
Nyonya Samantha tengah memikirkan cara untuk memisahkan Emily dan Gilbert, dirinya sangat terobsesi untuk berbesan dengan keluarga Evans.
"Aku harus memisahkan mereka, bagaimana pun Gilbert harus menikah dengan Amelia. Dengan begitu, posisi keluarga Greyson akan semakin kuat." Gumam Nyonya Samantha.
Dia sibuk berjalan ke sana dan kemari di dalam kamarnya, memikirkan cara apa yang harus dia lakukan.
Setelah beberapa saat, langkahnya terhenti. dia melihat televisi di kamarnya yang menyala dan sedang menayangkan sebuah berita.
"Pemirsa, korban berinisial R telah di culik dan di aniaya oleh seorang pria tak di kenal. Jasadnya di temukan tak bernyawa di ladang rumahnya. Orang tua korban saling menyalahkan, hingga berakhir perceraian."
Mata Nyonya Samantha berbinar, dia seperti mendapatkan ide dari sana.
"Kalau Revin tiada, Gilbert pasti akan membenci Emily. Setelahnya, mereka akan bercerai!"
Ctak!
Samantha menjentikkan jarinya dengan senyum sumringah.
"Kau sangat jenius Samantha!" Pekiknya.
Sementara itu, di kantor Gilbert sedang mengadakan Meeting. Beberapa kali dia menguap karena bosan, sesekali matanya melirik ponselnya untuk melihat jam.
"Ponsel Emily sudah buluk, aku harus membelikan yang baru untuknya. Bagaimana kalau aku juga ikut membeli? sehingga ponsel kita kembar? ais ... romantis sekali." Batin Gilbert.
Asisten Kai mengerutkan keningnya saat melihat Gilbert yang senyum-senyum sendiri sambil melihat ponselnya, padahal sedari tadi salah seorang karyawan sedang melakukan persentase.
"Tuan, apa yang sedang anda pikirkan?" Bisik Asisten Kai sambil melirik sekitarnya.
"Istriku." Ucap Gilbert tanpa sadar membuat semua orang menatap ke arahnya dengan tatapan kaget.
Asisten Kai menepuk keningnya, dia segera menyenggol lengan Gilbert agar pria itu tersadar.
"Apa sih Kai! gak lihat saya sedang serius!" Sentak Gilbert karena kesal halu nya di ganggu oleh Asisten Kai.
Asisten Kai melirik ke arah lain, Gilbert pun mengangkat wajahnya dan menatap semua orang yang sedang menatapnya di ruang meeting.
"Apa yang terjadi?" Bisik Gilbert.
"Anda mengucapkan kata istri secara tidak sadar tuan." Terang Asisten Kai.
Gilbert hampir tersedak ludahnya sendiri, dirinya kembali menatap semua karyawannya.
"Maaf, lanjutkan?" Titah Gilbert kembali tegas pada semuanya.
Mereka semua tidak ada yang protes dan kembali melanjutkan meeting yang tertunda.
"Oh ya, Asisten Kai. Saya ingin membuat brand pakaian anak-anak," ujar Gilbert.
"Tapi tuan, kita sedang membahas proyek apartemen. Bukan baju," ujar Asisten Kai bingung.
"Ya sekalian di bahas, apa susahnya sih?!" Kesal Gilbert.
Dengan penuh kebingungan, para bawahan Gilbert akhirnya saling tatap dan berbisik.
"Jika tidak ada yang mau, silahkan keluar dari ruang meeting dan mengambil kertas pemecatan kalian! Suara dingin Gilbert membuat semuanya terdiam dan kembali fokus dengan pekerjaan mereka.
Asisten Kai hanya bisa menggelengkan kepalanya, apapun akan bos nya lakukan demi anak.
Selesai meeting, Asisten Kai memberanikan diri untuk bertanya alasan mengapa Gilbert ingin membuat brand baju.
"Apakah tuan ingin membuat brand untuk tuan kecil?" Tanya Asisten Kai.
"Yah, aku lihat baju yang ku beli khusus untuknya modelnya sangat pasaran sekali. Aku ingin, baju untuk putraku memiliki desain yang bagus dan tidak orang lain punya. Bahannya juga harus bagus, kulit putraku sangat sensitif. Jika bahannya kasar, kulit putihnya akan memerah. Kasihan dia." Terang Gilbert.
Asisten Kai menggaruk kepalanya yang tak gatal, mendengar perkataan bos nya membuat ia semakin merasa heran.
"Memangnya tuan kecil akan memakai baju baru setiap hari?" Tanya Asisten Kai.
"Kalau perlu seperti itu saja, jadi bajunya akan selalu baru." Sahut Gilbert.
"Kalau gitu, kenapa gak pakai kresek hitam saja? kan gak ada orang yang pakai baju kresek tuan?"
Gilbert menatap tajam Asisten Kai, putranya di suruh pakai kresek? apa kata orang, dirinya seorang CEO dan putranya memakai kresek.
"Mau saja yang pakai kresek, bila perlu color mu juga pake!" Kesal Gilbert.
***
Revin bermain di depan rumah, di temani oleh kedua bodyguard yang memantau anak majikannya itu.
TONG!
TONG!
TONG!
