
Hana sedang bersantai di halaman rumahnya sambil menemani Revin yang sedang main berlarian. Sambil menyuapi anak itu, Hana memperhatikan bocah gembil itu.
"Jangan terus lari, nanti muntah!" Peringat Hana.
"Nda oma, A lagi!!" Seru Revin membuka mulutnya.
Revin kembali berlari, dia mengejar seekor kupu-kupu yang asik terbang ke sana dan kemari.
Seorang wanita lewat di depan rumah Hana, wanita itu menyapa Hana sambil tersenyum.
"Eh bu Hana, cucunya yah?" ujar tetangga Hana.
"Iya nih bu, cucu pertama," ujar Hana dengan antusias dia bisa memerkan cucu pada tetangga yang sering bertanya kapan dirinya akan memiliki cucu.
"Wah, ganteng yah anaknya. Mirip bapaknya lagi," ujar ibu tersebut.
"Kalo milip bapak tante, adekna tante dong?"
Ibu tersebut menatap Revin, tingkah anak itu yang menggemaskan membuat tetangga Hana ini mencubit pipi tembamnya.
"Kamu lucu sekali, jadi cucu tante mau gak?" Serunya, dia sedikit senang karena Revin memanggilnya tante padahal umurnya tak jauh beda dengan Hana.
"Nda mau, nanti opa ictlina ada dua dong? catu aja, nda ucah banak-banak nanti uangna cepet selet!"
"Hahahaha, kamu ini. Hana, cucumu pintar sekali. AKu lihat dia saat berita waktu itu, aku ingin sekali bertemu dengannya. Eh, akhrinya ketemu juga!" Serunya.
Tak lama tetangga Hana pamit untuk pulang, Revin pun selesai bermain dan kini sedang duduk di anakan tangga sambil meminum airnya. Sedangkan Hana pamit ke kamar mandi karena dia sudah tak tahan ingin buang air
"KWEK! KWEK! KWEK!!"
Revin seketika terdiam mematung, tatapannya mengarah pada pagar yang terbuka lebar. Netranya membulat ketika melihat segeombolan bebek masuk ke halaman rumah Hana.
"HUAAAA!!! ADA COANG!! ADA COANG!!!"
Revin melempar gelas yang ia minum, dia segera bangkit tetapi karena gugup dia pun terjatuh. Tubuhnya di kerumuni oleh segerombolan bebek yang salah arah, Revin hanya bisa memejamkan matanya meringkuk takut.
"HUAAAA DADDDY!!! DADDY!!"
Gilbert yang sedang sarapan di ruang makan pun seketika berlari saat mendengar suara putranya berteriak sambil menangis. Dia meninggalkan makanannya begitu saja dan keluar menemui putranya.
"ASTAGA REVIINN!!!" Pekik Gilbert melihat putranya yang di kelilingi oleh bebek.
Gilbert segera mengusir bebek itu menggunakan kakinya, dia juga tak suka dengan bebek. Segera dia ambil putranya dan membawanya ke gendongannya, Revin memeluk erat leher sang daddy sambil menangis terisak-isak.
"Hus!! hus!!" Gilbert berusaha mengusir mereka keluar, tak lama terlihat seorang pria paruh baya yang masuk sambil membawa tongkat panjang.
"Maaf den, maaf. Bebeknya salah arah," ujar bapak tersebut.
"Iya pak, bawa semua bebeknya! anak saya ketakutan!!" Seru Gilbert.
Setelah bebek itu pergi, Gilbert membawa Revin masuk. Dia berpapasan dengan Hana dan Emily yang memasang raut wajah panik.
"Ada apa mas?" Tanya Emily.
"Tadi ada bebek nyasar," ujar Gilbert.
"Aduh, maaf yah sayang. Oma tadi ke kamar mandi jadi gak jagain kamu." Sesal Hana.
Gilbert menyerahkan Revin pada Emily, putranya itu bau bebek. Sehingga Emily memutuskan untuk membawanya mandi dengan di ikuti oleh Hana dan Gilbert.
"Maaf yah Em." Hana benar-benar menyesal, doa tak berpikir jika bebek akan masuk. Maklum saja, perumahannya dekat dengan peternak bebek.
"Gak papa mom, Revin emang takut sama bebek dan sejenisnya. Ayam juga dia takut, dia bahkan sampai demam berhari-hari saat ayam mematuk kakinya." Canda Emily mencairkan suasana.
Emily pun memandikan Revin, setelahnya bocah itu kembali tampan dengan memakai baju yang Gilbert belikan dengan jasa online.
"Tadi hiks .. coang na mau patuk Lev, telus bibilna Lev gigit malah lidahna Lev yang di patuk hiks ...,"
Mendengar itu, Gilbert mendekat. Dia duduk di tepi kasur dan memegang kedua pipi putranya.
"Buka mulutnya." Titah Gilbert.
"Gak, gak papa," ujar Gilbert.
Emily yang tadinya keluar pun kembali dengan membawa sebotol susu, dia memberikan Revin susu tersebut dan langsung di terima baik oleh putranya.
"Jadi Revin takut sama bebek?" Tanya Gilbert melirik istrinya yang kini membereskan peralatan mandi Revin.
