
Suara deru mesin mobil terdengar di kediaman Gilbert, bodyguard yang berjaga segera membuka pintu mobil. Emily beserta yang lain pun turun dari mobil dan membiarkan para bodyguard membawa barang-barang mereka.
"DADDY!!! EM KOMINGG!!!" Seru Revin dan berlari masuk ke dalam. Sementara Reynan, dia hanya berjalan santai mengikuti Revin.
Revin berlari menuju tangga, Ema sedang turun itu seketika membulatkan matanya saat melihat Revin yang naik tangga tak berhati-hati.
"Hati-hati Revin! nanti gelinding loh!!" seru Ema.
"Maaf bibi, daddy Lev mana?" Tanya Revin ketika dirinya berpapasan dengan Ema.
"DAddy Rev ada di kamar, samperin gih sana!" Suruh Ema.
Revin dengan semangat kembali melanjutkan langkahnya, saat sampai di depan pintu kamar Gilbert. Seperti biasa, dia akan melompat untuk mencapai gagang pintu.
BRAK!!!
Lagi-lagi pintu itu terbuka kasar, Revin menatap sekeliling dan tak menemukan keberadaan sang daddy.
"Daddy! daddy!! Levin datang loh!" Seru Revin. Namun, tak ada sahutan apapun dari Gilbert.
"HWEK!!! HWEKK!!"
Telinga Revin mendengar seseorang sedang muntah, dia segera mendekati kamar mandi dan membukanya. Terlihat, Gilbert sedang menopang tubuhnya di westafel sambil memuntahkan makanan yang baru saja dia makan. Wajahnya terlihat sangat pucat, raut wajah Revin seketika berubah cemas.
"BUNAAA!!! DADDY MAU NINGGAL!!!" Seru Revin dan berlari keluar kamar mencari sang bunda dengan wajah yang sangat khawatir.
Gilbert mendengar perkataan putranya tak mampu mengomel, dia juga rasanya sudah tidak kuat. Mula yang di deritanya sangat menyiksa, bahkan untuk berdiri tegak saja dia sudah tidak mampu.
"Mas!!"
Gilbert menoleh dan menatap istrinya dengan wajah sayu, bibir pucat nya sedikit mengembangkan senyum karena melihat sang istri yang sudah kembali.
"Sayang ... mas ...,"
BRUK!!!
Emily menahan tubuh Gilbert yang luruh, suaminya itu pingsan. Revin sudah menangis melihat sang daddy yang sudah tidak sadar.
"Daddy ninggal buna? daddy janan ninggal dulu, Lev belum dapet walican ini. Hiks ... kacih walican dulu!!" ISak Revin sambil menepuk pipi sang daddy.
Emily bingung, entah putranya belajar kata warisan dari mana tapi yang jelas sekarang Emily harus memanggil orang untuk membantunya.
"Ada apa kak?"
Emily menoleh, dia mendapati Danzel yang datang dengan raut wajah panik.
"Pingsan, tolong bawa mas Gilbert ke tempat tidur. Kalau gak kuat, panggilkan Agler saja." Pinta Emily.
"Aku kuat!" Seru Danzel.
Danzel mengambil alih tubuh Gilbert, tetapi dirinya merasa aneh dengan satu hal. Tangan Gilbert menggenggam erat dress yang Emily kenakan.
"Masa orang pingsan megangnya kuat banget." Batin Danzel.
"Danzel!! buruan angkat!!" Seru Emily.
Danzel mengangguk, dia menarik kedua lengan Gilbert. Seketika genggaman Gilbert pada dress Emily lepas. Danzel menyeret kakaknya itu yang mana membuat Emily dan Revin menganga di buatnya.
"Kamu ngapain?" Seru Emily dengan wajah menahan tangis.
"ANGKAAAT!!! hiks ... angkat, bukan seret. Kalau seret aku juga bisa!!" Rasanya, Emily ingin menangis saat melihat bagaimana Danzel menyeret suaminya.
"Sengaja kak, biar cepet sadar," ujar Danzel.
Gilbert yang ternyata hanya pura-pura pingsan itu menggerutu dalam hati, tubuhnya hanya lemas saja sehingga memilih memejamkan mata dan menikmati kepanikan istrinya. Namun, adiknya datang malah merusak rencananya.
"Di celet kayak mbe gitu, emangna daddy Lev mbe apa! ya milip cih, tapi macih dantengan daddy Lev kok!!!" Seru Revin menatap Danzel dengan tangan yang bertengger di pinggang.
Danzel memindahkan tubuh Gilbert dengan susah payah ke atas kasur, dengan nafas yang memburu dia menatap Emily.
"Kesini sama siapa?" Tanya Danzel.
"Sama ...,"
"Sama abang,"
Danzel menoleh, dia tersenyum melihat Agler yang menyusul mereka. Sedangkan Gilbert, dia terkejut mendengar suara Agler. Bagaimana bisa sepupunya itu datang bersama istrinya, dengan sedikit mengintip Gilbert dapat melihat Agler yang berdiri di samping istrinya.
"Dari kemarin mas nyari-nyari kamu Em, ternyata di bawa kabur sama duda karatan!!" Geram Gilbert dalam hati.
"Kenapa dia?" Tanya Agler sambil menunjuk Gilbert.
"Pingsan, coba kamu hubungi dokter dulu Gler. Aku mau ambil minyak kayu putih di kamar Revin." Titah Emily.
Agler pun keluar untuk menghubungi dokter berbarengan dengan Emily yang akan mengambil minyak kayu putih.
