I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Serigala baru



Revin dan Reynan tengah berada di kandang Black, serigala milik Gilbert. Namun, Revin merasa aneh saat melihat serigala putih yang juga berada di sana. Empat pawang hewan sudah siap siaga di belakang mereka untuk mengamankan jika terjadi sesuatu.


Tak hanya buaya, Gilbert juga memelihara serigala dan Revin sangat menyukainya. Saat di bosan dengan Zero, dia akan bermain di kandang Black. Hanya saja, kali ini tak hanya ada satu serigala. Melainkan ada dua serigala.


"Itu milip Black, puna na ciapa?" Tanya Revin pada salah satu pawang tersebut.


"Kemarin tuan Gilbert yang membelinya, baru datang malam tadi tuan," ujarnya.


"Kan udah puna Black, kenapa daddy beli lagi?" Heran Revin.


"Biar ada keturunannya, Black laki-laki. Sedangkan serigala putih itu perempuan"


Revin menggaruk keningnya, dia tak paham dengan pembahasan itu. Terlihat Reynan berjalan mendekati serigala putih yang terlihat waspada dengan sekitarnya.


Revin yang melihat serigala itu akan menyerang Reynan segera menarik kerah belakang baju Reynan sehingga serigala putih itu tak sampai menerkamnya.


"Untungna gak di makan, kalau Ley di makan celigalana Lev nanti yang di calahin!" Seru Revin dengan kesal.


"Penacalan," ujar Reynan.


Ke empat pawang itu segera mengamankan serigala putih, takut serigala itu akan menerkam anak majikannya.


Namun, tampaknya serigala itu mengamuk. Dia mengigit lengan salah dari mereka. Reynan segera keluar bersama tiga yang lainnya, sedangkan Revin. Dia berjalan mendekati serigala itu yang tampak beringas menggigit.


"LEPACIN!!! DALAH ITU!!! CUCAH NANTI CUCI BAJUNAAA!!!" Seru Revin sambil menarik ekor serigala tersebut.


Serigala tersebut melepas gigitannya, dia menoleh menatap Revin dengan menunjukkan taringnya yang tajam.


PLAK!!!


Serigala putih itu terdiam dengan tatapan tak percaya saat Revin menamparnya, padahal barusan dirinya baru saja menggigit orang dewasa sampai berdarah. Namun, harga dirinya jatuh karena anak umur 4 tahun?


"Mukana kayak mau di tampal! jelek tau nda! daddy ini gimana, cali ictli buat Black kok jelek!" Gerutu Revin.


"AUUUU!!!" Long-long serigala itu.


"Au au apa? tau kalau citu jelek? cadal dili dong! ci Black mana lagi ini."


Revin mengedarkan pandangannya, dia melihat Black yang sedang tertidur di bawah pohon yang rindang. Revin pun berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya menatap Black yang asik berleha-leha.


"Pantecan ngamuk, olang di cuekin Black na." Gumam Revin.


Dia berbalik, dia menatap serigala itu yang akan menaboknya dengan tangannya. Hanya saja, Revin sudah keburu berbalik hingga tangannya mengambang di udara.


"Apa? mau nabok? Levin balikin ke hutan mau? cali makan dili mau? macih untung punya babu kayak daddy Lev kacih tempat enak. Makan enak, malah nyucahin!" Sewot Revin.


Keempat pawang itu menganga melihat kelakuan Revin dari luar kandang, begitu pula dengan Reynan. Keempat pawang itu hingga melupakan pekerjaan mereka sebagai pawang.


"Awsss! tanganku sakit!!" seru seorang pawang yang tadi di gigit. Mereka pun sadar jika tangan kawan mereka sudah banyak mengeluarkan darah.


"Aku akan mengantarmu, yang lain tetap disini untuk mengeluarkan tuan kecil dari sana!" Dia membawa temannya yang terluka kembali masuk ke dalam.


Kebetulan, mereka berpapasan dengan Alfred yang sepertinya akan menyusul kedua bocah itu.


"Ada apa? kenapa dia terluka?" Panik Alfred saat melihat pawang itu terluka.


"Serigala baru itu mengamuk dan menggigitnya,"


Mendengar hal itu, Alfred teringat akan cucunya yang juga yang berada di sana. Dia berlari ke arah kandang Black dengan raut wajah panik.


"Reynan, mana Revin?" Panik Alfred saat tak melihat keberadaan Revin di luar kandang.


"Yuh!" Unjuk Reynan.


Jantung Alfred rasanya mau copot saat melihat serigala putih itu duduk di samping Revin. Cucunya tengah mengusap kepala serigala putih itu dengan lembut, sambil mengoceh yang Alfred tak dengar.


