Marcel.


"Aku harus bertemu mereka!" Kekeuh Marcel saat Dirga tak merespon keinginannya.


Dirga panik saat Marcel berusaha turun dari brankar dengan raut wajah menahan sakit, Marcel memaksakan dirinya untuk berdiri.


"Kak, aku mohon jangan seperti ini." Lirih Dirga.


"Kamu tidak paham dengan perasaan kakak Dirga! kamu tahu kan bagaimana kehilangan seorang anak, sakit! sakit DIRGA!!! Jika istriku tidak selamat, setidaknya putriku selamat! untuk apa aku bertahan hidup hingga saat ini!!! UNTUK APAA!!! JAWAB AKU! UNTUK APAAA!!!"


Marcel meraih kerah kemeja Dirga, adiknya itu tampak terdiam pasrah membiarkan Marcel meluapkan emosinya.


"Kakak mempertaruhkan nyawa kakak demi putri kecil kakak, apakah kakak tidak boleh berharap sedikit saja? apa salah kakak berharap dia masih ada? kenapa kamu melarang kakak? kenapa kamu menghancurkan semangat kakak?" Lirih Marcel dengan air kata yang menggenang di pipinya.


"Selama jasad putriku belum di temukan, kakak masih memiliki harapan. Setidaknya, dia bukti kisah cinta kakak dengan Harumi. Jangan halangi kakak, dia satu-satunya kebahagiaan kakak. Jangan hancurkan kebahagiaan kakak."


Dirga menatap sendu mata sang kakak yang sedari tadi terus mengeluarkan cairan bening, hatinya teriris perih mendengar ungkapan hati Marcel. DIrinya jiga menyadari jika Emily sanhat mirip dengan Harumi, hanya saja dia tidak ingin memberikan harapan untuk Marcel. Apalagi latar belakang Emily sama sekali belum.jelas.


"Baiklah kak, aku akan mencari tahu tentang Emily. Aku akan bicarakan ini dengan Gilbert, bagaimana pun Gilbert adalah suami Emily. Dia yang akan memutuskannya." Ujar Dirga sambil mengusap lengan Marcel agar sedikit tenang.


"Benar? kamu akan mencari tahu tentang putriku?" Dirga mengangguk, sehingga Marcel melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju milik sang adik.


Dirga melirik jam tangannya, dia harus kembali pulang untuk mandi dan bersiap ke kantor.


"Kak, aku harus pulang. Hari ini masih ada jadwal terapi untukmu, minggu depan aku yakin kakak pasti sudah bisa jalan." Ujar Dirga sambil tersenyum.


Marcel mengangguk, dia kembali duduk di brankarnya dengan di bantu oleh Dirga.


"Ingat apa yang kamu janjikan pada kakakmu ini." Peringat MArcel.


"Ya, akan aku lakukan." Ujar Dirga dan mengambil jas nya.


Dirga pun kembali ke rumahnya, kebetulan keluarganya sedang sarapan pagi dan melihat Dirga yang lewat di depan ruang makan.


"Sebentar yah, kalian lanjutkan makannya. Mamah mau nyamperin papah kalian dulu." Pamit Tania pada semua anaknya.


Mereka mengangguk dan kembali fokus makan, sedangkan Tania menyusul suaminya yang sudah memasuki kamar mereka.


Cjlek!


Netra Tania melihat Dirga yang sedang melepaskan kemejanya, dia pun menutup pintu dan berjalan mendekati sang suami.


"Aku akan menyiapkan air hangat untuk mas," ucap Tania.


"Tidak usah, mas ingin mandi air dingin." Ujar Dirga dengan singkat.


Tania mengangguk pelan, dirinya masih terasa canggung dengan keberadaan Dirga di hidupnya. Belum ada cinta di antara mereka, pernikahan yang sangat mendadak membuat keduanya harus saling mengerti satu sama lain.


Dirga memasuki kamar mandi setelah dia melepas pakaiannya dan menyisakan celana boxernya, Tania pun membereskan baju suaminya dan berniat akan menaruhnya di keranjang pakaian kotor.


Namun, Tania seperti mencium aroma sesuatu. Dia mengendus kemeja milik suaminya, seperti ada bau yang aneh.