"Iya, dulu gak takut. Cuman semenjak dia di patuk ayam, jadinya semua jenis hewan mematuk dia takut kecuali burung. Soang, bebek, angsa apalagi ayam dia pasti akan menangis sebelum mereka mendekat." Terang Emily.
Gilbert ingin sekali tertawa, hanya saja dia tak ingin putranya kembali menangis. Biarkan putranya istirahat dulu, biar dia lebih tenang.
"Oh ya Em, dua hari lagi Revin ulang tahun. Aku ingin mengundang kolega bisnis ku untuk acara syukuran sederhana, sekaligus memperkenalkan kamu pada publik. Acara akan di adakan sehari setelah umur Revin beranjak 5 tahun, bagaimana?" Saran Gilbert.
"Acara syukuran?" Bingung Emily.
"Iya, syukuran atas kembalinya kamu dan putra kita. Di umurnya yang ke lima tahun, kita akan membuka lembaran baru seperti apa yang kita impikan. Aku ingin, selama waktu 5 tahun yang hilang akan ku gantikan di waktu berikutnya yang lebih indah. Akan ku buat putra kita selalu bahagia," ucap Gilbert dengan tatapan ke arah putranya yang kini sudah tertidur.
***
Alfred sungguh kesal dengan putranya, Gilbert tak ada memberitahunya akan kemana membawa cucu serta menantunya. Alfred sudah merindukan cucu cerdiknya itu.
Suara deru mesin mobil terdengar, Alfred segera keluar dan melihat mobil Gilbert yang berhenti di depan rumah.
"Pulang juga akhirnya!" Geram Alfred.
Saat Alfred akan melangkah dengan penuh emosional, langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang turun dari mobil.
"Ha-hana?" Kaget Alfred.
Hana ikut pulang dengan Gilbert, Emily berhasil meluluhkan hati suaminya agar kembali menerima Hana. Walau Gilbert belun sepenuhnya menerima, tetapi melihat Revin yang sangat menyayangi Hana membuatnya tak tega.
Gilbert turun dengan menggendong Revin, di kening anak itu sudah ada plester demam. Yah, jangan katakan lagi. Sidah pasti anak itu akan demam karena ketakutannya terhadap bebek.
"Dasar anak nakal! kemana saja kamu membawa cucuku hah!!" Seru Alfred mengalihkan pandangannya pada putranya yang berjalan ke arahnya.
"Loh, Revin kenapa? mukanya merah gitu?" Kaget Alfred melihat wajah sayu cucunya yang hanya merebahkan kepalanya di bahu kekar sang daddy.
"Tadi ada insiden sama bebek, di cium dia sama bebek," ujar Gilbert mencandai putranya.
"DADDY!!!" Seru Revin dengan suara seraknya.
Gilbert mengusap bahu putranya yang tengah kesal itu, dia lanjut melangkah masuk tanpa menghiraukan tatapan Alfred padanya.
"Mom, dad. Em, ke kamar dulu." Pamit Emily dan meninggalkan suami istri yang tengah berada di situasi canggung itu.
Hana memilin tangannya, sementara Alfred. Pria itu sama sekali tak menatap istrinya, justru dia tengah melihat lampu rumahnya.
"Maaf mas." Cicit Hana.
"Jika kamu gak suka aku disini, gak pala. Aku balik lagi aja ke rumah orang tuaku." Lirih Hana.
Hana berbalik dan akan segera pergi, tetapi ALfred menahan tangannya dan menariknya ke dalam pelukan pria itu.
Hana menangis, dia sangat merindukan suaminya. Begitu pula dengan Alfred, dia tahu Hana salah. Tapi, Hana hanyalah pion ibunya. Wanita itu tak sedikit pun berniat membunuh Lea, dia hanya wanita yang di manfaatkan oleh Nyonya Samantha. Pintu maaf selalu terbuka, ikhlas dan relakan.
"Maaf mas, semua salahku. Andai aku tidak pergi lantaran takut nasibku akan seperti Kak Lea, pasti dia masih ada di sini mendampingi kamu. Nyaliku tak sekuat kak Lea hiks ...,"
"Syuutt mas sudah memaafkanmu, mas tahu selama ini mamah selalu mengancam akan membuatmu sama seperti Lea. Mas tahu itu." Lirih Alfred.
Keduanya berpelukan, menyalurkan rasa rindu yang sudah menumpuk. Namun, suasana menjadi rusak lantaran Danzel yang datang sambil berteriak.
"HAYOO!!! CINTA BERSEMI KEMBALI NIH!!!"
______
JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN HADIAHNYA YAH, UNTUK HARI INI KITA DOUBLE UP OKE🥰🥰🥰🥰
Terima kasih atas doa kalian semua, maaf belum bisa bales satu satu🤧🤧🤧. Saat ini aku mencoba untuk ikhlas, mudah-mudahan kalau rezeki tidak akan kemana. Rezeki udah ada yang ngatur, jadi author sekarang sudah ikhlasin semuanya☺.
Untuk saat ini, fokus author buat tamatin cerita ini dulu🤗🤗