"Kenapa cucu saya ada di dalam?! keluarkan!!! kalian ini pawang! kenapa malah di luar!!!" Sentak Alfred.


Keduanya saling pandang dan memutuskan untuk masuk, mereka mendekati Revin yang masih setia di sana dengan langkah perlahan.


"Tuan kecil, ayo keluar! tuan besar khawatir pada anda,"


"Nanti dulu, Lev lagi tanya nama na. Lev bingung panggil apa, namana ... citi mau?" Revin mengusulkan nama Siti untuk serigala tersebut, tetapi terlihat serigala itu tak menyukainya.


"Titin mau?" Aju Revin kembali.


Kedua pawang itu melongo saat mendengarkan nama yang Revin sematkan pada serigala putih itu. Yang benar saja, serigala adalah hewan buas. Sebaiknya di berikan nama sesuai dengan karakter mereka.


"Tuan, bagaimana kalau Zila? Black Zila?" Usulnya, dia merinding saat Revin memberikan nama yang menurutnya tak cocok untuk serigala.


"Zila ... telalu cantik, janan ...," ujar Revin.


Serigala itu tak terima, dia akan beranjak tetapi Revin menahan kepalanya. Macam, tak ada lagi harga dirinya serigala itu di hadapan Revin.


"Nanti dulu! kan Lev mau kacih nama! duduk dulu yang manis," ujar Revin tanpa salah.


"Lihat, anak ini memperlakukan serigala lebih rendah dari kucing." Bisik pawang itu pada temannya.


"Benar, kita sebagai pawang aja masih gemetar. Lihat dia, serigala sudah di anggap seekor kucing. Kira-kira, tuan kecil takut dengan hewan apa?"


"Mana ada takut, sama serigala aja berani."


Mereka kembali menatap Revin, kali ini mereka di buat kaget saat melihat Revin memaksa serigala putih itu untuk buka mulut.


"Tuan!!"


"REVINN!!!" Alfred sudah ketar ketir ketika wajah Revin tepat di ambang mulut serigala itu.


Sedangkan bocah yang du khawatirkan, tengah meneliti gigi serigala tersebut. Tak mengindahkan teriakan yang lain, Revin asik dengan kegiatannya.


"J4l4ng gocok gigi, pantecan bau." Gumam Revin dan kembali menarik wajahnya.


Terlihat, Gilbert dan Emily datang dengan tergesa-gesa. Netra mereka membulat saat melihat putra mereka yang memegangi mulut serigala.


"Astaga Reviiiinnn!!!!" Panik Emily.


"Lihat anakmu Gilbert! cepat bawa dia, jangan bengong aja! kalau anakmu di makan, nanti akan muncul cerita Revin and the wolf!" Seru Alfred mendorong tubuh putranya untuk segera masuk kandang.


Gilbert mendekati putranya, dia menarik lembut tangan putranya dan menjauhkannya dari serigala putih itu.


"White, waktunya makan!" Seru Gilbert dan menjentikkan jarinya.


White nama serigala yang Gilbert sematkan padanya, serigala dengan bulu seputih salju. Sangat cantik, berbeda dengan Black.


Serigala Itu tampak beranjak dan menduselkan wajahnya pada paha Gilbert. Revin yang melihatnya seketika melototkan matanya.


"CAPEL DACALL!!!" seru Revin dan menarik kuat ekor White.


Sepertinya White kesal, dia menggertakkan giginya. Kakinya sudah maju selangkah, bersiap akan menerkam Revin yang menatapnya tanpa takut.


"REVIN!!!" Pekik Alfred dan Emily saat melihat White yang akan menyerang Revin.


Gilbert menahan White, dia mengusap kepala White dan menciuminya. Revin menatap tak percaya pada apa yang Gilbert lakukan. Apalagi, seperti nya White sangat sayang pada Gilbert.


"Tenang okay, dia adalah putraku. My son," ujar Gilbert untuk mengenalkan White pada Revin.


White masih menduselkan kepalanya pada paha Gilbert tanpa perduli perkataannya, terlihat ekornya menari-nari hingga terkena wajah Revin.


Revin kelabakan saat ekor White menerpa wajahnya, dia segera menjauh dan kembali melihat Gilbert yang memeluk White dan menc1umnya. Tak terima, Revin pun memukul White dengan kencang dan berlari ke arah pintu sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.


"BUNAA!!! DADDY CELINGKUH!!"


____


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, HADIAH DAN VOTENYA YAH🥰🥰🥰.


BIARKAN AUTHOR MEMIKIRKAN ALUR, KALIAN TINGGAL NIKMATI DAN BERI DUKUNGAN😘😘😘


___