
Sesuai yang di rencanakan, Emily berniat akan kembali ke rumah suaminya. Ta tega juga dia mendengar Revin yang selalu bertanya tentang keadaan Gilbert.
Mereka semua sedang berada di perjalanan, tak ada pengawal seperti saat bersama sang suami. Dengan Agler dan Tania, mereka bebas tanpa pengawalan.
"Buna, Lev kebelet." Cicit Revin.
Baru saja jalan, bocah itu lagi-lagi membuat semua orang menghela nafas. Akhirnya, Agler memutuskan untuk mampir sejenak di pom bensin.
Emily turun dari mobil, mengantar putranya itu ke kamar mandi. Saat akan memasuki toilet, Revin berhenti sembari menatap sebuah gambar di sana.
"Ini kamal mandi pelempuan buna," ujar Revin.
"Gak papa lah, Revin masih kecil. Kalau di tempat laki-laki, bunda nya yang gak bisa." Sahut Emily.
Emily menarik tangan putranya masuk, tetapi bocah itu tetap kekeuh tak ingin masuk karena merasa dirinya bukan perempuan.
"Lev malu bunaaa!!! itu pelempuan cemua, Lev laki-laki. Nanti di cangkana walia, Lev nda mau!!" Rengek Revin, sampai penjaga kamar mandi pun menatap bocah itu dengan menahan tawa.
"Adek gak papa masuk, sekalian sama ibunya." Ujar Penjaga tersebut sambil tersenyum.
"Tuh, kata pamannya gak papa!"
"Tapi Lev nda maaauuu!!! pokokna nda mau!!" Seru Revin sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Emily bingung dengan kemauan putranya, dia tak mungkin masuk ke toilet pria. Sedangkan putranya sudah merasa malu sejak dini, Emily bingung harus apa.
"Lev mau lima umulna, maca kamal mandina campul cama pelempuan. Nda mau!!"
"Enggak papa, Rev kan belum sunat." Bujuk Emily kembali.
Revin tetap tidak mau, Emily menatap toilet pria yang lumayan ramai. Malu jika dirinya masuk, mau bali ke mobil untuk memanggil Agler tapi sepertinya Revin sudah sangat kebelet.
"Biar sama gue aja sini,"
Sontak keduanya menoleh, mereka menatap sosok pria yang mengenakan kaos hitam yang di lapisi kemeja kotak-kotak.
"Agler? kok disini? terus tante sama Reynan sendirian di mobil?" Kaget Emily.
"Agler? mba, gue ini Gal ...,"
"BUNAAA!!! mau becel mau beceell!! dah di ujung tanduk inii!!!" Seru Revin sambil memegangi asetnya.
"Ayo sama om, om antar ke dalam!" Seri pria iti yang taj lain adalah Galang.
Tanpa berlama-lama, Revin menggandeng tangan Agler masuk. Dia sudah tak tahan inging buang air, sementara Emily masih bingung di tempat.
"Tadi Agler pakai kaos biru tua, kenapa udah ganti pakaian aja. Kapan gantinya?" Gumam Emily.
Tak lama Emily merasakan notifikasi dari ponselnya, dia melihatnya dan menatap pesan dari Agler. Emily pun membukanya, setelah membacanya netra Emily membulat sempurna dan menatap ke arah toilet pria dengan tatapan terkejut.
"Agler lagi isi bensin, lah terus yang bawa Revin siapa?!" Kaget Emily.
Emily langsung mendekati pintu, netranya melihat Galang yang dirinya sangka Agler berada di depan pintu salah satu kamar mandi. Karena penasaran, Emily mencoba menghubungi Agler.
Telpon itu tersambung, tetapi pria yang dirinya sangka Agler sama sekali tak memegang ponsel.
"Halo Em? ada apa? apa ada masalah? maaf, antrian bensin lama, kalau sudah selesai nyusul saja ke mobil," ujar Agler dari sana.
"I-ini kenapa ada dua Agler, aku yang salah lihat apa gimana? kok bisa ada dua?" Gumam Emily dengan wajah pucat pasi.
"Halo? Em? kamu masih disana?" Tanya Agler karena tak mendapat jawaban apapun dari Emily.
"I-iya nanti aku langsung ke mobil " Sahut Emily dan mematikan kan ponselnya.
Tak lama, Galang kembali sambil menggandeng Revin. Dia juga membayar uang toilet pada penjaga yang berada di dekat situ.
"Mba kenapa bengong begitu? kayak ngeliat setan aja." Cetus Galang.
Revin kini beralih menggandeng Emily, dia mengernyitkan keningnya saat merasakan tangan Emily yang dingin padahal cuaca sedang panas.
"Buna cakit? kok tanganna dingin?" Tanya Revin.
"Ehm bunda gak papa, yasudah. Kita kembali ke mobil," ujar Emily dengan sedikit linglung.
Revin mengangguk, dia menoleh pada Galang yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Om nda ikut? nanti Ley nyaliin loh!" Seru Revin.
Galang menghentikan lambaian tangannya, dia menatap kepergian Emily dan Revin dengan kebingungan yang melanda. Ada yang janggal dari wanita itu menurutnya, karena selalu memanggilnya Agler.
"Agler? siapa Agler, gue kan Galang? tuh cewek aneh banget deh!" Gumam Galang.
