
Emily datang ke sekolah setelah di kabari oleh wali.kelas putranya jika Revin dan Reynan berkelahi, dengan perut besarnya dia berjalan tergesa-gesa ke ruang guru.
Beberapa bodyguard yang memang Gilbert khususkan untuk menjaga istrinya pun meringis melihat majikannya yang berjalan cepat dengan membawa perut sebesar itu.
Tok!
Tok!
Emily mengetuk pintu sebelum ia membukanya, setelah membuka pintu tersebut. Netranya melihat putranya yang sedang menunduk sambil menerima nasehat dari kepala sekolah.
"Maaf, saya wali dari Revin dan Reynan," ujar Emily dengan anggun.
Tatapan Emily mengarah pada seorang wanita modis yang menatapnya dengan angkuh, dia kenal wanita itu. Wanita yang sering kali berusaha mendekati suaminya beberapa waktu belakangan ini.
"Sayang sekali tuan Gilbert mendapatkan istri yang tak becus mendidik anak!" Ketusnya.
Emily mengacuhkannya, dia mendekati putranya dan juga Reynan.
"Lev nda calah buna, dia yang calah!" Bela Reynan.
"Kamu yang salah cadel!!" Seru anak perempuan itu.
"DACAL OMPONG!" Seru Revin tak terima, bagaimana pun juga dia sama seperti Reynan. Cadel.
"Sudah-sudah! baru saja ibu tegur kalian! bu Emily, silahkan duduk!"
Emily mengambil duduk di samping wanita itu, dia sedikit risih karena wanita di sebelahnya terus menatapnya dengan tatapan merendahkan.
"Gendut, tuan Gilbert pasti udah gak suka sama dia." Batin wanita itu.
"Maaf bu Revin, bu Arin. Ini memang masalah anak-anak, tetapi alangkah baiknya jika kita membimbing mereka ke arah yang lebih baik. Revin hampir mencelakai Arin, dan Reynan telah mendorong Farid sampai dia jatuh. KArena saya tidak bisa memanggil papah Reynan, jadi saya meminta anda untuk mewakilkan."
Emily tersenyum tipis, dia mengelus kepala Revin. Kini bocah itu berdiri di sampingnya sambil bergelendot manja pada sang buna.
"Boleh saya bertanya pada anak saya tentang alasan mengapa dia sampai hampir mencelakai temannya bu?" Pinta Emily.
"Boleh bu, silahkan." Sahut Kepala sekolah.
"Terima kasih," ujar Emily.
Emily menatap putranya, begitu pun Revin yang menatap balik sang bunda. Emily paham sikap putranya yang mudah sekali meledak, dan putranya tidak akan seperti itu jika tidak ada yang memancing emosinya.
"Katakan pada bunda, kenapa Revin kasar dengan teman Rev?" Tanya Emily sambil membingkai wajah putranya.
"Ibuna gatel! maca bilang mau lebut daddy dali buna! dacal nda laku!"
"HE!!! GAK SOPAN YAH KAMU!!" Seru Bu Arin sambil berdiri dari duduknya.
Emily mengangguk mengerti, dia ikut berdiri dengan susah payah dengan perutnya yang besar. Netranya menatap tajam Bu Arin yang menatap putranya.
"Apa yang Arin katakan pada Revin?" Tanya Emily tanpa menatap putranya.
"Dia bilang, daddy bakalan jadi daddy dia. Dia mau daddy Lev, nanti kita jadi codala. Hiks ... Lev nda mau bunaaaa ... Lev nda mauuu hiks ...."
Emily menatap tajam wanita di hadapannya, sedangkan wanita itu bukannya malu malah semakin angkuh.
"Itu hanya perkataan anak kecil, gitu aja di bawa hati. Lagian, dengan tubuhmu yang gemuk ini apa suamimu masih suka?"
Emily masih mencoba sabar, berat tubuhnya memang naik drastis selama hamil. Sering sekali dia lapar, kerjaannya hanya tidur makan saja. Itu karena Gilbert melarangnya melakukan aktifitas yang berat, karena mengingat jika dia telah hamil kembar 4.
"Mungkin bagi anda hanya sekedar perkataan anak kecil, tapi bagi saya itu merupakan trauma putra saya! apa anda pikir mudah menyembuhkan psikis putra saya yang terluka?"
"Ck, putramu itu yang terlalu manja! anak laki-laki kok manja! di ajarin anaknya biar bisa kontrol emosinya, gak cuman bisa marah aja kerjanya!."
Emily sangat geram, dia sudah berusaha bersabar Namun, hormon kehamilannya membuat emosinya tak terkontrol.
PLAK!!
"TUTUP MULUTMU SEBELUM AKU JAHIT!" Sentak Emily.
Wajah bu Arin tertoleh ke samping, pukulan Emily benar-benar sangat kencang. Hingga menimbulkan suara tamparan yang sangat keras.
"Maaf bu Revin, jangan pertontonkan kekerasan pada anak seusia mereka." Tegur kepala sekolah.
