
BUGHH!!!"
"AAA!!!"
Hana dan Nyonya Samantha berteriak histeris saat Alfred melayangkan tinjuannya pada wajah tampan putranya.
BUGH!
BUGH!!
BUGHH!!
Alfred memukul Gilbert dengan terus-terusan membuat putranya tak ada celah untuk menghindar. Kini, Gilbert hanya pasrah menerima pukulan dari Alfred.
Emily memundurkan langkahnya, dia hanya menatap dengan tatapan terkejut dengan tangan yang menutup mulutnya.
"MAS!! BERHENTI MAS!!!" Panik Hana.
"Alfred apa yang kamu lakukan! dia putrammu!!" Histeris Nyonya Samantha.
Danzel hanya diam, dia menatap Gilbert dengan datar. Saat Emily di tampar tadi, Danzel sangat marah. Dia memang orang yang humoris, tapi tak pernah sedikitpun dia bermain tangan dengan wanita. Apalagi, dia membenci pria yang menyakiti fisik seorang wanita.
"Kamu gila mas?! Gilbert bisa tiada! berhenti mas!!"
"Lebih baik dia tiada dari pada membuat malu keluarga!!" Seru Alfred dengan dingin setelah dirinya menyudahi pukulan pada wajah putranya.
Tampak Gilbert tak berdaya, dirinya sudah lemas. Jika Alfred tak memegangi kerah bajunya, pastilah Gilbert sudah tumbang.
"Dia seorang pria! tugas pria melindungi wanita! bukan malah sebaliknya! dia telah menikahi Emily, itu artinya Emily adalah putriku! seorang ayah akan melakukan apapun demi putrinya!!" Bentak Alfred menatap tajam ke arah putranya yang berusaha membuka mata.
BRUK!!
Alfred melepas tangannya dari kerah Gilbert, pria itu menatap datar Gilbert yang terkapar begitu saja di lantai.
Hana segera menurunkan Revin, dia mendekati putranya yang tak berdaya itu dengan tangisan histeris.
"Gilbert!! mas! telpon ambulans! kita harus bawa dia ke rumah sakit!!" Sentak Hana.
Alfred bergeming, begitu pula dengan Danzel. Kedua pria iyu hanya menatap datar Gilbert yang kesakitan.
"Daddy hiks ... daddy ...." Revin menangis, dia melihat bagaimana Gilbert meliuk kesakitan.
Danzel mendekati keponakannya yang masih mengenakan handuk, dia membawanya ke gendongannya dan segera pergi ke kamar bocah itu.
"TELPON AMBULAN!!!" Teriak Hana panik saat melihat Gilbert yang sudah tak sadarkan diri.
Emily tersadar dari keterkejutannya, dia mengambil sebuah ponsel dari atas nakas dengan tangan yang bergetar. Belum saja dia menelpon, Alfred lebih dulu mengambil ponselnya dan melemparnya.
BRAK!!!!
Emily, Hana dan Nyonya Samantha menatap tak percaya pada Alfred. Mereka jelas tahu saat ini emosi Alfred tengah tidak stabil. Tapi Gilbert benar-benar butuh pertolongan.
"Tidak usah menolongnya! dia sudah menyakitimu! dia tidak pantas di sebut seorang pria karena telah menyakiti ibu dari anaknya!" Geram Alfred.
"Tapi dad, mas Gilbert ...,"
"Biarkan dia! kalau perlu tiada sekalian!!" Sela Alfred dengan sorot mata yang tajam.
"MASS!!" Sentak Hana dengan air mata yang berlinang.
Emily menghapus air matanya, dia mengambil ponsel suaminya dan mencoba untuk menyalakannya.
"Kenapa kau masih menolongnya! biarkan dia! saat dia menyakitimu, dirinya tak berpikir tentangmu. Untuk apa kau menyelamatkannya!" Seru Alfred.
"Dad, setidaknya demi Revin. Aku tidak ingin di umurnya yang belum menginjak lima tahun dia sudah menyandang status yatim. Aku tidak mau hiks ...,"
Alfred meraup wajahnya kasar, dia memanggil beberapa bodyguard untuk membantu membawa Gilbert ke tempat tidur.
Gilbert pun di pindah kan ke tempat tidur, tak lama dokter keluarga pun datang dan memeriksa keadaan Gilbert.
Selama dokter memeriksa, Emily dan yang lainnya berada di luar kamar.
"Ini semua gara-gara kamu!!" Unjuk Nyonya Samantha tepat di depan wajah Emily.
Emily menatap Nyonya Samantha dengan tatapan datar, dia sudah terlalu muak dengan drama yang Nyonya Samantha mainkan.
"Saat saya hamil Revin, belum sempat saya beritahukan pada suami saya tentang kehadirannya. Anda menyuruh saya pergi atau mengugurkan kandungan saya. Setelah saya kembali, anda menyulik anak saya dan berencana membunuhnya. Sebenarnya, anda manusia atau setan?"
