
"Lain kali jangan seperti tadi, itu tidak sopan! mengerti kan maksud bunda?!"
Sekeluar mereka dari toko es krim, Emily memberi Revin nasehat agar anak itu tak seperti tadi. Namun, tampaknya Revin hanya menganggap angin lalu ucapan sang bunda.
"Revin ...." Geram Emily.
"Ishh, buna ini. Nda liat Lev lagi makan? ngomongna kan bica nanti, bialin Lev pokus makan dulu." Kesal Revin menatap Es krimnya yang cepat mencair.
Reynan segera menyenggol lengan Revin untuk menegurnya, tetapi naas nya es krim yang Revin pegang terjatuh hingga membuat mereka menatap es krim itu dengan tatapan terkejut.
"Ec klim Lev." Lirih Revin.
Reynan segera menjauh dari Revin, dia bersembunyi di belakang tubuh Emily sambil memegang erat rok yang Emily kenakan.
"DACAAALL!!! CUCAH DAPETNA TAU NDA!!!" Teriak Revin dengan tatapan marah.
"Revin, Reynan gak sengaja. Kita beli lagi yah." Bujuk Emily.
Revin masih menatap Reynan dengan amarah yang menggebu, raut wajahnya merah padam. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya.
"Nih."
Secara mengejutkan, seorang pria bertubuh tinggi memberikan Revin se cone es krim. Revin yang melihat es krim di dekatnya pun mengangkat wajahnya dan menatap orang yang memberikannya.
"Ley, bapakna Ley ada dicini." Gumam Revin.
Sama persis seperti Emily, dia dan Reynan menatap pria itu dengan kening mengerut.
"Katanya kamu habis dari kantor langsung kesini, kok udah ganti baju santai aja?" Tanya Emily saat melihat outfit yang pria itu gunakan berbeda dengan saat berangkat tadi.
Pria itu menegakkan tubuhnya, dia menatap Emily dengan kebingungan. Menoleh ke sana dan kemari untuk memastikan jika Emily mengajaknya mengobrol.
"Kapan kita bertemu?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Galang.
Emily mengusap dadanya sabar, dirinya pikir pria di depannya adalah Agler yang sedang bercanda. Karena, wajah keduanya benar-benar mirip bak linang di belah dua.
"Yasudah, cepat berikan es krim yang kamu pegang pada anak-anak. Keburu mencair." Titah Emily seenaknya.
"Hei, kau menyuruhku?" Seru pria itu tak percaya.
Emily yang akan beranjak pergi pun memutar bola matanya malas, dia mengurungkan niat nya untuk pergi dan menatap Galang dengan kesal.
"Jangan membuat drama disini, cepat berikan mereka! keburu antriannya lama! aku harus membeli susu untuk mereka, oh ya ... ngomong ngomong ... Reynan minum susu merk apa? biar aku belikan sekalian," ujar Emily dengan bicara tanpa membiarkan Galang menyela nya.
Galang memberikan Es krim yang dia pegang pada Reynan dan Revin, niatnya dia membeli dua. Namun, saat melihat es krim Revin yang terjatuh membuat Galang ingin memberikannya.
"Tunggu! kita tak saling mengenal, kenapa kamu menyuruhku seakan-akan kita saling kenal??"
"Jangan belcanda cekalang papah, kacian oma di luma cendili! udah, ayo buna kita jalan tinggalkan papah disini!" Reyna menggandeng tangan Emily untuk segera pergi ke supermarket.
Mendengar panggilan buna dari bibir Reynan membuat Revin mendelik dan menarik kerah baju Reynan dengan kencang.
"BUNA! BUNA!! BUNA LEV INI!!! LEPACIN BUNA LEEEVV!!"
"Buna cendili yang culuh aku manggil buna kok!!" Sewot Reynan.
Emily benar-benar kesal, sehingga dia menarik keduanya menjauh. Dirinya malu di liat pengunjung karena aksi kedua bocah itu.
"Diam! Revin dan Reynan, ini bukan tempat untuk bertengkar. Apa kalian mau bunda tinggal?" Ancam Emily. Sontak, keduanya menggeleng cepat.
"Yasudah, jangan bertengkar hanya karena panggilan. Ayo cepat kita masuk, keburu habis nanti susu kalian," ujar Emily dan memasuki supermarket.
Galang masih bergeming, dia mencoba untuk mengingat apakah dirinya pernah berjumpa dengan Emily? apalagi saat Reynan memanggilnya papa, dirinya terasa seperti sedang akting membuat serial.
"Apa ada kamera? kali aja gue lagi di kerjain si Amel." Gumam Galang memperhatikan sekitarnya.
"WOY!"
Galang terkejut samapi memegang dadanya, dia melotot garang menatap Amel yang mengagetkannya.
"Ngagetin aja kamu!" Kesal Galang.
Amelia terkekeh melihat bagaimana wajah ketakutan adiknya itu. Tak menyangka jika Galang akan sekaget tadi.
"Sorry, mana es krim Amel!" Seru Amelia sambil mengadahkan tangannya.
BUGH!
