I'M Coming Daddy!

I'M Coming Daddy!
Lev lagi nda oblal buna!



Revin masuk ke dalam rumah sambil bersenandung riang, dia menatap es krim yang berada di tangannya dengan mata berbinar.


Langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara orang tertawa dari ruang tamu, karena penasaran dia pun berjalan ke arahnya.


"Iya, dia terus meminta kesini untuk menemui Emily." Seru Tania, posisinya duduk di sofa sebelahan dengan Emily yang tengah memangku Reynan.


Bocah seumuran Revin itu tengah menikmati cemilan yang di suapi oleh Emily, apalagi Emily dengan lembut menyuapinya dengan cemilan yang ada.


Netra Revin menyipit saat melihat Agler yang sibuk berbincang dengan Gilbert mengenai bisnis, dengan langkah kecilnya dia mendekati Agler.


"Kok dah nyampe? tadi kan Lev dulu yang pulang, om pembinol kan macih di cana. Kok dah campe?!" Bingung Revin.


Perbincangan kedua pria itu terhenti dan menatap sosok bocah gembul yang menatap salah satu dari keduanya dengan kening mengerut.


"Siapa yang ajarin Revin manggil Om Agler seperti itu?" Tanya Gilbert dengan lembut.


Revin menunjuk Danzel yang tengah asik memakan kripik kentang kesayangannya. Merasa di salahkan, Danzel pun membela diri.


"E-enggak ya! jangan fitnah kamu cil!" Seru Danzel.


"Kemalin kan om yang bilang, kalau ada yang lebut buna Lev namana pembinol! Telus, calahna Lev dimana?"


"UHUK!" Danzel tersedak, dia segera mengambil minum dan menenggaknya dengan rakus.


Gilbert menggeleng kan kepalanya, putranya mudah menangkap hal-hal baru. Jadi, mereka harus berhati-hati saat akan berbicara pada bocah itu.


"Memangnya Rev lihat om dimana?" Tanya Agler yang tengah penasaran.


"Di walung tadi, Lev liat ...,"


"Mini market! warung-warung, gak level yah ke warung!" Sela Danzel mengoreksi perkataan ponakannya.


Revin mengerucutkan bibirnya sebal, belum saja dia selesai berbicara tetapi Danzel sudah menyelanya.


"Ish iya! mini malket, lagian juga ke cana om cuma bawa duit ceban! cuma cukup jajan ini doang! huh! gaya elit ekonomina culit dacal!" Seru Revin membalas dengan kata-kata pedasnya.


Lagi-lagi Danzel tersedak karena ucapan ponakannya yang menusuk relung hatinya.


"Pedes banget nj1r." Batin Danzel.


Revin kembali menatap Agler, pria itu tengah bingung dengan perkataan Revin.


"Memangnya Revin lihat om Agler dimana? om Agler dateng setelah kamu pergi tadi." Sahut Alfred.


Revin berbalik, menatap sang opa yang juga tengah menatapnya.


"Iya, tadi Lev ketemu om Aglel pake maskel cama ...." Revin menghentikan ucapannya saat melihat seorang bocah seumurannya asik bermanja ria di pangkuan sang bunda.


Tangannya meremas sebungkus es krim di tangannya, wajahnya merah padam dengan hidung yang kembang kempis menahan amarah.


"ITU BUNA NA LEEEVVVV!!! LEV NDA LAGI OBLAL BUNAA LEVVV!!! TULUN NDAAA!! HILANG OTAKNA NANTIII!!!"


Gilbert segera membawa Revin ke pangkuannya agar putranya itu tidak me-reog di saat kumpul seperti ini.


"LEPACIN DADDY! LEPAC! BIAL LEV HAJAL DIA NAAA!!! NGAMBIL BUNA LEV CEENAKNA! LEV NDA LAGI OBLAL BUNA YAH!" Pekik Revib meronta saat Gilbert menahan tubuhnya.


"Gilbert maafkan putraku, aku akan segera mengambilnya." Ujar Agler sambil beranjak dari duduknya.


Namun, di luar dugaan. Gilbert menahan lengan Agler, dia menyuruh Agler duduk dan membiarkan Reynan di pangkuan Emily.


"Biarkan saja, kasihan Reynan," ujar Gilbert.


"Tapi ...."


"Revin denger daddy, tadi daddy membeli kucing untuk Rev. Mau lihat?" Bujuk Gilbert.


Seketika Revin berhenti bertingkah, dia menatap Gilbert dengan tatapan yang masih kesal.


"Kucingna mahal nda? kalau kucing kampung Lev nda mau!" Seru Revin dan melipat tangannya.


Gilbert menggeleng kan kepalanya, dia membeli kucing mahal dan putranya menyangka dirinya mengambil kucing jalanan.


"Enggak mau pasti itu kak, takut sama-sama nge-reog nantinya!" Sahut Danzel.


Revin menatap om nya itu dengan matanya menyipit kesal.


"Cilik aja cih!" Sewot Revin.


"Aku bawa dia ke belakang dulu." Pamit Gilbert pada semuanya.


Agler merasa tak enak, tetapi melihat bagaimana putranya nyaman dengan Emily membuatnya tak tega untuk mengambil Reynan dari sana.


Gilbert sengaja membiarkan Reynan bersama Emily, karena sejak bayi Reynan tak pernah merasakan bagaimana kasih sayang sosok ibu.


