
"Kondisi Tuan Gilbert tak terlalu memperihatinkan, hanya tekanan darahnya rendah dan dalam keadaan stress. Di mohon, untuk pola makan dan tidurnya. Jangan sering merokok, apalagi mengkonsumsi. obat tidur melebihi dosis. Itu tidak baik,"
Dokter sudah memeriksa kondisi Gilbert, pria itu tengah bersandar di kepala ranjang sembari memegangi tangan Emily yang duduk di sebelahnya.
"Mas, kamu minum obat tidur?" Tanya Emily dengan cukup kaget.
Gilbert mengangguk santai, dia menc1umi punggung tangan istrinya tanpa perduli orang-orang sekitar menatapnya jengah.
"Sepertinya tuan Gilbert sangat mencintai istrinya." Kata dokter itu sambil tertawa sumbang.
"Maaf dokter, kalau gitu mari saya antar keluar." Tukas Agler.
Kini, tinggallah Tania dan juga pasangan pasutri yang tengah bermesraan itu.
"Tante tinggal yah,"
"Iya tante!" Seru Gilbert semangat.
Setelah kepergian Tania, Emily melepas rangkulan Gilbert dan beranjak berdiri. Netranya menatap tajam Gilbert yang kini melunturkan senyumnya.
"Mana obat tidurnya?" Tanya Emily dengan nada ketus.
"Mas gak minum obat tidur." Elak Gilbert.
"Kasih sekarang atau aku pergi lagi sama Agler?!" Ancam Emily.
Gilbert menghela nafas pelan, dirinya pun pasrah dengan menunjuk laci nakasnya. Obat tidurnya selalu dia simpan di sana, semenjak Emily tak bersamanya dia kesulitan tidur. Sehingga dia meminum obat tersebut dengan resep dokter, tetapi dengan dosis yang dia tentukan sendiri.
Emily membuka laci nakas, dia melihat beberapa botol obat. Seketika netranya membulat, dia menggeleng-gelengkan kepalanya saat netranya beralih menatap suaminya.
"Habisnya gimana yang, mas gak bisa tidur. Mikirin kamu sama Revin ada dimana, udah makan apa belum. Kamu baik-baik aja apa enggak, Revin rewel apa enggak. Mas kepikiran, maka dari itu ...."
Gilbert menarik lembut tangan Emily, dengan tatapan sendu dan penuh cinta. Pria itu menatap dalam mata sang istri yang sangat indah di matanya.
"Jangan pergi lagi kalau gak ingin melihat mas meminum obat itu lagi, mas gak bisa tidur sayang kalau gak ada kamu di samping mas," ujar Gilbert dengan sendu.
Emily mendadak merasa bersalah, setetes air mata luruh di pipi putihnya. Gilbert yang melihat istrinya menangis pun seketika menjadi panik. Dia berdiri berhadapan dengan sang istri dan menangkup pipinya.
"Hey, don't cry baby. Sorry, Really sorry." Bisik Gilbert merasa sangat bersalah.
Emily menggeleng, dia memeluk erat suaminya dan menangis di d4d4 bidang sang suami. Rasa penyesalan memenuhi relung hatinya, suaminya juga hanya lah korban. Kenapa dia egois dengan pergi untuk mencari ketenangan, padahal suaminya yang butuh itu semua.
"Aku kecewa saat mas tampar aku, aku kecewa hiks ... tapi aku tahu mas gak sengaja. Tapi, tetap saja rasanya sakit sekali." Isak Emily di d4d4 bidang suaminya.
Gilbert membalas pelukan istrinya dengan erat, berkali-kali dia mengecup kepala istrinya sambil menggumamkan kata maaf.
"Kamu bisa membalasnya, tampar mas seperti saat mas menamparmu." Guman Gilbert dengan suara bergetar.
Emily melepaskan pelukan mereka, dia menatap intens tepat di kata sang suami. Tatapan Gilbert pun terkunci dengan tatapan sang istri.
"Benarkah? aku boleh membalas nya?" Tanya Emily.
Gilbert mengangguk yakin, jika hal itu akan membuat sang istri memaafkannya. Dia akan terima, bahkan dengan tamparan berkali-kali pun dia siap.
Tangan Emily terangkat, Gilbert pun bersiap menutup matanya. Melihat sang suami yang terlihat ketakutan, Emily menyunggingkan senyumnya.
Dia melayangkan tangannya dan mendarat lembut di pipi sang suami. Emily mengelus nya pelan, dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
Gilbert tertegun, dia kembali membukanya menatap sang istri dengan tatapan tak percaya. Dia tak mendapati tamparan, melainkan elusan lembut dari tangan istrinya.