"Bau rumah sakit, apa mas Dirga baru saja habis dari rumah sakit?" Gumam Tania.


Tania menepis kecurigaannya, dia merasa rak berhak untuk mencurigai Dirga. Lagi pula, dia takut jika Dirga merasa privasinya di ganggu.


Tak lama, Dirga keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk di pinggangnya. Tania yang mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka segera menuju lemari tanpa melihat ke arah Dirga.


Tania memilih baju kerja suaminya, dia memutuskan untuk mengambil kemeja abu dan juga jas dan celananya. Saat berbalik, Tania terkejut sebab Dirga sudah berada di belakangnya dengan jarak yang cukup dekat.


"Ma-mas." Gugup Tania.


Tubuh Dirga masih sangat atletis, walau.umurnya sudah memasuki angka 50 tahun. Namun, dirinya masih rajin berolahraga membentuk ototnya.


"Kenapa?" Bingung DIrga.


Tania hanya diam, dia mengalihkan pandangannya dan menyodorkan baju kerja Dirga di hadapan pria itu.


Dirga mengerutkan keningnya, melihat Tania yang sepertinya canggung melihatnya membuat Dirga paham. Satu sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian, dengan iseng dia mengambil dua langkah dan membuat tubuh keduanya menyisakan sedikit jarak.


"Kenapa tidak di pakai kan sekalian? pekerjaan itu tidak noleh setengah-setengah, harus full. Kamu sudah ambilakn mas baju, jadi sekalian pakaikan." Bisik Dirga tepat di samping telinga istrinya.


Tubuh Tania meremang, jantungnya berpacu lebih kuat. Kakinya mendadak gemetar, begitu pun dengan tangannya yang menyentuh perut suaminya.


"Mas bi-bisa mundur dikit gak? bajuku jadi basah." Cicit Tania.


DIrga terkekeh, umur mereka sudah tua. Tetapi, dirinya merasa seperti muda lagi saat berhadapan dengan istri barunya itu.


"Gak papa basah, nanti juga ganti lagi kan?"


"Eh? maksudnya?" bingung Tania.


Dirga menyeringai, dengan sekali tarikan dia berhasil menarik pinggang istrinya mendekat ke arahnya hingga tubuh mereka berdua bertabrakan.


Baju yang tadinya Tania pegang pun terjatuh lantaran terkejut, netranya terkunci dengan tatapan lembut sang suami.


"Kamu belum memberikan hakku." Bisik Dirga.


"Inget umur mas, sudah tua." CIcit Tania.


Dirga terkekeh melihat kelucuan istrinya, dirinya tak menyangka jika di pertemukan oleh wanita yang mirip dengan sikap istri pertamanya yang pemalu.


"Sudah tua begini, mas masih kiat kok. Berapa kali pun mas masih kiat, jangan coba untuk meragukan mas. Apa kamu tidak lihat otot mas masih sebugar ini hm?"


Perkataan Dirga membuat Tania merinding, dia tak tahu harus apa. Sifat nya yang pemalu membuatnya bingung harus bagaimana.


Dirga tersenyum, dia menyelipkan poni istrinya ke belakang telinga. Tatapannya melembut menatap bibir ranum istrinya, perlahan dia memajukan wajahnya.


Perlahan, Tania yang tidak tahu harus bagaimana memejamkan matanya takut. Dia bahkan bisa merasakan terpaan panas nafas sang suami.


TOK! TOK! TOK!!!


"PAPAH!! JANGAN NGADON DULU!!! LIMS MENIT LAGI ADA MEETING PENTNG!!!" Seru Galang menggedor kamar orang tuanya dengan cukup keras.


Tania membuka katanya, sedangkan Dirga. Dia memejamkan matanya dan mengomeli Galang dalam hatinya.


"Anak gak ada akhlak!" Geram Dirga sehingga dengan tak rela dia pun menjauh dari Tania dan memakai pakaiannya dengan cepat.


Sedangkan di luar, Galang menahan tawanya. Sebenarnya tidak ada meeting sama sekali, itu hanya akal-akalannya saja karena curiga dengan papah nya yang tidak kunjung keluar kamar.


"Masa umur dua lima begini gue punya adek, kan gak lucu." Batin Galang dengan bahagia.


_____


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, HADIAH DAN VOTENYA😘😘😘😘