Sepupunya Agker, berperan sebagai ayah sekaligus ibu untuk putra tunggalnya. Jadi, Gilbert berpikir tak apa untuk membiarkan Reynan dekat dengan Emily


"Mana kucingna?" Tanya Revin menatap ruangan yang kosong.


"Ini kamar kucing Revin, mungkin dia ngumpet. Coba cari." Jawab Gilbert dan menurunkan putranya untuk mencari kucing tersebut.


Revin mulai mencari, ruangan yang Gilbert desain khusus untuk kucing. Dimana sudah ada tempat tidur kucing dan bermacam mainan yang kerao kali kucing peliharaan mainkan.


"Iya itu kucingnya," ujar Gilbert.


Revin terdiam, dia mendekati kucing itu dengan kening mengerut.


Kucing berwarna putih dengan bola mata berbeda warna membuat Revin merasa aneh dengan kucing tersebut. Pasalnya, baru kali ini dia melihat kucing secantik itu.


"Cantik kali kucingna." Gumam Revin.


"Cantik? dia jantan boy," ujar Gilbert.


"Laki-laki daddy? kok cantik? walia yah?"


Gilbert mengurut pangkal hidungnya, mana bisa kucing di katakan waria. Putranya benar-benar membuat orang darah tinggi.


"Revin nemuin bahasa waria dari mana?" Tanya Gilbert dengan lembut.


"Dali om Danjel, kemalin nonton di ... di apa itu namana ... cocial dictenting!" Seru Revin.


Gilbert menepuk dahinya. " Sosial media Revin." Ralat Gilbert.


"Cama aja, beda tipis kok ya!" Seru Revin tak mau kalah.


Revin berjalan mendekati kucing itu, tetapi kucing tersebut memundurkan langkahnya dengan bulu dan ekor yang berdiri menatap Revin tajam.


"Cini cantik, cama Lev cini ayo!" Seru Revin sambil merentangkan tangannya.


Kucing tersebut menunjukkan taringnya, tangannya memukul-mukul angin agar Revin menjauh.


Namun, bocah itu malah semakin dekat membuat kucing itu terpojok.


"Revin jangan di takutin kucingnya, nanti di cakar loh!" peringat Gilbert ketika dia lupa untuk memakaikan kuku pelindung untuk kucing itu supaya tidak mencakar sembarangan.


BRAK!


"MEONG!"


"HUAAAA!!!!"


***


"Makanya! jangan ngeyel kalau di bilangin!"


Emily tengah mengobati wajah putranya yang baru saja di cakar kucing barunya. Revin menangis karena merasakan sensasi perih yang luar biasa.


"Tadi daddy doain Lev di cakal buna, jadina kucingna nyakal Lev hiks ... jadi janan Lev aja yang di malahi hiks ... hugh ... Daddy juga calahin." Adu Revin dengan wajah melasnya.


Gilbert melotot tak terima, apa-apaan putranya itu menuduhnya seenaknya saja. Tadi dia hanya memperingati Revin, bukan mendoakan.


"Cini Ley tiup, kata papa kalau di tiup cakitna ikut telbang." Sahut Reynan, dengan lembut dia meniup pipi Revin.


Air mata Revin semakin luruh, orang-orang di sana yang melihatnya menyangka jika Revin terharu dengan perlakuan Reynan.


"Kok makin nangis sih? udah dong, kan di tiup tuh sama abang Reynan yah." Seru Emily.


Umur Reynan jauh lebih tua beberapa bulan dari Revin, sehingga Emily mengajarkan putranya untuk memanggil Reynan dengan sebutan abang.


Agler tersenyum menatap Emily yang bersikap adil pada Reynan, padahal Reynan hanya lah anak dari sepupu suaminya.


"Hiks ... hiks bunaa ...." Isak Revin sambil merentangkan tangannya.


Dengan kebingungan, Emily menyambut tangan Revin dan membawanya ke pelukannya.


"Kenapa sayang?" Tanya Emily mengusap bahu putranya dengan lembut.


"Mulutna bau hiks ... hiks ... bau mulutna." Isak Revin yang semakin keras.


Gilbert tersenyum kikuk pada Agler dan juga Tiara, merasa ucapan Revin sangat menyinggung perasaan Reynan.


"Reynan sayang, kamu habis makan durian?" Tanya Emily sambil mengusap pipi gembul Reynan.


Reynan mengangguk pelan, dia mengeluarkan permen nya yang memiliki rasa durian. Emily mengangguk paham, bukan bau mulut melainkan bau durian.


"Maaf Agler, tante. Revin gak suka bau durian, maaf dia kalau ngomongnya suka nyeplos." Ujar Emily merasa tak enak.


"Gak papa nak, kami mengerti. Lagian, Reynan juga gak masalah kan yah," ujar Tiara dan mengelus bahu Reynan.


Reynan menatap Revin yang masih saja menangis. Tatapannya turun pada celana Revin yang terlihat menggembung.


"Udah gede kok celanana macih pakek popok? macih cuka nompol yah? udah bocol tuh!" Seru Reynan membuat Revin tambah menangis.


"Reynan!" Peringat Agler.


"Ley kan ngomong jujul papa, telus calahna Ley dimana?" Ujar Reynan dengan senyum polosnya.


________


spesial part Revin nih🤭🤭, jangan lupa like komen, hadiah dan dukungannya yah🥰🥰🥰