Revin yang sedang menaiki mobil aki nya segera menatap ke arah gerbang, dia tahu itu bunyi suara apa.
"Es tong-tong, Lev mau." Gumam Revin.
Revin turun dari mobilnya, dia berlari masuk sambil berteriak memanggil sang bunda.
Revin sibuk berlarian, wajahnya terlihat sangat panik. Dia takut tukang es itu keburu pergi dan membuatnya tak dapat menikmati es.
"Buna mana cih hiks ... Lev mau es, Lev mau es. Nanti kebulu pelgi olangna. Mana ini buna." Histeris Revin.
Revin melihat Ema yang sedang mencuci piring, dia segera mendekati Ema dan menarik bajunya.
"Bibi! bibi! lihat buna nda?" Tanya Revin dengan suara bergetar.
"Loh, buna Revin lagi di atas. Coba cek sana, tapi nanti minta di anter paman jaga yah. Bibi lagi sibuk ini," ujar EMa.
Revij mencak-mencak kesal, dia melompat kesal dan segera berlari ke arah tangga.
"Tuan kecil ingin apa? jangan sendirian berjalan ke atas," ujar Bodyguard menghampiri Revin yang akan naik.
Khawatir bocah itu jatuh, sehingga bodyguard tersebut menggandeng tangan Revin untuk menaiki tangga.
"BUNAAA!!! BUNAAA!!"
Emily pun tidak di temukan, sehingga Revin menangis dan membuat bodyguard yang mengikutinya menjadi panik.
"Mungkin Nyonya lagi di taman, memangnya tuan kecil ingin apa?" Tanya Bodyguard tersebut dengan lembut.
"Lev hiks ... Lev mau jajan, mau minta uang. Tapi buna nda ada," ujar Revin.
Akhirnya dia mengerti apa maksud anak majikannya itu, dia pun merogoh sakunya dan menemukan uang berwarna biru.
"Ini, pakai uang saya. Tapi nanti kembaliannya kasih lagi yah," ujarnya dan menyerahkan uang tersebut pada Revin.
Revin mengambilnya, dia menatap uang itu kemudian beralih menatap bodyguard tersebut.
"Dali tadi kek kacih na! Lev mutel-mutel cali buna, nda di kacih!"
Bodyguard tersebut tampak melongo, lini dia benar-benar percaya jika Revin adalah titisan Gilbert. Mulut mereka berdua sama-sama pedas.
"Tapi makacih yah paman, nanti Lev minta ganti cama daddy." Seru Revin dan berlari turun tangga.
Bodyguard itu dengan cepat mengejar Revin, takut anak gembul itu menggelinding ke bawah.
Revin berlari menuju pagar, dua bodyguard menyusulnya khawatir anak majikannya itu pergi jauh.
Salah seorang satpam membuka pagar, Revin keluar dan mencari keberadaan es tersebut.
"Yah kan hilang ... hilaaanggg!!! dah pelgi abangna, gak jadi es tong-tong na." Lirih Revin.
"Tuan, tukang esnya sudah jauh, lebih baik kita masuk." Ajak mereka.
Dengan lesu, Revin berbalik mendekati bodyguard itu. Namun, sebuah mobil hitam terhenti di belakang nya.
CKIITTT!!!
Belum sempat Revin menoleh, orang di mobil tersebut keluar dan menarik Revin memasuki mobil.
"AAAA!!! PAMAN TOLOONGG!!"
BRRUUMMM!!!
DOORR!!
DORR!!
kedua bodyguard tersebut langsung mengeluarkan pistol mereka, mereka membidik mobil itu. Namun naas nya tembakan mereka tak dapat menghambat mobil itu.
Salah seorang dari mereka memencet benda yang ada di telinganya untuk menghubungi kawan yang lain.
"Tuan kecil di culik oleh mobil hitam ber Plat nomor XX XXXX, siapkan mobil untuk mengejar mereka!" Titah nya.
Keduanya menggeser badan mereka saat gerbang utama terbuka. Keluarlah 5 mobil pajer0 dan mereka langsung menaiki salah satunya.
Sedangkan di mobil, Revin tengah menjambak rambut seorang pria yang telah menariknya masuk ke dalam mobil.
"TENAPA CULIK LEV HAH?! LEV NDA ADA UANG! DADDY LEV YANG BANAK UANG! TENAPA LEV YANG DI CULIK?! KENAPA BUKAN DADDY LEV AJA YANG DI CULIK HAH!! DACAAALLL!!!"
BRUGH!!!
Revin menggigit hidung pria itu dengan cukup keras membuat pria tersebut kesakitan. Kawannya yang berada di sampingnya pun panik dan mencoba melepas gigitan Revin.
"ARGHHH!!!"
"HUH ...." Revin melepas gigitannya, dia menatap keduanya dengan nafas memburu.
Melihat pria itu kesakitan sambil memegangi hidungnya membuat Revin tersenyum puas.
"Haaaahhh damai cekali," ujar Revin sambil mengelus d4d4nya.
_____
Dari kemarin satu mulu yah up nya🤭🤭🤭, doa kan yah kawan semoga authornya cepet sembuh. Dari kemarin gak enak badan, kepala nyut-nyut terus💆♀️💆♀️. Kalau keadaan sudah membaik, kita triple up ok🤗🤗