"Daddy Lev macih napas kan?" Tanya Revij memeriksa nafas Gilbert dan memeriksa d4d4 sang daddy memastikan masih berdetak atau tidak.
"Kalau udah K.O, nanti Revin dapet warisan. Warisannya di pake buat cari daddy baru, gimana? baguskan ide om!" Seru Danzel.
Ternyata, yang memberi tahu soal warisan adalah Danzel. Tak kaget jika seumur Revin sudah mengerti tentang warisan.
"Tapi daddy belum kacih haltana," ujar Revin.
"Iya, tapi Revin anak satu-satunya. Semua punya daddy, adalah milik Revin. Tapi milik Revin, bukan punya daddy," ujar Danzel. Pria itu melirik Gilbert yang sepertinya menahan amarah, wajahnya memerah dengan hidung yang kembang kempis.
"Yaudah, lev lapal. Mau ke dapul ambil cucu, cucu kotakna Lev ada kan?" Danzel mengangguk, Gilbert menyetok susu kotak walau putranya tak ada di rumah.
Revin keluar untuk mengambil susu kotanya, sementara Danzel. Dia baru saja tersenyum bangga, tetapi ...
BRUGH!!!
Gilbert melempar bantal tepat di muka Danzel, sehingga membuat pemuda yang tak siap itu terjatuh dengan tak elitnya.
"Awas kamu!!" KEsal Gilbert.
"Abisnya kakak pake acara pura-pura pingsan!!" Balas Danzel.
"Bukannya di dukung malah ...."
Cklek!!
Gilbert kembali tidur dan memejamkan matanya saat pintu terhubung terbuka, Danzel yang melihat Emily kembali pun hanya bisa memasang raut wajah melas.
"Tadi kakak dengar ribut-ribut, ada apa?" Tanya Emily.
Danzel tak menjawab, dia melirik tangan Gilbert yang memberi isyarat untuk tidak membocorkannya.
"Tadi ... kak Gilbert ... dia ... Dia sadar kak!!!" Seru Danzek dan berlari keluar sebelum memancing emosi Gilbert
"Dasar adek gak ada akhkak!!!" Batin Gilbert.
***
Sementara Alfred, dia menggantikan Gilbert mengurusi kantor. Dirinya tengah pusing, cabang yang berada di London tengah mengalami masalah korupsi besar-besaran. Dia bingung harus mengutus siapa untuk menjadi mata-mata di sana agar mengetahui masalah itu muncul dari mana.
"Xavier ... yah, apa aku minta saja dia untuk menjadi mata-mata di sana? dia sangat cerdik, sayang sekali kecerdikannya tidak di gunakan." Gumam Alfred.
Alfred menghubungi Asisten Kai, selang beberapa lama menunggu. Asisten Kai masuk dengan membawa sebuah berkas yang menumpuk.
"Berkas apa itu?" Tanya Alfred dengan menunjuknya dengan dagunya.
"Oh ini, ini kerjaan tuan Gilbert. Saya ingin menitipkan pada anda." Jawab Asisten Kai dengan cengiran khas nya.
Alfred menggelengkan kepalanya, dia menyuruh Asisten Kai duduk di hadapannya untuk membahas sesuatu.
"Cabang di London sedang ada masalah, ada korupsi besar-besaran. Aku ingin tahu siapa dalangnya, untuk itu ... aku ingin menugaskan Xavier kesana, bagaimana menurutmu?"
"Xavier anak dari mantan supir itu?" Bingung Asisten Kai.
"Ya, atau kau saja? sekalian cari cewe bule" Usul Alfred, tetapi Asisten Kai segera menggeleng dengan cepat.
"Tidak tuan, terima kasih. Cewek lokal lebih menarik," ujar Asisten Kai dengan tegas.
Alfred menahan senyumnya, entah mengapa Asisten putranya itu sangat betah menjomblo.
"Yasudah, biarkan Xavier saja." Putus Alfred.
"Tapi tuan, dia baru 16 tahun. Tamat smp saja enggak,"
"Saya paham kamu ragu dengan dia, tapi tanpa kamu tahu. Dirinya banyak memiliki pengalaman, walau tidak sekolah. Xavier kerap sekali mengunjungi sekolah dan berdiri di dekat jendela kelas hanya untuk mendengarkan guru yang mengajar. Jangan remehkan orang seperti nya, kegigihannya membuat ku salut."
"Dia memang tidak punya uang untuk bersekolah, tapi telinganya masih berfungsi. Kakinya masih melangkah, dan tangannya masih mampu menulis. Setelah persidangan itu, aku mengutus dua bodyguard mengikutinya. Mereka melaporkan kegiatan apa saja yang dilakukan Xavier. Aku sangat takjub dengannya." Puji Alfred.
Asisten Kai mengangguk, dia juga hanya tamatan SMA. Namun, dirinya menjadi Asisten seorang CEO. Setelah bekerja, Gilbert membiayai Asisten nya itu untuk masuk ke perguruan tinggi hingga kini Kai telah menyandang gelar S3.
______
Mau triple up gak nihðŸ¤ðŸ¤.
Kalau mau, jangan lupa like nya ramaikan yok. Komennya juga. Yang masih ada vote, vote nya juga yah🥰🥰🥰.
Kalau author lihat like dan komennya ramai, hari ini kita triple up🥰🥰🥰.
AYO KAWAN, BIARKAN AUTHOR MEMIKIRKAN ALUR MENGHIBUR. KALIAN TINGGAL KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH DAN VOTE😘😘😘😘.
Terima kasih untuk kakak yang sudah kasih hadiah, love untuk kalian. Buat author semangat up lebih pagi iniðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