
Galang telah menerima hasil tes DNA setelah dia meminta rambut Agler dan mengeteskannya dengan rambut milik Dirga. Semua dirinya yang bertindak, sebab beberapa hari ini Dirga lebih sibuk mengurusi kesembuhan Marcel.
Galang mengambil ponselnya dari dalam saku celananya, dia mengetikkan nomor ponsel Agler dan menelponnya.
"Halo?"
"Halo Agler, ini aku Galang," ujar Galang dengan semangat.
"Oo Galang, ya ada apa?" Sahut Agler, terdengar suara kertas yang sedang di balikkan. Tampaknya Agler sedang mengurusi proposal.
"Sepertinya kau sibuk, nanti saja lah," ujar Galang.
"Tidak-tidak, aki hanya memeriksa proposal saja. Ada apa?" Tanya kembali Agler.
Galang menatap amplop berisikan hasil tes DNA, dirinya tak ingin melihatnya sendiri. Ia ingin melihat bersama-sama dengan Agler dan juga Dirga.
"Hasil tes DNA sudah keluar, aku ingin kita melihatnya bersama." Jawab Galang.
Seketika tidak ada sahutan dari Agler, tampak nya pria itu begitu terkejut mendengarnya.
"Agler, kau dengar aku?" Tanya Galang karena tak mendapat jawaban dari Agler.
"Ya-ya, iya kita bertemu dimana?" Tanya Agler dengan gugup.
Galang tersenyum tipis sambil membalikkan-balikkan amplop itu. "Di kafe XX, ajak tante Tania juga dan aku akan mengajak papahku. Selain tes DNA ini, siapa tahu aku mendapatkan ibu baru." Canda Galang.
Agler tak habis pikir dengan Galang yang sangat kekeuh ingin Tania menjadi ibu sambung pria itu.
"Ya baiklah, boleh aku juga mengajak putraku? Jika mamahku ikut, tidak ada orang yang menjaganya." Izin Agler.
"Ck, sebenarnya aku kurang suka dengan putramu. Tapi i'ts oke lah. Bawa saja, siapa tahu dia bisa mendapatkan istri baru untukmu." Sahut Galang.
"Hahaha, terima kasih Galang. Jam berapa kita bertemu?" Tanya Agler.
"Sekarang." Putus Galang tanpa berkata lagi dia memutuskan sambungan telepon.
Netranya melihat dua anggota mafianya berjalan ke arahnya, pakaiannya serba hitam dan jangan lupakan senjata yang tersembunyi di balik bajunya.
"Tuan,"
Galang yang tadinya humoris seketika berubah dingin dan datar, pria itu berubah menjadi sosok yang sangat berwibawa dengan tegas.
"Katakan!" Titah Galang.
"Black Dragon telah mengetahui anda telah sampai disini, bahkan mereka telah mengikuti anda sejak anda menginjakkan kaki di negara ini." Bisik salah satu dari keduanya.
Seketika, Galang memantau sekitarnya. Banyak orang yang berlalu lalang, tetapi tatapannya jatuh pada seorang cleaning servis yang sedang membersihkan lantai. Namun, ada yang janggal. Di telinganya seperti ada alat untuk komunikasi yang tak sama seperti yang lain, orang itu sesekali membenarkan baju belakangnya yang ternyata terdapat sebuah tembakan.
"Lancang sekali dia mengikutiku!" Geram Galang.
Ingin sekali Galang mengeluarkan senjata miliknya yang selalu tersimpan rapih di balik jaket, hanya saja ini tempat umum. Akan memakan banyak korban jika dirinya melakukan itu.
"Kita pergi dari sini!" Titah Galang.
Galang menjadi takut untuk bertemu Agler dan juga Tania, karena dirinya membawa musuh bersamanya. Sehingga, ide licik pun muncul. Dia berbisik pada anak buahnya sambil berjalan biasa, tanpa terlihat curiga sedikit pun.
Galang memasuki mobilnya bertepatan di sebelah kiri mobil anak buahnya, netranya melihat seseorang sudah memantaunya dari mobil di samping kirinya. Galang membuka jaketnya, dia menggantinya dengan daster wanita dan juga memakai wig.
"Jika bukan karena terpaksa, aku tidak mau pakai ini." Gerutu Galang.
"Astaga, aku masih lurus ... aku masih lurus ... aku masih lurus ...." Galang terus saja menggumam sampai dia berhasil memakai semuanya dan keluar dari mobil sambil mengendap-ngendap dengan gaya barunya.
Sepertinya anggota Black Dragon tak mencurigainya, mereka masih menatap mobil Galang yang tak kunjung jalan. Sementara mobil anak buah Galang, sudah jalan terlebih dahulu.
Galang memberhentikan taksi untuk mengurangi kecurigaan, tetapi anak buahnya tetap mengikutinya sampai ke tujuan.
