
Masyarakat gempar saat melihat berita di culiknya sosok bocah berumur 4 tahun yang merupakan putra dari Gilbert Ray Greyson. Banyak yang menerka-nerka bagaimana bisa Gilbert sudah memiliki anak padahal tak ada satu pun berita pemberitahuan tentang pernikahan nya.
Banyak yang berkomentar jika Gilbert memiliki wanita gelap yang melahirkan putranya, dan ada juga yang mengatakan bahwa Gilbert mengadopsi seorang anak.
Para media yang mengetahui jika Gilbert menyebarkan anak buahnya untuk mencari Revin membuat mereka harus mendapatkan berita bagus.
Rumah Gilbert sudah ramai di penuhi oleh wartawan dan juga para polisi, beberapa bodyguard pun turut membantu menghalangi wartawan yang hendak menerobos masuk menemui Gilbert.
"Bagaimana bisa mereka tahu?!" Seru Gilbert, saat ini pria itu tengah duduk di tepi kasur sambil menatap Emily yang pingsan.
Wanita yang merupakan istri Gilbert itu pingsan saat Revin menelponnya dan berkata jika para penculik meminta uang tebusan sebesar 10 M.
"Tuan, tuan Alfred memanggil para polisi. Laporan anda masuk ke dalam sebuah berita, tentu saja mereka tahu," ujar Asisten Kai.
Gilbert melirik istrinya, kemudian dia beralih melihat ponselnya. Kini, dia sedang menunggu konfirmasi dari pihak penculik kapan mereka akan bertemu untuk menukar Revin dengan uang yang telah mereka siapkan.
"Uang 10 m sudah saya siapkan, kapan kita akan berangkat tuan?" Tanya Asisten Kai.
"Belum ada pesan apapun," ujar Gilbert dengan risau.
"Tapi tuan, sepertinya yang perlu kita khawatirkan bukan tuan kecil. Tapi penculiknya,"
Gilbert mendongak, dia menatap Asisten Kai dengan kening mengerut.
"Apa maksudmu? yang penting adalah putraku, biarkan para orang tua penculik yang mengkhawatirkan mereka, kenapa harus aku? aku bukan orang tua penculik! yang benar saja!" Kesal Gilbert.
Asisten Kai menepuk keningnya, berbicara dengan bos nya selalu berakhir mengenaskan.
"Alfred apa sudah ada informasi tentang Revin?" Tanya Hana yang masuk ke dalam kamar Gilbert dengan raut wajah panik.
Dia segera pulang dari butik saat mendengar kabar bahwa cucu kesayangannya telah di culik. Lantas, dia pun segera menemui Gilbert untuk menanyakan informasi.
"Para bodyguard gak berhasil mengejar mobil itu, dan penculiknya baru saja menelpon meminta uang tebusan sebesar 10 M." ujar Gilbert dengan menatap sendu ibunya.
Hana menutup mulutnya, dia menarik nafas dalam dan perlahan mengeluarkannya.
"Berikan! berikan pada mereka, asal Revin di kembalikan pada kita!" Sahut Alfred yang baru saja menyusul istrinya.
Bagi Alfred, uang bukan masalah. Yang terpenting keselamatan cucunya, Revin merupakan cucu sekaligus pewaris. mAsalah uang, hanyalah masalah kecil asalkan cucunya selamat.
"Aku sudah menyiapkan uangnya, hanya saja penculiknya belum mengabarkan hal apapun. Kami sudah melacak nomornya, tapi kami tidak menemukan apapun." ujar Gilbert dengan bingung.
Gilbert sudah berusaha melacaknya dengan bantuan IT, namun sepertinya penculik itu merusak ponsel sebelum mereka berhasil melacaknya.
Sementara itu di posisi Revin, kini dia di turunkan di depan gerbang begitu saja oleh ke empat penculik itu.
Wajah ke empatnya penuh dengan lebam, bahkan ada yang bibirnya sampai membengkak.
"Pergilah! kami masih sayang kewarasan kami," ujar salah satu dari mereka.
Revin menatap mereka dengan kening mengerut. Tak mengerti mengapa penculik itu memasang wajah memelas padanya.
"Om ini gimana cih! kan uang na belum di kacih, kok udah balikin Lev aja! nanti dulu, tunggu daddy Lev kilim uangna," ujar Revin menahan mereka untuk pergi.
"Gue gak butuh duit itu! sono lo pergi! bisa gila gue lama-lama!!" Seru ketua dari mereka.
Pinti mobil tertutup dan melaju kencang meninggalkan Revin yang masih kebingungan dengan mereka semua.
"Calahna Lev dimana? tadi Lev cuma macukin guguk lial doang. Kan guguk na yang gigit meleka, bukan Lev. Cehalusna gugukna yang di buang, kok Lev yang di buang cih." Gumam Revin sambil menggaruk kepalanya.
Revin membalikkan badannya, dia menatap heran semua orang yang berusaha masuk ke rumahnya sambil membawa kamera.
"Kok lame yah? ada acala apa? Lev di culik kok daddy adain acala cih? tega cekali." Gumam Revin.