"KAMUUU!!!"
Emily menempelkan telunjuknya di depan bibirnya, dia menatap Nyonya Samantha dengan tatapan tajam.
"Syuuttt ... jangan berteriak di depan wajahku! suatu saat nanti, di saat kebusukan anda terbongkar. Di saat itu, saya adalah orang pertama yang menertawakan anda. Ingat nyonya! sebaik apapun anda menyimpan bangkai, nantinya pasti akan terc1um juga! karma itu ada Nyonya!" Ucap Emily dengan nada rendah.
Alfred memperhatikan interaksi menantu dan ibunya dengan kening mengerut, dengan langkah lebar. Dia pun mendekati kedua wanita berbeda usia tersebut.
"Apa maksud nya Em? Eyang yang menyuruhmu pergi?" Tanya Alfred.
"Aku tidak yakin jika daddy akan percaya padaku, tapi aku berkata jujur. Wanita ini, yang telah membuatku pergi dari kehidupan Gilbert!" Jawab Emily dengan penuh tekanan.
Alfred menatap istrinya yang terlihat biasa saja, dari sini dia paham jika istrinya juga sudah mengetahuinya.
"Kamu juga tahu Han?" Tanya Alfred.
"Iya mas,"
Alfred mengepalkan tangannya, dia seperti orang yang b0d0h tidak tahu apapun mengenai hal ini.
"Bohong! dia berbohong! kamu tahu sendiri kan kalau saat itu mama sedang pergi ke luar negri!" Seru Nyonya Samantha.
Alfred terdiam, dia kembali mengingatnya. Nyonya Samantha memang sudah pergi dari beberapa hari lalu sebelum Gilbert kembali dengan kesedihan.
"Tidak mas! Saat itu mamah meng-cancel tiketnya! dia pergi menemui Emily untuk mengusirnya!!" Sela Hana yang sudah heram dengan keadaan.
Nyonya Samantha menatap tajam ke arah Hana, tetapi menantunya itu tak mengindahkan tatapannya dan malah berusaha menyakinkan sang suami.
"Kamu tahu?" Tanya Alfred.
"Ya mas! supir mansion yang mengatakannya sendiri padaku saat itu! dia tidak mengantar mamah bandara, melainkan ke hotel yang berada dekat dengan kontrakan Gilbert saat itu! dia memantau pergerakan Gilbert, dan saat Gilbert tidak ada barulah dia menemui Emily!"
Wajah Nyonya Samantha seketika menjadi panik, dia menatap putranya sambil melambaikan tangannya.
"Ti-tidak!! dia memfitnah mamah!!!"
"Anda masih menyangkalnya Nyonya? bahkan anda menulis surat palsu untuk suamiku agar dia membenciku!" Sentak Emily.
Nyonya Samantha kembali menatap tajam Emily, dia memegang lengan Emily dengan cengkraman yang kuat.
"Beraninya kamu memfitnahku!!!" Sentak Nyonya Samantha.
Alfred pusing dengan ketiga wanita itu dan mana yang harus dia percaya, pikirannya dan hatinya sangat bertolak belakang.
"Jangan sakiti Emily mah, jika memang mamah tidak merasa buat apa mamah marah?" Ujar Alfred sambil melepas cengkraman Nyonya Samantha dari tangan menantunya.
Emily mengusap tangannya, dia menyeringai menatap wanita tua itu yang tengah menekan amarahnya.
"Tuan!"
Mereka semua menoleh dan buru-buru mendekati dokter yang sudah selesai memeriksa keadaan Gilbert, terkecuali Alfred.
Alfred tak mendekati dokter itu, dia malah pergi entah kemana tapi yang jelas dirinya akan melakukan sesuatu.
"Bagaimana keadaan cucuku dok? apa harus di bawa ke rumah sakit?" Tanya Nyonya Samantha dengan tatapan khawatir.
"Saya sudah menelpon ambulan, dia mengalami patah tukang pada hidungnya akibat pukulan yang sangat keras. Kami harus melakukan cek lebih dalam lagi dengan peralatan yang berada di rumah sakit," ujar dokter itu.
Emily terdiam, netranya melirik ke arah Gilbert yang terbaring lemah di atas kasur. Ada rasa kasihan, tetapi dirinya merasa suaminya pantas mendapatkan amarah dari Alfred.
"Itu belum seberapa mas, aku memang terlihat lemah. Tapi ku gunakan kelemahanku untuk membalasmu berkali-kali lipat dari rasa sakit yang aku rasakan. Licik, tapi inilah aku. Tak perlu lelah membalas seperti yang kau lakukan terhadapku." Batin Emily menatap datarnya ke depan.
_________
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, HADIAH DAN VOTE NYA YAH🥰🥰
Terima kasih sudah memberikan dukungan untuk author😍😍😍.