Sampai pun di kafe, Galang segera membayarnya dan turun tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang menatapnya dengan menahan tawa.
"Diiihh apa liat-liat!! gak pernah liat orang ganteng yah!" Sewot Galang ketika menyadari banyak orang yang menatapnya.
Galang tetap pede, dia berjalan masuk ke dalam kafe dan mencari keberadaan Agler. Galang melihat Agler yang duduk di meja pojok, tatapannya dan Agler bertemu sehingga dia pun melambaikan tangannya.
Agler juga ikut melambai, tetapi hanya sebentar sebab dirinya terkejut melihat pakaian yang digunakan oleh Galang.
Tania yang tadinya sedang fokus pada Reynan seketika menoleh.
"ASTAGAAA!!!! SADAR NAK!! SADAR!! KAMU LOH PEDANG KOK PAKEKNYA BEGITUUUU!!!" Seru Tania membuat semua pengunjung pun menatap ke arah mereka.
Agler menepuk keningnya, tadinya dia hanga ingin sekedar bertanya mengapa Galang memakai kostum seperti ini.
"Tan-tante haduh!! jangan keras-keras dong!!!" Bisik Galang.
"Agler, sadarkan kembaranmu ini!!! Inget to le le, kamu tuh pedang kok pakaiannya begini. Lupa kodrat kamu!!!" Tania mengelus d4d4nya, dia sangat syok melihat Galang seperti ini.
Galang melepas wig nya, seketika semua orang tertawa melihatnya. Sungguh lucu, bahkan Reynan hanya bisa mematung tak bisa berbicara.
"Oma, om na pake dastel oma," ujar Reyna. dengan polosnya.
"Syut! bocil! gue ini pake daster gue sendiri!!!" Seru Galang dengan kesal.
"Om kan cama kayak Ley kayak papah juga, laki-laki kan? kok pakena dastel? dastel kan cuman buat pelempuan kan papah?" Seru Reynan dan meminta persetujuan dari Agler.
Agler bingung ingin berkata ya atau tidak, tak lama seorang wanita datang. Rupanya Galang juga mengundang Amelia, untuk mengetahui hasil tes DNA bersama.
"Hali selamat siang,"
Netra Amelia seketika menatap Agler yang juga tengah menatapnya, Amelia pikir itu adalah Galang karena dia belum menyadari keberadaan Galang yang sesungguhnya di sana.
"Kamu Amelia?" Tanya Tania.
"Iya tante," ujar Amelia.
Tania menyuruh Amelia duduk di sampingnya, Reynan pun tak ambil pusing dan melanjutkan memakan es krimnya.
"Agler nya mana yah tante?" Tanya Amelia.
"Itu Agler." Unjuk Tania pada Agler yang sedang mengaduk kopinya.
"Ha? Agler, Galang kemana?" Bingung Amelia.
Keduanya sontak menoleh pada Galang yang kini sedang cemberut, karena semuanya menoleh Amelia pun ikut menoleh.
"ASTAGAAAA!!!"
Amelia menutup mulutnya, dia tertawa terpingkal-pingkal melihat adiknya yang salah kostum.
"Gak usah ngetawain!!!" Kesal Galang.
"Ya habisnya, masa anak orang Kaya gak punya baju akhirnya nyolong jemuran mak-mak!! hahahaha!!!"
"Jangan sembarangan lo! mending gue pinjem dari pada nyolong!" Seru Galang tak terima.
Tawa Amelia terhenti, dia menatap Galang dengan wajah terkejutnya. Galang sudah menerima sinyal yang tidak baik, dirinya memiliki firasat yang tidak enak.
"JANGAN BILANG KAMU SIMPENAN TANTE-TANTE?!!! terus kamu ambil bajunya, terus kamu pake terus ...."
Galang menutup mulut kakaknya itu, semua orang kembali melihat ke arah mereka dengan tatapan bingung.
"Enak aja gue simpenan! tante-tante lagi! Ini baju gue minta dari pembantu kita, masih baru juga." Seru Galang sambil melepas bekapannya.
"Kamu mintanya gimana?" Tanya Amelia penasaran.
"Bi Ayu, saya minta daster baru. Buat acara kostum nikahan temen, gitu." Jujur Galang.
"HAHAHAHA!!! COCOK KAMU JADI MODEL BAJU DASTER!!! mukanya juga cocok!!!" Seru Amelia.
Seketika tawanya terhenti saat melihat Reynan yang menatapnya dengan tajam.
"Om cih! mukana pacalan ikut-ikut papah Ley! jadi di camain kan!!!" Sewot Reynan.
_______
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, HADIAH DAN VOTENYA (besok senin kawan🤭🤭🤭)
Terima kasih atas dukungan kalian semua🥰🥰🥰