Kaki kecilnya berjalan melangkah ke arah kumpulan itu, dia berusaha masuk ke kumpulan itu walau harus menyempil di antara mereka.
"GESEL DULU KECITU! GESEL DULU! CEMPIITT!! CEMPIITT!!" Seru Revin.
Mereka belum sadar dengan keberadaan Revin, akhirnya Revin berhasil sampai di paling depan. Saat ia akan kembali melangkah, salah satu polisi menahannya.
"Adek mau kemana? orang tuanya mana, kok bisa adek disini. Nanti kedorong-dorong bisa bahaya dek," ujar salah satu polisi.
"Emangna Lev calah lumah yah?" Gumam Revin.
"Penculikna calah tulunin Lev ini." Gumam Revin.
"Sebaiknya adek pulang yah, saya anter ke gerbang." Ujar polisi itu sambil membawa Revin ke gendongannya.
Polisi itu membawa Revin menuju gerbang, belum sampai terlihat sebuah motor berwarna merah masuk dan berhenti di depan mereka.
"Revin! katanya lo di culik! kok bisa disini!" Seru Danzel sambil membuka helmnya.
"Anda kenal anak ini?" Tanya polisi itu dengan raut wajah bingung.
"Kenal lah! ponakan saya yang hilang ini pak!" Seru Danzel.
Salah seorang wartawan melihat keberadaan Danzel, mereka segera berbalik dan berlari mendekati Danzel.
"Tuan! benarkah jika kakak anda sudah memiliki seorang putra? apakah tuan Gilbert memiliki wanita simpanan?!"
"Tuan jawab kami, apakah benar jika tuan Gilbert sudah memiliki anak?"
"Eeeehhh!!! waduh! saya gak tahu, tanya sama yang bersangkutan. Saya mau bawa ponakan saya masuk dulu," ujar Danzel dan turun dari motornya.
Danzel mengambil alih Revin, polisi dan bodyguard pun membantu membuka jalan untuk Danzel.
"Eh tadi apa katanya? ponakan?"
"Eh iya, mereka hanya dua bersaudara. Kalau anak itu ponakan tuan Danzel, itu artinya ...,"
"DIA YANG KITA TUNGGU!!!"
Wartawan itu pun berlari mengejar Danzel, tetapi sayang sekali pintu utama tertutup terlebih dahulu. Membuat mereka harus menelan kekecewaan.
Gilbert merasa heran saat mendengar suara wartawan yang cukup keras memanggil Danzel, dia pun melirik istrinya yang masih pingsan dan memutuskan untuk keluar.
Dia berdiri di pagar pembatas, melihat langsung lantai dasar. Netranya menyipit kala melihat Danzel yang sedang menggendong sosok yang ia cari.
"Revin." Gumam Gilbert.
"REVIN!!!" Seru Gilbert dengan semangat dan berlari menuruni tangga.
Revin menatap daddnya yang berlari turun, dia segera turun dari gendongan Danzel dan berlari menghampiri Gilbert.
"DADDYYY!!! EM KOMING!!!!" Seru Revin.
Gilbert berjongkok, Revin masuk ke dalam pelukannya. Gilbert tak kuasa menahan air matanya, sungguh senang dirinya bisa memeluk kembali putra kesayangannya.
"Kau kembali boy, kau kembali." Lirih Gilbert.
"Lev pulang bial daddy nda cali anak balu," ujar Revin membalas pelukan Gilbert.
Danzek tersenyum, melihat bagaimana panik nya sang kaka mencari keberadaan Revin. Masalah ini membuat Danzel sadar jika sosok dingin dan kaku akan berubah menjadi rapuh saat orang yang di cintanya menghilang.
Gilbert melepas pelukannya, menangkup pipi gembul putranya yang terlihat cemong. Dia usap dengan sayang pipi Revin, tangannya menggenggam kedua tangan Revin dan menciumi nya.
"Daddy gak tahu harus apa kalau sampai mereka menyakiti mu, daddy gak kuat melihat kamu di sakitin." Lirih Gilbert.
"Om na baik daddy, Lev nda di pukul. Malah Lev di antel pulang, baikkan daddy," ujar Revin dengan tersenyum senang.
Senyum Gilbert luntur seketika, tatapannya menyorot Revin dengan bingung.
"Di antar pulang?" Ragu Gilbert.
Revin mengangguk semangat, Gilbert pun menatap Danzel yang mengangkat bahunya tanda tak tahu.
"Kakak udah kasih uangnya?" Tanya Danzel.
"Belum, kami lagi nunggu aba-aba dari mereka. Tapi, kenapa Revin sudah kembali?" Bingung Gilbert.
"Lumayan lah, uang 10 M bisa bangun rumah. Ngapain uangnya di pake buat nebus Revin, kemahalan. Cari ajak baru aja kak," ujar Danzel yang lagi-lagi memancing kekesalan Revin.
Tatapan bocah itu sungguh tajam menatap sang paman yang balik menatapnya santai.
"Ngapain daddy kelja kalau bukan buat Lev huh? daddy kelja buat Lev, belalti uang daddy uang na Lev. Citu cilik nda punya uang kan!!!" Sewot Revin yang merasa tak terima dengan perkataan Danzel.