
Marcel melihat televisi dengan raut wajah yang serius, bahkan dia tak menghiraukan suster yang tengah menyuapinya makan malam saat ini.
"Tuan, anda harus makan. Jika tidak, tuan Dirga akan marah." Bujuk suster itu, tetapi Marcel tetap diam dengan netra yang tak lepas dari televisi.
Suster tersebut menghela nafas pelan, dia ikut menatap televisi yang kini sedang menayangkan acara di rumah Gilbert.
"Pria itu tuan Gilbert Rey Greyson, kekayaannya 11 12 dengan tuan Dirga. Dia baru menunjukkan istri dan putranya, mereka romantis sekali bukan." Gumam Suster itu.
Kini, perhatian Marcel teralihkan. Netranya menatap suster tersebut dengan kening mengerut.
"Dia istri Gilbert? Gilbert putra Alfred? Alfred Greyson?" Tanya Marcel.
"Ya." Sahut suster itu kembali menatap Marcel.
"Dimana orang tua dari istri Gilbert? kenapa mereka tidak di sorot kamera?" Tanya Marcel.
"Kalau itu saya tidak tahu, tapi kabarnya istri tuan Gilbert dari kalangan kelas bawah. Tidak ada marga dan dia hidup di desa." Jawab suster.
Marcel kembali menatap layar, bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu. Netra berkaca-kaca, dia kembali teringat seseorang.
"Harumi." Lirih Marcel.
KREETT!!!!
"TUAN!
Tiba-tiba saja Marcel turun dari brankar hingga menimbulkan siara decitan cukup keras akibat Marcel yang belum bisa kuat berdiri membuatnya hampir terjatuh.
Suster itu segera menaruh nampan yang di pegangnya dan berjalan cepat mendekati Marcel. Dia membantu Marcel bangun, tetapi Marcel menepis tangan suster itu dan berusaha untuk berdiri.
"Lepaskan! aku akan menemui harumi! aku akan menemuinya!" Seru Marcel.
"Tuan, siapa Harumi? biar saya minta pada tuan Dirga untuk memanggilnya." Panik suster itu.
"Dia Harumi! dia harumi!"
Suster itu kewalahan, dia memencet tombol di samping brankar. Tak lama, datanglah dua orang suster dan membantu temannya itu untuk menenangkan Marcel.
Karena belum tenang juga, akhirnya mereka memutuskan untuk menyuntiknya obat penenang. Sebab, Marcel begitu berontak dan tidak mau untuk di kendalikan.
"Telfon tuan Dirga!" Titah salah satu dari mereka.
Akhirnya, suster yang awal bersama Marcel pun menelpon Dirga dan memberitahukan tentang kondisi Marcel.
Sedangkan Dirga yang di beritahukan oleh suster itu tentang kondisi Marcel pun terkejut, dia yang saat ini masih berada di acara Gilbert pun memutuskan untuk ke rumah sakit.
"Kamu kenapa mas?" Tanya Tania yang melihat Dirga panik setelah mendapat kan telpon.
"AKu harus pergi, kamu pulang dengan Galang yah. Maaf, mas buru-buru." Ujar Dirga dan langsung pergi begitu saja.
Tania tidak kesal, dia hanya merasa heran. Suaminya terlihat sangat khawatir, ada apa sebenarnya?
"Papah kemana mah?" Tanya Amelia yang baru saja kembali sambil membawa berbagai macam makanan.
Amelia tidak lagi memanggil tante, setelah Dirga menikah dengan Tania. Amelia dan Galang memutuskan untuk memanggil Tania mamah, sama seperti Agler. Begitu pun dengan Agler yang memanggil Dirga dengan sebutan papah.
"Gak tahu, tadi dapat telpon terus pergi gitu aja." Jawab Tania.
"Loh, mamah gak ikut? nanti kalau papah ketemu sama cewek gimana?" Hasut Amelia yang kini sudah kembali duduk di sebelah Tania.
"Kalau papahmu ada cewek, gak mungkin dia menduda puluhan tahun Mel." Kekeh Tania.
Amelia ikut terkekeh, benar juga kata ibu sambungnya itu. Sudah dua puluh tahun lebih DIrga menduda, jika dia memiliki seorang wanita yang dia cintai pasti pria itu sudah menikahinya.
Sedangkan Agler, kini sedang mengobrol dengan Gilbert. Keduanya sama-sama memangku seorang bocah yang tengah menikmati kue cokelat.
"Bulungna macih cakit Lev?" Tanya Reynan penasaran.