"Amel kan suruh kamu ngantri, kenapa bisa gak ada!" Sewot Amelia.
Galang mengusap bahunya, dia menunjuk ke arah supermarket yang banyak orang lalu lalang.
"Noh, tadi ada cewe bawa dua anak. Mereka berantem karena es krimnya jatoh, gue kasihan ... gue kasih satu. Eh, malah ngelunjak! tuh cewe nyuruh gue ngasih semuanya, dasar aneh!" Gerutu Galang.
"Siapa? cantik gak? boleh deh, buat calon ipar aku!" Seru Amelia sambil merangkul manja lengan sang adik.
"Istri orang itu! nanti di sangkanya gue pebinor lagi!! Eh ...,"
Galang tersadar akan ucapannya, dia kembali menatap es krim yang terjatuh dan mengingat sesuatu yang menurutnya sangat familiar.
"Eeehh!! tunggu! tunggu! Bocah tadi, bocah tadi yang panggil gue pembinor tempo hari!!" Seru Galang menunjuk ke sembarang tempat sambil menatap Amelia.
"Ha? kamu di panggil pebinor ama anak kecil? Hahaha!!!!" Bukannya bertanya, Amelia malah menertawakannya dan membuat Galang bertambah jengkel.
"Tapi, siapa anak itu? aku ingin sungkem dulu sama dia katena berani mengatai CEO jomblo ini pebinor!" Seru Amelia sambil melipat tangannya dengan wajah meledek.
Galang terdiam, dia mengingat siapa Revin. Dia kembali flashback saat berada di kini market, dirinya bertemu dengan Danzel dan juga Revin.
"Bocah itu, putra dari Gilbert Ray Greyson." Ucap Galang sambil menarik kembali tangannya.
"Ooohhh Revin ... tunggu ... APA?!"
Galang menutup telinganya saat Amelia berteriak, apakah semua wanita akan berteriak heboh ketika kaget? sungguh, telinga Galang sangat sakit.
"Tunggu, dia ada disini? kau bertemu dengannya? waahhh ... cepat beri tahu Gilbert!! dia sedang mencari istrinya!!" Seru Amelia sambil menggoyangkan lengan Galang.
Galang melepaskan tangan Amelia yang merangkul tangannya, dia menatap kakaknya itu dengan kening mengerut.
"Memangnya, wanita tadi istrinya?" Tanya Galang.
"Iya, kenapa? jangan di ambil, istri orang itu," ujar Amelia.
"Tapi tadi dia menyebut nama pria lain, kalau tidak salah Agler."
"Agler ... seperti pernah mendengar nama itu." Gumam Amelia.
Sementara di posisi Emily, kini wanita itu memasukkan banyak kotak susu ke dalam troli yang ia dorong.
"Kenapa aku belum melihat susu yang biasa Mas Gilbert belikan untuk Revin yah." Gumam Emily.
Dari berbagai merk, Emily tak melihat satu pun produk susu yang biasa suaminya beli. Padahal, supermarket ini adalah yang terbesar di kota itu.
"Apa stok lagi kosong yah." Gumam Emily.
Tiba-tiba saja ponsel Emily berdering, dia segera mengambilnya dari tas selempang miliknya. Tania memberikannya ponsel agar mudah bagi Emily menghubungi Agler ataupun Tania saat di luar.
"Agler." Gumam Emily.
Emily menatap kedua bocah yang sedang melihat-lihat perlengkapan bayi di sebrang rak susu sejenak untuk memastikan. Setelahnya, Emily mengangkat sambungan telpon itu dengan netra yang tak lepas dari mereka berdua. Karena khawatir bocah kelewat aktif itu akan hilang.
"Halo Emily, maaf sekali. Aku lupa jika ada klien dari Singapura yang akan datang, jadi sekarang aku masih berada di kantor. Maaf tak bisa menemani kalian,"
Emily melebarkan matanya, ada yang janggal dari kejadian tadi. Dirinya benar-benar tak tahu jika Galang sangat mirip dengan Agler.
"Jangan bercanda, kau baru saja menemui ku dan anak-anak. Bahkan, tadi kau sudah membelikan mereka es krim!" Emily masih berusaha berfikir positif, tetapi mendengar suara tawa Agler membuatnya khawatir.
"Hahaha, Em. Kau bisa bertanya pada supir saat aku pulang nanti, bagaimana aku bisa menyusulmu dalam keadaan meeting?"
Emily benar-benar bingung, menurutnya kejadian tadi hal yang di luar logika. Bagaimana bisa Agler menemuinya dalam sekejap dan kini sudah kembali ke kantor.
"Tuan, klien kita sudah menunggu,"
"Oh ya, Em maaf ... aku harus kembali menemui klien. Tolong jaga putraku, sepertinya nanti malam aku akan kembali larut. Bilang pada mamah jangan menunggu ku," ujar Agler dan mematikan sambungan telepon.
Emily menurunkan ponselnya, tatapannya masih tak percaya dengan apa yang dirinya lihat tadi.
"Apa mungkin aku salah lihat?" Gumam Emily.