I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Aku ingin rambut istrimu



Gilbert tak mengerti mengapa Dirga memintanya untuk bertemu di kafe dekat dengan kantor nya, padahal siang ini dia berniat pulang untuk makan siang. Namun, Dirga malah membuat janji temu dengannya.


"Awas aja kalau gak penting, dasar orang tuwir!" Gerutu Gilbert. Pria itu sudah duduk di dalam kafe, dia memesan kopi americano untuk menemaninya sebelum Dirga datang.


Tak lama, Gilbert melihat Dirga yang masuk ke dalam kafe dengan menggunakan kaca kata hitam. Pria paruh baya itu membuka kancing jasnya dan melirik ke sekitar mencari Gilbert.


Gilbert mengangkat tangannya, Dirga akhirnya melihat Gilbert dan berjalan menghampirinya.


Kreett!!


Dirga menarik kursi dan mendudukkan dirinya sambil melepas kaca kata hitamnya. Dia mengangkat satu kakinya dan bertumpu pada kaki yang lain.


"Cepat anda ingin bahas apa? kita gak ada kerja sama apapun, kalau gak penting saya ingin pulang." Ketus Gilbert.


"Oke, om akan masuk ke inti pembicaraan saja." Cetus Dirga.


Gilbert berdecak saat Dirga menyebut dirinya sebagai om, Gilbert bahkan hampir lupa jika Dirga telah menikah dengan Tania.


"APa kamu sudah mencari tahu asal-usul istrimu?" Tanya Dirga dengan raut wajah serius.


Gilbert mengerutkan keningnya, wajah Dirga yang serius membuatnya terheran-heran.


"Tunggu dulu, hak om menanyakan itu apa? Emily istriku, dan om hanya suami baru dari istri paman saya. Anda tidak berhak menanyakan hal itu pada saya!" Dingin Gilbert, dia sangat tak suka jika ada yang membahas masa lalu istrinya.


Dirga menghela nafas kasar, dugaannya benar jika Gilbert tak semudah itu untuk dia ajak berbincang.


"Om pernah dengar langsung dari istrimu, jika dia bukan anak kandung dari ehm ... maaf wanita malam. Dia di temukan oleh wanita itu dalam keadaan luka-luka saat umurnya 2 tahun. Dan ...,"


"Sebenarnya om memiliki seorang kakak," ujar Dirga dan melihat raut wajah Gilbert yang tak kunjung berubah.


"Hubungan kakak om sama istri saya apa?" Kesal Gilbert.


"Ayah dan anak!"


Mata Gilbert membola sempurna, dia menegakkan tubuhnya dan menatap tajam pada Dirga.


"Candaan anda tidak lucu! bagaimana jika istriku mendengarnya? anda akan menyakiti perasaannya! aku tahu dia hanya anak angkat, tapi bukan berarti anda mengklaim begitu saja! saat ini Emily adalah istriku! dia hanya milikku dan tak memiliki keluarga seorang pun!" Sentak Gilbert dengan penuh penekanan.


Gilbert mengambil kunci mobilnya dan juga ponselnya yang tergeletak di atas meja, dia berniat akan beranjak. Namun, Dirga kembali berkata membaut Gilbert terdiam seketika.


"Harumi! Harumi nama kakak ipar om! dia memiliki wajah yang mirip dengan Emily, kalau kamu tidak percaya. Om akan menunjukkan foto Harumi dan juga kakak om!"


Gilbert terdiam, dia memperhatikan Dirga yang membuka ponselnya dan mencari sebuah foto. Saat dalat, Dirga menyodorkan ponselnya pada Gilbert, Gilbert pun menerimanya dan melihat foto tersebut.


Dia melihat seorang wanita hamil yang di peluk dari.belakamg oleh seorang pria. Pria itu memegangi perut sang wanita dnegan tatapan penuh cinta.


Wajah wanita itu, mirip dengan istrinya. Garis senyum Emily, dia dapat melihatnya pada bibir wanita itu.


"Mirip bukan?"


"Anda tidak mecoba untuk membohongiku kan? bisa saja kaka anda ingin cari anak tapi yang sudah besar, dan memakai istriku untuk menjadi anaknya!" Curiga Gilbert.


"Memang kamu fikir ini sinetron!" Kesal Dirga.


"Bisa saja, tahu sendiri keluargamu penuh drama!" Ketus Gilbert.


"Hei! keluargamu yang penuh drama! kenaoa.kelyargaku yang menjadi sasaran!!!" Omel Dirga.


Gilbert tak menghiraukan ocehan Dirga, dia membuka galeri di.ponslemya dan mencocokkan foto Harumi dan istrinya.


"Mirip." Batin Gilbert.


"Sudah om bilang, mereka memiliki kemiripan!" Celetuk Dirga.