Emily menatap kepala sekolah itu dengan tajam, jika pukulannya adalah kekerasan. Bagaimana dengan perkataan menyakitkan wanita itu.
"Anda pikir psikologis anak saya adalah mainan? APA KALIAN PIKIR PERKATAAN YANG BOCAH ITU KATAKAN HANYA BUALAN SEMATA?"
"Bagaimana bisa anak seumuran dia mengatakan hal yang biasa pelakor katakan saat merebut suami orang! bagaimana bisa!!" Sentak Emily membuat kepala sekolah itu bungkam.
Reynan dan Revin sama-sama memeluk kaki Emily, mereka menangis ketakutan. Terlebih Revin yang sangat takut dengan marah Emily, karena dirinya tak pernah mendengar sang bunda meninggikan suara seperti itu sebelumnya.
"Kalau kamu kau ambil suami ku, AMBIL SAJA! itu pun kalau suamiku mau dengan ulat bulu kurang belaian seperti mu!" Ketus Emily.
"KAU!!!"
Bu Arin bersiap memukul Emily, tetapi suara pintu yang terbuka dengan keras membuat mereka semua terkejut.
BRAKK!!!
Tangan bu Arin melayang, semua orang pun yang di sana menatap ke arah siapa yang membuka pintu dengan kasar.
"DADDY!!" Seru Revin dengan air mata yang terus mengalir.
"Daddy." Ujar Arin sambil merentangkan tangannya.
Mendengar ucapan Arin, dengan penuh kekesalan Revin mendorong kepala anak itu sebelum mendekati sang daddy.
Revin berlari menerjang Gilbert, tubuhnya pun melayang beralih pada gendongan sang daddy.
"Turunkan tanganmu, jika sedikit saja kau menyakiti istriku ... karirmu akan hancur saat ini juga!" Bentak Gilbert dengan sorot kata yang tajam.
"Bo-bos." Lirih Bu Arin sambil menarik kembali tangannya.
Reynan menatap pria yang berdiri di samping Gilbert, pria itu yang tak lain adalah Agler. Dia tersenyum dan membuka tangannya, dengan tergesa-gesa Reynan menghampiri sang papah.
"Are you okay?" Tanya Agler pada putranya.
"Hum." Sahut Reynan.
Gilbert menyerahkan Revin pada Asisten Kai, dia berjalan menghampiri istrinya dan menenangkannya.
"Duduk sayang, kasihan dedeknya." Bisik Gilbert dengan penuh kelembutan sambil mengusap pinggang dan perut wanita kesayangannya.
Emily menurut, kini Gilbert saling bertatapan dengan kepala sekolah yang menatapnya dengan penuh ketegangan.
"Bu Yuli, perkataan anak karyawan saya membuat trauma putra saya kembali. Saya akui, putra saya belum pintar mengontrol emosinya. Tapi itu semua karena traumanya. Saya dan istri saya pernah berpisah saat Revin masih di dalam kandungan, kami bertemu kembali saat putra saya berumur 3 setengah tahun. Apa anda pikir, mental seorang anak kecil kuat seperti orang dewasa? bahkan Reynan yang merupakan ponakan istri saya saja putra saya masih cemburu, apalagi dengan orang asing."
Kepala sekolah tampak terdiam, dia merasa bersalah. Ucapan Gilbert membuatnya khawatir jika pria itu akan menuntut sekolah. Mengingat, betapa berkuasanya Gilbert di kota itu.
"Saya sudah katakan tadi, jangan beritahu istri saya! tapi kenapa anda menelpon istri saya! apa anda tidak lihat jika Istri saya tengah hamil, bahkan untuk berjalan saja dia sudah ngos-ngosan seperti itu!"
"Maaf pak, kami hanya ingin Bu Arin dan Bu Revin saling berbicara dengan damai." Sesal Kepala sekolah.
Gilbert sungguh kesal, dia tak banyak bicara lagi. Langsung saja dia membantu istrinya untuk berdiri, dengan penuh kehati-hatian Gilbert merangkul pinggang istrinya.
"Mulai hari ini, saya akan pindahkan putra saya dari sekolah ini!" Tegas Gilbert dan berbalik pergi.
Salah seorang bodyguard Gilbert datang dengan kursi roda, Gilbert menyuruh istrinya duduk di kursi roda agar tidak lelah berjalan ke parkiran.
Emily menurut, dia duduk dengan hati-hati. Tak lupa Gilbert memegang tangan istrinya itu sebagai penyanggah.
"Pak ini bisa kita bicarakan baik-baik," ujar kepala sekolah dengan tatapan memelas. Sebab jika Gilbert menarik Revin dari sana, maka dana yang Gilbert berikan akan kembali di tarik juga.
Gilbert menghiraukannya, dia mendorong kursi roda istrinya keluar. Asisten Kai masih di sana, dia mengambil berkas yang bodyguard nya pegang dan memberikan nya pada Ibu Arin.
"Kau di pecat!"
"APA?!" Wajah pucat pasi itu membuat Revin menarik satu sudut bibirnya.