I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Mau gak jadi suamiku?



"Bapak gak papa?" Tanya Emily saat melihat tak ada respon apapun dari pria paruh baya itu.


Pria paruh baya itu yang tak lain dan tak bukan adalah Marcel, dia menatap lekat Emily dengan jantung yang terus berdebar kuat.


"Pak? ruangan bapak dimana? Saya antar yah?" Ucap Emily saat tak mendapatkan jawaban dari Marcel.


"Harumi."


Emily mengerutkan keningnya, namanya Emily bukan Harumi. Kenapa Marcel memanggilnya Harumi?


"TUAN MARCEL!!!"


Emily tersentak kaget, netranya melihat dua orang suster yang datang menghampiri mereka secara tiba-tuba sehingga membuatnya terkejut.


Namun berbeda dengan Marcel, dia tidak kaget seperti Emily. Tatapannya masih menatap fokus pada wajah Emily.


Karena Marcel sudah ada yang menjaga, akhirnya Emily memutuskan untuk pergi. Khawatir putranya menunggu lama, sedangkan Marcel dia tetap melihat ke arah punggung Emily yang bergerak semakin jauh.


"Antarkan aku pada wanita itu!" Titah Marcel.


"Maaf tuan, tuan Dirga meminta tuan untuk beristirahat."


"ANTARKAN!!" Bentak Marcel.


Kedua suster itu saling tatap, sebelum kemudian salah satu dari mereka mengangguk. Mereka pun mendorong kursi roda Marcel mengikuti Emily, tetapi sayangnya mereka kehilangan jejak.


"GARA-GARA KALIAN SAYA JADI KEHILANGAN JEJAKNYA!!" Kesal Marcel dengan nafas memburu.


"Tuan, sebaiknya kita kembali ke ruang rawat. Ini sudah sangat malam." Bujuk suster.


Dengan pasrah, Marcel pun menuruti kembali ke kamarnya. Netranya sesekali melihat ke arah tempat hilangnya Emily.


Emily pun kembali ke kamar setelah dia mendapatkan air panas, dia mengetes suhu susu dan saat di rasa tak terlalu panas dia memberikannya pada Revin.


"Minum susu habis itu tidur." Pinta Emily.


Kini di ruangan hanya ada Emily dan Gilbert yang menjaga Revin sebab semuanya sudah pamit pulang karena tak mungkin tidur di ruang rawat Revin yang hanya memiliki satu brankar dan satu kasur.


Emily membantu Revin merebahkan diri, sesekali Revin meringis karena merasakan sakit. Tapi tak lama dia mendapatkan posisi yang nyaman, setelahnya Emily mendekati Gilbert yang tiduran di sofa.


"Mas! mas! bangun! pindah di kasur gih! badanmu pegal-pegal nanti!" Bisik Emily sambil menggoyangkan tubuh suaminya.


Gilbert membuka matanya, dengan tatapan sayu dia menatap istrinya.


"Kamu aja yang tidur di kasur, mas tidur disini." Ujar Gilbert dengan suara seraknya sambil melipat tangannya di d4d4.


"Kasurnya kan muat buat dua orang, ayo pindah." Pinta Emily sambil mengusap kepala suaminya.


"Sempit kasurnya yang, takut nanti aku gak sengaja tendang perut kamu."


Emily menghela nafas pelan, semenjak dirinya hamil Gilbert begitu protektif. Banyak sekali hal yang di khawatirkan, padahal Emily hanya santai karena menganggap ini kehamilan keduanya tidak serewel saat hamil pertama.


"Gak papa, ayo mas." Bujuk Emily.


"Enggak yang, udah sana kamu tidur. Lagi hamil gak boleh begadang, mau mas anter?" Gilbert menatap istrinya itu dengan mata menahan kantuk.


"Aku maunya tidur sama mas." Cicit Emily.


Gilbert mengusap wajahnya, dia segera bangkit dari posisi tidurnya untuk duduk sebentar sebelum akhirnya dia berdiri.


"Ayo, mas temani."


Gilbert menarik.pelan tangan Emily, dia menidurkan istrinya itu dan juga ikut merebahkan diri di sampingnya.


Emily memeluk suaminya, begitu pula dengan Gilbert yang memeluk istrinya. Gilbert sudah sangat mengantuk, sehingga dia terlelap lebih dulu di bandingkan Emily.


***


Pernikahan Dirga dan Tania pun berlangsung, tetapi Gilbert dan keluarga kecilnya tidak ikut serta lantaran Revin yang masih belum bisa di ajak pergi. Mereka pun memakluminya, apalagi dalam waktu dekat Gilbert mengadakan acara sekaligus acara sunatan putranya.