"Nda, kan pake pelicai makana nda cakit." JAwab Revin dengan mulut yang masih penuh dengan kue.
Agler melirik sejenak jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sudah sangat larut, dan besok putranya akan masuk sekolah.
"Yasudah, kelihatannya juga Revin sudah mengantuk." Sahut Gilbert.
Agler pun pulang dan mengajak Tania dan juga Amelia pulang. Sedangkan Galang, pria itu masih ingin tetap disini sambil mengobrol dengan Alfred.
"Ley cekolah, kok Lev nda cih?" Protes Revin.
Mendengar perkataan putranya, tentu saja Gilbert menjelaskan mengapa dirinya tidak menyekolahkan putranya sejak dini.
"Revin gak usah sekolah, sekolahnya nanti aja kalau Revin sudah umur 7 tahun yah." Sahut Gilbert sambil mengelus bahu putranya.
"Iiihhh nda mau. Lev mau cekolah duga." Rengek Revin.
Gilbert pikir Revin tidak suka sekolah, lagi pula dia tidak ingin putranya harus terpaksa belajar padahal di umurnya yang masih 5 tahun ini dia lebih senang bermain.
"Nanti aja, Revin umur 7 tahun daddy masukin SD yah. Sekarang belajarnya di rumah aja, sama daddy." Bujuk Gilbert.
"Nda mau daddy, Lev mau cekolah pokokna. Mau cekolah hiks ...." Revin sudah mulai rewel, dia sudah mengantuk. Sehingga Gilbert pun memutuskan membawa Revin ke kamar. Beruntung, para tamu sudah pulang sejak tadi.
CKLEK!
Gilbert membuka pintu kamarnya, Emily yang sedang merebahkan dirinya do ranjang pun terkejut mendengar suara tangisan putranya.
"Revin rewel yah mas? udah ngantuk pasti dia, bawa sini mas." Ujar Emily sambil mendudukkan dirinya.
Gilbert berjalan mendekat setelah kembali menutup pintu, dia meletakkan putranya di samping sang istri.
"Tadi mas sudah minta maid untuk buatkan Revin susu, mungkin sebentar lagi datang," ujar Gilbert.
Emily memeluk putranya, Revin menangis di pelukan sang ibu.
"Ley cekolah aja boleh, Lev maca nda boleh. Cekolah doang nda boleh, pokokna Lev mau cekolah!!!"
Permintaan Revin, membuat Emily menatap suaminya. Gilbert yang merasa di tatap pun ikut menatap balik istrinya.
"Hemat biaya yang." Jawab Gilbert sambil menggaruk kepalanya.
***
Cklek!
Dirga menghela nafasnya ketika melihat Marcel yang sedang tidur di atas brankar, perlahan dia melangkah masuk mendekati brankar sang kakak.
"Tuan, maaf kami harus menyuntiknya dengan obat penenang. Dia terus mengamuk ingin pergi, kami takut melukainya sehingga memutuskan untuk menyuntiknya saja." Jujur suster itu.
"Ya, terima kasih. Itu lebih baik." Lirih Dirga.
"Maaf, apa keluarga anda ada yang bernama Harumi?"
Pertanyaan suster membuat Dirga seketika mematung, netranya menatap suster itu dengan tatapan yang terkejut.
"Anda tahu nama Harumi dari mana?" Tanya Dirga dengan syok.
"Tadi tuan Marcel terus memanggil Harumi setelah dia menonton televisi."
"Televisi?" Bingung Dirga.
"Iya, Tuan Gilbert mengadakan acara untuk memperkenalkan istri beserta putranya pada publik. Tapi, anehnya tuan Marcel terus menyebut Harumi saat melihat istri tuan Gilbert." Jelas suster itu.
Dirga benar-benar tak menyangka jika Marcel pun berpikir sama dengannya, pertama kali dia bertemu dengan Emily dirinya pun menyangka seperti itu. Garis wajah Emily dengan Harumi benar-benar mirip, dari segi senyum dan tertawa. Bahkan Marcel sampai merasakannya, padahal pria itu sudah koma dua puluh tahun lebih.
"Berarti bukan hanya aku yang menduga jika Emily mirip dengan Harumi, kak Marcel juga sama denganku. Apa mungkin ... Camelia itu Emily? dia bilang saat itu jika ...."
"Apa Gilbert sudah mencari tahu latar belakang istrinya?" Gumam Dirga dengan pikiran yang berkecamuk.
_______
Yey double up🥰🥰🥰 senangnya, jangan lupa like, kem, hadiah dan votenya yah😘😘😘
F