"Terus, maunya om gimana?" Tanpa berlama-lama, Gilbert langsung menanyakan tentang kemauan Dirga.


"Om butuh beberapa helai rambut istrimu, akan om tes DNA dengan milik kakak om."


Gilbert sejenak terdiam, dia mempertimbangkan segalanya. APakah dirinya harus percaya dengan Dirga. Namun, istrinya pasti ingin bertemu dengan keluarganya Istrinya juha pasti ingin memiliki.keliarga.


"Oke, tapi ada syaratnya." Pinta Gilbert sambil memberikan kembali ponsel Dirga.


"Apa?" Tanya DIrga sambil mengambil ponselnya.


"Jika hasilnya positif, sampai kandungan istri saya memasuki usia 5 bulan. Saya harap, anda tidak memberitahu kan perihal hal ini pada istri saya terlebih dahulu. Pagi tadi, dokter mengatakan jika kandungan istri saya masih lemah. Saya tidak ingin berita ini akan menjadi beban pikiran untuknya. Bagaimana pun juga, saya sekarang suami yang melindungi istrinya." TEgas Gilbert dengan tanpa ragu sedikitpun.


***


Emily melihat iklan di ponselnya, entah mengapa dirinya sangat ingin martabak manis. Dia mengelus perutnya tak sudah terlihat menonjol, netranya melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 4 sore.


"Katanya mas Gilbert mau pulang siang, tapi kok samapi sore gak pulang-pulang juga." Gumam Emily menunggu kedatangan suaminya.


Emily memutuskan keluar kamar, dia berniat ingin menemui Revin yang saat ini berada di kandang Zero. Seperti biasa putranya itu akan memberi makan Zero dengan di teman .oleh Danzel.


"SAYANG!!! MAS PULANG!!!"


Langkah Emily terhenti, dia berbalik dan dengan cepat berlari kecil menuruni tangga. Gilbert yang melihat istrinya turun tangga dengan sedikit berlari pun membuat Gilbert panik bukan main.


"Yang pelan-pelan yang!! bayinya terguncang nanti!!!" Panik Gilbert.


Emily menerjang tubuh suaminya, dia memeluk Gilbert dengan erat hingga membuat sang empu hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya.


"Yaaanggg!!! pelan-pelan dong yang!!" KEsal Gilbert.


Emily hanya cengengesan, dia melepaskan pelukannya pada sang suami. Netranya terjatuh pada bungkusan yang Gilbert bawa.


"Itu apa mas?" Tanya Emily dengan penasaran.


Gilbert mengangkat bungkusan itu, mencium aromanya saja Emily sudah tahu jika itu apa.


"MARTABAK!!!" Seru Emily dengan hati riang. Wanita yang tengah hamil muda langsung membuat bungkusan yang Gilbert bawa. Dia membawanya ke dapur dan menyajikannya dalam piring.


Sedangkan Gilbert, dia masih mematung di tempat. Gerakan istrinya sangat cepat hingga membuat dirinya terbengong seketika.


Sedangkan di kandang Zero, Revin tengah mengelus kepala buaya itu. Sesekali anak itu menepuk badan keras Zero dengan tangan gempalnya.


Revin melirik Danzel yang sedang merokok tak jauh darinya, netranya membulat sempurna. Danzel sangat di larang merokok oleh Hana dan juga Alfred, untuk itu saat melihat Danzel merokok Revin sangat kaget.


"OMAAAA!!! Om DANJEL ...."


Danzel melempar cokelat ke arah Revin, Revin pun menangkap nya dan berbicara dengan Danzel dengan suara lebih pelan.


"Nanti Lev adukan oma kalau om Danjel ...." Lagi-lagi Danzel melemparkan cokelat padanya membuat kedua sudut bibir Revin merekah.


"Oma na macih tidul cekalang, malem Lev balu ...."


Lagi dan lagi Danzel memberikan Revin cokelat, kali ini bukan satu. Melainkan dua cokleat membuat Revin senang bukan main.


"Ngelokokna janan lama-lama, nanti di omeli oma." Bisik Revin dengan rait wajah senang.


Danzel menggelengkan kepalanya, sangat mudah membujuk ponakannya. kapan lagi dirinya bisa menikmati saat ini, Hana sangat melarang dirinya merokok. Dia jiga tahu apa bahayanya, hanya saja entah mengapa hari ini dia menghisapnya.


"DANZEELLL!!!!" Danzel tersentak kaget, dia mengadahkan kepalanya dan melihat Hana yang berada di jendela dengan melotot ke arahnya.


Kini netranya beralih pada Revin yang mengedipkan sebelah katanya.


"Solly om Danjel, dali tadi oma udah nongklong di citu. Bukan calah Lev loh!" Bela Revin pada dirinya sendiri.