Sementara Alfred, Hana beserta Danzel hadir di acara tersebut. Banyak kolega bisnis Alfred yang menanyakan keberadaan putra pertamanya. Bahkan banyak yang menyodorkan putrinya untuk di kenalkan oleh Alfred pada Gilbert seperti sekarang ini.


"Putri saya sangat cantik bukan? Dia dari keluarga kalangan atas, rajin juga. Pasti anda tidak akan kecewa memiliki menantu seperti putriku." Ujar rekan bisnis Alfred.


"Hahaha, benar Tuan Hendrawan. Putri anda sangat cantik, tapi sayang sekali putra pertama ku sudah menikah dan telah memiliki seorang putra," ujar Alfred.


"Ya saya tahu, tapi menantumu itu bukan dari kalangan atas kan?" Sahut Tuan Hendrawan.


"Ya, memang bukan kalangan atas. Tetapi setidaknya menantu saya menjaga kehormatan putra saya dengan tidak memamerkan lekuk tubuhnya seperti ... putri anda. Ini acara pernikahan, bukan di bar maupun diskotik. Pakaiannya terbuka sekali, kenapa sekalian tidak pakai baju saja?" Celetuk Hana yang benar-benar kesal dengan pembahasan tuan Hendrawan.


Putri Tuan Hendrawan menunduk malu, dia memang memakai pakaian sangat terbuka. Dia sengaja memakainya karena dia pikir Gilbert akan datang, ternyata tidak. Dan berharap Gilbert akan menyukainya seperti kebanyakan pria yang menatapnya.


"Jaga bicara anda Nyonya, suka-suka putri saya mau berpakaian seperti apa!" Ketus Tuan Hendrawan.


"Ya, suka-suka putri anda. Tapi setidaknya jika anda menyayangi putri anda, anda tidak akan mengizinkannya untuk mempermurah harga dirinya. Permisi! ayo sayang!" Setelah mengatakan itu, Alfred pun merangkul Hana untuk pergi dari sana.


Sementara Tuan Hendrawan sangat kesal terhadap Alfred, berharap Alfred menyukai putrinya malah dia mendapatkan ejekan.


Sedangkan Danzel, dia sedang memakan makanan penutup. Dirinya tidak sadar jika sedari tadi Amelia duduk di sebelahnya dengan menatap nya penuh kagum.


Merasa ada yang menatap, Danzel pun melirik sebelahnya. Netranya membulat sempurna ketika menyadari Amelia menatapnya, dia segera mengalihkan pandangannya dari Amelia.


"Hei! Alihkan tatapanmu! jadi cewek kok main seenaknya liat cowok!" Ketus Danzel.


"Kenapa?" Tanya Amelia.


"Aku bukan suami atau keluargaku, jadi jaga tatapanmu. Aku tidak suka menatap wanita yang tidak punya hubungan denganku?"


Bukannya menghindar, Amelia malah semakin bahagia. Dirinya kerasa Danzel pria yang berbeda dari kebanyakan pria.


"Beruntung sekali wanita yang jadi istrimu nanti." Seru Amelia.


"Diamlah! yang pasti itu bukan kamu! Pergilah dan jangan ganggu aku!" Ketus Danzel.


Amelia hampir menyentuh tangan Danzel, tetapi pria itu keburu sadar dan melotot ke arah Amelia.


"AKu bilang pergi ya pergi! aku buka suamimu jadi jangan pegang-pegang!!" Geram Danzel.


"Ehm begitu yah ... kalau gitu, jadi suamiku mau kan?"


"EH?!!"


Danzel loading sebentar, sebelum akhirnya dia langsung bergerak menjauh dari Amelia. Tatapannya mengarah pada sepatu yang ia kenakan.


"Saya masih kecil," ujar Damzel.


"Memangnya kenapa?" Bingung AMelia.


"Haahh ... terserah lo deh! ganggu tau gak!!!" Kesal Danzel dan pergi begitu saja dari sana.


Amelia tersenyum, tingkah Danzel menurutnya sangat lucu. Saat di rumah sakit, dia paham jika Danzel orang yang humoris. Namun, dirinya tak pernah menyangka jika pria itu akan menolaknya sebelum mendekat.


"Pria idaman, menjaga dirinya dari wanita. Haaah ... sisakan satu untukku yang sepertinya." Gumam Amelia.


_________


Maaf yah seharusnya ini up kemarin, tapi data author habis😭😭😭 belum sempet beli😅😅