"Sa-sayang ...." Lirih Gilbert dengan menatap Emily tak percaya.
Gilbert menjatuhkan dirinya, dia berlutut tepat di depan kaki istrinya. Pria dingin itu menangis pilu, pria yang sering menunjukkan raut datarnya kini sudah tak berlaku lagi saat di hadapan istrinya.
"Mas, jangan seperti ini!!" Pekik Emily.
Emily menarik tangan Gilbert, tetapi pria itu tetap teguh pada pendiriannya. Sebelum sang istri memaafkannya, Gilbert tak akan bangun.
Sehingga Emily harus melakukan dengan hal lain, dia sedikit menunduk dan meraih tengkuk suaminya. Dia menempelkan bibirnya dengan sang suami, walau terkejut. Gilbert membalas nya, mereka saling menyalurkan rindu. Bahkan, keduanya tak menyadari jika sedari tadi Revin menatap mereka dengan mulut terbuka.
"Kok pada makan bibil? kan bibi balucan macak, banak makanan di bawah. Napain malan bibil?" Seru Revin.
Sontak saja Emily dan Gilbert yang tadinya hanyut ke dalam kerinduan pun seketika di buat bungkam. mereka menjauhkan diri mereka masing-masing dan segera berdiri dengan salah tingkah.
"Revin dari kapan disini?" Tanya Emily dengan gugup.
"Dali tadi lah! Buna cama daddy aja yang nda cadal!"
Gilbert menormalkan ekspresinya, dia tersenyum dan mendekati putranya. DI bawahnya ya tubuh gempal sang putra ke dalam gendongannya, dirinya sedikit bangga karena berat badan putranya bertambah berat semenjak tinggal dengan dirinya.
"Daddy tanya, apa yang tadi Rev liat?" Tanya Gilbert dengan penuh perhatian.
"Tadi Lev liat buna makan bibil daddy." Jawan Revin dengan singkat.
Gilbert mengangguk, dia memilih duduk untuk menjelaskannya pada putranya yang belum cukup umur itu. Mereka kecolongan, lupa tak menutup pintu.
"Apa yang tadi Rev liat, jangan di ceritakan pada siapa pun oke. Lupakan! hal tadi hanya di lakukan oleh orang dewasa seperti daddy dan bunda." Jelas Gilbert memberi peringatan untuk putranya, kenapa dia tak berbohong saja mencari alasan? sebab, dirinya takut putranya akan berbohong juga. Sejak dini, Gilbert berusaha untuk membuat putranya selalu berkata jujur.
"Kalau Lev nda boleh?" Tanya Revin.
"Belum saatnya jempol!" Seru Gilbert dan mengecup pipi putranya.
Revin melotot horor pada sang daddy, dia mengusap kasar pipinya yang habis di cium oleh sang daddy.
"Tadi katana nda boleh! Lev macih kecil, pipina yang di gigit nda boleh!!" Seru Revin.
"Kalau pipi boleh," ujar Gilbert.
Revin mengangguk, dia mengerti. Dirinya segera keluar karena ingin makan malam bersama dengan yang lainnya.
Gilbert menghela nafas pelan, untung saja putranya langsung mengerti. Emily terkekeh melihat suaminya yang di introgasi oleh anak mereka.
"Oh ya mas, mommy kemana? kok aku gak lihat?" Tanya Emily yang penasaran, biasanya Hana menyambutnya dengan semangat. Namun kini, wanita itu tak terlihat
"Mommy dia kembali ke rumah orang tuanya,"
"APA!" kaget Emily.
"Ya, perlu kamu tahu. Mommy, bukan ibu kandung mas." Ujar Gilbert sambil menatap sendu sang istri.
Emily tak kaget, hal itu membuat Gilbert mengerutkan keningnya. Istrinya terlihat biasa saja, membuat dirinya curiga tentang satu hal. Pasalnya, pemberitahuan tentang dirinya yang bukan anak kandung Hana tidak tersebar ke khalayak luas demi menjaga posisi Danzel.
"Jangan-jangan, kamu pergi karena rahasia mommy?"
Deghh!!!
"Jujur, apa yang mommy ceritakan padamu hingga kamu memilih untuk meninggalkan mas?!" Raut wajah Gilbert berubah datar, Emily pun seketika menjadi khawatir.
______
Up selanjutnya, tungguin yah🥰🥰. Maaf kemaleman, ngurusin kerjaan dulu biar bisa triple up😘😘.