"Kamu di tungguin dari tadi juga!"
Gakang menoleh, dia mendapati sang papah yang menatapnya dengan kesal sambil berkacak pinggang.
"Pah, tadi udah selesai. Cuman pas mau balik ke mobil, aku ketemu sama istri Gilbert." Jelas Galang.
"Tapi yang aneh, dia manggil aku Agler. Tapi saat aku keluar dari kamar mandi, muka dia udah pucat. Kayak ketemu setan, ngeliat aku kayak takut gitu," ujar Galang dengan kebingungan.
Dirga terdiam, dirinya teringat dengan seseorang. Namun, berapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Hanya perasaan kamu saja, mungkin dia salah mengenali orang. Sudah ayo masuk mobil, Amelia sudah mengoceh sedari tadi," ujar Dirga dan menarik lengan putranya.
Namun, walau begitu Dirga berpikir tentang suatu hal. Takut dugaannya salah ataupun hanya sebuah salah paham.
"Galang dan Gilang adalah kembar identik, apakah mungkin .... tidak! jika benar Gilang, lalu dimana Camelia?"
Sementara itu, di mobil. Emily sedari tadi dian, Agler yang menyetir pun sedikit melirik kaca spion tengah dan melihat Emily yang terbengong.
"Ada apa? apa yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Agler.
"Ti-tidak, aku hanya lelah saja." Sahut Emily dengan memaksa senyumnya.
Agler mengangguk mengiyakan saja, dirinya kembali fokus pada jalan. Hingga di lampu merah, kedua bocah yang tadinya diam pun ribut.
"Gesel cebental!!" Seru Revin karena dia ingin membuka jendela mobil.
"Janan di buka! hilang palana nanti!!" Sewot Reynan.
"Nanti bica di cambung! buka dulu jendelana!!" Seru Rrvin.
Akhirnya Reynan kalah, Revin berhasil membuka jendela dan menatap kendaraan lain yang ikut terhenti di sebelah mobilnya.
Netranya melihat sosok anak kecil yang sedang naik odong-odong, dia menatapnya dengan raut wajah penasaran. Tetapi, anak itu malah melengos yang mana membuat Revin dan Reynan sontak membulatkan mata.
"HEEE!!! NDA COPAN YAH!! PELELOK PELELOK LEVIN!!! MAU DI COLOK MATANA HAH!!" Sewot Revin.
Emily dan Agler juga Tania langsung ketar-ketir, mereka berusaha membujuk Revin dan Reynan agar tak membuat ulah di saat lampu merah seperti ini.
"Revin!! masuk Rev!! nanti di tangkep polisi loh!" Ancam Emily.
"Dia na pelelok Levin buna, matana gini gini ke Levin." Adu Revin sambil memperaktekan apa yang dirinya dapat.
Sementara Reynan, dia menatap tajam anak itu. Sebelum akhirnya kata-kata mutiara Reyna kembali mereka dengar.
"INGUSNA MELEL ITU, JOLOK!!"
Agler menepuk keningnya, dia segera menarik Revin dan Reynan dan kembali menutup jendela. Lampu pun menjadi hijau, Agler kembali menjalan kan mobilnya.
"Jangan macam-macam, bunda turunin kalian disini mau?!"
"Nda mau!!!" Sentak keduanya
"Makanya jangan ribut, duduk yang anteng," ujar Emily.
Baru saja akan tenang, tiba-tiba kedua bocah itu menyalakan musik dengan volume yang kencang.
"CENANG NA DALAM HATI HEY!!"
"PUNYA ICTLI DUA!! HEY!!"
Emily dan Tania saling pandang, mereka menghela nafas pelan. Jika kedua bocah itu sudah kumpul, jangan harap mereka bisa tenang.
"Kok dua?" Tanya Revin lada Reynan.
"Iya dua, memangna belapa?" Bingung Reynan.
"Dua macih cedikit, empat aja. Ulangin laguna," ujar Revin dan mengajak Reynan untuk mengulangi lirik.
"CENANGNA DALAM HATI HEY!"
"PUNYA ICTLI LIMA! HEY!"
Revin menatap Reynan dengan kening mengerut, perasaan dia menyuruhnya empat. Kenapa lima?
"Kok lima? tadi Lev culuh empat loh?!" Seru Revin tak terima.
"Kan beli empat glatis catu," ujar Reynan.
______________
Triple up yah hari ini🤭🤭 lunas yah.
Oh ya, aku cuman ingetin bahwa semua karya author hanyalah cerita fiksi buatan. Bukan kenyataan! Jadi, jangan di tiru yah. Misal kabur dari rumah tanpa izin suami, itu gak boleh😁. Tapi ini novel sayang, semua hanyalah karangan😅😅.
Hanya hiburan semata🥰🥰🥰.
Author dari dulu pengen buat cerita yang islami, tapi author takut😭😭😭. Kalian sadar gak sih kalau semua cerita author jarang banget malah hampir gak ada penyebutan kata tuhan? aku tuh takut bawa bawa kata tuhan dalam cerita fiksi yang penuh kebohongan.
Tapi, aku seneng baca cerita islami😭😭😭 gimana dong???
Makanya selama ini aku buat cerita hanya sekedar hiburan aja, aku dari awal sudah bilang di deskripsi ini hanyalah karangan. Jangan ditiru😭😭